
Los Angeles, California
tidak sulit bagi Aaron untuk menemukan alamat kediaman wanita yang bernama Claire, berkat anak buah Leon sudah lebih dulu menyelidikinya. Leon memiliki anak buah dari berbagai negara agar lebih mudah melakukan pencarian bila sedang dibutuhkan.
kini Aaron berdiri di depan rumah mewah dengan penjagaan yang sangat ketat. sangat sulit baginya untuk bisa masuk ke dalam mansion itu.
" silahkan pergi, tuan. majikan kami sedang tidak berada dirumah."
usir salah satu penjaga berpakaian serba hitam dengan postur tubuh tinggi kekar, berkaca mata hitam dan terlihat garang itu.
" aku hanya ingin bertemu dengan Claire."
desak Aaron.
" sudah saya bilang nyonya Claire tidak ada."
bentak penjaga itu.
" tolong katakan kemana nyonya kalian ?"
tanya Aaron tak gentar.
satu orang penjaga lainnya datang menghampiri. kini kedua penjaga itu malah saling bertatapan. lalu kemudian menatap Aaron bersamaan. tanpa diduga mereka malah menyeret Aaron sampai ke tepi jalan. Aaron berusaha meronta namun tidak bisa berkutik karena mereka terlalu kuat.
Tiid...Tiiidd !!!
suara klakson mobil yang hendak masuk pintu gerbang, berbunyi tepat didepan ketiganya. membuat semuanya menoleh.
Tiidd...
sopir yang mengendarai mobil mewah itu kembali membunyikan klakson lagi karena mereka enggan pindah dari posisinya yang menghalangi pintu gerbang.
tiba-tiba seorang wanita berambut pirang menurunkan kaca pintu mobil dari belakang kursi penumpang.
" hey, ada apa ini ?"
teriaknya seraya melepas kaca mata hitam yang membaluti kedua matanya.
" pemuda ini ingin menerobos masuk kedalam. padahal sudah kami peringatkan."
ucap salah satu bodyguard itu.
mata Aaron terus memandangi sosok wanita yang berada didalam mobil itu.
" apa dia wanita yang bernama Claire ? ibu kandung ku ?"
gumam Aaron penuh selidik dengan kedua tangannya melingkar kebelakang karena dicekal oleh penjaga bertubuh kekar.
" apa anda yang bernama Claire ?"
tanya Aaron dengan suara keras.
wanita yang berada didalam mobil itu menatap Aaron dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.
" ada keperluan apa anda mencari saya ?"
tanya wanita itu memicingkan matanya dengan sinis.
Aaron terkejut mendengarnya. ternyata benar, wanita dalam mobil itu Claire.
" saya Aaron Gildan Mark O'Neill."
tukas Aaron.
" O'NEILL ?"
Claire membelalakkan kedua matanya, ia reflek menutup bibirnya dengan telapak tangannya seolah tidak percaya. nama belakang pemuda itu mengingatkannya pada seseorang.
Claire langsung turun dari mobilnya seraya pandangan matanya terus menatap Aaron dan mendekatinya.
telapak tangan wanita yang nampak lebih muda dari usianya itu menangkup kedua pipi Aaron, seraya mendongakkan kepalanya menatap wajah Aaron yang jauh lebih tinggi darinya.
benar, mata hazel Aaron meyakinkan wanita itu bahwa pemuda yang dihadapannya adalah putra yang pernah dulu ia lahirkan kedunia ini.
mata sendunya tiba-tiba berbinar, ada buliran air mata yang tiba-tiba jatuh dan menetes di pipinya yang mulus.
" kau, Aaron ?"
lirihnya.
" lepaskan dia !!"
perintah Claire pada kedua penjaga rumahnya itu.
mereka tak bisa membantah, akhirnya langsung melepaskan tangan Aaron. Aaron mengusap-usap pergelangan tangannya yang tampak memerah karena cekalan kedua bodyguard tadi.
" iya saya Aaron. apa benar anda in--"
belum sempat Aaron membereskan kalimat nya, wanita dihadapannya itu langsung merengkuh tubuh Aaron.
" Aaron anakku. akhirnya kau datang, nak."
pelukan Claire semakin erat. Aaron pun akhirnya perlahan membalas rengkuhan sang ibu.
Claire mengajak Aaron untuk kedalam mobilnya. setelah gerbang itu terbuka lebar, mobil yang ditumpangi ibu dan anak itu melaju untuk masuk kedalam rumah besar miliknya.
