
Bau anyir menyengat di seluruh tempat. Isak tangis dan keputus-asaan terdengar sangat menyedihkan.
ZiXuan menatap Raja Huang kemudian kembali menatap Yuan yang terlihat seputih kertas. Dengan sekali lambaian tangan, ZiXuan membawanya ke tempat di mana Ratu Yin berada. Dia juga membantu meletakkan tubuh ayah mertuanya di samping ibu mertuanya dan mengangguk samar pada Yuan.
Yuan berlutut dan menangis di hadapan ibu dan ayahnya.
Raja dan Ratu kerajaan Zhou telah gugur.
ZiXuan kini beralih menatap iparnya yang masih menghadapi prajurit istana. Matanya perlahan tertutup dan beberapa saat kemudian mulai terbuka. Cahaya kecemerlangan terlihat keluar dari matanya. Mata itu bukan lagi berwarna coklat tetapi berubah menjadi berwarna emas yang agung. Kecemerlangannya mampu menekan perasaan setiap orang bahkan orang biasa sekalipun.
Perasaan didominasi dan tekanan membuat semua orang bergidik ngeri. Ada semacam perasaan takut yang tak terlukiskan.
Semua prajurit yang tadinya terlihat lepas kendali kini mulai tenang dan jatuh berlutut. Beberapa bahkan menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Mereka tidak lagi menyerang. Kini orang-orang yang tidak dalam kendali sihir dan menguasai seni beladiri hanya perlu memerangi orang-orang berbaju hitam. Beberapa prajurit yang mulai tersadar pun ikut membantu.
YanZhi dan Pangeran Liu menghela napas lega. Keduanya kompak berbalik dan menatap ZiXuan.
"Merepotkan kedua pangeran untuk menjaga di sini. Aku akan menitipkan Xiao Li sebentar padamu, Putra Mahkota."
YanZhi mengangguk dan menjawab, "Tidak perlu khawatir. Dia adalah saudariku tentu saja aku akan melindunginya dengan nyawaku."
ZiXuan tersenyum tipis dan hendak pergi tanpa menoleh lagi. Tetapi sebuah tangan kecil yang terasa dingin menahannya. Dia menoleh dan mendapati Yuan sudah berada di belakangnya.
"Kamu pergi ke mana?"
Bukannya langsung menjawab, ZiXuan malah kembali menatap lurus ke depan dan berkata, "Aku akan menemui ibuku dulu."
Yuan sepertinya mengerti dan melihat ke arah seberang. Di sana Ibu Suri dan adik iparnya sudah kembali bersimpuh di samping janda permaisuri yang sudah menutup matanya. Matanya kembali panas. Beberapa saat yang lalu, nenek masih terlihat bisa menahannya dan sekarang?
ZiXuan berbalik menatap Yuan yang melihat kosong ke depan. Dia meletakkan kedua tangannya di bahu wanita itu, menyadarkannya. "Xiao Li tunggulah di sini bersama saudaramu, ya? Aku akan segera kembali dan membawa keluarga kami berkumpul."
Setelah mengatakannya, ZiXuan hendak berbalik lagi tetapi tangan lembut dan dingin Yuan kembali menahannya.
"Ada apa?" tanyanya lembut. Dia menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukan dan mengusap rambut panjang wanitanya itu.
"Jangan tinggalkan saya," ujarnya pelan.
ZiXuan melepaskan pelukannya dan menatap mata persik nan indah itu dengan ragu.
"Bawa aku bersamamu," ulang Yuan seraya mengaitkan jarinya pada jari tangan ZiXuan.
Pria itu terdiam tetapi matanya tanpa sadar melihat ke arah mertuanya.
"Ayah sudah bersama ibu dan aku sudah memberikan penghormatan terakhir kepada ayah dan ibu. Aku adalah istrimu, seluruh hidupku hanya milikmu. Jika kamu pergi, maka aku akan ikut bersamamu. Jika kamu mati aku juga akan mati bersamamu."
ZiXuan tersenyum hangat dan mengusap rambut Yuan. Merapikan beberapa helai rambutnya. "Kamu begitu bodoh. Siapa yang mengajarimu mengatakan hal seperti itu?"
"Jadi, bawa aku bersamamu, oke?"
Tidak bisa menolak, ZiXuan hanya menggengam balik tangan yang sangat pas di genggamannya itu dengan lembut dan membawa pergi. Sayangnya dia tidak bisa menggunakan teleportasi jarak dekat sekarang. Konsumsi sebelumnya sudah besar, jika dia menggunakannya lagi dan pihak lawan memanfaatkan untuk menyerang kekaisaran di saat krisis maka semuanya akan benar-benar berakhir. Sebenarnya bukan hanya itu saja yang menjadi kekhawatiran ZiXuan, tetapi faktanya sampai saat ini dia tidak bisa menebak seberapa kuat orang-orang ini, makanya dia tidak boleh mengambil resiko. Sudah terlalu banyak korban. Bukan hanya dari keluarganya tapi juga rakyatnya di luar sana.
