
Atreya sudah cukup lama menunggu Aaron dan Kinara turun untuk sarapan pagi bersama dimeja makan.
" nanny, bisa tolong panggilkan kakakku untuk segera turun ? ini sudah lewat dari jam delapan, tumben sekali mereka belum turun untuk sarapan."
pinta atreya pada nanny, ketua pelayan dirumah itu.
" baik, nona."
jawabnya segera beranjak menaiki tangga menuju kamar Aaron. namun baru saja menaiki tiga anak
tangga, terlihat Kinara dan Aaron sudah turun beriringan. Aaron sudah terlihat rapi dengan celana jeans dan kaos polos putih yang diselimuti jaket bomber hitam seraya menggendong tas ransel dipundaknya.
melihat Aaron dan Kinara, nanny memundurkan langkahnya turun, lalu kembali mempersiapkan piring untuk sarapan majikannya itu.
" kakak mau kemana ?"
atreya membelalakkan matanya saat melihat Aaron yang sudah terlihat rapi menggendong ransel seperti hendak naik gunung saja.
Aaron tidak menggubris pertanyaan adiknya itu. ia langsung menurunkan ranselnya dilantai lalu menarik kursi makan untuk ia duduki.
" ia ada keperluan sebentar ke Los Angeles, Rea."
sahut Kinara menjawab pertanyaan atreya seraya menggeser kursinya untuk duduk tepat di samping Aaron.
" Amerika ? apa aku tidak salah dengar, ada perlu apa kakak kesana ? itu jauh sekali dari sini."
atreya sangat terkejut mendengarnya. ia menatap serius pada Aaron yang sibuk menuangkan lasagna panas kedalam piringnya.
Kinara secara bergantian menatap Aaron dan Atreya. ia merasa Aaron terlihat berbeda sikapnya pada Atreya. sejak ia tau bahwa atreya hanya adik tirinya, Aaron terlihat lebih acuh pada adiknya itu. bahkan tidak lagi menggodanya seperti biasa.
Aaron nampak lahap menyantap sarapannya. ia terlihat sangat lapar. Kinara hanya tersenyum menatap suaminya itu. Kinara sebenarnya malas untuk sarapan pagi, namun kini ia harus membiasakan makan pagi untuk kesehatan bayi yang sedang dikandungnya, meski kadang terasa mual dan tidak berselera.
" bisa kau buatkan jus stroberi untukku, sayang. rasanya lidahku ingin makan stroberi. tapi aku ingin kamu yang membuatnya seperti waktu itu."
pinta Aaron pada Kinara. Kinara pun langsung meng-iyakan. kebetulan ia baru selesai memasukan suapan lasagna terakhir kedalam mulutnya. kinara segera beranjak menuju dapur untuk membuatkan jus stroberi untuk suaminya.
" Rea, apa kau mau juga sekalian ?"
tanya Kinara pada atreya.
" tidak kin. tadi aku sudah meminum jus jeruk buatan Maria."
jawab atreya. Maria adalah pelayan pribadinya yang mengurusi segala kebutuhan atreya dirumah itu.
Kinara hanya tersenyum mengiyakan lalu segera ke dapur untuk membuatkan minuman pesanan suami tercintanya.
" kakak belum menjawab pertanyaan ku tadi. ada kepentingan apa Kaka pergi ke LA ?"
tanya Atreya pada Aaron saat Kinara sudah beranjak kedapur, dan hanya ada mereka berdua dimeja makan.
" kau tidak perlu tau. ini urusanku dan bukan urusanmu."
sahut Aaron sekilas melirik atreya, lalu membuang mukanya ke lain arah.
mendengar itu atreya mengernyitkan dahinya. ia merasa bingung dengan sikap kakaknya akhir-akhir ini.
" kakak !! ada apa denganmu ? aku bicara baik-baik. tapi kakak menjawabnya dengan ketus seperti itu."
Atreya terlihat kesal lalu menggebrak meja dengan salah satu tangannya dan itu membuat Aaron jadi tersulut emosi.
" kau ini apa-apaan, tidak sopan sekali menggebrak meja seperti itu. kau pikir kamu siapa ? dasar anak manja."
aaron mengeraskan suaranya seraya menautkan kedua matanya dengan tajam ke arah atreya. kata-kata Aaron sungguh menyakiti hati adiknya itu.
buliran air mata kini membasahi sudut mata atreya. ia menurunkan pandangannya karena ia begitu takut memandang wajah Aaron yang terlihat geram itu. kenapa kakak membentak ku seperti itu, dan terlihat jadi begitu membenciku. sebelumnya kakak tidak pernah memperlakukan ku dengan buruk. pernyataan itu yang kini ada dibenak atreya.
" maafkan aku, kak. aku tidak bermaksud bertindak tidak sopan, aku hanya bertanya saja. tapi kakak menjawabnya begitu."
lirih atreya.
Aaron hanya mendengus. lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan meraih tas ranselnya dari lantai.
" tunggu kak !! aku butuh penjelasan dari Kaka."
teriak atreya lalu ia pun segera beranjak hendak mengejar kakaknya. tapi sialnya atreya terjatuh saat turun dari terundakan penghubung antara ruang makan dan ruang tengah. ia lupa kalau lantai diruangan itu lebih tinggi beberapa centi.
