My Devil Emperor

My Devil Emperor
Pasangan Surgawi



"Hei! Siapa yang kamu bilang orang aneh?!" Youhua menggeram marah. Ia hendak berdiri menghampiri orang tak tau sopan santun itu, tetapi sebuah tangan mencegahnya.


"Hua'er, dia adikku."


"Lalu kenapa jika dia adikmu?! Adikmu... " Kalimatnya terhenti di tengah-tengah. Youhua segera menoleh menatap Yuan tidak percaya.


"Kakak, apakah kamu tidak salah mengenali orang?"


YanZhi melengos dan berjalan mendekati kedua kedua perempuan itu.


"Kami hanya berbeda beberapa menit saja. Seharusnya kami adalah saudara kembar, tetapi kupikir kami tidak terlihat sama. Zhi'er, dia adalah Putri Youhua, adik iparku."


YanZhi mendengus kasar. "Bagaimana Yang Mulia memiliki adik sepertinya? Mereka tidak terlihat sama. Setidaknya belajarlah dari kakak kaisarmu untuk bersikap tenang."


"Kamu pikir kamu terlihat baik? Lihatlah! Bahkan kamu tidak sebaik dan secerdas kakakmu. Wajahmu juga terlihat biasa saja, tidak bisa dibandingkan dengan kakakku! Apa yang ingin kamu banggakan?!"


"Kamu!"


"Baiklah, hentikan itu. Mengapa kalian berdua bertengkar sekarang?" Yuan menghentikan adu mulut itu.


"Aku tidak akan memulai jika ia tidak memulai!"


YanZhi tidak mau kalah dari Youhua dan membalas, "Siapa yang memulainya lebih dulu?"


"Kakak ipar," adu Youhua seraya memeluk sebelah lengan Yuan.


"Apa yang kamu lakukan? Mencari pembelaan?"


"Zhi'er! Jangan menggodanya!" Yuan memberi peringatan pada adik kembarnya itu lewat tatapan tajam.


"Siapa yang menggodanya?"


"Kamu! Kamu! Kamu!" Youhua tidak lagi bisa menahan dirinya sendiri. Ia menunjuk wajah tampan YanZhi dengan mata yang berapi-api.


"Apa?" balasnya menantang.


"Laki-laki menyebalkan!"


"Hentikan! Kalian membuatku sakit kepala. Pergi dari sini sekarang juga!" Yuan mendorong adik-adiknya itu untuk keluar dari kamarnya.


"Xiao Li mengapa kamu mengusirku juga?"


Yuan menatapnya sinis dan berkata, "Temui aku jika kamu sudah menyadari kesalahanmu. Satu lagi, panggil aku Kakak! Aku masih lebih tua darimu beberapa menit."


"Kamu mempermasalahkan hal kecil ini juga? Sejak kapan kamu memperdulikan panggilanku padamu?"


"Jika aku menginginkannya, maka kamu tidak boleh mempertanyakannya!" sarkas Yuan.


YanZhi menoleh menatap Youhua yang menahan tawanya. "Apa yang kamu tertawakan?"


Youhua menggigit bibirnya menahan tawa. "Tidak ada. Kakakku, aku akan kembali lagi nanti. Sampai jumpa! Jangan lupa beristirahat untuk besok." Menghindari tatapan tajam YanZhi, Youhua segera melarikan diri dari sana sambil melambaikan tangannya pada Yuan.


"Mengapa kamu masih di sini?" tanya Yuan tanpa menatap lelaki tampan di depannya.


"Xiao Li..."


"Kakak ipar!"


YanZhi terdiam sesaat sebelum akhirnya mengibaskan lengan bajunya, melipir dari hadapan Yuan sambil bergumam, "Mengapa wanita suka mempermasalahkan hal-hal kecil? Membosankan!"


•••••


Suasana hari ini tampak jauh berbeda dari kemarin dan hari-hari yang lalu. Gerbang istana sudah terbuka. Masyarakat dari berbagai kalangan sudah mulai memenuhi aula di luar ruangan. Wajah-wajah mereka tampak sumringah dan bersemangat untuk melihat kaisar dan permaisurinya juga pastinya akan ada banyak makanan gratis yang bisa mereka bawa pulang tentunya.


Para keluarga bangsawan, raja dan ratu, serta pangeran dan putri yang hadir dari berbagai daerah sudah duduk di tempat yang tersedia.


Selang beberapa saat, orang yang ditunggu-tunggu oleh hampir semua orang yang hadir pun tiba. Berjalan beriringan dengan baju berwarna putih dengan sulaman emas bergambar bunga peony dan burung phoenix untuk permaisuri dan sulaman naga emas untuk sang kaisar.


Suasana khidmat saat kedua pasangan surgawi itu berjalan menuju singgasana. Semua pasang mata menatap mereka penuh kekaguman.


"Ini... Benar-benar pemandangan yang sangat indah."


"A-Aku tidak percaya permaisuri memiliki wajah yang sangat indah dibandingkan bunga musim semi."


"Mereka pasangan yang serasi dan terlihat murni."


"Ini bukan hanya Keindahan Musim Semi, tetapi juga Kecantikan Phoenix Surgawi."


"Sungguh pasangan yang sudah ditakdirkan oleh kaisar langit."


