
" Leon, kau akan membawaku kemana ? aku tidak mau pergi, biarkan aku menunggu Aaron karena dia belum kembali dari semalam. tolong Leon, lepaskan tanganku !"
Kinara merasa aneh dengan Leon yang tiba-tiba saja datang ke kamar hotelnya lalu membawa Kinara secara paksa keluar dengan menarik tangannya.
" maaf nyonya, kita harus buru-buru pergi sebelum terlambat."
ucap Leon terus menarik tangannya dan memaksa agar Kinara mengikuti langkah Leon.
" aww. Leon ku mohon lepaskan ! tanganku sakit kau tarik-tarik seperti ini."
keluh Kinara merasa kesakitan saat tangan Leon terlalu mencengkram pergelangan tangannya.
" hey, lepaskan tangannya !!"
Marshall yang entah datang dari mana asalnya tiba-tiba melepaskan tangan Kinara dari cengkeraman Leon. membuat Leon menatap tajam pada Marshall yang berusaha menghalangi tujuannya.
" tuan Marshall, tolong jangan halangi saya untuk membawa nyonya kinara. pesawatnya akan take off 2 jam lagi."
ucapan Leon sukses membuat bola mata Kinara membulat sempurna, begitu juga dengan Marshall.
" apa maksudmu, Leon ?"
tanya Marshall menaikkan sebelah alisnya penuh curiga. terlebih dengan Kinara yang masih bingung dan berharap Leon menjelaskan maksudnya.
" nyonya Kinara akan pulang ke Indonesia secepatnya."
ucap Leon.
" benarkah itu Leon ? dimana Aaron ? ia akan pulang bersama ku kan ? kalau begitu aku akan menunggunya dulu, baru kami akan berangkat bersama-sama."
Kinara merasa senang dengan kabar barusan. bahkan ia menganggap itu bagian dari surprise kemarin yang Aaron berikan untuknya.
" kita harus berangkat sekarang nyonya."
" tapi Leon, bagaimana dengan Aar--"
" tuan Aaron sudah menunggumu di bandara."
ucap Leon memotong kalimat Kinara.
" benarkah ?"
bola mata Kinara seketika berbinar bahagia. akhirnya ia setuju untuk segera pergi ke bandara bersama Leon.
sementara Marshall masih diam tak bergeming ditempatnya ia berdiri. Marshall merasa ada yang janggal dengan semua ini. Aaron dan Kinara tidak mungkin begitu saja memutuskan untuk kembali pulang tanpa berpamitan pada Mami dan Papinya.
terlebih lagi kejadian semalam sungguh sangat membuat Aaron murka. bahkan Marshall melihat sendiri saat Aaron dibopong pelayan hotel ke kamar yang berbeda dalam keadaan mabuk bersama Claire, ibu mereka.
semalam Marshall sengaja tidak mendekati bahkan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada Aaron, karena keadaan yang tidak mungkin bisa didiskusikan bila hati dan pikiran kita sedang disulut emosi.
" aku harus mengikuti mereka."
gumam Marshall hendak beranjak keluar dari lobi hotel untuk mengikuti Leon dan Kinara, namun tiba-tiba Claire dan Sergio yang sedari tadi sudah berada dibelakang Marshall segera mencegahnya.
" jangan Marshall ! biarkan wanita itu pergi."
cegah Claire.
Marshall seketika menoleh ke arah belakang. ia sedikit terkejut dengan keberadaan kedua orangtuanya itu.
" apa maksud mami ? apa kalian tau Aaron dan Kinara akan kembali ke Indonesia ?"
tanya Marshall memicingkan matanya.
" bukan Aaron, melainkan Kinara akan pulang sendiri. Aaron sudah memutuskan hubungannya dengan wanita itu."
imbuh Claire dengan sorot mata penuh kepuasan.