" aaww sakiit."
atreya berusaha bangun, namun tongkatnya terlempar jauh hingga ia kesulitan menjangkaunya.
Aaron terkejut mendengar teriakan atreya, ia lalu membalikkan badannya. dilihatnya atreya yang tengah ngesot dilantai dengan tangan menjulur-julur hendak meraih tongkatnya.
" tolong aku, kak."
pinta atreya berharap Aaron akan merengkuhnya seperti biasanya.
" Mariaa !!"
teriak Aaron memanggil pelayan pribadinya atreya. beberapa detik kemudian Maria pun datang dan melihat atreya yang tersungkur dilantai.
" nona atreya, anda kenapa bisa terjatuh begini ?"
Maria mengambilkan tongkat milik atreya lalu membantunya untuk berdiri.
disaat bersamaan Kinara pun datang sambil menenteng gelas berisi jus stroberi ditangannya.
" Rea, kau kenapa ?"
Kinara terlebih dulu menyimpan gelas berisi jus itu ke atas meja lalu memegangi tangan atreya yang tengah tertatih-tatih.
tanya Kinara menatap wajah atreya yang sedang menangis.
" hey, kenapa kamu menangis ? apa ada yang sakit, Rea ? mana yang luka, biar aku obati ya."
Kinara mengedarkan matanya ke setiap bagian tubuh atreya yang terlihat. khawatir ada yang terluka dibagian kaki atau tangannya.
" aku tidak apa-apa, kin."
lirih atreya mengusap air matanya sendiri dengan punggung tangannya.
" lantas kenapa kau menangis ?"
tanya Kinara, lalu memapah atreya menuju ruang tengah dan mendudukkannya disofa. sementara Maria telah kembali kebelakang untuk mengambilkan air minum buat atreya.
" kenapa kakakku berubah, kin ? ada apa dengannya ? tadi saat aku jatuh dia tidak menolong ku malah memanggil Maria. kenapa kakak jadi terlihat membenciku, apa salahku ?"
air mata atreya kembali turun dan membasahi pipinya yang belum sempat kering. Kinara langsung memeluk tubuh Atreya. ia mengelus-ngelus punggung nya untuk menenangkan.
" kamu yang sabar ya, Rea. kakakmu memang tengah ada masalah."
seketika atreya melepas rengkuhan Kinara lalu menatap tajam pada Kinara.
" masalah apa, kin ? kalian tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan ?"
tanya Atreya memicingkan matanya curiga.
" Kinara !! mana minumanku, cepat bawa kemari !"
tiba-tiba teriakan Aaron dari ruang depan terdengar.
" astaga, aku jadi lupa dengan jusnya."
Kinara menepuk jidatnya sendiri.
" kau tunggu disini dulu ya, Rea. aku akan memberikan jus buat kakakmu."
Kinara pun segera mengambil gelas yang tadi ia simpan diatas meja makan untuk diberikan pada Aaron.
***
" ini jus mu. minumlah !!"
Aaron meraih gelas jus dalam genggaman Kinara dan langsung menyeruputnya sekaligus sampai habis. lalu menyimpan gelas kosongnya ke atas meja kecil diteras rumahnya.
" aku akan berangkat sekarang diantar Leon ke bandara. jaga dirimu baik-baik ya."
ucap Aaron mengecup kening Kinara.
" Aaron, kenapa kamu memperlakukan adikmu seperti tadi ? atreya tadi terjatuh dan kau malah meninggalkan tanpa membantunya. walau bagaimanapun atreya tetap adikmu."
kata Kinara.
" adik tiri ku, kin."
sahut Aaron malas.
" tapi kalian masih satu ayah. kau dan atreya masih satu darah meski beda ibu."
" cukup, kin !! aku sedang tidak ingin membahas ini."
Aaron pun segera berlalu meninggalkan Kinara menuju mobilnya yang sudah terparkir dihalaman.
" Cepat kembali, Aaron !!"
teriak Kinara dengan berat.
Aaron menoleh kembali ke arah Kinara dan mengangguk pelan. ia lalu masuk ke dalam sedan berwarna hitam itu setelah Leon membukakan pintu mobilnya.
Kinara terus memandangi mobil yang ditumpangi Aaron hingga berlalu dan tak terlihat lagi oleh pandangannya. mata Kinara terlihat berkaca-kaca dan hendak turun, namun segera ditepis oleh punggung tangannya.
" kau harus kuat, kin. Aaron pasti segera kembali."
gumam Kinara menguatkan dirinya sendiri.
lalu Kinara kembali masuk kedalam untuk menemui Atreya yang masih duduk disofa ruang tengah ditemani Maria.
" apa kak Aaron sudah pergi ?"
tanya Atreya saat Kinara datang dan menjatuhkan tubuhnya disamping atreya.
" iya, Rea. barusan Leon yang mengantarnya ke bandara."
sahut Kinara terlihat lemas.
" kin, apa yang sebenarnya terjadi ? tolong ceritakan padaku !"
pinta Atreya seraya memegang tangan Kinara.
" baiklah, Rea. aku akan menceritakannya padamu."
Kinara nampak menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mulai menceritakan semuanya pada atreya. walau bagaimanapun atreya juga berhak tau atas kebenaran ini.
.
.
.