My Devil Emperor

My Devil Emperor
Tetap Tinggal



Aroma bunga mawar, bunga persik dan air susu menyeruak indera penciuman Yuan.


Gadis itu sedang berendam dengan kelopak bunga yang mengapung di atasnya.


Ditemani dua orang pelayan yang salah satunya sedang membasuh rambut panjang Yuan.


Suara langkah kaki membuat kedua pelayan itu menoleh pada seseorang yang sudah muncul dari arah pintu.


Mereka hendak bangun saat melihat Kaisar Qin berdiri di depan tirai yang membatasi kolam pemandian, tetapi Kaisar Qin mengangkat tangannya tanda untuk tetap di sana.


"Salam, Yang Mulia," kata mereka yang membuat Yuan terkejut.


Dia menoleh ke belakang dan melihat Kaisar Qin yang sedang menatapnya datar.


Yuan melengos malas. Ia masih kesal dengan apa yang dilakukan sang Kaisar padanya saat malam pertama mereka, mengingatnya saja sudah membuat ia emosi. Dia tidak akan terpedaya lagi!


"Apa yang membawa Yang Mulia kemari?" tanya Yuan acuh tak acuh.


Kaisar Qin menyingkap tirai pembatas dan berjalan mendekati Yuan, membuat si pelayan yang sedang mencuci rambut Yuan berdiri dan mengambil jarak.


"Ini adalah istanaku. Ke manapun aku pergi, itu terserahku." Ada kesombongan dalam kalimatnya dan jarak mereka hanya tiga jengkal sekarang.


Mata birunya menatap terang-terangan bagian belakang tubuh indah Yuan. "Aku hanya ingin menyampaikan bahwa orang tuamu akan datang ke sini."


Mendengar hal itu, Yuan langsung menoleh pada Kaisar Qin dengan bahagia. "Benarkah? Saya tahu mereka pasti akan menjemputku!" ujar Yuan semangat.


"Pelayan! Siapkan barang-barangku sekarang!" perintahnya.


Kedua pelayan itu saling memandang satu sama lain dan mereka menatap takut Kaisar Qin.


Kaisar Qin tidak mengatakan apapun dan menyuruh mereka keluar dengan tangannya dan kedua pelayan itu pun pergi meninggalkan Kaisar bersama Permaisuri.


"Apakah kamu sangat bahagia?" tanya Kaisar dengan suara rendahnya. Tangannya menyentuh bahu telanjang Yuan.


"Apa yang akan kamu lakukan!" Tubuhnya seperti tersengat listrik. Dia refleks menghindari sentuhan kaisar tampan itu.


"Apa yang aku lakukan?" tanyanya balik sambil memperhatikan wajah cantik Yuan yang terlihat memerah.


"Jika kamu melakukan sesuatu padaku, aku akan berteriak!" ancam Yuan. Ia semakin sesak napas saat Kaisar Qin mulai menghapus jarak wajahnya.


"Lakukanlah, lihat siapa yang berani datang!" tantang Kaisar Qin.


Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Yuan, tangannya menahan bahu telanjang gadis itu agar tidak melarikan diri. Yuan semakin panik dan hal terakhir yang bisa ia lakulan adalah menutup matanya rapat-rapat.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Tidak ada apapun, yang ada hanya keheningan. Dia membuka mata bersamaan dengan sesuatu yang lembut seperti terakhir kali menyentuh bibirnya. Otaknya blank dan saat sudah menyadari apa yang terjadi Yuan mendorong orang di belakangnya dengan siku, berusaha melepaskan diri tapi tangan lain Kaisar sudah menahan kepalanya. Dia menggigit pelan bibir bawah Yuan dan kemudian melepaskannya.


Kaisar Qin menatap Yuan yang masih mengatur napasnya. Dia memberikan sentuhan lembut di sudut bibir Yuan.


"Permaisuriku, sudahkah aku mengatakannya bahwa kamu benar-benar tidak memiliki jalan keluar? Jangan melakukan kesalahan nanti, oke? Kamu tentu tidak mau menyakiti keluargamu, kan?"


