
Malam itu sepulang dari acara pertemuan dan makan malam dengan koleganya Sergio di hotel, Aaron langsung masuk ke kamarnya. begitu juga Claire, Sergio dan Marshall. mereka tampaknya sudah sangat kelelahan dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya masing-masing.
Aaron merebahkan dirinya ke atas tempat tidur, lalu matanya melirik kearah jam weker yang bertengger diatas nakas. jam menunjukan pukul dua puluh tiga lebih dua puluh menit. Aaron langsung beranjak dari posisi berbaringnya.
" apa aku telpon Kinara ya. disana kan sudah jam tujuh pagi. dia pasti sudah bangun."
gumam Aaron segera meraih benda pipih disampingnya. lalu ia segera mendial kontak bertuliskan 'mywife'.
'The number cannot be reached'
ponsel Kinara ternyata tidak aktif. padahal Aaron sudah berpesan agar selalu mengaktifkan ponselnya.
'The number cannot be reached'
Aaron kembali mencoba menghubunginya lagi namun tetap sama. ponsel Kinara tidak aktif.
tak sampai disitu, Aaron kembali mengirim pesan. tapi sudah lima belas menit tidak ada respon darinya.
rasanya tidak mungkin kalau Kinara masih tidur. ia paling rajin bangun pagi. entah kenapa Aaron merasa cemas. tapi disisi lain kedua matanya mulai mengantuk hebat.
" shit !! kenapa mataku mengantuk begini ?"
umpat Aaron lalu beranjak keluar kamarnya untuk membuat secangkir kopi dipantry. keadaan rumah itu nampak sudah sepi karena memang semua penghuni rumah termasuk pelayan-pelayan disini pasti sudah terlelap, kecuali para penjaga diluar sana.
ia pun berjalan menuju pantry dengan minim penerangan. hanya lampu-lampu kecil yang menyala disetiap sudut ruangan. sepertinya hanya ruang kerja Sergio lah yang masih terang benderang.
Aaron mengernyitkan dahinya saat menyadari ruang kerja itu masih terlihat menyala.
" apa papi masih bekerja ? setauku tadi ia langsung kekamarnya untuk beristirahat. lalu siapa yang ada diruang kerja itu ?"
gumam Aaron penasaran lalu mendekatinya. dan ternyata pintu ruangan itu tidak ditutup rapat dan menyisakan celah yang terbuka sejengkal. terdengar samar-samar suara Claire tengah berbincang dengan seseorang didalam sana. Aaron diam-diam mengintip dari celah pintu, karena ia sangat penasaran dengan siapa ibunya berbicara ditengah malam begini.
" Bagus. cepat sekali kalian menemukannya. segera habisi gadis bernama Kinara itu. kau tenang saja, anakku Aaron tidak akan bisa kemana-mana selama pasportnya ada di tanganku."
Aaron membulatkan matanya dengan sempurna saat mendengar dengan jelas rangkaian kalimat yang dituturkan Claire barusan. ia langsung mengepalkan kedua tangannya geram.
' Brakk'
dengan sangat emosi Aaron langsung menendang pintu itu hingga terbuka dengan lebar.
Claire terkejut melihat Aaron sudah berdiri dihadapannya.
" Aaron ?"
Claire segera mengakhiri percakapannya dengan seseorang diponselnya itu.
" oh, jadi ini semua ulah mami ? mami menyuruh seseorang untuk menghabisi Kinara, istriku ? kenapa mami setega itu ?"
" tunggu Aaron, kau salah paham, nak. maksud mami bukan begitu."
" cukup, mam. cepat kembalikan pasport dan barang-barang ku yang sudah kau curi !!"
Aaron mulai tak sabar. ia sangat mengkhawatirkan dengan keadaan Kinara. yang ada dipikirannya saat ini bagaimana dirinya bisa segera pergi dari sini.
" Aaron, dengar mami ! mami ini ibu kandungmu. kau tidak boleh pergi jauh-jauh lagi dari mami. sekarang mami tidak butuh hartamu lagi. mami hanya mau kau tetap berada disini, nak."
ungkap Claire.
" cepat kembalikan pasport ku, mam !!"
teriak Aaron sangat marah. ia mendekati Claire lalu mengguncang-guncangkan bahu ibunya itu dengan kasar.
Claire terlihat mulai panik. namun ia tetap tak bergeming dan tidak mau mengembalikan barang-barang Aaron yang telah ia sembunyikan itu.
kedua mata Aaron tertuju pada kotak brankas yang berada dipojok dekat rak buku yang tersusun rapi. Aaron merasa Claire menyembunyikan pasport nya itu didalam sana. ia pun segera mendekati brankas.
" tunjukan password apa ? cepat mam, berikan passwordnya ?"
bentak Aaron.
" tidak nak. kau tidak boleh pergi !"
sahut Claire. lalu ia dengan cepat membuka laci meja kerja Sergio. disana tersimpan pistol milik Sergio. pistol itu langsung ditodongkan ke arah pelipisnya sendiri.
" kalau kau pergi dari sini, mami lebih baik mati saja."
ancam Claire.
Aaron membelalakkan kedua matanya terkejut. ingatannya kembali ke masa silam saat Daddy Kevan melakukan hal sama didepan matanya sendiri.
" tidak. tolong jangan lakukan itu, mam. aku tidak mau terulang lagi !!"
