
Kinara mencari anaknya ke taman belakang, namun ia tidak melihat putranya itu. lalu ke dicarinya kesetiap ruangan pun keduanya masih belum bisa ditemukan.
"Kemana Mami membawa Al?"
Kinara semakin panik. ia lalu berteriak memanggil Aaron. sekali lagi Kinara bertanya kepada suaminya itu dimana keberadaan Aldrich. Namun Aaron terlihat sangat santai, tidak ada rasa kekhawatiran yang menyelimuti wajahnya seperti yang kini tengah dialami Kinara.
"Mami membawa Al ke suatu tempat. Jadi kini dirumah ini hanya tinggal aku dan kamu."
Aaron mendekati Kinara, merapatkan tubuhnya seraya melingkarkan tangan ke pinggang sang istri.
"Kemana Mila dan Bibi Mia?" Kinara memicingkan sebelah matanya curiga.
"Mereka ikut bersama mami dan Aldrich" jawab Aaron tersenyum miring.
"Apa maksudmu, Aaron? kemana mereka? kenapa semuanya pergi?" Kinara semakin bingung dengan semuanya ini.
Aaron tidak menjawab semua pertanyaan Kinara. ia malah merengkuh tubuh istrinya, membawa ke kamar dan meletakkannya ke atas tempat tidur. Awalnya Kinara berontak, namun tubuhnya tak kuasa saat berada dibawah kungkungan tubuh suaminya.
"Kau mau apa?" Kinara memukul-mukul dada suaminya tapi tidak membuat Aaron merasa kesakitan. Ia malah terus saja melancarkan aksinya. menciumi ceruk leher sang istri hingga ia melenguh.
" Aaron, ini sudah siang" lirih nya.
"Memangnya kenapa kalau sudah siang? aku sudah menahannya selama 3 Minggu. Apa kau tega melihatku menderita seperti ini?" ujar Aaron sedikit terkekeh.
"Tapi bagaimana dengan Al? aku khawatir sekali. aku belum memberinya dia ASI pagi ini."
"Kau tenang saja. Tadi Mila sudah menghangatkan stok ASI dilemari pendingin" lalu Aaron kembali ******* bibir istrinya dengan rakus.
"Katakan padaku dulu, kemana mereka pergi, Aaron?" Kinara melepas secara paksa pagutan suaminya.
"Kita akan menemui mereka setelah kau melayaniku layaknya tugas istri kepada suaminya. Sekarang diamlah, dan turuti apa kataku!!" ujar Aaron lalu kembali menutup bibir sang istri dengan bibirnya.
Kinara hanya bisa pasrah, karena sejujurnya ia pun merindukan pelukan dan sentuhan suaminya yang sudah 3 Minggu ini ia abaikan karena pasca melahirkan.
Akhirnya mereka pun menghabiskan sarapan paginya dengan menyatukan cinta keduanya diatas tempat tidur. Melepaskan rasa yang tidak biasa, dan membuat cinta keduanya semakin dalam tanpa batas.
******
Sementara ditempat lain. Marshall, Atreya, Kanaya tengah berebut ingin memangku si kecil Aldrich.
"Ini keponakan ku. Kadi aku dulu yang akan menggendongnya" ucap Kanaya berharap Claire memberikan bayi mungil itu ke pangkuannya.
"Hey! dia juga keponakanku. Kenapa kau egois sekali" balas Marshall mendelik.
"Aku juga Tante nya. Berarti dia ponakan ku juga." tutur Atreya tak mau kalah.
"Tapi yang melahirkan Al kan kakakku. Jadi aku yang lebih berhak."
"Tidak bisa begitu dong, Nay! anak ini tidak akan lahir jika tidak ada benih dari Aaron" sahut Marshall dan membuat Kanaya mengerutkan keningnya bingung.
"Benih? benih apa?" tanya Kanaya mengerutkan dahinya.
Atreya langsung menyenggol lengan Marshall seraya membisikkan sesuatu kearah daun telinga saudara tirinya itu." sstt!! Kanaya masih dibawah umur. dia gak bakalan ngerti" ucap Atreya terkekeh, dan membuat Marshall juga ikut tertawa.
"Kalian menertawakan ku?" Kanaya melotot ke arah Marshall dan Atreya.
"Tidak!" jawab keduanya kompak.
Kanaya hanya mendengus kesal melihat tingkah kompak Marshall dan Atreya.
"Sudah-sudah, lihatlah Aldrich! paman dan bibi-bibimu malah memperebutkanmu seperti itu." ucap Claire tersenyum melihat mimik polos anak bayi yang tengah berada dalam gendongannya.
"Kelihatannya Aldrich mengantuk. Aku akan menidurkan nya dulu. kalian cepat selesaikan semuanya sebelum mereka datang" ucap Claire pada Marshal, Atreya dan Kanaya. Ia lalu membawa Aldrich ke sebuah ruangan untuk menidurkan bayi mungil itu.
