In Your Love

In Your Love
bermain hati



Kinara menunggu diruang kerja Aaron. ia duduk disofa yang ada diruangan itu.


" aku sering sekali membersihkan ruangan ini. tapi kenapa sekarang malah merasa asing dan gugup ya ? seperti mau interview saja."


gumam Kinara seraya meremas-remas jari jemarinya yang sudah basah dengan keringat. lalu kinara kembali meneguk minuman yang tadi sempat dibawakan oleh OB kantor atas perintah Sean sebelum ia kembali keruangan kerjanya.


Kinara menarik nafasnya dalam-dalam, lalu merogoh tas selempang yang masih melekat ditubuhnya untuk mengambil ponsel. ia memainkan ponselnya untuk membuang rasa bosan karena sudah empat puluh menit Kinara menunggu Aaron diruangannya.


tak lama kemudian pintu itu pun terbuka dari arah luar. Kinara pun langsung menoleh dan melihat Aaron yang baru saja masuk. ia pun segera memasukan ponselnya kembali kedalam tas.


Aaron datang lalu menghampiri Kinara yang masih duduk disofa.


" ada apa sampai datang kekantor ?"


tanya Aaron lalu menjatuhkan dirinya duduk disamping Kinara dengan posisi tubuh berhadapan dengannya. tatapan Aaron itu malah membuat perasaan Kinara menjadi sangat kacau. ia jadi lupa akan tujuannya kemari menemui Aaron.


" ya Tuhan, kenapa aku jadi begini ? melihatnya sedekat ini malah membuat otakku tidak waras. ayo sadar-sadar kin ! dia hanya pria biasa, bukan titisan dewa Yunani."


gumam kinara dalam hati.


" hey, ada apa ?"


tanya Aaron lebih tegas dan langsung membuyarkan lamunan Kinara.


" oh, tadi seseorang datang kerumah, namanya Harris. apa kamu mengenalnya ?"


ucap Kinara kemudian seraya menurunkan pandangannya karena tidak ingin lebih terpesona dengan ketampanan pria dihadapannya.


" ya, dia rekanku."


sahut Aaron lalu menyandarkan punggungnya disofa yang empuk itu. lalu memperhatikan wajah Kinara yang menunduk.


" bisakah kau mengangkat wajah mu itu ? apa yang selalu menarik perhatian mu dibawah sana ?"


sindir Aaron seraya menautkan sebelah alisnya.


" tidak ada."


sahut Kinara menggelengkan kepalanya.


Aaron mengangkat wajah Kinara. kini wajah Kinara sedikit mendongak keatas sejajar dengan Aaron yang masih duduk menyandar disofa.


" nah begini kan lebih baik."


ucap Aaron lalu melepas tangannya dari dagu Kinara.


Kinara berusaha menata hatinya untuk tetap tenang.


" jadi benar kamu telah melunasi sisa hutang papa dibank ?"


tanya Kinara mencoba menatap Aaron.


Aaron hanya mengangguk lalu beranjak dari duduknya dan kembali menuju meja kerjanya.


" kenapa kamu melakukan itu ? "


tanya Kinara, ia ikut beranjak menghampiri Aaron yang sedang membuka lembaran berkas dalam bisnis files.


" memangnya salah ?"


ucap Aaron malah balik bertanya seraya melirik wajah Kinara sebentar.


" ya salah jika tidak ada omongan terlebih dulu."


balas Kinara.


Aaron merubah posisinya jadi berhadapan dengan Kinara dengan jarak yang lebih dekat. ia menatap mata coklat Kinara yang berbinar.


" sebentar lagi papamu akan menjadi papaku juga. jadi sudah kewajiban seorang anak membantu orangtuanya bukan ?"


tutur Aaron seraya memegang pundak Kinara.


Kinara merasakan debaran jantung yang tiba-tiba bergemuruh dan detakannya yang bertalu. bahkan nafas Aaron yang tenang dan beraturan itu terdengar dengan jelas saat wajahnya mendekati wajah dirinya.


" dia nampak tenang sekali, tapi kenapa jadi aku yang salah tingkah begini ? apa aku mulai bermain hati padanya ?"


Kinara bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


" sudahlah, jangan bertanya hal itu lagi. aku akan membereskan pekerjaan ku lebih dulu, lalu kau akan ku antar pulang."


ucap Aaron seraya menduduki kursi kerjanya.


Aaron kembali melanjutkan pekerjaan kantornya. dan Kinara akhirnya kembali duduk disofa menunggu Aaron selesai bekerja. untuk membuang rasa bosan, Kinara meraih salah satu majalah bisnis yang ada diatas meja. ia membuka-buka tiap halaman dengan cepat tanpa membacanya.


" tidak ada yang menarik."


ucapnya pelan.


Aaron mendengar itu langsung melirik kinara dari meja kerjanya.


" itu bukan majalah gossip."


sahut Aaron.


Kinara reflek menutup mulutnya. ia menyadari ucapannya itu terdengar oleh Aaron.


tak lama Aaron langsung menyaut gagang telpon yang ada diatas meja. ia hendak menelpon seseorang dari intercom nya.


" Naomi, bisa ku pinjam majalah-majalah mu keruangan ku ?!"


" majalah apa ya, pak ?"


tanya Naomi dari ruangan sebelah.


" majalah wanita yang sering kau baca itu."


sahut Aaron.


" untuk apa, pak ?"


" kau ini banyak sekali bertanya. cepat bawakan kemari saja majalah-majalahmu itu !"


bentak Aaron.