" apa ? mereka sudah terikat pernikahan. tidak semudah itu memutuskan hubungan begitu saja. lagian kalian itu salah paham, tidak semua benar apa yang Aaron lihat dan ceritakan pada mami dan papi."
bela Marshall berusaha meluruskan. karena semalam ia berfikir keras tentang tingkah terakhir Kinara yang tiba-tiba menjadi agresif dan mengira dirinya Aaron.
ucap Claire menjelek-jelekkan kinara. namun Marshall tidak percaya begitu saja. Marshall sangat tau siapa Kinara. meski baru mengenalnya beberapa hari lalu, tapi Marshall merasa yakin Kinara bukan wanita penggoda seperti yang maminya utarakan.
" aku harus cari tau."
gumam Marshall dalam hatinya.
***
Dublin Airport.
" dimana Aaron, Leon ?"
tanya Kinara seraya terus mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suaminya itu.
" disana nyonya."
Leon menunjuk ke arah seseorang yang sedang berdiri dan bersandar didekat ruang informasi.
Kinara pun langsung berlari kearahnya setelah ia mengenali perawakan tubuhnya. benar sekali seseorang itu adalah Aaron.
" Aaron."
lirih Kinara seraya memeluk tubuh suaminya itu. Kinara mendekapnya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Aaron.
" akhirnya kita akan pulang. terimakasih, sayang."
ucap Kinara masih memeluk erat tubuh Aaron. namun ada yang berbeda, Aaron terlihat sangat dingin, bahkan kedua tangannya tetap disamping tubuhnya tidak menyambut rengkuhan istrinya itu. Kinara pun menyadari, lalu ia melepaskan tangannya dari tubuh Aaron.
Kinara tak mau ambil pusing, mungkin memang suaminya itu masih kesal terhadapnya. tapi ia janji akan menjelaskan semuanya didalam pesawat nanti.
" ayo Aaron, sebaiknya kita segera check-in dan masuk imigrasi."
ajak Kinara seraya menarik tangan Aaron. namun Aaron malah melepaskan tangan kinara.
" aku antar sampai disini saja. Leon akan mengantarmu sampai kerumah om Revan."
ucap Aaron menatap Kinara datar.
" apa maksudmu ?"
Kinara mendongak keatas menatap tajam pada suaminya itu.
Aaron terdiam, ia malah memalingkan wajahnya kesembarang arah seakan menghindari sorot mata Kinara yang tengah menatapnya.
" kau masih marah ? baik, akan aku jelas disini juga. kamu sudah salah sangka. aku dan Marshall tidak ada hubungan apa-apa. aku tau aku salah, tapi itu diluar kesadaran. aku tidak mengerti kenapa diri ini begitu bodoh mengira Marshall itu kamu, Aaron. sungguh aku tid--"
" cukup. sampai kapan pun aku tidak bisa memaafkan sebuah pengkhianatan apalagi perselingkuhan. Pergilah, jaga dirimu baik-baik disana."
" tidak, Aaron. aku tidak mau berpisah dengan mu. aku tidak pernah selingkuh dengan Marshall."
Kinara kembali memeluk Aaron. mendekapnya erat-erat seolah tak ingin berpisah darinya.
begitu juga dengan Aaron, rasanya ia tidak ingin melepaskan pelukan istrinya itu. namun rasa sakit hatinya lebih mendominasi. Aaron akhirnya melepaskan pelukannya, tanpa pamit ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Kinara.
tangisan Kinara kembali memecah saat Aaron pergi dari sana dan menjauh. ingin sekali Kinara mengejarnya, namun Leon mencegahnya dengan memegangi tangan Kinara.
sementara Aaron dengan langkah yang begitu berat dan menyakitkan, ia kembali masuk kedalam mobilnya. Aaron menyandarkan tubuhnya yang lemas dikursi kemudi seraya memejamkan kedua matanya.
" meskipun aku sangat mencintainya, tapi aku tidak bisa memaafkan pengkhianatan itu. aku tidak bisa menyakitinya. melihat dia baik-baik saja sampai dirumahnya, aku sudah bahagia."
lirih Aaron seraya menelan salivanya dan tak dirasa cairan bening sudah membasahi kedua sudut matanya yang sembab.
.
.
.