
" hai, cantik."
sapa Sean yang baru saja datang untuk menjenguk Atreya dirumah sakit. tangannya tidak kosong, Sean membawakan brownies kukus adinda kesukaan atreya.
" kak Sean. tau darimana kalau aku disini ?"
Atreya terlihat sumringah melihat kedatangan Sean yang tiba-tiba itu.
" nenek Shofi yang memintaku menjemput mu. siang ini kau diperbolehkan pulang kan ?"
Atreya hanya mengangguk sambil memandang Sean yang selalu membuat jantungnya berdegup kencang saat berada dihadapannya.
" aku bawakan brownies kesukaan mu. kau mau aku suapi ?"
" tidak kak nanti saja. aku masih kenyang."
sahut Atreya. memang sebelum Sean datang atreya sudah makan semangkuk bubur kacang ijo dari rumahsakit.
" oke. tidak apa-apa."
ujar Sean seraya menyimpan kotak brownies itu diatas bedside cabinet, lalu menjatuhkan tubuhnya dikursi tunggu yang bertengger disamping pembaringan.
Sean tak henti-hentinya memandangi Atreya. wajahnya yang sama-sama blesteran itu membuat gadis yang tengah berbaring disampingnya menjadi salah tingkah. Sean memang jagonya menaklukan hati wanita manapun. termasuk perasaan Atreya saat ini.
" apa kau baik-baik saja, Rea ?"
tanyanya kemudian.
" pertanyaan aneh. kalau aku baik-baik saja tidak mungkin aku berada disini, kak."
sahut atreya mengerucutkan bibirnya.
Sean malah tertawa mendengarnya. benar juga sih.
" maksudku apa sekarang kau sudah mendingan ?"
sanggah Sean tak mau kalah.
" kalau belum mendingan, mana mungkin pihak rumah sakit mengijinkan pasiennya untuk pulang."
tukas Atreya.
" hadoohh. emang susah ya ngomong sama kamu."
Sean mendengus kesal karena setiap perkataannya selalu berhasil dihempas Atreya yang membuat Sean seperti orang bodoh saja.
giliran Atreya yang tertawa. Entah sejak kapan atreya merasa nyaman bila bersama Sean.
tiba-tiba seseorang datang dan masuk kedalam ruangan. membuat Atreya dan Sean kompak mengalihkan pandangannya ke arah seseorang itu.
ternyata orang itu Satria, pemuda yang menabrak Atreya.
" dia pacarmu ?"
bisik Sean dengan mata masih melotot tajam ke arah Satria yang baru datang. Atreya langsung menggeleng-gelengkan kepala tanda menyangkalnya.
" hai, Atreya. apa kamu sudah baikan ?"
sapa Satria.
" iya. siang ini sudah bisa pulang kok."
sahut Atreya tersenyum tipis.
" kau teman kampusnya Atreya ?"
Sean memicingkan matanya pada pemuda yang baru datang itu.
Satria langsung mengalihkan pandangan ke arah Sean.
" iya."
sahut Satria.
" teman satu kelas ?"
tanya Sean lagi.
" bukan. teman satu kampus aja."
" teman satu jurusan ?"
" tidak."
" emang jurusanmu apa ?"
" teknik informatika."
" kok bisa kenal Atreya ?"
" kita kan satu kampus."
" oohh... kamu naksir atreya ya ?"
" iya. eh, nggak. maksudku nggak salah. eh gak gitu juga sih."
Satria jadi kikuk dengan pertanyaan Sean yang memberondong seperti itu.
" ah, modus lu."
sahut Sean mendengus.
" modus apa ya ?"
" bilang saja kalau lu naksir atreya."
balas Sean merasa dongkol.
" sudah kak Sean ! Satria memang kawanku kok. cukup ya jangan dibahas lagi. bisa-bisa hari ini aku tidak jadi pulang karena ulah kalian yang bikin aku sakit kepala."
ucap Atreya mulai jengah dengan sikap mereka, terlebih sikap Sean yang terlalu over protective. padahal sudah jelas kalau Satria itu hanyalah teman baru atreya. kenalnya juga baru kemarin.
untungnya ada seorang suster yang masuk membawa kertas resep obat.
" maaf, disini ada pendamping pasien ?"
tanya suster.
" saya dok. ada apa ?"
sahut Sean.
" oh, anda kakaknya ya ? ini ada resep obat yang harus diambil sebelum nona Atreya pulang. anda bisa mengambilnya diapotek sekarang."
ucap suster menyodorkan secarik kertas itu pada Sean.
" oke. terimakasih sus."
suster itu pun mengangguk seraya tersenyum lalu kembali pergi.
" Rea, aku akan mengambil obatmu dulu ya."
ucapnya pada atreya, lalu pandangannya beralih ke Satria.
" awas kau jangan macam-macam !"
tukas Sean sinis. lalu ia pun berlalu untuk menebus obat diapotek rumahsakit.
" kakakmu itu sadis juga ya."
ucap satria setelah Sean sudah tak terlihat lagi didepan matanya.
" dia bukan kakakku. tapi teman dari kakakku."
balas Atreya datar.
" oowh, kirain kakakmu. abis sama-sama bulenya sih."
sahut Satria terkekeh.
" kamu mau apa kesini lagi ? kan kemarin sudah aku maafkan. aku juga tidak akan melaporkanmu pada polisi dan dekan."
Tanya atreya menaikkan alisnya sebelah seraya melirik kearah Satria yang berada disebelahnya.
" aku hanya ingin menjengukmu saja. memangnya tidak boleh ?"
sahut Satria lalu membuka kotak brownies diatas bedside cabinet.
" tidak boleh. aku tidak terlalu mengenalmu."
sahut atreya melotot.
" makanya kita harus sering bertemu agar saling mengenal lebih jauh lagi."
jawabnya seraya mencomot satu potong brownies yang dibawa Sean, lalu melahapnya tanpa rasa malu.
" hey, itu kan brownies ku. kenapa kau mengambilnya begitu saja ? dasar tidak sopan."
Atreya mendengus kesal melihat kelakuan aneh orang yang baru ia kenal kemarin.
" ini masih banyak, Rea. aku hanya meminta satu bagian saja. nanti kalau aku main kerumahmu akan ku bawakan brownies seperti ini lagi. ini juga brownies kesukaan ku juga."
ucapnya seraya memasukan potongan terakhir brownies ditangannya.
" maaf ya, nenekku tidak akan membiarkan sembarangan lelaki datang kerumah. apalagi orang asing seperti kamu."
tukas Atreya mulai sebal.
" orang asing ? awalnya mungkin kamu menganggapku orang asing, tapi lama-kelamaan pasti akan menganggapku orang terpenting dalam hidupmu."
sahut Satria menyeringai dan membuat atreya menggeleng-gelengkan kepalanya jengah.
" haish !! pede banget jadi orang."
umpat atreya membuang mukanya kesembarang arah.
Untungnya Sean datang sambil menenteng kresek berisi obat, Atreya terlihat senang melihat wajah Sean ketimbang melihat wajah Satria yang tingkat percaya dirinya selangit itu.
" kak Sean, apa kita bisa pulang sekarang ?"
tanya Atreya.
" boleh."
sahut Sean.
atreya tersenyum sumringah, ia pun mulai bergegas untuk pulang. setelah semuanya beres, Sean menggendong atreya dari tempat tidur ke kursi roda yang memang sudah tersedia diruangannya. lalu mendorongnya perlahan menuju pintu keluar. sedangkan Satria kebagian menenteng tas dan barang lainnya milik atreya.
.
.
.