My Devil Emperor

My Devil Emperor
Siapa yang lebih baik?



Siang itu matahari terlihat bersembunyi di balik gumpalan awan putih, menyembunyikan sinarnya. Terlihat seorang wanita yang sedang duduk dengan tenang bersama seorang pria yang berdiri di depannya.


"Baiklah, saya salah. Maafkan aku, Saudari. Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu di depanmu."


Yuan berdeham pelan dan mengangkat dagunya. "Kedepannya kuharap kamu bisa memikirkan dulu apa yang akan kamu katakan. Bukan hanya padaku, tapi juga orang lain. Kamu begitu juga terlihat tidak sopan pada Yang Mulia."


Yanzhi menghela napas panjang dan mengangguk patuh. Di dunia ini, selain orang tuanya, dia juga sangat menyayangi saudari kembarnya. Bagaimana mungkin dia menyakiti Yanli?


"Jadi, mengapa kamu bisa berada di sini?"


"Setelah aku kembali dari pelatihan, aku mendengar kamu sudah menikah, tetapi bukan dengan tunanganmu. Aku juga mendengar keseluruhan ceritanya, dari awal kamu diculik dan tiba-tiba menikah kemudian saat ibu dan ayah berniat menjemputmu, kamu menolaknya. Aku mengira kamu sedang dianiaya. Walaupun aku memang tidak pernah berurusan langsung dengan Kaisar Xuan, tetapi sejarah mencatatnya. Bagaimana aku bisa diam saja?"


Yuan mengerjapkan matanya dan tertawa pelan.


"Mengapa kamu tertawa?"


Gadis itu menggeleng pelan dan berkata, "Tidak. Aku hanya tersentuh dengan kata-katamu. Kamu tidak seburuk saat pertama kali kita berjumpa."


"Jangan menyebutkannya. Xiao Li, kamu berubah menjadi sangat kejam. Aku berharap ingatanmu segera pulih, lihat betapa lembutnya dirimu dulu."


"Baiklah. Jadi intinya kamu ke sini untuk diriku?"


"Kalau tidak, apa lagi? Jika tahu kamu sangat baik-baik saja, aku tidak akan ke sini," ujarnya sedikit kesal.


Yuan tertawa keras. Dia berdiri dan mendekati pria tampan itu. Masih lebih tinggi darinya, tetapi tidak lebih tinggi dari suaminya. "Ternyata seperti ini rasanya memiliki saudara laki-laki," gumamnya tanpa sadar.


"Xiao Li, boleh aku memelukmu?"


"Kami adalah saudara, mengapa harus meminta izin?"


YanZhi mencibir dan berkata, "Itu setelah kamu mengetahuinya. Kemarin kamu masih menamparku sangat keras."


Yuan meringis mendengarnya. "Itu kamu yang salah. Mengapa langsung memelukku tanpa menyapa dulu? Aku kira kamu pria hidung belang. Walaupun kamu cukup tampan, tetap saja itu menyeramkan."


YanZhi tidak lagi menanggapinya, pria itu juga berjalan mendekat dan langsung membawa tubuh mungil saudari kembarnya ke dalam pelukan. "Xiao Li, jaga dirimu. Jika terjadi sesuatu atau suamimu menganiaya dirimu, jangan ragu untuk mengabariku, aku akan langsung memberinya pelajaran. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Akan lebih baik jika kamu benar-benar menjadi satu-satunya istri Kaisar Xuan. Jika bisa, buatlah dia bertekuk lutut padamu!" ujarnya menceramahi.


"Baik. Saya tau."


Setelah itu, dia melepaskan pelukannya dan kembali berkata, "Kalau begitu, aku akan kembali."


Yuan mengernyitkan keningnya. "Begitu cepat. Mengapa tidak di sini beberapa hari lagi?"


"Aku memiliki tugas lainnya. Demi dirimu saja aku harus menunda urusan itu."


"Kalau begitu, berhati-hatilah. Oh iya, kamu sudah berpamitan dengan Kaisar Xuan?"


