In Your Love

In Your Love
cinta terlarang



Naomi tampak terhipnotis dengan kedatangan seorang pria bule yang gantengnya sebelas dua belas dengan Aaron.


pria berketurunan London-Makassar itu bernama Sean. sebelumnya Sean menetap di London, sementara sang Ayah yang telah berpisah dengan ibunya memutuskan kembali ke kampung halamannya di Makassar.


Sean adalah sahabat Aaron saat sama-sama menimba ilmu di Harvard university, dan kini Aaron dan Sean tengah bekerja sama menjalankan sebuah proyek pembangunan gedung apartemen lima puluh lantai di Makassar.


" mari pak Sean, saya antar ke ruangan pak Aaron."


Sean yang bersetelan casual dengan celana jeans dan kaos hitam, tak lupa kaca mata hitam yang masih melekat dipangkal hidungnya itu mengikuti langkah Naomi dari belakang.


Naomi mengetuk pintu ruangan terlebih dulu, lalu masuk setelah Aaron menjawabnya dari dalam.


" ada yang ingin bertemu deng--"


" hey, Sean !"


Aaron langsung berteriak saat melihat seseorang dibelakang Naomi.


keduanya saling ber-high five tangan seraya menepuk bahu. lalu Aaron meminta Naomi membawakan minuman untuk tamunya itu.


" kapan kau datang ?"


tanya Aaron antusias.


" tadi pagi."


sahut Sean membuka kaca mata hitamnya dan menyimpannya sembarangan keatas meja, seraya mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan itu.


" pantas semalam ditelpon tidak nyambung."


" flight mode."


jawab Sean nyengir.


tanpa basa-basi lebih lama, akhirnya mereka kembali membicarakan masalah kerja sama diantara keduanya. kebetulan kemarin baru saja perusahaan Aaron memenangkan tender proyek di Makassar dengan bantuan Sean melalui Ayahnya.


kini Sean berminat menjadi salah satu investor di perusahaan milik Aaron. perusahaan yang sudah mulai berkembang ini melakukan diversifikasi usaha yang terintegrasi berupa kota mandiri, hunian rumah dan apartemen, rumah sakit, hotel, mal, serta pengelolaan kawasan industri.


" bagaimana kalau besok lusa kita ke Makassar untuk meninjau, sekalian kau akan aku kenalkan pada papi."


ucap Sean seraya menyeruput kopi yang tadi dibawakan oleh OB kantor.


" oke. nanti biar Naomi yang mengurus segala keperluannya."


jawab Aaron semangat.


" Naomi itu sekertaris mu ? menarik, seksi, dan sungguh menggairahkan."


ucap Sean membayangkan ucapannya.


mendengar itu, Aaron malah mentertawakan Sean dengan renyah.


" hey, kenapa tertawa ? betul begitu kan ? jangan bilang kau tidak tertarik padanya."


sahut Sean seraya menyipitkan kedua matanya.


" tidak. bukan selera ku, bodoh !"


sahut Aaron terkekeh.


" apa kau masih belum bisa menghilangkan rasa cinta terlarang mu itu ?"


tanya Sean menaikkan sebelah alisnya penuh curiga.


Aaron tidak menjawab. ia malah menyibukkan diri membereskan berkas-berkas yang berserakan diatas mejanya.


" sepertinya aku harus menikahi Atreya, agar kau sadar diri bahwa kau hanya bisa menjadi wali nikahnya saja."


" hey, awas saja kalau itu kau lakukan. aku tidak Sudi punya adik ipar seperti mu, bad boy."


sahut Aaron mendorong tubuh Sean kearah didinding.


" santai, bro. bertemu dengan adikmu saja belum pernah, mana mungkin bisa langsung menikahinya. kecuali jika kau Sudi memperkenalkannya padaku. bagaimana, kakak ipar ?"


tutur Sean semakin gencar menggoda sahabatnya itu. disisi lain Aaron hanya mendengus kesal.


" sialan !!"


gumam Aaron.


Aaron menjauh, lalu berjalan ke arah kaca jendela seraya menyibakkan tirai tipis yang menghalangi pemandangan jalan dan gedung disebelahnya.


matanya kini menerawang jauh ke arah luar, menatap jalanan yang padat oleh kendaraan yang hilir mudik tiada henti.


" apa kau sudah mencoba mendekati seorang wanita lain seperti kata ku waktu itu ?"


tiba-tiba Sean sudah berdiri disamping Aaron.


" tidak pernah."


jawab Aaron melirik sekilas pada Sean.


" kau ini benar-benar tidak normal. mana ada ceritanya seorang kakak mencintai adiknya sendiri."


sahut Sean menepuk bahu Aaron seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


" denger Sean, aku mencintai dan menyayangi Atreya sejak ia dalam kandungan mendiang mommy ku. mungkin bisa dibilang dia itu cinta pertamaku. apalagi sejak ia terlahir dengan segala kekurangan. aku malah semakin mencintainya. aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanyalah cinta yang wajar antara seorang kakak kepada adiknya. untuk itu dulu aku memutuskan untuk menjauhinya dengan kuliah di Amerika. berharap aku bertemu dengan seseorang yang dapat mengubah perasaan ku. tapi kenyataannya, bahkan di usiaku kini yang akan menginjak 26 tahun, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada wanita lainnya selain pada atreya."


ungkap Aaron blak-blakan mengutarakan semuanya pada Sean. hatinya kini merasa lega setelah sekian lama ia pendam dan berusaha untuk menghalau rasa gundah yang menyelimuti hatinya. Aaron adalah pria normal biasa, namun ia begitu menyayangi atreya begitu berlebihan. hingga ia melupakan hasratnya sendiri untuk membuka hatinya kepada wanita lain.


" apa perlu kau ku ajari sedikit bermain-main dengan para wanita agar rasa itu hilang ?"


tiba-tiba ide itu muncul dari pikiran konyol Sean seraya melingkarkan lengannya pada bahu Aaron.


" jangan gila !"


sahut Aaron segera menepis tangan Sean dari bahunya.


Sean tertawa terkekeh-kekeh. Aaron lalu berjalan kembali menuju meja kerja lalu meraih ponsel yang tergeletak diatasnya.


" ayo, kita makan siang dulu ! kau pasti sudah lapar kan ?"


ajak Aaron kemudian, ia ingin mengakhiri obrolan masalah itu dengan Sean.


" boleh. sekalian ajak Naomi ya !"


sahut Sean bersemangat seraya mengambil kembali kaca mata hitamnya dari atas meja.


" ajak saja sendiri."


balas Aaron malas.


Sean mengajak Naomi untuk makan siang bersama, tentu dengan dengan senang hati dan rasa bangganya, Naomi menerima permintaan Sean.


.


.


.


.