
"Permaisuri, anda tidak boleh pergi sendiri lagi seperti waktu itu." Jingli berkata mengingatkannya.
Yuan tertawa pelan. "Baiklah, Saudari jangan khawatir. Tidak mungkin kan aku diculik dan dinikahkan lagi?"
Jingli menyipitkan matanya dan menghembuskan napas pasrah.
"Saudari, aku benar-benar tidak akan membuat masalah. Sudah, mari kita ke sana!" Yuan menarik tangan Jingli menghampiri penjual permen buah, Bingtanghulu.
"Tuan, kami ingin dua tusuk tanghulunya!"
"Baik, Nona. Ini dia!" ujar penjual itu sambil menyodorkan dua tusuk permen buah kepada Yuan.
Yuan menerimanya dan memberikan empat keping uang logam sebagai gantinya.
"Jingli, ambilah," katanya sambil memberikan satu tusuk permen kepada Jingli.
Jingli segera menerimanya. "Terima kasih, Nyonya."
Kedua gadis itu kembali berjalan sambil memakan permen buah di tangan masing-masing.
"Saudari Jingli, aku baru ingat! Ke mana Yunniang? Mengapa dia tidak ikut?"
"Ah, Saudari Yun bilang dia menunggu di istana saja, juga ingin beradaptasi di lingkungan barunya."
Yuan mengangguk-angguk. "Kupikir dia sangat cepat belajar, entah mengapa di kediaman ibu selir bisa selalu dihukum."
"Saya juga berpikir demikian."
Dia menghembuskan napas pelan. "Saudari Jingli, bagaimana jika kita kembali duluan saja?"
Jingli mengerutkan keningnya, heran. "Permaisuri, biasanya kamu paling bersemangat jika bermain di luar istana. Mengapa sekarang ingin pulang?"
"Entahlah. Tiba-tiba saja aku merasa malas. Ayo!"
"Tidak bisa. Kami pergi bersama Yang Mulia. Jika pulang lebih awal dan tidak mengabarkannya pada mereka, kurasa tidak akan baik."
"Siapa yang peduli? Kupikir dia juga tidak akan sepeduli itu padaku," ujar Yuan berjalan mendahului Jingli.
Mereka berbicara terlalu serius hingga ketika hendak menyebrang jalan tidak menyadari ada seorang pria yang menunggangi kuda dari arah kanan.
"Nona, menyingkirlah!"
Teriakan itu membuat Yuan tersadar.
Dia dengan cepat mengambil langkah mundur tetapi tidak memperhatikan langkahnya dan tidak sengaja menginjak bajunya sendiri sehingga gadis itu jatuh tersungkur. Cadarnya terlepas, orang-orang berkeliling mengerumuni dan menanyakan keadaannya.
"Per—Nyonya tidak apa-apa?" tanya Jingli khawatir. Dia memegang lengan Yuan dan untuk berdiri.
Pria yang menunggangi kuda itu turun dan berlari menembus kerumunan menghampiri Yuan.
"Nona, anda baik-baik saja?"
Yuan mendongakkan kepalanya menatap pria itu. "Apanya yang baik-baik saja? Kamu ingin membunuhku, ya!" katanya marah.
Jingli juga hendak memarahi pria itu, tetapi dia mengurungkan niatnya.
Pria itu mematung menatap Yuan kemudian Jingli untuk sesaat sebelum dia menarik Yuan ke dalam pelukannya. "Xiao Li!"
Di lain tempat, ZiXuan masih mencari keberadaan Yuan bersama Li Wei, Qiu Ying, Liang Rong dan kedua pelayan gadis itu. Ya! Pada akhirnya mereka memilih untuk mengikuti ke mana saja ZiXuan pergi.
"Apakah kita perlu berpencar, Yang Mulia?" tanya Li Wei membuka suara.
ZiXuan hendak berkata, tetapi matanya menangkap sesuatu yang lain di belakang Li Wei.
"Yang Mulia?"
Dia mengangkat tangannya dan berjalan melewati Li Wei. Meskipun bingung, Li Wei dan yang lain memilih untuk mengikutinya dari belakang.
Yuan melepaskan pelukan pria itu dengan paksa dan melayangkan satu tamparan keras di pipinya.
Jingli yang terkejut segera menenangkan Yuan dengan mengusap punggungnya. "Nyonya, jangan marah. Dia—" Ucapannya terhenti saat sebuah suara menginterupsi.
"Istriku, apa yang sedang terjadi di sini?"
Yuan yang sudah sangat mengenali suara iti segera membalikkan badannya. Dia melihat ZiXuan sudah berdiri di bekangnya.