******
"Apa cucuku sudah tidur?" ucap seseorang datang menghampiri Claire yang tengah menidurkan Aldrich kedalam box bayi berwarna putih itu.
Reflek Claire menoleh kebelakang dan melihat Revan dan Laras yang entah sejak kapan sudah berdiri disitu.
"Oh, ya. Dia baru saja tertidur" ucapnya. lalu sedikit menjauh dari box bayi itu untuk mendekati kedua besannya.
"Kalian baru datang? mari kita berbincang diluar saja. nanti cucu kita terbangun."
Claire mengajak Revan dan Laras keluar dari ruangan itu. membawa mereka untuk duduk di sofa. tapi sebelumnya Claire meminta Mila untuk menjaga Aldrich dikamar untuk berjaga-jaga bila bayi itu bangun dan menangis.
"Aku dengar Minggu depan anda akan ke Dublin untuk mengambil alih rumahsakit peninggalan Kevan. betul?" tanya Revan.
"Iya, untuk sementara ini aku yang akan pegang rumahsakit itu. Tapi setelah Atreya lulus kuliah nanti, aku akan menyerahkan padanya. Karena Aaron telah memberikan rumahsakit itu pada Atreya. Aaron telah memilih untuk tetap tinggal disini bersama keluarga kecilnya" tutur Claire, membuat Revan dan Laras secara tidak langsung ikut merasa senang dan lega dengan keputusan Aaron. karena dalam hati kecilnya, mereka tidak ingin berpisah dari anak dan cucu pertamanya itu.
Beberapa menit kemudian.
"Mam, barusan Aaron mengabari bahwa sepuluh menit lagi mereka akan segera tiba. Sebaiknya kita siap-siap !" ujar Marshall yang tiba-tiba saja datang ditengah perbincangan mereka.
"Kalau begitu ayo, kita harus bersiap-siap sekarang. aku akan membawa Aldrich dulu."
Revan dan Laras pun bergegas menuju ke ruang utama bersama Marshall. sementara Claire kembali ke ruangan tadi dimana ada Aldrich yang tengah tertidur disana.
*****
"Kemana Mami membawa Aldrich? ini bukan arah ke rumah mami, Aaron" ucap kinara saat menyadari jalan yang dilewati mobil Aaron tidak menuju ke kediaman Claire.
"Kita akan ke puncak" sahut Aaron.
"Apa? untuk apa ke puncak?" Kinara membelalakkan matanya.
"Karena mereka ada disana."
kedua mata Kinara terbelalak "Mereka siapa? aku hanya ingin bertemu dengan anakku, Aaron."
Ckiiiittt!!
Aaron mendadak menginjak rem mobilnya ditengah jalanan ke arah puncak yang sepi.
"Kau pikir aku akan mengajakmu kemana? lama-lama kau ini banyak bicara sekali ya. Aku muak mendengar ocehanmu. Diam dan nikmati saja perjalanannya !!" lugas Aaron yang terlihat jengah pada sang istri. Kinara pun mendadak bungkam. entah kenapa dadanya terasa sesak menahan sesuatu yang hendak keluar begitu saja dari sudut matanya.
Kinara begitu sedih mendengar Aaron membentaknya seperti itu. Untungnya pemandangan disepanjang jalan mampu menyita perhatiannya. Kedua matanya disuguhkan dengan luasnya perkebunan teh yang berjejer dan menyejukkan disisi jalan dengan penuh tanjakan. Terlebih suasana mendung menyelimuti diarea perkebunan teh itu sungguh teduh dikedua mata kinara.
"Apa kau menyukai tempat ini, sayang?" tanya Aaron seraya melirik sekilas ke arah sang istri yang tengah duduk disampingnya.
Tak lama kemudian Aaron menghentikan mobilnya disebuah bangunan rumah berwarna putih yang sangat luas dan besar.
"Ayo turun!" perintah Aaron. Kinara pun turun bersamaan dengan Aaron.
"Villa siapa ini, Aar?" tanya Kinara seraya pandangan matanya menyapu keseluruh bangunan itu.
"Ini villa nenek Shofi." jawab Aaron.
"Ooh, baru tau" Kinara membulatkan bibirnya.
Aaron lalu membuka pintu villa yang memang tidak dikunci. Suasana diruangan itu sangat sepi seperti tidak berpenghuni. Kinara mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang nampak sangat asing itu.
"Dimana anakku? kau yakin mami membawa Al kesini?" tanya Kinara ragu.
"Kita kesini untuk berbulan madu, sayang. Kan sudah ku bilang kalau anak kita sedang bersamaami. Jadi dia tidak akan mengganggu acara kita selama beberapa hari ini."
Kinara seketika membelalakkan kedua matanya. ia sangat kecewa dengan sikap Aaron yang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada anaknya yang masih bayi itu.
" Aaroonn !! kau jangan bercanda ya..." pekik Kinara mulai panik. Kedua lengannya memukul dada bidang Aaron dengan keras namun tidak membuat suaminya itu kesakitan. Ia malah terkekeh melihat tingkah sang istri yang dianggapnya lucu itu.