"Ibu," panggil ZiXuan lembut saat sudah berada di depannya.
Lian Chun mendongak menatap anaknya yang baru saja tiba bersama dengan menantunya.
"Nenekmu, dia... "
ZiXuan berlutut di depan ibunya, dengan lembut mengusap air mata Lian Chun. "Tidak apa, ibu menangislah. Anak ini tidak berbakti. Tidak bisa melindungi nenek dan mertuanya. Ibu bisa menghukumku nanti."
"Bicara apa kamu? Apakah kematian seseorang bisa diatur?"
"Mari bicarakan ini nanti, ayo pergi dulu."
Yuan bergerak maju, membantu Youhua berdiri sedangkan Lian Chun sudah dibantu oleh ZiXuan. Di bawah bimbingan jalan ZiXuan, Yuan dan Youhua mengikutinya di belakang.
Tapi, lagi dan lagi sebuah serangan muncul. Itu kekuatan yang sama yang memecahkan tabir pelindung pertama kali. Kekuatan yang sama dari panah yang menembus jantung Ratu Ying.
Tetapi kali ini panah itu jatuh bukan hanya sekali, tapi berkali-kali menuju ke ZiXuan dan Yuan.
Yuan menarik mundur Youhua, menciptakan jarak di antara dia dan suaminya. Dari sini dia menyadari sesuatu, panah itu sebenarnya bukan ditunjukkan untuk dirinya melainkan ZiXuan.
"Suami! Berhati-hatilah," ujar Yuan memperingati.
ZiXuan tidak menjawabnya, tetapi sebuah cahaya mulai. Menyelimuti Lian Chun dan menghilang dari sisinya.
"Ibu!" ucap Youhua terkejut.
ZiXuan menoleh sebentar dan berkata, "Tidak ada masalah. Ibu baik-baik saja. Xiao Li, bawa Youhua menjauh dari sini. Bersembunyilah, tunggu sampai aku menemukan kalian."
Meskipun enggan, Yuan tetap menganggukkan kepalanya patuh.
ZiXuan mengedipkan matanya dan tiba-tiba semuanya menjadi stagnan. Semuanya bisa melihat dan mendengar tetapi tidak ada satupun yang bisa bergerak. Hanya ZiXuan satu-satunya.
Dia berjalan pelan mendekati Yuan yang hanya bisa menatapnya. ZiXuan melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh mungil itu. Membawanya ke dalam pelukan.
Yuan merasakan napas hangat ZiXuan di pelipisnya. Dan dia juga merasakan sesuatu melingkari pinggangnya.
"Rasanya aku ingin waktu berhenti seperti ini saja, tetapi itu tidak dapat dilakukan. Kekuatanku terbatas, dan teleportasi tidak dapat dilakukan bersama dengan ketiadaan. Tunggu aku dan ini adalah hadiah ulang tahunmu, mungkin kamu akan membutuhkannya," ucap ZiXuan lembut di telinganya tak lupa memberikan sebuah ciuman di dahi Yuan.
ZiXuan melepaskannya dan berjalan ke tempat semula.
"Xiao Li, pergilah sejauh yang kamu bisa, aku pasti akan bisa menemukanmu. Oke?" katanya tegas. Setelah itu, waktu kembali berjalan dan panah melesat menuju ZiXuan.
"Suami, aku menunggumu. Kamu tenang saja, aku juga akan melindungi Youhua!" setelah mengatakan itu, Yuan menarik tangan Youhua. Dengan sebuah jalan yang sudah di siapkan ZiXuan, kedua wanita itu berhasil keluar dari aula dan melewati jalan rahasia.
Yuan membawa Youhua pergi jauh dari istana melalu jalan rahasia. Mereka terus berlari tanpa tujuan. Hanya berlari sejauh yang mereka bisa.
"Tempat untuk bersembunyi!" seru Yuan di hatinya.
Entah sejak kapan mereka sudah memasuki hutan belantara. Untungnya tidak ada hewan buas yang menghambat, mungkin karena suara peperangan yang masih terdengar membuat hewan-hewan di hutan bersembunyi.
Tetapi tiba-tiba Yuan berhenti tepat di mulut gua yang membuat Youhua ikut berhenti.
"Kakak, ada apa?"
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...