
2 Minggu pun berlalu,
kinara sudah berada dirumah kedua orangtuanya. padahal sebelumnya Shofi dan Atreya berharap Kinara tetap tinggal bersama mereka, namun Kinara menolaknya secara halus. terlebih Revan yang melarang keras karena masih kecewa dengan sikap Aaron yang tidak bertanggung jawab seperti itu.
kini keduanya telah berpisah, meski pada nyatanya Kinara masih sangat mencintai Aaron.
seperti ungkapan hatinya saat ini yang ia tuangkan di media sosial lewat foto dirinya yang tengah berpose dengan pakaian hitam putih berbalutkan Apron hitam yang stylish bertuliskan 'vintage cafe' dibagian dadanya. entah kenapa Kinara ingin berselfi dengan kamera ponsel miliknya. padahal sebelumnya dia jarang sekali membuka medsos, apalagi memajang foto dirinya disana. Dalam caption-nya ia menuliskan,
'*Cintaku padamu laksana lautan
Bergejolak dan amat dalam
Seperti putaran angin topan
Mengembara tanpa ketakutan
harus kah aku terus setia ?
Menantimu yang masih di sana
Mendoakan semoga kau kembali
Membawakanku cinta yang pernah kau beri.
Pada akhirnya kita seperti ini
Berpisah raga namun tidak dengan hati
Biarkan seperti ini
Aku kan menghabiskan waktu
Bersama kesibukan baruku*.'
Kinara hanya pasrah dengan kehidupan asmaranya, ia tidak mau ambil pusing lagi. sudah cukup kesedihan serta tangisan yang menguras energinya selama beberapa hari ini. Kinara tidak mau terus larut dalam kenestapaan.
Dan hari ini adalah hari pertama Kinara bekerja disebuah kafe baru milik Rudi yang baru saja diresmikan. ia bekerja dibagian kasir.
" sudah siap bekerja disini, kin ?"
ucap sang pemilik kafe pada Kinara.
" siap, Om. semoga aku tidak mengecewakan Om Rudi yang sudah baik menawarkan pekerjaan padaku."
sahut Kinara tersenyum. Kinara tidak menyangka akan mendapat tawaran kerja secepat ini.
Awalnya Rudi tak sengaja berkunjung kerumah untuk menemui Revan. karena mereka berkawan baik dari dulu. Rudi sangat kaget dengan keberadaan kinara. karena yang Rudi tau, Kinara masih berada di Irlandia dengan Aaron, atasannya dikantor.
Akhirnya Revan menceritakan semuanya pada Rudi. dan dari situlah akhirnya Rudi menawarkan pekerjaan agar Kinara tidak terus larut dalam kesedihannya.
" semoga kafe ini rame ya, kin."
ucap Rudi penuh harap.
" aamin."
sahut kinara tersenyum.
" tadinya om membuka kafe ini untuk anak om, agar dia punya kesibukan daripada melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat dan membahayakan. tapi anak itu memang susah diatur."
" lho, memangnya anak om melakukan apa ?"
Kinara mengerutkan keningnya penasaran.
" dia itu sangat sulit diatur. om sudah angkat tangan deh. apalagi sekarang dia memutuskan tinggal di apartemen, om jadi makin tidak bisa memantaunya. bisa pecah kepala om bila memikirkan anak itu."
ucap Rudi seraya memegang kepalanya frustasi bila membicarakan anak tunggalnya yang sudah jarang pulang dan susah diatur.
" om yang sabar. semoga anak om cepat sadar dan menjadi anak yang lebih baik lagi."
Kinara berusaha menenangkan Rudi. Rudi pun tersenyum melihat Kinara. Rudi jadi teringat pembicaraan dulu antara dirinya dan Revan, mereka sepakat ingin menjodohkan anaknya dengan kinara, namun sayang takdir berkata lain. Kinara sudah duluan menikah dengan Aaron sebelum anak semata wayangnya itu lulus kuliah.
" baiklah, kin. selamat bekerja ya. Om akan kekantor. jika ada apa-apa jangan sungkan hubungi om."
pamit Rudi membuyarkan lamunannya sendiri. Kinara pun mengiyakannya dengan menganggukkan kepala.
***
ditempat lain, Atreya dan Satria nampak sedang berbincang di taman kampus setelah jam kuliah masing-masing telah selesai.
" ngomong-ngomong jemputanmu mana ? kok belum terlihat."
Satria nampak celingak-celinguk mencari mobil yang biasa menjemput Atreya.
" kejebak macet kali."
jawab Atreya seraya mengangkat bahunya.