"Aku mau mencari anakku sekarang" Kinara benar-benar jengah dan hendak beranjak kembali keluar dari villa itu.
"Kau mau kemana, sayang?" cegah Aaron menarik tangan sang istri tapi langsung ditepis oleh Kinara yang betul-betul sudah jengah itu.
"Aku ben-----"
"SURPRISE!!! HAPPY BIRTHDAY KINARA...."
Suasana villa yang tadinya sepi itu tiba-tiba bermunculan beberapa orang yang sangat Kinara kenal.
"Mama, Papa... kalian semua?" lirih Kinara terharu saat dihadapannya kini berkumpul orang-orang terdekatnya yang sangat ia sayangi.
"Delamat ulang tahun, istriku" Aaron yang tiba-tiba sudah membawa kue tart berdiri dihadapannya.
" Aaron..." lirih Kinara dengan kedua mata mulai mengembun.
"Tiup lilinnya.... tiup lilinnya... tiup lilinnya sekarang juga... sekarang juga... Sekarang juga..."
Mereka serentak menyanyikannya bersama-sama. dan kinara akhirnya meniup lilin yang ada diatas kue tart yang tengah dibawa Aaron tersebut.
Huff...huff...
"Yeeeeaaay.... potong kue nya...potong kue nya.."
Kinara lalu memotong kue nya. suapan kue pertamanya ia tujukan untuk Aaron, suami tercintanya.
"Jadi kamu yang merencanakan ini semua?" ucap Kinara.
"Iya sayang. Maaf tadi sudah membentakmu. itu bagian dari rencanaku untuk membuatmu kesal. Tapi jujur saja, kau memang istri yang penyabar dan penurut. Jadi agak sulit untuk membuatmu benar-benar marah dan kesal" tutur Aaron dan membuat orang-orang disana menertawakannya.
"Selamat ulangtahun Kaka..." ucap Kanaya.
" happy birthday, Kin" susul Atreya dan Satria.
"Happy birthday, Kaka ipar" tutur Marshall.
Sean, Satria, Shofi, Revan, Laras dan Lastri pun semua mengucapkan selamat ulangtahun pada Kinara yang jatuh pada tanggal 5 April kemarin.
"Happy birthday, Kinar. we love you... " ucap Claire sambil menggendong Aldrich yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Kinara langsung mendekat dan mengambil Aldrich dari gendongan Claire.
"Terimakasih, Mami. I love you too" sahut Kinara.
Kinara betul-betul tidak menyangka akan kejutan ini. bahkan ia sendiri lupa kalau hari ini adalah hari ulangtahunnya.
"Apa kau menyukainya?" tiba-tiba Aaron mendekap bahu Kinara dari samping. Kinara mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih, sayang."
Aaron mencium pipi Kinara. Lalu bergantian mencium dahi Aldrich yang tengah berada dalam dekapan bundanya.
*****
Satu tahun berlalu, Aaron dan Kinara merawat Aldrich dengan penuh kasih sayang. kebahagiaan mereka bertambah saat Tuhan menitipkan kembali seorang putri cantik pada pasangan itu.
Sementara Atreya, kini adik perempuan Aaron itu sudah bisa berjalan dengan sempurna setelah melakukan operasi untuk yang kesekian kali semasa hidupnya. Syukurlah, kali ini operasinya berhasil. semua berkat kegigihannya yang ingin bisa berjalan, serta dukungan dari Satria. Atreya pun kini terbebas dari tongkat dan kursi roda yang membelenggunya bertahun-tahun lamanya.
Atreya dan Satria, sebulan yang lalu mereka sepakat untuk bertunangan karena Atreya memutuskan untuk pindah ke Dublin. ia bersama Claire bersama-sama mempertahankan rumahsakit peninggalan keluarga O'Neill.
Marshall dan Kanaya, mereka semakin dekat meski keduanya sering memperdebatkan hal yang tidak begitu penting. Marshall bekerja di perusahaan Aaron, begitu juga dengan Sean yang kini sudah memiliki kekasih baru dan mulai move on dari Atreya.
---------------------------------------
TERIMAKASIH banyak buat yang sudah membaca novel kedua ku ini. Mohon maaf bila ceritanya kurang berkenan dan masih banyak kesalahan dalam penulisan ataupun tanda baca. 🙏🙏🙏
ada kelanjutan tentang kisah Atreya nih yang judulnya " LOVELY ATREYA " tapi kisahnya agak sedikit pilu.
jangan lupa baca Novel ku yang lain,
judul : ALEEYA (Sejak Menikahi X Ipar)
Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang. ingat !! sering-seringlah cuci tangan pakai sabun selama 20 detik, jangan lupa pakai masker saat kita keluar rumah ya 😉 semoga wabah virus yang lagi naik daun itu segera berakhir dan musnah.
aamiin yra 🤲🏻
IG : tiny.flavio
happy birthday to myself
🎂🎂🎂🎂🎂🎂🎂🎂