***
di Dublin, Irlandia.
Kinara nampak termenung diatas tempat tidur. memeluk kedua lututnya seraya memikirkan Aaron yang sudah dua hari tidak mengabarinya. ponselnya sangat sulit dihubungi.
lirihnya.
lalu tangannya meraih benda pipih berwarna hitam yang tergeletak begitu saja diatas kasur. ia kembali mencoba menghubungi suaminya itu namun tetap sama. ponsel Aaron tidak aktif.
Kinara terperanjat kaget saat pintu kamarnya terbuka lebar. atreya datang bersama Nanny yang membawanya salad buah untuk Kinara.
" ini salad buahnya, nyonya."
ucap Nanny memberikan piring berisi salad buah yang tadi pagi Kinara pesan karena lidahnya tiba-tiba ingin makanan itu.
" terimakasih, nanny."
Kinara meraihnya dan langsung menusukan potongan buah dengan garpu lalu memasukkannya dalam mulut.
Nanny hanya tersenyum seraya menganggukan kepalanya melihat salad buah buatannya disantap Kinara dengan lahap.
" kalau begitu saya permisi, nyonya."
Nanny kembali keluar dari kamar itu untuk melanjutkan pekerjaannya.
" bagaimana, apa sudah ada kabar dari kakak ?"
tanya Atreya setelah Nanny sudah tidak terlihat lagi dikamar Kinara.
Kinara hanya menggeleng karena mulutnya penuh dengan salad buah.
" aneh. padahal sebelumnya kakak tidak pernah kehilangan kontak begitu."
ujar Atreya membuang nafasnya dengan kasar.
" aku tidak tau, Rea."
sahut Kinara seraya mengusap mulutnya dengan tissue. lalu menyimpan piring saladnya keatas nakas karena ia sudah tak berselera lagi untuk memakannya.
" kenapa tidak kau habiskan ? ayo habis kan, kin !"
atreya melotot melihat Kinara yang menghentikan kegiatan mengunyahnya.
" tidak mau. lidahku terasa pahit jadi tidak selera lagi."
sahut Kinara menjulurkan lidahnya sambil bergidik.
" kau kan sedang hamil, jadi harus banyak makan biar calon keponakanku tidak kelaparan didalam sana. apa perlu aku suapi ?"
ucap atreya hendak beranjak mengambil piring diatas nakas.
" tidak mau, Rea."
cegah Kinara menghentikan tangan atreya yang bergerak menjulur.
" perutmu dari tadi pagi belum diisi apapun, kin. nanti kalau kau sakit bagaimana ? mana kak Aaron tidak ada pula."
mendengar nama Suaminya disebut-sebut lagi membuat Kinara kembali teringat dan merindukannya.
" aku rindu dia, Rea."
lirih Kinara.
" baru juga dua hari Kaka pergi. kau tenanglah kin, kita tunggu kabar darinya. mungkin batre ponselnya habis atau lupa tidak mengubah kode nomernya."
ucap atreya berusaha menenangkan kakak iparnya itu.
Kinara pun terdiam. ia berusaha berpikiran positif dan membuang jauh-jauh pikiran negatif yang sedari tadi berputar-putar diotaknya. bagaimana kalau Aaron tidak kembali dan memilih tinggal bersama ibu kandungnya ? lalu bagaimana kalau Aaron melupakan istri dan anaknya ?
Ah, hanya itu yang ada dipikiran Kinara selama ini. praduga yang tak pasti membuatnya malah semakin galau tak berujung.
" kin, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja. supaya kau tidak jenuh terus menerus memikirkan kakak."
" kemana, Rea ?"
tanya Kinara malas.
" kita berburu kuliner saja. kau mau makan apa ?"
tanya atreya semangat dan berharap Kinara setuju karena dengan seperti itu Kaka iparnya itu bisa mengisi perutnya yang kosong karena malas makan.
" lidahku jadi ingin nasi Padang."
sahut Kinara nyengir.
" yaa... kok aneh-aneh sih ngidamnya."
atreya mengerucutkan bibirnya seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" aku bercanda, Rea. baiklah sekarang aku hanya ingin makan pizza saja. kalau itu pasti tidak sulit mencarinya kan ? setiap negara pasti ada."
jawab Kinara tertawa.
" nah kalo itu tidak sulit mencarinya."
sahut Atreya ikut tertawa.
.
.
.
jangan lupa like, komen, and vote nya ya... thank you, readers 😘🤗