"Kamu!"


"Jadilah gadis penurut dan kamu akan mendapatkan apapun yang kamu inginkan, kecuali berpisah dariku," lanjut Kaisar Qin. Dia berdiri dan meninggalkan Yuan yang masih mencerna kata-katanya.


***


"Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri memasuki ruangan!" ucap seorang pengawal di pintu aula pertemuan dengan lantang.


Kaisar Qin dan Permaisurinya masuk beriringan ke dalam ruangan.


Yuan bisa melihat mata penuh kekhawatiran ibunya, dia memberikan sebuah senyuman untuk memberitahu bahwa dia baik-baik saja di sini kepada Ratu Yin.


"Salam kepada Yang Mulia Kaisar," ucap mereka semua serempak tanpa mengakui YanLi.


"Yang Mulia, maksud kedatangan hamba ke sini untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi." Raja Huang mulai menjelaskan tujuannya.


"Aku mengerti. Ini terkait putrimu, bukan?" tanya Kaisar Qin tenang.


"Benar, Yang Mulia," jawab Raja Huang.


"Katakan."


"Kami memohon kebaikan Yang Mulia untuk melepaskan Putri kami. Dia hanyalah korban dan juga Putri kami sudah terikat pernikahan dengan Pangeran Liu. Sebagai gantinya kami berjanji akan menemukan Putri Bingyan kembali," negosiasi Raja Huang.


"Menemukan Putri Bingyang kembali?" ulang Kaisar Qin sambil menaikkan alisnya.


"Benar, Yang Mulia. Sebelum ini Putri Bingyan menyamar sebagai putri kami dan berhasil masuk ke dalam Istana." Raja Huang menjelaskan.


"Kemudian saat dalam perjalanan kemari, dia berhasil melarikan diri kembali," lanjutnya.


"Hal ini aku tidak bisa memutuskannya sendiri. Coba tanyakan pada putrimu, apakah dia akan kembali atau tetap di sini.  Bagaimanapun juga kami adalah pasangan yang sah sekarang," ucap Kaisar Qin yang terdengar bijak padahal melemparkan keputusan yang sulit pada Yuan.


"Apapun keputusanmu, aku akan menerimanya," lanjutnya sambil mengusap pelan punggung Yuan dan tentu saja tidak ada seorangpun yang memperhatikan.


"Ibu," panggil Yuan lirih sambil memeluk Ratu Yin.


"Putriku, kamu baik-baik saja?" tanyanya setelah Yuan melepaskan pelukan.


"Aku baik-baik saja."


"Ayah." Kini Yuan berganti memeluk ayahnya.


Akhirnya mereka dapat melepaskan rasa khawatir tentang keadaan Yuan.


"Tuan Putri, maafkan hamba. Ini semua salah hamba," ucap Jingli saat Yuan sudah berada di depannya.


"Tidak. Jangan menyalahkan diri sendiri. Jika saja aku tidak terlalu ingin tahu, pasti aku tidak akan seperti ini. Semuanya adalah takdir." jawab Yuan sambil tersenyum.


Kemudian seorang laki-laki yang cukup tampan menginterupsi mereka. "Xiao Li," panggilnya yang terdengar lembut.


Yuan beralih menatap pria muda itu dengan tanda tanya. "Siapa dia?" tanya Yuan berbisik pelan.


"Dia adalah Pangeran Liu."


Dia menatap laki-laki di depannya dan tersenyum ringan. "Jujur saja, saya tidak begitu mengingat Anda. Tetapi saya mendengarnya dari orang lain. Pangeran Liu, senang bertemu denganmu."


"Kamu benar-benar tidak mengingatku?"


Yuan menggeleng pelan.


"Xiao Li, kembalilah bersama kami," ujar Ratu Yin sambil memegang tangan Yuan.


