
didalam restoran cepat saji itu Kinara sangat menikmati pizza dengan topping jamur keju tiram kesukaannya. sedangkan atreya hanya memesan minuman dingin bersoda dan kentang goreng.
" habiskan ya kin, aku sengaja membawa mu kemari agar kamu mau makan. aku takut kamu sakit, apalagi Minggu depan sepertinya kita harus balik ke Indonesia. kuliahku sudah akan dimulai."
ucap atreya seraya memainkan sedotan dalam minumannya.
mendengar itu membuat Kinara menghentikan kegiatan mengunyahnya seraya menatap atreya yang duduk dihadapannya.
" secepat itu liburanmu ? bagaimana kalau Aaron belum kembali ? kita tidak bisa pulang duluan ke indo tanpa Aaron, Rea."
ujar Kinara nampak cemas.
" ya semoga saja kak Aaron cepat kembali."
sahut atreya lalu kembali menyeruput minumannya.
" jika belum ?"
tanya kinara.
"aku sudah antisipasi itu, kin. Minggu depan Sean akan menjemput kita disini. seandainya kak Aaron belum kembali, sebaiknya kita balik duluan ke indo."
" tidak bisa begitu, Rea !"
potong Kinara cepat.
" lho, kenapa ?"
atreya mengernyitkan dahinya bingung.
" aku tidak bisa meninggalkan Aaron. ia sudah titip pesan padaku agar menunggunya. aku tidak bisa pulang sebelum suamiku kembali."
tegas Kinara menatap Atreya dengan serius.
" terus kuliahku bagaimana, kin ? aku tidak bisa mengabaikan pendidikan ku. tapi aku juga tidak tega kalau meninggalkan mu disini seorang diri."
ucap atreya nampak frustasi memikirkannya.
Kinara menjulurkan kedua tangannya untuk meraih tangan Atreya diatas meja. Kinara berusaha menenangkan atreya dengan memegang kedua tangannya lalu mengusap-usap punggung tangan atreya dengan lembut.
" jika Aaron belum kembali, aku akan tetap menunggunya disini. kau pulanglah bersama Sean."
tutur kinara.
" apa kau yakin akan menunggu kak Aaron disini ? bagaimana dengan kedua orangtuamu bila mengetahui masalah ini ? mereka pasti akan sangat marah padaku karena aku meninggalkan mu."
ucap Atreya seraya menyangga dagu diatas meja dengan salah satu tangannya. bola matanya berputar-putar seperti sedang memikirkan sesuatu.
" kau tak perlu pikirkan itu. aku akan perlahan menjelaskan semuanya pada papa dan mama. mereka pasti akan mengerti."
" kau yakin tidak apa-apa bila ku tinggal ?"
tanya Atreya masih ragu.
" aku tidak apa-apa kok. disini kan aku tidak sendiri. ada nanny, Maria, dan pelayan lain yang akan menemani ku. juga ada Leon dan kawan-kawan yang menjagaku. selain itu ada dokter Daniel yang akan memeriksa selama kehamilan ku. kau tidak perlu khawatir, atreya."
tutur Kinara berusaha menyakinkan Atreya bahwa dirinya akan baik-baik saja disini. meski jauh di lubuk hati terdalam, Kinara hanya butuh satu orang saja untuk menemaninya.
" baiklah kalau itu keputusan mu. kita berdoa saja semoga dalam Minggu ini Kaka kembali, agar kita bisa pulang bersama-sama lagi."
ucap atreya seraya membuang nafasnya kasar, lalu kembali memasukan kentang goreng yang sudah ia dicelupkan saus tomat kedalam mulutnya.
" iya, semoga Aaron cepat kembali. setidaknya segera memberi kabar agar aku tidak cemas seperti ini."
sahut Kinara langsung merogoh ponsel dalam tasnya berharap ada pesan atau panggilan tak terjawab dari suaminya itu. tapi nyatanya ponselnya masih tampak tenang tanpa pesan, notifikasi medsos, apalagi panggilan tak terjawab.
" ehmmm. cemas atau rindu nih ?"
goda Atreya.
" dua-duanya. kau nanti akan merasakan bila mencintai seseorang, Rea."
sahut Kinara tersenyum tipis.
atreya terdiam. kata-kata Kinara mengingatkan dirinya yang memang tengah menyukai seseorang. namun ia hanya mampu memendam perasaannya karena kondisi dirinya yang tidak sempurna dan tidak percaya diri.
" biarlah rasaku hanya hatiku yang tau."
gumam atreya dalam hati.
" yaah. kok melamun ? jangan-jangan kau sedang mencintai seseorang ya. ayo ngaku Rea !!"
Kinara menaikan salah satu sudut bibirnya hingga membentuk senyuman jail untuk menggoda adik iparnya itu.
