
Sang surya terbit dengan nyanyian burung yang terdengar seperti musik alam, tetapi ruangan itu tampak sangat sibuk. Seorang gadis berdiri merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Akhirnya selesai juga!" gumamnya sambil menatap beberapa makanan yang masih mengepul di atas meja. Yuan baru saja menyelesaikan menu terakhirnya untuk sarapan Zi Xuan.
Tangan gadis itu terulur mengambil sendok dan mulai mencicipi kuah dari mangkuk kecil di sana.
Bibirnya mengecap beberapa kali, tak lama senyuman kepuasan terbingkai di bibirnya. "Ini tidak buruk."
"Saudari, kemarilah." Jingli yang sedari tadi hanya memperhatikanpun menghampiri Yuan.
"Coba ini," ujar Yuan seraya mengulurkan sendok di tangannya ke bibir Jingli.
Jingli meniupnya sebentar sebelum memasukan sendok itu ke mulutnya. "Ini sangat enak!" pujinya dengan mata yang berbinar-binar.
Yuan menaik turunkan alisnya. "Aku memang sangat berbakat! Bukankah Kaisar Xuan seharusnya beruntung memiliku sebagai istri?" katanya sombong.
"Iya, iya, iya. Apapun yang kamu inginkan."
Yuan tertawa dan menggeleng. "Sudah cukup. Saudari, tolong masukkan makanan ini ke keranjang. Aku akan membersihkan diriku dulu," ujarnya seraya menepuk beberapa bagian dari bajunya yang terlihat kotor. Kakinya melangkah pergi meninggalkan dapur istana dan kembali ke kamarnya.
Suara ketukan pintu membuat Yuan mengalihkan pandangannya. Dia bergegas membuka pintu dan melihat Jingli sudah berdiri di sana dengan keranjang di tangan.
"Permaisuri ingin ditemani atau pergi sendiri?" tanya Jingli saat Yuan sudah di depannya.
"Tidak perlu ditemani, aku akan pergi sendiri."
Yuan mengambil alih keranjang itu dari tangan Jingli. Dan dia pun melipir dari kediamannya dengan langkah riang gembira.
Senyumnya memudar tatkala melihat seseorang yang sudah lebih dulu berada di depan pintu kediaman Kaisar Xuan.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Yuan menginterupsi perempuan yang terlihat berdebat dengan penjaga pintu.
Orang itu membalikkan badannya dan menatap malas Yuan. "Apa urusannya denganmu?"
Yuan menarik napas dalam-dalam. Tangannya menggenggam erat keranjang yang dibawanya. "Kamu membuat keributan di kediaman suamiku, apakah saya tidak boleh bertanya?"
Dari dalam istana Qin, ZiXuan yang mendengar keributan itu pun keluar. "Ada apa ini?" interupsinya menatap kedua perempuan itu.
"Saudara Xuan, Kakak Ipar memarahiku! Padahal aku hanya ingin bertemu denganmu sebentar saja! Penjaga ini juga melarangku untuk menemuimu!" Adunya sambil berjalan mendekat. Dia hendak meraih lengan pria tampan itu, tetapi ZiXuan menepisnya.
"Nona Ying, saya tidak suka disentuh, kamu tahu itu. Apa yang barusan ingin kamu lakukan? Beberapa tahun ini, kamu menjadi semakin berani, ya?" tanya ZiXuan menyindir.
Qiu Ying terlihat menyadari kesalahannya dan menunduk dalam. "Maaf, Saudara. Aku—aku terlalu takut pada Permaisuri."
Yuan mendelik ke arah gadis bermuka dua itu. "Hei? Kapan aku menakutimu? Jelas-jelas beberapa waktu lalu, kamu bahkan tidak sedikitpun menghormatiku!" katanya tidak terima.
ZiXuan menghela napas pelan dan berkata, "Pergilah!"
Mendengar itu, diam-diam Ying'er tersenyum. Wajahnya berubah sedih dan berkata, "Saudara Xuan, jangan marah pada kakak ipar. Itu, Ying'er saja—"
"Yang aku maksud adalah dirimu, Ying'er," ujar ZiXuan menyela.
Kini giliran Yuan yang tersenyum kemenangan. Ia menatap Ying'er dengan pandangan mengejek.
ZiXuan kini sepenuhnya menatap Yuan dan berkata, "Masuklah."
"Aku menang!" ujar Yuan pelan saat berpapasnya dengan Qiu Ying.
Yuan kembali pintu itu masih dengan senyum mengejek di depan Qiu Ying. Lain kali dia seharusnya menghukum bocah kecil itu! Memberikannya efek jera.
