My Devil Emperor

My Devil Emperor
Drunk



"A—Aku tidak ingin meminumnya lagi!"


ZiXuan memperhatikan wajah cantik nan manis yang terlihat semakin memerah itu. Mata gadis itu menyipit sambil beberapa kali memijat pelipisnya.


Pria itu tertawa pelan. Dia menyangga kepalanya dengan satu tangan.


"Kamu baik-baik saja?" tanya ZiXuan. Matanya tak lepas menatap wajah cantik bak bunga musim semi itu.


Yuan menggeleng pelan. "A—aku? Yang Mulia, kamu diam!" Jari telunjuknya menunjuk ke depan.


ZiXuan menangkap tangan itu dan menggenggamnya. "Dari tadi aku diam. Kamu yang banyak bergerak." ujarnya santai. "Xiao Li-ku sepertinya memang tidak bisa minum," lanjutnya lagi.


Yuan menarik tangannya dari genggaman ZiXuan. Tetapi karena terlalu keras menarik, dia terjatuh. "Uh!"


ZiXuan menggigit bibirnya, menahan tawa. Gadis di depannya ini terlalu imut. Sambil menarik napas panjang, dia berdiri mengitari meja mendekati gadisnya.


"Sakit?" tanyanya lembut.


Gadis itu mendongakkan wajahnya. Dia tersenyum dan berkata, "Saudaraku, kamu sangat tampan!"


ZiXuan menaikkan alisnya. "Benarkah? Kalau begitu—" Tangan kanannya terangkat merapikan anak rambut Yuan yang berantakan. "Seberapa sukanya kamu padaku?"


Yuan tiba-tiba merentangkan kedua tangannya. Dia tertawa pelan dan menjawab, "Sangat, sangat, sangat suka! Tapi—kamu sangat kejam. Aku tidak jadi suka!"


"Apa maksudmu, apa yang aku lakukan pada pelayan itu? Atau keluarga Qiu?"


"Siapa—siapa yang peduli pada mereka? Yang aku maksud adalah kamu sangat kejam padaku. Kamu tahu aku menyukaimu, tetapi aku bahkan tidak tau—aku tidak tahu bagaimana perasaanmu. Itu kamu! Kamu menggunakanku sebagai umpan! Kamu—kamu hanya menganggapku sebagai pionmu, kan?" Selama berbicara, ekspesi wajah Yuan sangat jujur. Dia kadang menunjuk dirinya sendiri dan kadang menunjuk pria yang berlutut di depannya.


Mata indah yang terlihat sayu itu mulai berkaca-kaca. "Saudara Xuan—Saudara Xuan, mengapa—mengapa kamu begitu tinggi? Mengapa kamu begitu tinggi untukku gapai?"


ZiXuan menatap rumit perempuan itu. Bukan hanya tatapannya, perasaannya pun juga sangat rumit.


Dia menarik dan membuang napas dengan perlahan, kemudian mengangkat tubuh gadis mungil itu dari lantai.


Niat hati ingin membawa Yuan ke tempat tidur, tetapi gadis itu memberontak sekuat tenaga, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Jadi ZiXuan memilih untuk kembali duduk di kursi yang tadi ditempati Yuan dengan gadis itu yang kini duduk di pangkuannya.


Yuan mengangkat wajahnya. Dengan mata menyipit, dia memperhatikan dengan intens pahatan indah Yang Maha Kuasa itu. Seakan tidak puas jika hanya menatap, jemari lentiknya mulai terangkat dan menyentuh wajah tampan di depannya.


Perlahan, Yuan mendaratkan jarinya pada dahi pria itu, kemudian turun ke alis tebalnya, kelopak matanya, bulu matanya, hidung mancungnya, dagunya lalu yang terakhir naik ke bibir merah ZiXuan.


"Bibirmu ini, mengapa kamu gunakan untuk menggodaku?" tanyanya sedikit kesal.


Bibir yang sedang disentuh gadis itu tersenyum. "Kamu tidak suka?"


"Tidak sama sekali! Kamu membuatku jatuh cinta, tapi kamu tidak mau bertanggungjawab! Tidak tahukah kamu, sifatmu yang seperti itulah yang menarik. Sudah—sudah berapa banyak?"


