
"atreya, kenapa kau buru-buru sekali ? padahal mama dan nenek ku sebentar lagi kembali."
Ucap kinara saat atreya hendak berpamitan pulang.
" lain kali saja, kin. Ini sudah sore. Kakakku pasti sudah datang dan kau tau sendirikan dia bagaimana."
atreya tertawa disela-sela perkataannya.
" salam saja ya buat tante laras dan nenek lastri."
" baiklah, kalau begitu aku antar kamu ke mobil."
Kinara hendak mendorong kursi rodanya namun tiba-tiba Revan kembali keluar dari kamarnya.
" tunggu !"
" papa, kenapa keluar lagi dari kamar ? bukannya tadi papa mau istirahat ?"
Tanya kinara lalu mendekati tubuh Revan didepan pintu rumah.
Revan tidak menyahutinya, ia berjalan mendekati atreya. Kinara pun mengikutinya dengan penasaran, karena melihat sikap Revan yang tampak bersemangat dan sumringah sejak bertemu dengan Atreya tadi. Terbukti sejak atreya datang, Revan ikut duduk dan berbincang dengan mereka. Padahal sebelumnya Revan selalu cuek bila ada teman kinara yang datang kerumah. Sampai akhirnya setelah beberapa saat Kinara harus membujuk Revan untuk istirahat kembali ke kamarnya.
" Atreya, ini milik mommy Freya."
Revan membuka kepalan tangan kanannya ke hadapan Atreya.
" apa ini, om ?"
Atreya membelalakan matanya terkejut.
Begitu juga dengan kinara yang Nampak terpana melihat benda nan indah yang berada dalam genggaman papanya itu.
" ini kalung Freya dulu yang tertinggal sebelum ia pindah ke Dublin. Ambilah !! sekarang ini milikmu."
Ucap Revan dengan sudut matanya yang sudah mulai basah. Lalu Atreya mengambil Kalung liontin bertahtakan berlian itu dari tangan Revan.
" apa benar ini kalung liontin milik mommy, om ?"
Tanya Atreya seraya menatap kalung indah itu dari tangannya.
" iya, ini milik mommy mu."
sahut Revan.
" kok bisa ada sama om ?"
Tanya Atreya mengernyitkan dahinya.
Revan terdiam, ia tak bisa menjawab pertanyaan Atreya. Rasanya tidak etis menceritakan masalalunya kepada Atreya dan juga kinara. Lalu ia berusaha menghindar dengan pergi meninggalkan mereka kembali menuju kamarnya.
" tunggu om !! aku butuh penjelasan."
Sergah Atreya, namun Revan tak bergeming.
" sudahlah atreya, biar nanti aku yang akan tanyakan pada papa. Sekarang kau pulanglah."
Ucap kinara mencegah Atreya saat hendak memutar kursi rodanya untuk kembali masuk menyusul Revan.
" baiklah aku pulang."
Lirih Atreya lemas, seraya membuang nafasnya kasar.
***
Malam itu Nampak Shofi dan Aaron sedang berkumpul diruang tengah. Namun dengan kesibukan yang berbeda. Shofi asik menonton acara di tv, sedangkan Aaron masih focus bekerja didepan laptopnya.
Setelah membersihkan diri dikamarnya, atreya mencoba berjalan dengan bantuan tongkat kruk ke ruang tengah. Memang sudah beberapa hari ini jika didalam rumah, atreya kembali mencoba untuk tidak menggunakan kursi roda lagi yang membuat kakinya semakin malas bergerak.
" nek."
Atreya lalu duduk disamping Shofi.
" hhmm."
Shofi hanya melirik sekilas pada atreya lalu kembali mengalihkan pandangannya ke layar besar dihadapannya.
" apa nenek mengenali kalung ini ?"
Shofi dan Aaron sontak memandang kearah atreya yang tengah menunjukan sebuah kalung liontin dijari tangannya.
Lalu shofi mengambil kalung itu dari tangan Atreya dan mengamatinya dengan seksama.
" rasanya aku pernah melihat kalung ini. Tapi siapa ya ??"
Gumam Shofi dalam hati sambil mengingat-ingat.
" apa betul ini kalung punya mommy, nek ??"