"Mengapa kamu ke sini?" tanya Zi Xuan.
Yuan mendekati Zi Xuan yang sudah duduk di kursi. "Aku membuatkan saudara sarapan."
"Bawa ke sini."
Dengan patuh, Yuan pun duduk di samping Zi Xuan. Dia membuka keranjang dan mengeluarkan makanannya.
"Aiya, tanganku terasa sakit sekalu setelah semalaman menulis beberapa dokumen," ujarnya pelan.
Yuan menatapnya sebentar sebelum akhirnya mengambil salah satu hidangan itu dan menyuapi pria di sampingnya.
"Bagaimana? Kali ini pasti pas, kan?" tanyanya dengan percaya diri.
"Tidak buruk. Kamu cukup cepat belajar."
Selesai menemani ZiXuan sarapan, Yuan merapikan wadah kotor, memasukannya kembali ke dalam keranjang.
Dia berbalik, mata seindah bunga persik itu memperhatikan setiap sudut kamar. Sangat rapi. Bahkan tempat tidurnya juga rapi. Laki-laki seperti itu jarang sekali ada di dunia modernnya, atau apakah laki-laki dari jaman dahulu memang rajin semua?
"Saudara, aku akan kembali. Aduh!" Gadis itu melangkah mundur saat dahinya menabrak sesuatu di depan.
"Mengapa kamu di sana?"
"Aku sudah di sini dari tadi. Kamu saja yang tidak menyadarinya."
"Saudaraku, apakah kamarmu selalu serapi ini?"
ZiXuan menaikkan alisnya bingung. "Apa yang salah?"
"Tidak ada yang salah. Hanya saja, kamu benar-benar tipe saya!"
"Ah?"
Itu terjadi sangat cepat. Yuan mendaratkan bibir merahnya pada pipi kanan pria itu dan berjalan cepat meninggalnya ZiXuan yang masih tak bergeming.
Di tempat lain, Ying'er berjalan sambil menghentakkan kakinya. Dia masih kesal dengan Yanli.
"Nona, mengapa anda terlihat kesal?" tanya seseorang yang membuat Ying'er menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Xiao Tao-pelayan pribadinya- sudah di sana.
"Sejak kapan kamu berada di belakangku?"
"Hamba baru saja tiba, Nona."
Ying'er kembali berjalan diikuti Xiao Tao di belakangnya.
Dia tak mengindahkan pertanyaan Xiao Tao beberapa saat yang lalu. Pikirannya masih berkecamuk tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan Yanli padanya, terlebih lagi ZiXuan yang terus mengabaikan dirinya. Ying'er merasa kehilangan muka di depan Yanli. Dan pada saat yang sama, dia menyadari bahwa tidak mudah untuk menekan Yanli.
Seringai tipis muncul di bibirnya. "Jika aku tidak bisa mendapatkannya, maka siapapun juga tidak bisa memilikinya!" gumam Ying'er penuh tekat.
"Eh, Xiao Tao, bukankah Kakak Rong akan sampai di sini besok?"
"Itu benar, Nona. Katanya Tuan Putri Rong baru saja menyelesaikan pendidikannya di kerajaan bagian barat, karena perjalanan ke kerajaannya sangat jauh, Yang Mulia mengizinkan beliau untuk tinggal beberapa hari di istana."
"Itu bagus," katanya tersenyum samar.
"Nona, kamu harus berhati-hati. Jangan impulsif, bagaimanapun kamu sedang berada di istana kekaisaran."
"Apa yang kamu takutkan? Memangnya apa yang akan aku lakukan? Xiao Tao, khawatirmu terlalu berlebihan. Lagipula Kakak Xuan tidak mungkin marah padaku, dia dan ayah kan sangat dekat."
Xiao Tao hanya menghela napas pasrah. Itu sudah terbiasa menghadapi sifat buruk Qiu Ying.
***
"Permaisuri, baru saja, pelayan dari Ibu Suri mengatakan bahwa Ibu Suri memanggilmu ke istananya," ujar Jingli saat Yuan baru saja tiba.
"Sungguh? apakah aku harus ganti baju dulu?" Yuan berbalik menatap Jingli dengan sedikit gugup. Walaupun Ibu Suri Lian Chun cukup baik saat pertama kali mereka bertemu, tapi tetap saja dia bukan ibunya.
Jingli tertawa pelan. "Pakaianmu sudah bagus, apa yang ingin diganti lagi? Bukankah waktu itu anda bilang, Ibu Suri Lian Chun baik? Lalu apa yang anda takuti?"
"Tapi— Baiklah. Saudari, kamu temani aku!"
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...