
kedua kakak beradik Kinara dan Kanaya itu pun berjalan beriringan menuju ruang tamu untuk menemui mama papanya serta keluarga Rudi yang tengah menunggu.
Kinara pun duduk disamping Laras. sementara Kanaya, ia lebih memilih kembali ke kamarnya setelah berpamitan pada semua orang disana dengan alasan ada tugas sekolah yang menantinya.
" kin, bagaimana di kafe. rame ?"
tanya Rudi sekedar basa-basi.
" hari ini aku off, om. tapi kemarin-kemarin lumayan rame kok. banyak pengunjung yang berulang kali datang ke kafe."
sahut Kinara tersenyum seraya menatap Rudi dan istrinya secara bergantian. Kinara tidak menangkap sosok anaknya Rudi disana. padahal tadi Kanaya bilang kalau mereka datang sekeluarga.
" syukurlah kalau memang rame. Om berharap kafe kita akan terus maju dan berkembang."
ucap Rudi.
tiba-tiba seseorang datang dari arah luar rumah. ternyata dia anaknya Rudi yang baru selesai menerima panggilan telponnya dari seseorang.
" maaf pa, ma. sepertinya aku harus per--"
" Satria ?"
" Kinara ?"
keduanya membelalakkan mata karena tidak menyangka bahwa mereka sebenarnya sudah saling mengenal bahkan pernah dekat itu.
ternyata anak Rudi yang selama ini selalu misterius dan tidak pernah ada yang tau itu adalah Satria.
" lho, jadi kalian sudah saling kenal ?"
ucap Rudi kaget. begitu juga dengan Revan dan Laras yang begitu terkesiap melihatnya.
" iya, pa. kami satu kampus."
sahut Satria seraya menjatuhkan kembali tubuhnya dikursi.
" papa tau kalian satu kampus. tapi papa pikir kalian tidak saling kenal. universitas itu kan luas, fakultas kalian saja berbeda."
kata Rudi.
" kalau kalian sudah saling kenal itu bagus. jadi kami tidak perlu mengenalkan lagi kan."
sahut Revan terkekeh. berbeda dengan Laras yang raut mukanya sedikit terpaksa. ia memang tidak setuju dengan rencana suaminya itu. rasanya terlalu buru-buru, sementara Kinara statusnya masih terikat pernikahan dengan Aaron.
" boleh aku bicara berdua dengan kinar, pa ?"
ucap Satria, lalu pandangannya beralih pada Revan.
" boleh ya om ? kami sudah lama tidak bertemu. ada yang ingin aku bicarakan dengannya."
pinta Satria. Revan dan Rudi pun mengangguk tanda setuju. lalu Satria pun langsung menarik tangan Kinara keluar dan menjauh dari para orangtua mereka.
" kau mau apa, sat ?"
Kinara segera melepaskan tangannya dari genggaman Satria saat mereka sudah berada dihalaman rumah dekat mobil Rudi yang terparkir disana.
" ternyata kau sudah menikah ? dan suamimu meninggalkan mu begitu saja ?"
apakah itu pertanyaan atau pernyataan yang diucapkan Satria dengan lugas pada wanita yang berada dihadapannya saat ini.
" iya, memang kenapa ?"
ucap Kinara malah balik bertanya.
" pantas saja sudah tidak pernah kelihatan lagi dikampus."
timpa Satria.
" jadi selama ini kamu mencariku ?"
" ih, jangan ge-er."
" siapa yang ge-er, aku kan hanya bertanya sesuai dengan yang kamu utarakan barusan."
balas Kinara mulai jengah. karena tiap kali bertemu dengannya pastilah beradu mulut seperti ini.
" sama saja. pertanyaan mu itu mewakili perasaan mu yang ke ge-eran."
" apa kamu tau tujuan keluargaku datang ke rumahmu untuk apa ?"
tanya Satria Kemudian.
" tau."
sahut kinara lantang.
" kalau tau kenapa tidak menolaknya ? apa jangan-jangan kamu masih ada perasaan--"
" cukup, sat !! aku tau arah pembicaraan mu kemana. jawabanku, aku sudah tidak punya perasaan apa pun padamu. puas ? dan sekarang aku balik tanya, kamu sendiri kenapa tidak menolak permintaan om Rudi ? apa jangan-jangan kamulah yang masih--"
Satria langsung membekap bibir Kinara dengan satu tangannya.
" sekali lagi jangan ge-er. lagipula mana aku tau anak om Revan itu kamu. dan semua karena papa mengancam akan menghentikan uang saku bulanan dan biaya kuliah ku yang tinggal menyusun skripsi itu. ditambah ia akan menarik motorku bila aku tidak menurutinya. bisa gila kan ?"
ucap Satria seraya menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi. Kinara pun langsung menepis tangan Satria yang masih menutup bibirnya itu.
" terus akhirnya kamu mau nyerah begitu saja ? "
tanya Kinara seraya menaikan sebelah alisnya menatap tajam pada Satria.
" emmh...itu sih maunya kamu kan ?"
" sialan !!"
Satria pun mendapat cubitan keras dilengannya hingga meringis.
" jadi apa yang harus kita lakukan ?"
tanya kinara seraya mengusap wajahnya sendiri frustasi. namun dalam hatinya ia merasa lega karena anak om Rudi itu Satria. coba saja kalau orang lain, mungkin Kinara bisa gila memikirkannya karena belum tentu bisa diajak bicara seperti ini.
" apa suamimu benar-benar sudah meninggalkan mu ? yang aku dengar dari cerita papa, dia itu kini berada diluar negeri ya. dan parahnya lagi suamimu itu atasannya papaku dikantor. apa kamu sudah tidak waras menikah dengan pria tua yang umurnya jauh diatasmu ?"
mendengar kalimat terakhir dari Satria membuat Kinara membulatkan matanya dengan sempurna.
" apa maksudmu tua ?"
bantahnya menantang Satria.
" ya tua lah. dia itu atasan papaku lho, kin. papaku saja usianya sudah 46 tahun, apalagi bosnya."
Satria ini memang benar-benar polos ya. ternyata dia memang tidak tau tentang suaminya Kinara.
" gak usah sotoy deh kalau belum tau persis kebenarannya."
sahut kinara seraya berkacak pinggang meledek Satria.
' braakk
suara itu membuat Kinara dan Satria terkejut. mereka memalingkan wajahnya ke arah sumber suara. namun disana tidak terlihat apa-apa.
" suara apa tadi ? seperti ada benda yang jatuh."
kata Satria seraya matanya dengan jeli menyelidik. suasana malam memang membuat tidak bisa melihat dengan jelas. ditambah rindangnya pohon mangga didepan rumah semakin membuat minim pencahayaan.
" entahlah. mungkin kucing."
sahut kinara mengangkat bahunya.
" ayo sebaiknya kita masuk saja ! jadi merinding nih."
Satria mengajak Kinara kembali masuk saat tiba-tiba bulu kuduk nya berdiri seketika. ia pun berjalan mendahului Kinara dengan langkah cepatnya menuju kedalam rumah.
" dasar penakut."
umpat Kinara. ia pun sesaat kembali menoleh ke belakang untuk memastikannya lagi, namun Kinara lagi-lagi tak melihat apapun disana. hanya daun-daun yang bergoyang karena tiupan angin malam.
.
.
.
.