" oh, iya. Ini kalung yang pernah Freya pakai dulu. Sudah lama sekali, sebelum Freya menikah dengan Kevan."
Ucap Shofi kembali mengingatnya seraya menangkup kalung itu dengan kedua tangan didadanya.
" dari mana kau mendapatkan kalung ini, nak ?"
Tanya shofi dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca.
" dari om Revan."
Sahut atreya.
" apa ? kapan kau bertemu dengannya ?"
Tanya Aaron yang sedari tadi menyimak langsung terkejut seraya menatap tajam pada Atreya.
Belum sempat Atreya menjawab pertanyaannya, tiba-tiba ponsel Aaron berbunyi. Ternyata Rio menelpon untuk urusan tender dikantornya.
" oke, kau siapkan dulu semuanya. Sekarang aku akan coba menghubungi pak. Sean. Semoga malam ini ia sudah kembali ke Indonesia."
Ucap Aaron kemudian menutup panggilan diponselnya dan meraih laptopnya, lalu bergegas menuju kearah ruang kerja yang bersebelahan dengan kamarnya.
Atreya dan Shofi saling beradu pandang setelah melihat Aaron yang berlalu meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun.
" kebiasaan kakak tuh. Tidak sopan sekali meninggalkan kita begitu saja."
Ucap Atreya mendengus.
" dimaklumi saja. Mungkin kakakmu memang sedang sibuk."
Sahut Shofi lalu kembali memandangi kalung liontin itu.
" jadi benar ini kalung punya mommy, nek ?"
tanya Atreya.
" iya sayang, kini ini milikmu. kau jaga baik-baik kalung ini ya !"
ucap Shofi lalu menyerahkan kalung itu kembali pada atreya.
" baiklah, aku akan menyimpannya."
tutur Atreya seraya menciumi liontinnya berkali-kali.
" terimakasih, sayang."
Shofi tersenyum lega lalu mencium kening Atreya.
" nek, dulu mommy sempat bercerita padaku. Sebelum menikah dengan daddy, mommy pernah memiliki kekasih bernama Revan. Apa om Revan itu--"
" mommy mu pernah bercerita seperti itu ?"
Potong Shofi terkejut dengan pernyataan Atreya.
" iya nek, dulu mommy menjelaskan alasan kenapa daddy selalu melarang mommy berkunjung ke sini. Ternyata daddy masih cemburu sama mantan kekasih mommy yang bernama Revan. Iya kan ? nenek pasti tau itu."
Shofi hanya tersenyum menanggapi perkataan atreya. pikirannya kini kembali ke masa itu. saat Freya memutuskan ikut pindah ke Dublin gara-gara Revan yang telah mengkhianatinya. dan pada saat Freya menikah dengan Kevan, Revan datang dan memohon agar Freya kembali padanya. namun sekuat apapun Revan merajuk, ternyata jodoh Freya itu Kevan. bukan Revan.
" jadi betul kan, nek. kalau om Revan itu mantan kekasih mommy ?"
tanya Atreya menatap serius ke arah Shofi.
" iya, om Revan itu bagian dari masa lalu mommy Freya. tapi setelah bertemu dengan Dady Kevan semua berubah. mommy mu sangat dan sangat mencintai Daddy Kevan hingga membuahkan putri cantik seperti mu, Atreya Gildea Mark O'Neill."
ungkap Shofi seraya mencubit halus pipi Atreya.
" nenek salah. seharusnya membuahkan kak Aaron dulu dong, nek. baru aku."
sahut Atreya mendelik lalu tertawa.
Shofi lagi-lagi hanya tersenyum. namun kini senyumannya penuh kekhawatiran.
" bagaimana jika akhirnya mereka tau yang sebenarnya. terlebih Aaron, apa dia akan pergi meninggalkan ku jika ia tau kalau aku bukan nenek kandungnya ?"
lirih Shofi dalam hati. ia sangat takut kehilangan kedua cucunya. meski Aaron bukan cucu kandungnya, namun sejak itu Shofi sudah menganggap Aaron itu putra pertama Freya dan Kevan.
.
.
.
yang belum tau cerita Freya, Kevan dan Revan, bisa baca novel sebelumnya yang berjudul IN A BROKEN HEART TO FIND YOU ya 😘🤗