" kata siapa ?"
atreya menelan salivanya kasar dengan kedua pipinya yang merah merona.
" tuuh kan, benar kataku. siapa pria beruntung yang kau kagumi ?"
" sudahlah kin, mana ada pria yang beruntung. yang ada pria itu buntung karena dicintai gadis cacat seperti ku."
" hey, kau jangan berbicara seperti itu, Rea !"
imbuh Kinara melotot pada atreya tanda menolak pernyataan atreya barusan.
" cukup, aku tidak mau membahasnya lagi. aku akan mengunjungi makam kedua orangtuaku sekarang. kau mau ikut !!"
atreya beranjak dari tempat duduknya seraya mengeluarkan beberapa lembar uang dalam tas, lalu menyimpannya diatas meja.
" aku ikut."
sahut Kinara ikut beranjak dari tempat duduknya dan segera keluar dari restoran cepat saji itu.
***
***
di LA, Aaron tengah berbincang dengan Claire. mereka berbagi banyak cerita. Claire sangat senang dengan kedatangan putranya yang hampir terlupakan itu.
" bukan mami melupakanmu, Aaron. tapi karena dulu mami kesulitan menemuimu. Kevan dan ibu tirimu selalu melarang mami untuk bertemu dengan mu."
ucap Claire seraya meneteskan air matanya. namun Aaron tidak bisa langsung percaya. karena dimatanya, Claire tetaplah wanita asing yang baru beberapa jam lalu dikenalnya.
" kenapa mami tega menyerahkan ku untuk diasuh oleh orang lain ? bukankah seorang ibu itu akan selalu memperjuangkan anaknya agar selalu tetap bersama ? walau dalam keadaan tersulit sekalipun."
tutur Aaron dengan hati yang kecewa.
" maafkan mami tidak bisa mempertahankan mu, nak. itu semua karena Kevan lebih memilih wanita itu daripada mami. wanita itu membujuk kevan untuk mengambil mu dari mami agar dia lebih leluasa menguasai kekayaan Daddy mu."
Claire berusaha menghasut Aaron. dia berharap pemuda itu mempercayai perkataannya. tapi Aaron tidak sebodoh itu untuk langsung percaya.
lalu ditengah-tengah perbincangannya datanglah seorang pria paruh baya dan pemuda yang kira-kira usianya lebih muda.
Claire memperkenalkan Aaron kepada adik tirinya yang bernama Marshall, usianya lima tahun dibawah Aaron. juga Ayah tirinya yang berasal dari Amerika latin bernama Sergio. ia seorang pengusaha ritel terbesar di negara bagian itu dan dikenal sebagai miliarder.
akhirnya mereka berempat berbincang seraya menunggu makan malam yang masih dipersiapkan oleh para pelayan.
***
Malam itu Aaron makan malam bersama keluarga barunya. Mereka terlihat sudah sangat akrab, bahkan tak merasa canggung dengan kehadiran Aaron sebagai anggota keluarga baru.
" kau terlihat berantakan, Aaron. sebaiknya setelah makan malam ini kau istirahatlah. Marshall akan mengantarmu ke kamar yang telah disiapkan."
ucap Claire menatap Aaron yang duduk berhadapan langsung dengannya.
" iya, mam."
jawab Aaron masih menyantap hidangan makan malamnya dengan lahap.
" selama ini kau tinggal di Irlandia ?"
tanya Marshall yang telah lebih dulu menyelesaikan makan malamnya.
" aku tinggal di Indonesia bersama nenekku."
jawab Aaron.
" Indonesian ? bukankah ayahmu berasal dari Irlandia ? kok bisa nenekmu tinggal di Indonesia ?"
Marshal yang memang belum tau apa-apa itu terus saja bertanya. membuat Aaron jengah karena bingung harus menjelaskannya dari mana.
" cukup Marshall !! kakakmu masih makan. jangan menggangunya dulu."
tegur Sergio pada Marshall. pemuda berambut pirang itu malah mendengus kesal dengan teguran sang ayah.
setelah acara makan malam selesai, Aaron pun berpamitan untuk segera istirahat kekamarnya dengan diantar Marshall.
" ini kamarmu. kalau kau mencari ku, kamarku ada diujung koridor itu."
ucap Marshall mengangkat jari telunjuknya ke arah koridor seraya menepuk bahu Aaron.
" oke. thanks Marshall."
sahut Aaron.
Marshall segera meninggalkan Aaron untuk kembali ke kamarnya.
setelah adik tirinya itu pergi, Aaron langsung menutup pintu kamar rapat-rapat dari dalam. ia pun menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur dengan posisi telungkup. badannya terasa sangat cape dan pegal, hingga akhirnya ia tertidur dan melupakan Kinara untuk memberinya kabar.
.
.
.