"Apa?"


Yuan bersandar pada dada bidang pria itu. "Sudah—sudah berapa banyak wanita yang kamu perlakukan seperti—seperti ini?" katanya berbisik.


ZiXuan tersenyum tipis. "Xiao Li, kamu sangat mabuk."


Gadis itu menyipitkan matanya. Dia bangun sambil mendorong dada ZiXuan kemudian telapak tangannya melambai. "Tidak! Siapa yang mabuk? Ayo... kita minum lagi." Yuan meraih ketel yang terbuat dari logam itu, tetapi ZiXuan sudah mencekal pergelangan tangannya.


"Tidak lagi. Kamu tidak bisa."


Bibirnya mengerucut ketika mendengar larangan itu. "Mengapa?" tanya Yuan lirih. Dia memundurkan langkahnya dan kembali duduk di bawah dengan memeluk kedua lututnya.


Melihat gadis itu yang tidak bergerak, bahkan menenggelamkan kepalanya di atas lutut membuat ZiXuan penasaran. "Xiao Li?" Dia mendekati Yuan dan menyentuh bahunya.


"Xiao Li, kamu—mengapa kamu menangis?" tanyanya terkejut. Bagaimana tidak?! Dia tidak merasa telah melakukan sesuatu yang salah atau berlebihan tetapi sekarang tiba-tiba saja gadis itu sudah menangis.


"Mengapa? Mengapa aku tidak bisa?"


Pria itu meringis pelan tetapi juga menatap gadis di depannya dengan takjub. Beberapa waktu lalu dia bertingkah manja, kemudian memarahinya, lalu menggodanya dan sekarang dia sudah bersedih karenanya. Zhou YanLi ini! Toleransinya pada minuman terlalu buruk.


"Karena—"


"Karena apa? Karena aku terlalu buruk jadi kamu membuangku begitu saja?" sela Yuan sambil mengangkat wajahnya yang memerah dengan air mata yang mengalir di pipinya.


"Ah?"


"Mengapa? Mengapa kamu melakukan ini padaku? Mengapa kamu menyalahkanku? Mengapa kamu lebih menyukainya daripada aku? Saudara Jiang, katakan padaku mengapa kamu memperlakukanku seperti ini? Apa—apakah aku tidak berhak bahagia?"


Awalnya ZiXuan tidak menemukan yang salah dari kata-kata Yuan, tetapi sedetik kemudian wajahnya mengeras. Dia menarik kasar lengan gadis itu dan bertanya, "Siapa? Siapa Saudara Jiang?"


Yuan mengaduh sambil menarik lengannya dari cengkeraman tangan pria itu. "Sakit. Lepaskan. Lepaskan."


"Saudara—"


"Apakah itu nama panggilan Pangeran Liu? Sepertinya dia tidak cukup memperlakukanmu dengan baik, benar?" tanyanya kembali memotong.


"Kamu—kamu lepaskan dulu."


ZiXuan melepaskan cengkeramannya dengan kesal. "Kamu katakan! Apakah kamu sangat menyukai Pangeran Liu? Seberapa baik dia?"


"Apa yang kamu katakan? Siapa—siapa Pangeran Liu?"


"Kamu tadi menyebutnya! Xiao Li, aku tidak menyukai milikku mengingat pria lain! Jangan mempermainkanku! Saudara Jiang-mu, apakah aku perlu melenyapkannya?"


"Saudara Jiang? Benar! Saudara, tidak. Suamiku, kamu bunuh saja dia untukku! Laki-laki seperti itu, apa bagusnya?!" ujar Yuan kesal.


ZiXuan memberikan senyum seringaiannya dan berkata, "Karena ini keinginan permaisuriku, maka aku akan mengabulkannya. Tetapi apakah kamu akan tega membuat saudarimu menjadi janda?"


"Saudari? Saudari apa? Akukan anak tunggal!"


Pria itu tertegun. Sepertinya ada yang salah di sini. Dia berdeham pelan dan menatap lamat-lamat gadis di depannya. "Apakah Saudara Jiang dengan Pangeran Liu adalah orang yang berbeda?"


Yuan tertawa pelan dan menjawab, "Tentu saja! Mengapa kalian semua selalu menyebut Pangeran Liu ini, Pangeran Liu itu. Aku—aku sudah bilang tidak mengenalnya."


"Siapa Zhou Feng Ji?"


"Adik Zhou YanLi."


"Siapa Zhou YanLi?"


Yuan terdiam sebentar lalu telunjuknya terangkat menunjuk dada ZiXuan. "Kamu."


ZiXuan menghela napas pelan. "Lalu, siapa kamu?"


Yuan memiringkan kepalanya dan menunjuk diri sendiri. "Aku? Istrimu. Kamu sudah menikahiku," jawabnya.


"Namamu. Yang kumaksud siapa namamu?"


"Namaku? Siapa namaku?" tanya Yuan bingung. Dia mengernyitkan keningnya dan menatap ZiXuan, tetapi entah apa lagi yang gadis itu pikirkan, tiba-tiba saja matanya melebar, kaget. "Kamu! Kamu! Siapa kamu? Kakak yang tampan, siapa kamu?" Yuan bangkit berdiri dengan terhuyung-huyung.


ZiXuan ikut berdiri dan menahan bahu gadis itu agar berdiri seimbang. Dia menggeleng pelan, merasa sedikit tidak berdaya. "Sudahlah. Percuma saja berbicara pada orang mabuk." Pria itu kemudian menuntun Yuan ke tempat tidur.


"Kamu beristirahat dulu," ujar ZiXuan sambil membantu gadis itu untuk berbaring.


"Jangan tinggalkan aku," gumam Yuan seraya menarik lengan baju ZiXuan.


ZiXuan menunduk untuk melihat tangan seindah porselin itu menahannya. Kemudian mata biru safirnya bergerak memandang wajah cantik yang terlihat merah menggoda dan dia baru saja menyadari pakaian gadis itu tidak terlihat baik, dalam artian pakaian Yuan sangat berantakan.


Karena sebelumnya gadis itu banyak bergerak membuat simpul tali di bagian pinggang sudah terlepas. Bagian bawah bajunya terlihat kusut, sedangkan bagian atasnya turun ke bawah membuat bahu dan sedikit bagian dada Yuan terbuka.


Awalnya, ZiXuan hanya menatap saja. Tetapi kemudian dia duduk di tepi ranjang dengan tangan terulur merapikan rambut Yuan yang terasa sangat lembut. Selain aroma manis buah persik dari arak yang tadi mereka minum, ia juga mencium aroma bunga peony yang segar dari gadis itu.


Kepalanya tanpa sadar mulai menunduk dengan tatapan yang turun pada bibir merah Yuan. Bibirnya mulai mengecap rasa manis itu. Rasa yang sangat dia sukai, tetapi sepertinya masih sangat kurang.


Dengan satu tangan, ZiXuan menahan kedua lengan gadis itu di atas kepalanya. Kemudian, tangan lain bergerak untuk lebih menurunkan pakaian Yuan.


Gadis di bawahnya bergerak gelisah tetapi tidak dapat melakukan apapun. Yuan membuang mukanya membuat ciuman itu terlepas. Dengan cepat, dia menarik dan membuang napasnya yang memburu.


Mata sayu yang seindah bunga persik itu tiba-tiba terbuka lebar dengan ******* yang keluar dari bibirnya. "Ahh!"


ZiXuan mengangkat wajahnya menatap wajah cantik yang berada dalam kendali itu dan tersenyum menyeringai. "Apakah ini sakit?" tanyanya sambil menyentuh ringan leher jenjang Yuan dengan jejak merah di kulit putih gadis itu.


Yuan menggeleng frustrasi. Matanya berkaca-kaca. "Saudaraku. Saudaraku, kami tidak bisa melakukannya. Jangan—jangan lakukan ini," ujarnya pelan.


"Mengapa?"


"Kita belum memiliki sertifikat pernikahan. Aku—aku seorang gadis baik-baik, mana boleh bertindak seperti ini?"


Apa lagi yang diucapkan gadis itu sekarang. Kalau begitu, ikuti saja ceritanya.


"Oh? Lalu bagaimana caranya agar kami memiliki sertifikat?"


"Tentu saja pergi ke biro catatan sipil!"


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...