Aaron berteriak dengan frustasi. matanya terlihat merah karena menahan air mata kekecewaan.
" kalau begitu turuti apa kata mami, nak. mami hanya ingin kau tinggal disini. lupakan gadis itu. aku tidak Sudi memiliki menantu berdarah Asia. apa kau tidak ingat siapa yang merebut Daddy mu dari mami ? wanita itu juga keturunan Asia."
ucap Claire dengan penuh kebencian.
" aku tidak mungkin meninggalkan Kinara. aku mencintainya, mam. dia sedang mengandung anakku."
tutur Aaron dengan suara mulai melemah. pikirannya sangat kalut dan bimbang.
" Daddy mu dulu meninggalkan mami saat mengandung dirimu. jadi mami mohon tinggalkan dia dan menetaplah disini."
ucap Claire terus menghasut.
" maaf aku tidak bisa, mam. aku ingin lebih baik dari Daddy. tolong jangan lukai Kinara, aku sangat mencintainya."
" oke, kalau gitu mami lebih baik mati saja."
" jangan, mam !!"
Aaron langsung merebut senjata api itu dari tangan Claire lalu diarahkannya ke atas. mereka saling berebut, tapi kekuatan Claire tidak sebanding dengan Aaron.
DORR
Claire jatuh tersungkur tak berdaya dan terlihat rapuh. Peluru itu menembus atap plafon. Aaron berhasil merebutnya dari tangan Claire.
" hey, ada apa ini ?"
tiba-tiba Sergio dan Marshall datang. seluruh penghuni dirumah itu terbangun mendengar kegaduhan dan suara letupan senjata api.
" Sergio, Marshall. tolong cegah Aaron agar tidak pergi dari sini !!"
ucap Claire beranjak berdiri lalu mendekati Sergio.
" ada apa ini ?"
tanya Marshall seraya melotot ke arah senjata api yang masih dipegang Aaron. Marshall mendekati Aaron dan langsung mengambil pistol itu untuk mengamankannya.
" kau mau membunuh mami ?"
Marshall menatap tajam pada kakak tirinya itu.
" tidak ! justru aku menggagalkan mami yang hendak bunuh diri. karena ketauan kalau ternyata mami yang telah menyembunyikan pasport, ponsel dan barang-barang penting milikku."
adu Aaron.
" apa ?"
Sergio dan Marshall tampak kaget.
" tidak. mami sama sekali tidak menyembunyikan nya."
Bantah Claire.
" jangan bohong lagi, mam. aku mendengar nya sendiri mami berbicara dengan seseorang ditelpon. mami menyuruh seseorang untuk menyakiti istriku. dan menyembunyikan pasport ku agar aku tidak bisa kemana-mana lagi. mami benar-benar licik."
tukas Aaron seraya menggelengkan kepalanya. Aaron tidak menyangka kalau ibu kandungnya tega berbuat curang pada anaknya sendiri.
" apa benar yang dikatakan Aaron ? kau membayar seseorang untuk menyakiti istrinya ? sudah kubilang jangan lagi berhubungan dengan para anggota mafia itu, Claire."
Sergio menatap tajam pada Claire. ia terlihat sangat kecewa dengan kelakuan istrinya itu. padahal dia sudah mengira Claire sudah berubah, Sergio sudah memberikan segalanya dan menerima Claire apa adanya.
Claire tak bergeming. pipinya sudah banjir dengan air mata.
" Aaron, kau sedang tidak membohongi kami kan?"
tanya Marshall yang masih terlihat ragu.
" untuk apa bohong. tidak ada untungnya buatku. aku hanya ingin pasport ku kembali. dan aku akan pergi dari sini. aku takut terjadi apa-apa dengan istriku."
sahut Aaron.
" dimana kau sembunyikan barang-barang Aaron, Claire ?"
tanya Sergio pada Claire.
Claire diam membisu. ia masih keukeuh dengan pendiriannya untuk tetap mempertahankan Aaron untuk tetap tinggal.
" sepertinya mami menyimpannya di Brankas."
sahut Aaron.
" Marshal, cepat kau buka brankasnya ?"
perintah Sergio.
Marshall pun Langsung menekan tombol password untuk membuka brankas milik keluarga itu.
ternyata benar, Claire menyimpan pasport, ponsel dan dompet berisi kartu-kartu penting milik Aaron didalam brankas itu.
Aaron pun langsung mengambilnya. ia sangat bersyukur karena akhirnya ia menemukan barang yang akan membawanya pulang pada kekasih hatinya.
" terima kasih Marshall. aku harus segera balik ke Irlandia. istriku membutuhkan ku."
ucap Aaron seraya menepuk bahu adiknya itu.
" Aaron tolong jangan pergi nak. jangan tinggalkan mami lagi."
ucap Claire berusaha mencegah Aaron. namun Sergio langsung menahannya.
" cukup Claire !! tenangkan dirimu. Aaron pergi karena ulahmu sendiri."
Claire hanya bisa menangis meratapi kepergian anaknya. namun hatinya masih saja memiliki sifat jahat.
" pada akhirnya kau akan kembali kesini. kau tidak akan pernah bertemu istri mu lagi. semuanya sudah terlambat."
gumam Claire dalam hatinya menyeringai.
Aaron tak lagi menghiraukan Claire. ia langsung pergi ke bandara ditemani Marshall malam itu juga.
.
.
.