" aku antar yuk !!"
ajak Satria memegang tangan Atreya.
memang sejak kejadian itu Atreya dan Satria jadi semakin dekat, meski awalnya Atreya kurang menyukai Satria yang petakilan, cuek, dan kepedean itu. apalagi dengar selentingan dari mahasiswa lainnya kalau Satria itu termasuk badboy kampus yang sering bikin masalah.
tapi mau gimana lagi, sejak Satria sering main kerumah dan sering mengobrol panjang dengan Shofi, entah kenapa neneknya itu jadi malah menyukai Satria. Shofi selalu bilang kalau Satria itu pemuda yang menyenangkan dan apa adanya. padahal sudah jelas awal bertemu saja, shofi terlihat membenci Satria karena telah membuat atreya celaka.
" tidak, sat. terimakasih."
sahut Atreya menolak ajakan Satria.
" lho, kenapa ? nanti keburu sore lho."
" aku belum pernah naik motor."
tiba-tiba tawa Satria meledak mendengar pengakuan atreya yang belum pernah naik motor, dan membuat Atreya mendengus kesal.
" seumur hidupmu belum pernah motor, begitu hah ?"
ledek Satria melanjutkan tawanya.
" berhenti meledekku, sat !"
teriak Atreya mendelik marah pada Satria yang masih mentertawakannya.
' BUKK'
Atreya memukul bahu satria dengan buku tebal yang baru ia pinjam diperpustakaan.
" aww !!"
Satria meringis seraya memegang bahunya.
" sekali lagi kamu menertawakan ku, jangan harap aku mau berteman denganmu lagi, sat."
Ancam Atreya lalu beranjak dari kursi taman hendak berdiri.
" aku juga tidak mau jadi temanmu lagi."
ucap Satria datar dan sukses membuat bola mata Atreya membulat lebar. kenapa jadi begini ? padahal Atreya tidak serius mengancamnya. ia hanya ingin membalas mengerjainya.
" tapi aku maunya jadi pacar kamu, Rea."
ucap Satria pelan seraya memposisikan dirinya menjadi berdiri dan berhadapan dengan atreya yang masih terlihat syok mematung setelah mendengar pengakuan Satria.
" bagaimana, kau mau kan ?"
Satria memegang kedua bahu Atreya seraya menatap wajah cantik Atreya yang blesteran itu.
' BUGGH'
tiba-tiba bogem mentah mendarat dirahang kiri Satria dan membuat dirinya hampir jatuh tersungkur namun ditahan tangan Atreya.
" sekali lagi Lo ngomong begitu pada atreya, gue hajar Lo tanpa ampun."
Satria reflek menatap tajam pada seseorang yang telah menonjoknya barusan seraya mengepalkan kedua tangannya geram.
begitu juga dengan Atreya yang nampak terkejut melihatnya yang tiba-tiba muncul begitu saja.
' BUGGH'
Satria membalas menonjok rahang orang itu karena emosi.
" cukup. berhenti kalian bertingkah seperti anak kecil !! kak Sean kenapa tiba-tiba menonjok Satria ? dan kau, sat. kenapa juga harus membalasnya ? kan bisa diomongin baik-baik tanpa kekerasan."
ucap Atreya merasa jengah melihat Satria dan Sean yang selalu beradu mulut bahkan beradu ketangkasan acap kali mereka bertemu.
" aku tidak bisa diam begitu saja dong, Rea. jika ada seseorang yang tiba-tiba memukul ku seperti itu."
Satria berusaha membela diri dihadapan Atreya.
" ayo Rea, kita pulang saja. tapi nenek meneleponku untuk menjemputmu karena mang Maman pamit pulang kampung dan tidak bisa lagi mengantar jemput mu ke kampus."
ucap Sean.
" apa ? kok mang Maman mendadak sekali sih ?"
atreya membelalakkan kedua matanya tak percaya.
" entahlah. kamu bisa tanya nenek nanti dirumah. Ayo kita harus segera pergi dari kuman ini."
ajak Sean menarik tangan atreya seraya melirik sinis pada Satria yang berada disebelah atreya.
" sialan, gua dikatain kuman."
umpat satria geram. namun ia memilih untuk tidak membalasnya karena takut atreya semakin illfeel padanya.
" oke. aku balik dulu ya, Sat."
pamit atreya pada Satria yang nampak masih terlihat kesal.
" tapi jawaban mu apa dulu, Rea ?"
Satria menahan lengan Atreya yang hendak pergi.
" minggir !! jangan mimpi Lo."
bisik Sean seraya melepaskan tangan Satria dari pergelangan tangan Atreya.
Satria melotot seraya mengepalkan kedua tangannya geram.
" awas saja, akan gua balas Lo bule sialan."
umpat Satria dalam hati, seraya matanya terus menatap tajam ke arah Atreya dan Sean yang berjalan memunggunginya menuju tempat mobil Sean terparkir.
.
.
.
semoga episode ini review nya gak lama-lama seperti kemarin. review kok sampai berhari-hari sih ? biasanya hanya sejam 2 jam.
mungkin adminnya lelah, mohon dimaklumi. padahal Author sudah berusaha update setiap hari. tapi apalah daya kalau proses reviewnya aja sampai berhari-hari seperti itu.
hadeeuh... Author Ampe stress 😄😄😜🙏