"Benar, Xiao Li. Kembalilah bersama kami. Semua orang di istana Zhou menunggumu," kata Selir Zhuang menimpali.


Jika Kaisar Qin tidak mengancamnya, mungkin sekarang ia akan dengan mudah mengiyakan ajakkan ibunya. Ini benar-benar membuat pusing.


"Ibu, Ayah, sepertinya Xiao Li tidak bisa. Xiao Li sudah berjanji pada diri sendiri untuk hanya sekali menikah dan melayani suami Xiao Li sepenuh hati. Yang Mulia Kaisar sudah menikahiku, kami sudah melakukan upacara pernikahan yang sah. Putri kalian tidak bisa meninggalkannya dan melanggar janjiku sendiri." Yuan menjelaskan dengan wajah sedih. Dia pasti akan merindukan Raja dan Ratu Zhou yang sudah seperti orang tuanya itu.


"Xiao Li apa yang kamu katakan? Kita juga sudah memiliki ikatan pernikahan." Pangeran Liu berkata sambil ingin menyentuh tangan Yuan, tetapi gadis itu memundurkan langkahnya.


"Aku sangat menyesal untuk itu, Pangeran Liu. Ini semua diluar kehendakku. Aku berharap kamu menemukan perempuan yang lebih baik daripada aku," jawab Yuan sopan dan berhati-hati.


Pangeran Liu menatap tak percaya mendengar jawaban Yanli. Walaupun dia sudah mendengar keadaan calon istrinya itu, tetapi apakah cinta mereka begitu mudah untuk dilupakan? Tidakkah Yanli merasakan sesuatu saat menatapnya?


"Yang Mulia Raja, aku rasa kita harus menghormati keinginan Xiao Li," ujar Selir Zhuang mendukung.


"Lagi pula ini sebuah kehormatan untuk keluarga kita bisa menjadi bagian dari keluarga kekaisaran," lanjutnya yang membuat Raja Huang kembali mempertimbangkan.


"Tetapi Xiao Li sudah terikat pernikahan dengan Pangeran Liu. Bagaimana kita harus mengatasinya?" tanya Ratu Yin.


"Saudari, kerajaan kami memiliki dua orang putri. Itu tergantung apakah Pangeran Liu bersedia," saran implisit selir Zhuang.


"Aku bersedia," jawab Pangeran Liu menatap Yuan penuh kekecewaan.


"Kalau begitu, apakah masalah ini sudah selesai, Ayah dan Ibu mertua?" tanya Kaisar Qin yang sedari tadi hanya memantau.


"Iya, Yang Mulia Kaisar. Terima kasih sudah mau menerima putri kami, mohon jaga dia dengan baik," pinta Raja Huang.


"Aku akan melakukannya walaupun Anda tidak meminta, Raja Huang," jawab kaisar Qin tersenyum tipis.


"Terima kasih, Yang Mulia. Kalau begitu kami akan kembali," pamit Raja Huang tersenyum.


"Anda tidak ingin bermalam di sini?"


"Kami mempunyai urusan lain," jawab Raja Huang sopan.


"Baiklah."


"Xiao Li, jaga dirimu. Jangan lupa untuk mengunjungi kami." Kali ini Raja Huang berbicara pada Yuan sambil mengusap lembut puncak kepalanya.


"Xiao Li-ku, selalu kirimi ibu kabarmu," ujar Permaisuri Qin juga.


"Xiao Li akan mengingatnya, Ayah, Ibu. Berhati-hatilah. Sampaikan salamku pada adik Ji'er."


Merekapun berjalan keluar aula pertemuan.


Yuan menghampiri Kaisar yang menatapnya datar.


"Apakah kamu puas sekarang?" Tanya Yuan kesal.


"Kamu cukup pintar."


Tiba-tiba Yuan teringat sesuatu dan bertanya pada Kaisar Qin. "Yang Mulia, boleh aku membuktikan ucapanmu?"


Kaisar Qin menatap bingung Yuan.


"Aku ingin membuat permintaan pertamaku!"


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...