
" apa-apaan ini ?"
tiba-tiba seseorang menggebrak meja keduanya. dan membuat beberapa pasang mata pengunjung langsung terfokus memandangnya tak terkecuali Kinara.
" kakak ?"
atreya begitu terkejut melihat wajah geram Aaron yang kini dihadapannya.
" kok kakak bisa disini ?"
tiba-tiba pertanyaan bodoh terlontar begitu saja dari bibir atreya.
" dia kakakmu ? suaminya Kinara ?"
bisik Satria dan mendapatkan anggukan pasti dari atreya.
" kenapa ? kaget suaminya Kinara tidak setua yang kau bayangkan ?"
sindir Aaron melirik sinis pada kawan adiknya itu.
Satria menelan salivanya dengan begitu sulit. ia merasa tidak enak hati karena telah salah sangka.
" Rea, sejak kapan kau pulang kuliah jadi berkeliaran seperti ini. biasanya langsung pulang kan ?"
tegur Aaron lalu menjatuhkan tubuhnya duduk dikursi kosong dihadapan adiknya seraya memasang tatapan mata elang penuh selidik.
" owh, jadi benar apa yang dikatakan Sean, sejak kau berteman dengan bocah bergajulan ini sikapmu semakin tidak bisa dikontrol."
katanya lagi lalu melirik sinis pada pria yang berada disebelah atreya.
" aku ?"
Satria menunjung mukanya dengan telunjuknya sendiri.
" bukan, tapi tikus yang ada dirumah mu ! ya kamu lah, pake nanya."
sewot Aaron menimpanya, dan Satria mendengus kesal karena disamakan dengan binatang kotor yang banyak dibenci human.
" aku sudah minta ijin nenek, kak. kalau tidak percaya kakak bisa nelpon nenek sekarang. lagian nenek juga sudah mengenal Satria dengan baik kok."
ucap Atreya membela diri.
karena masih belum percaya, Aaron pun langsung merogoh ponselnya hendak menelpon Shofi untuk memastikannya.
ternyata benar, Shofi mengatakan bahwa atreya sudah meminta ijin untuk pergi ke sebuah kafe bersama Satria. dan Neneknya itu pun mengakui bahwa dirinya telah mengenal baik dengan pria bersama Satria.
Aaron pun akhirnya tak memindahkan tubuhnya dari meja Atreya dan Satria. dan membuat keduanya menjadi tidak nyaman dengan kehadiran Aaron bak tamu tak diundang itu.
⏱️⏱️⏱️⏱️⏱️
tiga puluh menit kemudian, setelah Satria dan Atreya menghabiskan makanannya, mereka pun pamit undur diri.
" kak, aku dan Satria pulang duluan ya ? "
pamit atreya ragu.
" kamu nanti kakak yang antar. biarkan saja dia pulang lebih dulu."
sahut Aaron.
" tidak kak. aku pulang dengan Satria aja. kakak masih nunggu kinara kan ?"
tolak Atreya.
" tapi aku tidak percaya dengan laki-laki ini. kalau begitu akan ku minta Sean mengantarkan mu saja ya ?"
Aaron segera meraih ponselnya yang ia letakan begitu saja diatas meja bersama kacamata hitamnya.
" percayalah, aku tidak akan macam-macam dengannya. aku sudah biasa mengantar atreya pulang sebelum kau kembali."
tutur Satria dan langsung mendapat dukungan dari atreya.
setelah perdebatan kakak beradik dan beberapa ancaman yang dilontarkan Sang kakak pada pria itu, akhirnya dengan berat hati Aaron mengijinkan Atreya pulang diantar Satria.
keduanya pun pergi dan keluar dari kafe itu dan tak lupa berpamitan terlebih dahulu pada Kinara yang masih sibuk dimeja kasir.
***
" aku gak nyangka kalau kau adik dari seorang Aaron O'Neill, pewaris dari O'Neill Company yang perusahaannya sudah banyak melanglang buana di alam semesta ini. tadinya ku pikir pengusaha yang bernama Aaron itu pria tua yang suka daun muda."
tutur Satria seraya mengakhiri ucapannya itu tertawa dan mendapatkan satu cubitan menyakitkan di lengan kirinya.
" aww !! kamu kok seneng banget sih nyubitin aku terus ? sakit tau."
Satria meringis seraya mendelik ke arah kursi penumpang disampingnya.
" Lebay kamu. makanya jangan sotoy jadi orang. dapat gosip darimana coba kalau kak Aaron seorang pria tua yang suka daun muda seperti Kinara ?"
tanya Atreya mendelik.
