In Your Love

In Your Love
berkunjung



Kinara dan Lastri datang berkunjung ke rumah kediaman Shofi. mereka terpaksa meminjam sejumlah uang untuk membayar tunggakannya ke bank selama tiga bulan.


awalnya Kinara menolak ajakan Laras, namun ia sudah lelah dan bingung, setelah mencari pinjaman kesana kemari termasuk kepada tetangga dan temannya namun tidak ada yang meminjamkannya. ditambah lagi Kinara kini menganggur, jadi tidak ada pemasukan lagi. untungnya masih ada sisa uang dari tabungan untuk membantu kebutuhan sehari-harinya.


kinara mengerti, mungkin karena nominalnya yang cukup besar makanya tidak ada orang mau membantunya. kalaupun ada, mereka pasti akan berpikir 2x untuk meminjamkan nya pada keluarga Kinara. tapi tidak dengan Shofi, nenek itu sungguh murah hati.


" tante Shofi, terima kasih banyak sudah mau meminjamkannya pada kami. aku tidak tau harus kemana lagi mencari pinjaman ini. apalagi tadi pagi pihak bank sudah datang menagih."


ucap Laras pada Shofi.


" iya sama-sama. kalau kalian butuh sesuatu, jangan sungkan untuk datang kemari."


kata Shofi seraya mengusap-usap bahu Laras.


" terima kasih, nek. kami mohon maaf jika kedatangan kami ini hanya merepotkan nenek Shofi saja."


tutur Kinara merasa tidak enak.


" hey, jangan begitu nak. bukankah kita hidup ini harus saling tolong menolong ? nenek sangat senang bila bisa membantu. sering-sering lah kamu kemari, agar atreya tidak merasa kesepian. atreya sudah banyak cerita tentang mu, aku tidak menyangka kalau kalian sudah saling mengenal bahkan bersahabat dikampus. bahkan kau juga ternyata sudah mengenal Aaron."


ucap Shofi tertawa kecil.


mendengar kata Aaron, jantung Kinara tiba-tiba berdegup kencang. entahlah perasaan apakah itu. sejak kejadian terjebak didalam lift itu, sosok bayangan Aaron selalu hadir menghantuinya.


Kinara langsung mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah Shofi. ia baru sadar kalau Aaron juga tinggal dirumah ini.


" ini kan hari Minggu. apa dia Sekarang berada dikamarnya ? sedang apa dia jam segini masih mengurung diri ? haissh... kenapa aku malah berharap dia keluar dan menemuiku ? ngarep."


gumam Kinara dalam hati berkecamuk namun merasa konyol.


tak lama kemudian Atreya datang menghampiri. ia terlihat sangat senang melihat kedatangan Kinara.


" hai kin, kenapa tidak menelponku terlebih dulu kalau mau kemari ? tau begitu aku akan membuatkan mu puding, kau pasti akan menyukainya. kemarin nenek mengajariku membuat puding susu."


ucap atreya dengan bangga memamerkan satu keahliannya yang berhasil ia buat kemarin bersama sang nenek.


ucapan atreya kini membuyarkan khayalan Kinara tentang mencari keberadaan Aaron.


" oya ? kalau begitu kenapa kita tidak membuatnya sekarang saja ?"


sahut Kinara.


" kau mau membuatnya bersamaku ?"


Atreya membulatkan matanya senang.


" boleh. aku akan membantu mu."


Shofi pun meng-iyakan dan menyuruh Atreya dan Kinara membuat puding didapur. sementara dirinya dan Laras hendak pergi ke taman mawar putih yang berada dihalaman belakang rumah.


***


" Rea, apa pak Aaron ada dirumah ?"


tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut Kinara. atreya sontak menahan senyumnya mendengar pertanyaan Kinara yang terdengar polosnya.


" cieehh. ada yang kangen nih yee, sama mantan bosnya."


goda atreya seraya tertatih-tatih dengan tongkat kruknya mengambil gula pasir di lemari kitchen set.


" astaga, kenapa aku bisa bertanya seperti itu ? bodoh sekali."


gumam Kinara dalam hati menyesal lalu melirik ke arah atreya.


" sini, biar aku ambilkan gulanya. ini terlalu tinggi, Rea. nanti kau bisa jatuh jinjit-jinjit begitu."


Kinara langsung inisiatif mengambil toples gula itu lebih dulu, dan atreya mengiyakannya. lalu atreya beralih mengaduk-aduk puding dalam panci diatas kompor itu.