YanZhi menggeleng dan berkata, "Aku baru akan menemuinya setelah ini."


"Ayo! Aku temani."


Kedua saudara itu pun berjalan keluar dari kediaman Permaisuri Xuan menuju ruang baca kekaisaran.


"Permaisuri telah melihat Yang Mulia Kaisar Xuan," ujar Yuan memberi salam saat mereka sudah berada di hadapan Zi Xuan.


Zi Xuan mengangkat wajahnya menatap kedua kakak beradik itu. Alisnya terangkat, bingung.


Yuan yang mengerti langsung menjelaskan kedatangan mereka ke sana.


"Maaf sudah mengganggu waktumu, Yang Mulia. Saudaraku akan kembali ke kerajaan Zhou hari ini." Yuan melirik pria yang berdiri di sampingnya.


YanZhi menundukkan kepalanya dan berkata, "Salam, Yang Mulia Kaisar. Kedatangan hamba kemari ingin berpamitan."


"Aku sudah mendengarnya. Kamu boleh pergi."


"Baik, Yang Mulia."


Yuan menggaruk tengkunya yang tidak gatal. "Hanya begitu?" katanya lebih kepada diri sendiri.


"Ada yang salah?"


"Kalian, hanya seperti itu saja?"


Zi Xuan mengangkat alisnya. "Jadi harus bagaimana?"


"Bersalaman?" ujar Yuan polos.


Kedua pria itu saling memandang dan menatap Yuan dengan aneh.


Tak lama, ZiXuan berdiri dan berjalan mendekati kedua orang itu.


"Sampaikan salamku kepada ayah dan ibu mertua. Semoga perjalananmu aman," ujar ZiXuan sambil mengulurkan tangannya.


YanZhi tersenyum dan membalas uluran tangan itu. "Terima kasih, Yang Mulia. Saya akan sampaikan."


Melihat kedua pria itu secara bergantian, Yuan mengangguk puas. Tetapi sedetik setelahnya dia tiba-tiba terdiam dan memikirkan sesuatu.


"Saudara, biarkan aku mengatarmu," katanya setelah ZiXuan dan YanZhi melepaskan tangan mereka.


YanZhi menggeleng. "Tidak perlu mengantar. Aku pergi."


Yuan menahan tangannya. "Kami sudah lama tidak bertemu, kan? Jangan menolakku. Biarkan aku mengantarmu," katanya cepat.


"Permaisuri, kamu tetap di sini. Putra Mahkota YanZhi, anda bisa pergi. Maaf kami tidak bisa mengantar," potong ZiXuan.


YanZhi terlihat ragu, tetapi dia tidak melihat sesuatu yang salah dari wajah kakak iparnya.


"Jangan khawatir. Aku tidak akan menyakiti saudarimu. Aku memiliki sedikit urusan dengannya," jelas ZiXuan yang mengerti.


Yuan menatap saudara kembarnya itu dengan tajam. Berharap dia tidak meninggalkannya di sini. Tetapi sepertinya YanZhi itu tidak cukup peka. Pria itu menunduk dan berjalan keluar dari sana.


"Saudaraku, aku akan tetap menemanimu." Yuan hendak menyusul YanZhi, tetapi sebuah tangan menariknya mundur.


"Ingin lari? Permaisuri, aku memintamu untuk ke kamarku kemarin. Mengapa tidak datang? Mulai tidak mematuhiku?"


Yuan berbalik menatap pria tampan itu dan tertawa pelan. "Tidak ada. Tidak berani. Itu—kemarin aku sangat lelah. Tidak sempat memberitahu Yang Mulia," katanya beralasan.


"Oh? Kupikir kamu takut."


"Aku tidak takut. Mengapa harus takut? Saudara Xuan sangat baik padaku," bantahnya cepat.


"Besok, bangunlah lebih awal atau kamu bisa tidur bersamaku malam ini."


Yuan menggeleng cepat. "Aku akan bangun pagi besok! Tidak perlu tidur di sini. Tapi ada apa dengan besok?"