"Kakak ipar, siapa pria asing ini? Mengapa kalian berpelukan di tempat umum?" Pertanyaan yang dilontarkan Qiu Ying itu terdengar polos tetapi dapat menggiring opini orang yang mendengarnya seakan sedang menonton perselingkuhan rumah tangga yang terbongkar.
Yuan menggeleng cepat. Dia berjalan mendekati ZiXuan dan menggenggam tangannya. "Saudara, aku benar-benar tidak mengenalnya. Bukan aku yang memeluknya, dia yang tiba-tiba memelukku! Kamu—kamu harus percaya padaku," ujarnya menyangkal.
ZiXuan tersenyum samar. "Tentu saja saya percaya istri saya. Maaf semuanya, ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Pria ini, saya mengenalnya. Hanya saja beberapa bulan yang lalu istri saya mengalami kecelakaan sehingga dia tidak bisa mengingat pria ini," ujarnya dengan suara lantang membuat orang-orang yang tadi menontoni mereka segera bubar.
Setelah semuanya kembali normal, dia kemudian menoleh pada Qiu Ying dengan wajah dingin dan berkata, "Sudah kuduga hukuman yang diberikan Xiao Li padamu terlalu ringan kan? Sama sekali tidak memiliki efek jera!"
"Saudara Xuan, jangan salah paham. Ying'er—Ying'er hanya bertanya tanpa maksud apapun," ujar Qiu Ying menunduk takut.
"Sama sekali tidak berguna," gumam ZiXuan yang masih dapat didengar Qiu Ying.
"Saudara, apakah kamu mengenal orang ini? Apakah dia keluargamu?" pertanyaan dari suara yang terdengar lembut itu membuatnya kembali fokus.
Dia menunduk menatap gadis mungil di depannya. "Aku mengenalnya."
"Kalaupun dia adalah kenalanmu atau kerabatmu, aku tidak peduli! kamu tetap harus menghukumnya karena dia sudah bertindak tidak sopan padaku!" tuntutnya dengan wajah memerah karena marah.
"Nyonya, anda tidak—"
"Saudari, kamu diam saja! Aku marah padamu karena tidak membantuku tadi! Jangan kira karena kami sudah mengenal sejak kecil membuatmu jadi seenaknya! Aku akan menghukummu nanti!" tukas Yuan memotong pembicaraan Jingli.
"Kamu benar-benar ingin aku menghukumnya?"
Yuan mengangguk semangat dengan kilatan dendam di matanya.
ZiXuan menghela napas pelan. "Jadi, apakah saya harus menghukum adik ipar saya?"
"Memangnya kenapa kalau adik—ipar?" Yuan mengerjapkan matanya. Dia kembali menengadahkan kepala menatap ZiXuan bingung.
"Apa maksudmu? Siapa adik iparmu?"
ZiXuan meletakkan tangannya pada bahu Yuan dan memutar badan gadis itu, kembali menghadap pria asing yang beberapa saat lalu memeluknya.
"Saudara kembarmu, Zhou YanZhi. Putra Mahkota Kerajaan Zhou," ucap ZiXuan pelan tetapi masih dapat didengarkan orang-orangnya.
Yuan menoleh ke arah Jingli, meminta penjelasannya dan gadis itu mengangguk pelan.
"Sebuah kehormatan Yang Mulia dapat mengenal hamba."
"Anda adalah saudara istri saya, bagaimana saya tidak dapat mengenalinya? Mari kita berbicara di tempat lain."
YanZhi mengangguk setuju. Dia mengikuti ZiXuan dan yang lainnya berjalan ke sebuah kedai makan.
"Saudara, mengapa kamu tidak memberitahuku lebih awal?" tanya Yuan berbisik. Dia berjalan di sisi pria itu yang menggenggam tangannya erat.
Tanpa menoleh, ZiXuan menjawab, "Kamu bodoh. Tidak memastikannya terlebih dahulu."
Yuan mendengus kesal dan meremas kuat tangan ZiXuan yang memegangnya. Pria itu hanya tersenyum tipis.
"Tenagamu terlalu lemah."
Mereka pun tiba di kedai makan yang lumayan besar. Susananya cukup padat, tetapi untungnya mereka masih mendapatkan tempat kosong.
Jingli dan Li Wei pergi untuk memesan makanan sedangkan yang lainnya sudah duduk di kursi.
"Yang Mulia sepertinya memiliki banyak waktu luang sehingga bisa menemani para wanitanya berbelanja," ujar YanZhi membuka suara.
"Apa maksudmu?!"
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...