" kakakku sedang ke Makassar, mungkin besok baru kembali."


ucap atreya seraya melirikkan matanya ke arah Kinara yang siap-siap akan menuangkan beberapa sendok gula pasir, susu cair dan fruit cocktail sebagai pelengkapnya kedalam panci.


" oowh."


sahut Kinara membulatkan bibirnya.


" hanya oh ? kau tidak menanyakan ada urusan apa kakakku pergi kesana ?"


goda Atreya lagi seraya mencolek dagu Kinara.


" apa urusanku ?"


jawab Kinara lalu beranjak menyiapkan wadah cetakan untuk puding diatas meja.


" ya sudah kalau kau tak ingin tau."


ucap atreya mendengus.


lalu tak lama kemudian puding itu pun sudah jadi. dengan semangat atreya menuangkan adonan ke dalam cetakan. dibiarkannya hingga dingin lalu disimpan dalam kulkas selama beberapa saat.


" kita tunggu tiga puluh menit lagi, puding kita akan siap disantap."


ucap Atreya nampak bersemangat dan terlihat bahagia.


" Rea, dapur ini luas sekali. mungkin empat kali lipat dari dapur dirumahku. apa disini tidak ada pembantu ? dari tadi aku tidak melihatnya."


tanya Kinara setelah menyadari dan memandangi sekeliling ruangan dapur itu.


" tidak ada. kami memang sedang mencari asisten rumah tangga sih, tapi belum mendapatkannya saja."


jawab Atreya.


Kinara membulatkan matanya.


" benarkah ?"


Atreya hanya mengangguk karena pandangannya terfokus pada puding didalam kulkas. rasanya sudah tidak sabar ingin segera menyantapnya.


" apa boleh aku melamar jadi ART disini ?"


tanya Kinara sukses membuat Atreya terkejut dan membelalakkan kedua matanya dengan sempurna.


" apa ? jangan ngaco kamu, kin."


" aku serius, Rea. dirumah ini sedang buka lowongan kerja pembantu kan ? aku bisa memasak, mencuci dan membersihkan rumah. kalian bisa mengujiku selama satu Minggu. jika pekerjaan ku tidak cocok, kalian boleh saja memberhentikan ku."


Atreya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.


" tidak-tidak, kin. bukannya waktu itu kau melamar ditempat laundry ?"


tanya Atreya menatap serius pada Kinara.


" aku terlambat beberapa menit saja saat melamar ditempat laundry itu. sudah ada pelamar lain yang diterimanya sebelum kedatangan ku."


jawab Kinara.


" ya Tuhan. andai saja waktu itu aku tidak mengajakmu bicara, mungkin kau yang lebih dulu diterima ditempat laundry itu."


ucap Atreya merasa bersalah dan menatap nanar pada Kinara.


" tidak apa-apa, Rea. mungkin memang belum rezeki ku saja bekerja disana."


sahut Kinara seraya mengapit kedua pipi atreya.


atreya langsung memeluk Kinara. ia merasa sangat bersalah.


" maafkan aku, kin."


lirih atreya.


Kinara mengusap-usap punggung atreya lalu mendorong perlahan tubuh atreya, dan memegang pundaknya.


" aku tidak apa-apa, Rea. untuk itu ijinkan aku untuk bisa bekerja dirumahmu. jujur aku sangat membutuhkan pekerjaan."


" bagaimana dengan kuliahmu ?"


" persetan dengan kuliahku, Rea. aku sudah tidak berminat untuk melanjutkannya. yang aku pikirkan sekarang, bagaimana aku mencari uang untuk membayar utang papaku dibank."


atreya mengerutkan dahinya. ia tak percaya melihat Kinara yang rela berkorban demi keluarganya. bahkan menghancurkan masa depannya sendiri dengan putus kuliah.


" baiklah, aku akan coba bicarakan ini terlebih dulu dengan nenek dan kakakku."


jawab atreya terasa berat.


"terimakasih, Rea. kau benar-benar sahabatku."


Kinara kembali memeluk Atreya. atreya hanya tersenyum getir dibalik bahu Kinara.


" aku akan bicarakan ini dengan kakak. ku harap kakak mau melakukannya untukku."


gumam atreya dalam hatinya.


.


.


.


.


jangan lupa like, komen, dan vote nya gaess 😁😘