" ya itu kan hanya dugaanku saja."
sahut Satria.
"ternyata dugaanmu salah besar kan ? memalukan."
kata Atreya yang mendapat cibiran dari pria disampingnya seraya tetap fokus dibalik kemudi mobil.
" Oya, kamu kok bisa kenal kinara, dari mana ? keliatannya akrab banget gitu."
tanya atreya penasaran.
" mantan."
jawab Satria begitu polosnya.
" apa ?"
Atreya membelalakkan kedua matanya tak percaya.
" mantan pacar maksudmu ?"
" ya iya lah. masa mantan istri. dapetin janda bekas gue dong kakakmu itu."
" sialan."
umpat Atreya.
" udah ya jangan dibahas lagi. buat apa ngomongin mantan, mending ngomongin masa depan."
kata Satria terkekeh.
" tapi aku masih penasaran, kenapa kamu dan Kinara bisa jadi mantan ? apa yang membuat kalian putus ?"
Atreya memicingkan matanya makin penasaran. entah mengapa Atreya merasa ingin tau tentang ini. namun Satria malah diam. ia masih fokus menatap jalan didepannya.
" sat ?"
kata Atreya lagi.
" emhh."
sahut Satria masih bungkam.
" cerita dong !!"
pinta Atreya.
Satria melirik sekilas pada gadis cantik disebelahnya. lalu tersenyum.
" aku takut kamu cemburu kalau aku cerita. cemburu itu menyakitkan lho, Rea."
katanya.
" cemburu ? siapa yang akan cemburu ?"
" benar kamu gak akan cemburu ?"
" tidak akan."
sangkal Atreya.
" baiklah. aku bertemu dia dikampus, aku menyukainya lalu menembaknya. udah deh jadian."
kata Satria.
" gitu doang ? gak ada intrik-intrik atau drama-drama seperti di novel atau film Drakor gitu ?"
" hidup ini simpel, Rea. gak usah dibikin ribet. kalau aku menyukai seseorang gak usah pake drama segala. tinggal ngomong aja aku suka kamu, kalau dia oke, ya aku ajak jadian aja. tapi kalau tidak ya langsung jauhin."
tutur Satria.
" kalau belum kasih jawaban iya atau tidak ?"
tanya atreya.
" nah itu kamu."
" kok aku ?"
" kamu belum jawab iya atau tidak kan ? makanya ada sedikit drama disini."
Atreya jadi terdiam. ia mulai mencerna kata-kata terakhir Satria barusan. tiba-tiba wajahnya terlihat merah merona. untung saja Satria tidak bisa melihatnya karena minimnya pencahayaan didalam mobil dimalam hari.
" kok diam ? kamu jadi tidak enak hati ya..."
goda Satria lalu sejenak menepikan mobilnya dan berhenti. lalu mencondongkan tubuhnya mendekati Atreya.
" Rea, aku hanya ingin membuat mu nyaman ketika didekatku. aku tau saat ini kau hanya menganggap ku teman. entah kenapa denganmu aku mau menunggu. meski akhirnya aku sudah bisa menebaknya sendiri."
" apa ?"
atreya mengerutkan dahinya.
" kamu pasti memilih si bule yang sudah mapan itu daripada aku, yang kakak mu bilang bergajulan dan tidak punya masa depan yang jelas."
jawab Satria.
" kok kamu tau ?"
mendengar itu Satria terdiam. ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"ternyata benar, Atreya sudah memiliki pilihannya sendiri."
gumamnya dalam hati sedikit kecewa.
" memang benar Sean itu pria mapan, tampan, dan baik. mungkin menjadi idaman setiap wanita, dan aku memang menyukainya."
kata atreya.
Satria menurunkan pandangannya. entah sejak kapan hatinya begitu rapuh. perasaannya begitu terkoyak saat wanita yang ia impikan memuji-muji pria lain yang levelnya jauh diatas dirinya.
" tapi itu dulu. sebelum aku bertemu cowok tukang ngebut yang nyaris membunuhku. dia memang bergajulan dan sangat jail. tapi aku jadi menyukainya karena dia apa adanya dan baik hati."
tutur Atreya mengungkapkan isi hatinya. dan sukses membuat Satria kembali mengangkat wajahnya menatap wajah gadis bermata biru itu.
" aku maksudmu ?"
" bukan. mang Maman supirku yang dulu."
sahut Atreya seraya mengerucutkan bibirnya.
Satria pun ngakak dan langsung merengkuh tubuh Atreya.
.
.
.
.