Begitulah bisikan para rakyat yang berada di bawah singgasana yang menjulang tinggi. Tentu saja hanya sesama mereka yang mendengar gumaman itu.


"Panjang umur Kaisar Qin dan Permasuri." teriakan serentak itu diulang beberapa kali oleh semua orang di sana sebagai bentuk penghormatan.


Semua orang bersukacita. Aula dipenuhi kebahagiaan setiap orang.


ZiXuan menunduk. Bulu matanya bergerak turun sebelum menoleh pada Yuan yang duduk di sisinya.


"Ingin memakan sesuatu?" tanyanya dengan suara yang lembut.


Yuan yang sedang melihat kebahagiaan para rakyatnya itupun ikut menoleh. Senyumnya terbingkai indah di bibir semerah bunga mawar itu. Ia berkedip sekali sebelum menjawab, "Tidak."


ZiXuan kembali menegakkan badannya. Tangannya menuangkan arak bunga persik ke cangkir kemudian meminumnya dengan sekali tenggakkan. Beberapa tamu pun mengajaknya untuk bersulang.


Yuan bahagia. Sangat bahagia dan berharap semua ini tidak akan cepat berakhir.


"Suami, terima kasih," ucapnya dengan tulus.


ZiXuan kembali menoleh menatap Yuan. "Di antara aku dan kamu, tidak perlu mengucapkan maaf dan terima kasih," ujarnya. Tangan ZiXuan yang berada di bawah meja menggenggam hangat tangan mungil Yuan, sesekali mengusapnya dengan ibu jari.


Acara berakhir sampai matahari terbenam dengan pelepasan lampion harapan sebagai penutup.


Beberapa tamu yang daerahnya cukup jauh, menginap beberapa hari di istana kekaisaran dan sebagiannya langsung pulang.


Setelah membersihkan diri, Yuan membaringkan tubuhnya yang terasa lelah.


Ketukan pintu membuat matanya yang sempat terpejam kembali terbuka. "Masuklah," ujarnya pada orang yang berada di depan pintu.


Bunyi geseran pintu terdengar disusul suara langkah kaki yang semakin dekat.


Yuan mendudukkan diri dan menegakkan tubuhnya.


"Oh, itu kamu."


Orang itu tersenyum sopan. "Hamba membawakan obat seperti biasa," ujarnya.


Kali ini Yuan minum tanpa menolak. Ia sudah terlalu lelah selama acara, jadi menurut saja untuk kali ini.


"Permaisuri membutuhkan sesuatu yang lain?"


Yuan menggeleng dan menjawab, "Tidak. Kamu bisa pergi sekarang."


"Ingin dipijat?" tanya Yunniang ragu.


Yuan mempertimbangkan sambil bertanya, "Di mana Jingli? Biasa dia yang selalu memijatku."


"Saudari Jingli bilang, dia tidak bisa datang untuk melayani permaisuri hari ini. Dia mengatakan punya urusan yang penting," ujar Yunniang menjelaskan.


"Apa yang dia lakukan?" gumam Yuan pelan.


"Permaisuri mengatakan sesuatu?"


"Ah, tidak. Kamu boleh pergi. Beristirahatlah."


"Kalau begitu hamba izin kembali ke kamar. Permaisuri beristirahatlah juga." Yunniang membungkuk memberi hormat dan berjalan keluar.


Setelah mendengar pintu di tutup, Yuan kembali membaringkan diri. Dan mulai terlelap.


Di tempat lain. Di ruang yang remang dan sunyi, seseorang duduk berpangku tangan. Ia memainkan sebatang jerami di tangan ketika dua orang yang lain menunduk di depannya.


"Haruskan kita melakukannya, Nyonya?"


"Bagaimana menurutmu? Ini waktu yang tepat. Dia sedang berada di sini. Kisah lama akan kembali diungkit dengan begitu keadaan akan melemah. Aku pernah mendengar sebuah pepatah yang mengatakan jika kau ingin menghancurkan seseorang, maka buatlah dia kehilangan percaya dan dukungan orang lain padanya."


"Kalau begitu, kami mengikuti perintah Nyonya."


Wanita itu tersenyum puas. Ia bangkit berdiri, membawa sebatang dupa yang entah dari mana diambilnya.


"Bakar itu. Letakkan di ujung Ruang Penyimpanan besok," ujarnya memberikan sebatang dupa itu pada salah dua diantara mereka.


"Dan kamu. Mendekatlah." Satu jarinya memberikan isyarat untuk mendekat. Orang itupun mendekat dengan patuh.


Wanita yang dihormati oleh dua orang lainnya tadi membisikan beberapa kalimat.


"Saya mengerti," ujarnya sambil mengangguk.


"Baiklah. Sekarang kalian boleh pergi. Terlalu lama di sini akan menimbulkan kecurigaan."


Kedua orang itu pun pergi. Meninggalkan wanita itu yang masih berdiam diri di sama. Matanya tampak menerawang jauh dengan seringaian tipis di bibirnya.


Dia mendesah pelan dan bergumam, "Maaf membuatmu kecewa. Aku tidak memiliki jalan lain. Aku sangat berhutang kepadamu untuk itu."


Tak lama, ia pun pergi dari tempat yang jarang dikunjungi itu. Langkahnya ringan dan kemudian bayanganya leyap di kegelapan.


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...