
" cepat Aaron !! nanti kita terlambat."
teriak Kinara didepan pintu keluar apartemennya yang sudah terbuka.
" iya, sabar dong sayang. rumahsakit tidak akan pernah tutup."
timpal Aaron yang masih sibuk mencari sepatu kets nya.
" tapi praktek dokter kandungan itu antrinya lama. tidak bisa langsung masuk begitu saja."
sahut kinara.
" iya iya cerewet sekali."
gumam Aaron menggerutu.
hari ini mereka berencana memeriksakan kandungan Kinara yang sudah memasuki delapan bulan. Aaron selama ini selalu menjadi suami siaga. bahkan ia rela menyerahkan tanggung jawab perusahaannya pada Sean selama kehamilan istrinya itu. Aaron hanya memantau perkembangan perusahaan dari rumah dan hanya sesekali ke kantor jika memang sangat diperlukan.
" Kinar ?"
tiba-tiba seseorang datang dan sudah berdiri dihadapan Kinara yang sedari tadi menunggu suaminya memakai sepatu itu.
Kinara melirik langsung ke arah sumber suara dan ia begitu terkesiap melihatnya. ia mengucek kedua mata untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak buram.
" Mar... Marshall ?"
pria yang dihadapannya itu hanya membalasnya dengan tersenyum.
" Aaron...!! cepatlah. disini ada Mar---"
" Marshall ?"
Aaron terkejut saat dirinya sudah berada diambang pintu dan melihat sosok adiknya itu.
" maaf kalau kedatangan ku mengagetkan kalian."
ucap Marshall dan langsung mendapat rengkuhan dari sang kakak.
" kau sudah sadar ? kenapa tidak mengabari ku ?"
" aku sudah sadar dari tiga bulan lalu, dan sekarang sudah jauh lebih baik. makanya ku putuskan untuk kemari menemui kalian."
ucapnya seraya menepuk bahu Aaron dan perlahan melepaskan rengkuhan sang kakak.
" selamat datang Marshall. kami senang bisa melihatmu lagi."
tutur Kinara yang merasa senang melihat kedatangan adik iparnya yang sudah kembali sehat dari koma yang berbulan-bulan lamanya itu.
" apa kalian berencana untuk pergi ?"
tanya Marshall setelah menyadari Aaron dan Kinara yang sudah berpakaian rapi.
" ya. aku mau mengantar Kinara untuk cek kandungan."
jawab Aaron antusias.
" kau terlihat lebih cantik dan berisi, kinar."
kata Marshall memandangi kakak iparnya dengan penuh kekaguman, dan mendapat jitakkan dikepala dari sang kakak.
" jangan sampai kedatanganmu yang baru beberapa menit ini sudah ku usir lagi, shall !!"
ucap Aaron memberi peringatan.
" hahahaha..."
Marshall malah tertawa.
" aku sangat lelah. ijinkan aku beristirahat disini. kalian pergilah !!"
sahut Marshall kemudian.
akhirnya Kinara dan Aaron pun segera pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan.
***
" bayinya sangat sehat. berat badannya sudah sesuai."
ucap sang dokter yang masih fokus menggeser-geser transducer / alat USG diperut Kinara yang semakin membuncit itu.
" apa kalian masih belum penasaran dengan jenis kelaminnya ?"
tanya dokter paruh baya itu tertawa kecil.
" tidak dok. bagi kami, laki-laki atau perempuan sama saja. ini akan menjadi kejutan, jadi kami tidak ingin mengetahui gender dari bayi ini."
tutur Aaron.
" baiklah, kami menghargai keputusan kalian. memang yang terpenting adalah kondisi kesehatan janin selama dirahim sang ibu."
balas sang dokter tersenyum.
***
" sepertinya dirumah nenek sedang ada tamu."
ucap Aaron saat memperkirakan mobilnya didepan rumah sang nenek, dan melihat ada mobil lainnya yang terparkir disana.
" mungkin Satria."
sahut Kinara menduga.
" tidak mungkin. mobil itu terlalu mewah."
ucap Aaron dan mendapat cubitan dilengannya dari sang istri.
" jangan menyepelekan seseorang. belum tentu orang yang selama ini kita anggap remeh, ternyata dia luar biasa."
sanggah kinara mendelik.
" iya, maaf. ayo kita keluar saja !!"
mereka pun akhirnya keluar dari mobilnya untuk mencari tau tamu siapa yang tengah berada dirumah neneknya dan membawa mobil mewah.
" mami ?"
Aaron begitu terkejut saat tau ternyata tamunya Shofi itu tak lain adalah Claire. Kinara juga tak kalah terkejut dibuatnya. ia langsung melindungi diri dibalik punggung suaminya.
" Aaron, Kinara. kalian kesini kenapa tidak menelpon nenek dulu ? tau gitu nenek kan bisa membuatkan kue kesukaan kalian."
ucap Shofi langsung menghampiri keduanya. lalu menarik Kinara yang masih bersembunyi dibalik punggung Aaron.
" ayo, nak masuk lah."
Shofi mengajak Kinara untuk duduk disampingnya. sementara Aaron masih berdiri menatap Claire dengan tatapan yang sulit diartikan.
" untuk apa mami kesini ?"
tanya Aaron curiga.
Claire pun berdiri lalu menghampiri Aaron.
" mami dan Marshall menyusulmu kemari untuk meminta maaf, sayang."
Claire hendak meraih tangan Aaron, namun dengan cepat Aaron menghempasnya.
" ide gila apa lagi yang akan mami lakukan untuk memisahkan aku dan istriku ?"
Aaron menatap tajam serta menautkan kedua alisnya.
" tidak Aaron, kali ini mami benar-benar ingin berubah. ijinkan mami untuk meminta maaf padamu dan Kinara."
ucap Claire lalu memindahkan tatapannya pada Kinara yang duduk disamping Shofi. Kinara pun langsung menurunkan pandangannya karena takut seraya memegang erat tangan Shofi.
" Aaron, Marshall lah yang telah mengubah sifat mami yang keras ini. dia selalu mengingatkan dan menyadarkan Mami untuk menjadi pribadi yang lebih baik. terutama menerima Kinara sebagai menantu Mami, dan ma---"
" bohong."
sanggah Aaron memotong kalimat Claire.
" Aaron ! bersikap sopan lah pada orang yang lebih tua, terlebih ia ibu kandung mu sendiri."
tegur Shofi.
" aku akan bersikap sopan jika orang yang lebih tua dari ku itu seperti nenek."
sahut Aaron.
" Claire sudah datang jauh-jauh kesini hanya untuk menemuimu, nak. "
ucap Shofi.
" maaf, nek. sepertinya aku dan Kinara harus pergi sekarang. kapan-kapan kami akan berkunjung kembali. ayo sayang !!"
Aaron lalu mengajak Kinara keluar dari rumah Shofi. sepertinya kali ini Aaron tidak mau begitu saja memaafkan ibu kandungnya setelah apa yang telah Claire lakukan untuk memisahkan Aaron dan Kinara.
.
.
.
.
buat yang belum tau, author punya novel baru nih yang berjudul " ALEEYA 24 WEEKS"
ceritanya gak kalah seru kok 😁
tetap dirumah ya men-temen, kita bantu putus rantai Corona.
semoga kita selalu tetap dilindungi Allah SWT dari wabah virus Covid-19