"Kami akan pergi berburu."


"Apakah ini permintaan Putri Liang lagi?"


"Tidak. Acara ini sudah ada sejak lama. Kami akan pergi berburu setiap tahunnya, tapi karena kebetulan Putri Liang ada di sini, jadi dia juga akan ikut."


"Aku tidak pergi!" tolak Yuan dengan keras.


"Boleh saja. Tapi—" ZiXuan sengaja mengantung kalimatnya. Tanpa aba-aba, dia menarik pinggang ramping Yuan, menghapus jarak di antara keduanya. "Itu tergantung apakah kamu bisa melayaniku dengan baik?" lanjutnya berbisik.


Tubuh Yuan tersentak. Dia sudah mencoba mendorong pria itu, tetapi hasilnya nihil.


Yuan menggigit bibirnya saat merasakan sesuatu yang lembab dan hangat menyentuh telinganya. "Aku—aku akan pergi," ucapnya pelan.


ZiXuan tertawa pelan. Dia menarik dirinya dan berkata, "Gadis baik. Jadilah patuh."


"Apa lagi yang bisa aku lakukan selain patuh?"


***


Keesokan harinya, beberapa pelayan, atas perintah pelayan kepala membawakan barang-barang yang diperlukan untuk Yuan, termasuk baju yang akan digunakan.


Yuan menggunakan baju berwarna merah kombinasi hitam yang membuatnya terlihat anggun dan dewasa. Baju itu sangat pas di lekuk tubuhnya indah.


"Permaisuri, anda terlihat seperti seorang dewi yang suci," puji Jingli yang diangguki Yunniang.


"Aku juga baru menyadarinya. Sudahlah, mari kita keluar sekarang."


Keramaian di luar istana langsung menyambut Yuan. Para prajurit yang mengawal dan beberapa tamu dalam acara pemburuan itu sudah berkumpul di sana.


Yuan menghampiri ZiXuan yang berbicara empat mata dengan Li Wei. Sedikit yang ia tangkap dari pembicaraan itu adalah mengenai keamanan selama acara berlangsung.


"Yang Mulia," panggil Yuan pelan tetapi masih terdengar sampai ke telinga kedua lelaki itu.


"Ah, kamu sudah datang. Li Wei, kita bisa pergi sekarang."


"Baik, Yang Mulia." Li Wei langsung pergi dari sana setelah sebelumnya menunduk sopan pada Yuan.


"Naiklah," ujar Zi Xuan seraya menunjuk kereta kuda di belakang.


"Bagaimana denganmu?"


"Aku menaiki kuda."


"Tidak bisakah Yang Mulia bersamaku?"


"Ah?"


"Tidak bisakah kamu memberiku muka kali ini? Saudara, bukankah kami teman seperjuangan? Telingaku sangat panas mendengar gosip di istana tentang diriku sendiri, hari ini bisakah kamu memberiku sedikit muka?" kata Yuan sedikit kesal.


Zi Xuan menunduk menahan tawanya. "Ternyata Permaisuri juga memperdulikan perkataan orang-orang."


Yuan memutar bola matanya malas. "Aku tidak ingin menanggapinya tetapi aku tidak bisa dipermalukan dengan cara seperti itu."


"Baiklah, aku menemanimu."


Yuan tersenyum puas dan refleks memeluk lengan ZiXuan erat. Tentu saja itu mendapat perhatian dari beberapa pengawal dan pelayan yang kebetulan lewat.


ZiXuan tersenyum tipis dan membiarkan gadis itu menempel padanya.


"Permaisuri, masuklah." Ucapan Yunniang membuat Yuan tersadar. Dia pun dengan cepat melepas pelukannya dan membuang muka ke arah lain. Tetapi ZiXuan sempat melihatnya. Wajah cantik itu merona.


Hanya ada keheningan di antara Yuan dan Zi Xuan. Keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing.


"Saudara, antara aku dan Putri Rong, siapa yang lebih baik?"


......▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎......