
Aaron bergegas pulang dari kantornya menuju ke kampus menjemput Atreya.
seperti biasa Atreya menunggunya ditempat parkiran depan kampus.
" kak, kita ke toko buku dulu ya ! ada buku yang harus ku beli." ucap Atreya.
Aaron hanya mengangguk dan tetap fokus dibalik setir mobilnya.
kedua kakak beradik itu nampak sibuk masing-masing. Atreya asik memainkan ponsel sambil melihat-lihat beranda sosmed nya. sedangkan Aaron entah kenapa lebih memilih diam dan tetap fokus dibalik kemudinya. ia sedang berada dititik kegamangan rasa karena ketidak jelasan, atau yang biasa disebut dengan nama Galau.
tak lama kemudian Aaron memasuki area parkir sebuah toko buku besar. lalu membawa Atreya masuk untuk mencari buku yang akan dibeli Atreya.
" buku itu kak, yang diatas !" tunjuk Atreya ke arah buku tebal berwarna biru itu. Aaron langsung mengambilkannya lalu memberikan buku itu pada Atreya.
"kita langsung ke kasir saja kak." pinta atteya.
" hanya satu buku saja ?" tanya Aaron mengernyitkan dahinya.
Atreya hanya mengangguk lalu mengarahkan kursi rodanya ke arah tempat pembayaran.
" ini saja mbak." Atreya menyodorkan bukunya ditempat pembayaran dekat pintu keluar.
" totalnya jadi Seratus tujuh puluh lima ribu."
ucap si kasir pada Atreya. lalu Atreya pun merogoh-rogoh dompet didalam tasnya.
" kemana dompetku." gumamnya.
Atreya masih mencari-cari dompet dalam tasnya. tapi tidak ditemukan juga. sepertinya dompetnya memang tertinggal dirumah.
" pakai ini saja, mbak."
Aaron menyodorkan kartu debitnya pada si kasir.
" nyari dompet saja lama." sahut Aaron lagi menggerutu.
Atreya hanya diam menggigit bibirnya. ia sangat kesal karena sang kakak berhasil membuatnya malu didepan si kasir yang tengah memperhatikannya.
setelah selesai semuanya, mereka pun langsung keluar dari toko buku hendak menuju parkiran.
" eh kak, kita karaoke dulu yuk !!" ajak Atreya saat dirinya melirik ke sebelah gedung toko buku tadi.
" tidak mau. ini sudah malam, Rea. nanti nenek mencari kita." tolak Aaron segera mendorong kursi roda Atreya sedikit cepat dari biasanya. tapi Atreya langsung menahan rodanya.
" hey, apa yang kau lakukan? tanganmu bisa terluka." bentak Aaron langsung menepis tangan Atreya dari rodanya.
" ayolah kak, kita senang-senang sebentar. dulu kita selalu karaoke bareng bersama mom and dad kala sedang suntuk."
" tapi aku sedang tidak suntuk, Rea." Balas Aaron ketus.
" sebentar saja kak. aku tau Kaka itu senang sekali bernyanyi. suara Kaka itu bagus seperti daddy. aku rindu Kaka bernyanyi seperti dulu."
" kita pulang saja." Aaron hendak mendorong kursi roda adiknya namun kembali ditahan Atreya.
" Rea !! kau ini benar-benar keras kepala."
bentak Aaron lalu melepaskan kedua tangannya dari hendle kursi roda milik Atreya.
" kalau kau ingin pergi kesana, pergilah !! aku akan menunggu mu dimobil."
Aaron lalu meninggalkan Atreya menuju ke mobilnya. Atreya masih diam ditempat nya. lalu ia melirik ke tempat karaoke keluarga disebelah itu.
" baiklah, kak. siapa yang akan menang disini. kau pasti tidak akan tega membiarkan ku sendirian masuk ke tempat karaoke itu."
gumamnya seraya menyunggingkan senyuman miring. lalu Atreya pun memutar tuas kursi roda menuju tempat karaoke.
disisi lain Aaron merasa tidak nyaman duduk menunggu didalam mobilnya. ia memundurkan sandaran jok kemudinya, berharap mendapat kenyamanan. namun hatinya malah makin tidak enak. ia merasa khawatir membiarkan adiknya yang nekat memasuki tempat karaoke sendirian.
" dasar gadis keras kepala. kalau saja adikku sempurna, sudah aku seret dikurung ke gudang."
umpat Aaron kesal tapi dia pun gak tega. Akhirnya ia keluar dari mobilnya hendak menyusul Atreya.
Untunglah Atreya masih didepan tempat administrasi. Atreya pun melihat kedatangan Aaron dari balik pintu kaca. ia pun menyeringai melihat kedatangan sang kakak.
" benar kan ? Kaka tidak akan tega membiarkanku sendiri." gumamnya dalam hati sambil tersenyum.
" kenapa masih disini ? belum pesan roomnya ?" tanya Aaron.
" bagaimana aku bisa pesan tempat kalau dompetku saja tertinggal." ucap Atreya menyeringai seraya mendongak ke arah wajah Aaron.
Aaron mendengus seraya mengacak-acak rambut Atreya.
" tak tau malu. tidak bawa uang masih berani kesini." ledek Aaron mendengus. Atreya malah mengerucutkan bibirnya dihadapan kakaknya itu.
"kelemahan ku itu bila melihatmu seperti ini, Rea. jadi kau jangan pernah memaksakan kehendak mu lagi padaku." ucap Aaron menatap tajam pada Atreya.
" baiklah, aku minta maaf kak. kita pulang saja kalau begitu." Atreya menundukkan pandangannya, lalu hendak keluar dari tempat karaoke itu namun segera dihentikan Aaron.
" mau kemana ? ayo temani kakakmu bernyanyi !!"
ucap Aaron seraya memutar kursi roda Atreya menuju karaoke room.
Atreya mendongak menatap pada Aaron seraya tersenyum. "kakak." lirihnya.
Aaron pun hanya membalasnya dengan senyuman seraya mengecup puncak kepala Atreya.
Ada banyak cara manusia untuk membuat hatinya merasa senang dan bahagia. Salah satunya adalah dengan bernyanyi. Rasanya tidak ada manusia di bumi ini yang tidak suka bernyanyi. Bernyanyi membangkitkan keceriaan dan kegairahan.
Aaron dan Atreya asik bernyanyi lagu kesukaan mereka berdua dari Alec Benjamin.
*Could you find a way to let me down slowly?
A little sympathy, I hope you can show me
If you wanna go then I'll be so lonely
If you're leaving baby let me down slowly
Let me down, down
Let me down, down
Down, let me down, down
Let me down
If you wanna go then I'll be so lonely
If you're leaving baby let me down slowly*
mereka tertawa-tawa ketika ada bagian lirik yang dinyanyikannya dengan suara fales.
Terkadang yang bisa kita lakukan hanyalah tertawa meski kesedihan sedang melanda. Aaron selalu menangis dalam diam dikala ia teringat dan merindukan kedua orangtuanya.
Satu setengah jam berlalu. banyak lagu yang mereka nyanyikan secara bergantian. namun Aaron yang lebih banyak bernyanyi daripada Atreya. suaranya Aaron memang bagus, jika terus diolah mungkin bisa menjadi penyanyi terkenal.
" kak, pulang yuk !! " ajak Atreya yang mulai lelah.
Aaron melirik adiknya yang terlihat lelah diraut wajahnya. lalu ia menghentikan bernyanyi nya dan menaruh mic sembarangan keatas meja.
" baiklah. aku juga sudah lelah." balas Aaron.
tak lama kemudian Aaron mendorong kursi roda Atreya keluar dari ruang karaoke. namun ketika hendak keluar tiba-tiba seseorang menubruk Aaron dari belakang.
" hey, hati-hati kalau berjalan !" bentak Aaron karena hampir saja Atreya terdorong jauh kedepan.
" ma.. maaf, maaf. saya tidak sengaja menubruk anda. saya sedang tergesa-gesa." ucapannya seraya menundukan kepalanya.
" Kinara ? kamu Kinara kan ?" Atreya langsung mengenali suara orang yang menubruk Aaron barusan.
"Atreya ? kamu disini ?" Kinara langsung membungkuk kan badannya agar bisa sejajar dengan Atreya.
" aku habis berkaraoke bersama kakakku. kamu sedang apa disini ? apa kamu--"
Atreya tidak melanjutkan kalimatnya. dia memperhatikan penampilan Kinara yang sangat berbeda dari biasanya. Penampilan Kinara begitu sensual dengan balutan rok mini dan pakaian serba ketat menggoda.
" kamu ? kamu petugas cleaning servis itu kan ?"
Aaron baru sadar lalu menatap tajam pada gadis bertubuh seksi itu.
Kinara terkejut ternyata kakaknya Atreya adalah bos dikantornya. ia berusaha menjauhi Atreya dan Aaron karena merasa malu dengan penampilannya kini.
" maaf. saya harus segera pergi."
Kinara hendak pergi dari sana namun Atreya dengan cepat memegang pergelangan Kinara.
" tunggu Kinara ! apa kau bekerja disini sebagai pemandu lagu ?" tanya Atreya memicingkan matanya.
Kinara menundukkan pandangannya kearah Atreya yang tengah mendongak keatas menatap wajahnya. Kinara tak menjawab, ia sendiri bingung harus menjawab jujur atau bohong.
"jawab, kin. benarkah itu?", lirih Atreya sedikit kecewa.
" iya, Atreya. Pada malam hari aku bekerja jadi purel disini. pagi harinya sebelum berangkat ke kampus aku bekerja di kantor Pak. Aaron sebagai cleaning servis." jawab Kinara akhirnya.
" apa ? betulkah itu kak ?" Atreya membelalakan matanya lalu beralih menatap Aaron yang masih berdiri disampingnya itu.
" ya, sepertinya begitu." balas Aaron seperti tidak peduli dengan pandangan berkeliaran kearah lain. "ayo, Rea. sebaiknya kita pulang sekarang !"
tanpa basa-basi lagi Aaron mendorong kursi roda Atreya menuju keluar. dan Atreya pun kali ini mengiyakan nya.
" maaf Kinara, aku harus pulang."
pamit atreya. Kinara pun hanya membalasnya dengan anggukan.
***
" kenapa Kaka tidak pernah bilang kalau Kinara bekerja dikantor kakak ?"
tanya Atreya menatap pada Aaron yang tengah fokus mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
" mana aku tau kalau dia temanmu." balas Aaron tanpa menoleh ke arah Atreya.
" Kinara itu teman baruku yang sempat aku ceritakan itu, kak "
" sebaiknya kau jangan berteman lagi dengannya !!"
kata Aaron tegas, lalu melirik sekilas pada adiknya.
" kenapa ?" tanya Atreya melotot.
" temanmu itu seorang lady escort. aku tidak suka kau berteman dengannya."
kini nada bicara Aaron semakin serius dan penuh penekanan.
" memangnya kenapa dengan profesi itu? ia hanya bertugas menemani tamu berkaraoke dan hanya sekedar menemani bernyanyi saja kan ?" sahut atreya.
seketika Aaron langsung menepikan mobilnya dipinggir jalan, lalu menatap tajam pada atreya seraya mencengkram tangan kanannya.
" kali ini kau harus menuruti ku, Rea !! kau tidak tau siapa dia. pokoknya jauhi dia. aku tidak suka kau berteman dengan gadis seperti si Kinara itu."
Atreya hanya terdiam. seraya meringis kesakitan karena pergelangan tangannya dicengkeram Aaron dengan kuat.
" berjanjilah padaku !!" ucap Aaron tegas.
" oke, kak. aku janji tidak akan berhubungan lagi dengannya."
sahut atreya dengan matanya yang berkaca-kaca.
Aaron pun merasa lega lalu kembali menjalankan mobilnya menuju arah pulang.
Atreya merasa bimbang. menurutnya, Kinara adalah teman yang baik, namun setelah melihat penampilan dan pekerjaannya tadi ditempat karaoke itu, telah membuat atreya menjadi ragu. ditambah Aaron kini melarang untuk berteman dengannya.
" aku percaya, kau gadis yang baik, Kinara. sepertinya kau sedang ada masalah ekonomi sampai harus bekerja over job seperti itu. jagalah dirimu baik-baik." lirih Atreya dalam hatinya.
.
.
.
.