" i...iya, pak."


Aaron pun langsung menutup gagang telponnya dengan kasar. melihat itu Kinara sedikit ketakutan dan tidak berani berkomentar apapun.


tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan. setelah dibalas dengan sahutan Aaron, Naomi pun masuk sambil menenteng beberapa majalah miliknya.


" ini pak majalah yang bapak inginkan."


" bukan aku. aku meminjamnya untuk Kinara agar ia tidak merasa bosan disini. tolong berikan padanya !!"


Naomi langsung melirik ke arah gadis yang tengah duduk disofa itu.


" gadis upik abu."


gumamnya dalam hati.


Naomi pun menarik kembali majalahnya untuk diberikan pada Kinara.


" ini nona majalahnya !!"


ucap Naomi membungkukan tubuhnya untuk menyodorkan beberapa majalahnya pada Kinara dengan lirikan sinis atas ketidak sukaannya pada calon istri Aaron itu.


Kinara pun langsung meraihnya.


" terimakasih Bu Naomi."


" jangan panggil ibu ! aku bukan atasan mu lagi. dasar bodoh."


bisik Naomi mendekati kuping Kinara. terlihat dari sorot matanya yang tajam memperlihatkan kebencian terhadap gadis dihadapannya. Kinara langsung terdiam dan langsung menundukan pandangannya seraya memegangi majalah-majalah itu.


nampaknya Aaron sedang fokus pada pekerjaan nya sehingga tidak mendengar umpatan Naomi pada Kinara barusan.


Naomi kembali berjalan kearah meja kerja Aaron.


"ada yang bapak butuhkan lagi ?"


Aaron mengangkat wajahnya ke arah Naomi.


" tidak ada. tolong kau panggilkan saja pak Sean kemari!"


" baik pak. kalau begitu saya permisi dulu."


Aaron hanya menjawab nya dengan anggukan saja.


sementara Kinara, melihat sikap Naomi tadi membuatnya jadi tidak mood membuka majalah itu. ia hanya memainkan ponsel saja seraya menyandarkan punggungnya disofa itu.


" kenapa tidak jadi kau baca ?"


tanya Aaron yang sedari tadi mencuri-curi pandang memperhatikan Kinara sejak Naomi pergi.


" iya nanti kubaca. ini sedang membalas pesan dari temanku dulu."


sahut Kinara karena memang kebetulan ada pesan singkat dari nadia, teman waktu dirinya masih bekerja ditempat karaoke itu.


setelah asik mengobrol dengan Nadia melalu chat, Kinara merasakan kantuk yang luar biasa. sampai tak sadar ponsel milik Laras yang dipinjamkan padanya itu terlepas dari genggaman tangannya hingga terjatuh ke lantai.


suara ponsel jatuh itu membuat Aaron memalingkan pandangannya pada Kinara yang sudah tertidur disofa.


" kok bisa tertidur disitu?"


Aaron bergumam sendiri lalu berjalan ke arah Kinara. ia memungut ponsel dari lantai dan menyimpannya diatas meja.


tiba-tiba pintu terbuka dari arah luar. Sean masuk begitu saja dan membuat Aaron terkejut.


" Sean !! kau ini terbiasa sekali masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. tidak sopan sekali.


tegur Aaron melotot kearah Sean.


" wow. apa yang kalian lakukan disini ? kenapa dengan Kinara?"


ledek Sean malah sibuk memandangi Kinara yang nampak tertidur pulas itu.


" kau ini bicara sembarangan. aku hanya mengambil ponselnya yang terjatuh dilantai. itu saja."


jelas Aaron lalu merapikan jasnya yang terlihat kusut lalu kembali kearah meja kerjanya.


" wanitamu itu nampak cantik dan polos ya bila sedang tertidur begitu."


ucap Sean yang sedari tadi terus memperhatikan Kinara tanpa berkedip. tapi Aaron tidak menggubris perkataan Sean.


" Sean, bagaimana hasil kesepakatan dipertemuan tadi dengan para klien ?"


tanya Aaron memandang serius pada Sean. namun Sean masih saja terus memperhatikan Kinara dari tadi.


"Sean !!"


teriak Aaron seraya melempar kan pulpen tepat dijidat Sean.


" aww."


Sean meringis lalu melotot kearah Aaron.


" sekali lagi kau menatapnya begitu akan ku colok kedua matamu dengan pulpen itu."


Sean malah terkekeh mendengar balasan dari Aaron.


" apa kau betul-betul menyukainya sekarang ?"


Sean menyangga dagunya diatas meja dengan salah satu tangannya.


Aaron terlihat mengerutkan keningnya.


" entahlah. perasaanku masih tetap sama. mungkin lebih ke rasa iba, kasihan dan tanggung jawab saja padanya."


" gila. setelah kau cicipi tubuhnya, hanya perasaan itu yang kau rasakan ?"


sahut Sean menggeleng-gelengkan kepalanya.


Aaron kembali memandang Kinara yang masih asik tertidur pulas dengan melipat kedua tangan diperutnya.


" pelankan bicaramu !! kalau dia mendengarnya bagaimana?"


Aaron lalu melotot kearah Sean yang duduk dihadapannya.


lagi-lagi Sean terkekeh.


" kau terlalu naif, Aaron. lihat saja nanti setelah kau menikah dengannya. kau akan jatuh cinta pada gadis itu lalu melupakan adikmu. dan atreya akan jadi milikku."


gumam Sean dalam hati seraya tersenyum miring pada Aaron.


.


.


.


.