In Your Love

In Your Love
satu kesempatan lagi



Kinara segera membuka pintu apartemen setelah mendengar bunyi bell beberapa kali.


kedua matanya terbelalak lebar saat melihat kedatangan kedua orangtuanya, Shofi dan Atreya ke apartemen yang kini ditinggalinya bersama Aaron.


Kinara pun segera mempersilahkan mereka untuk masuk dan duduk di sofa yang cukup luas itu.


" dimana Aaron ?"


tanya Shofi sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok yang disebutnya.


" masih dikamar, nek. sebentar lagi keluar, tadi masih mengganti pakaian dulu."


jawab Kinara.


tak lama kemudian Aaron pun keluar dari kamarnya. gilirannya yang terkejut melihat nenek dan adiknya yang ikut datang bersama kedua mertuanya.


" lho, nenek sama Rea kenapa tidak telpon dulu kalau mau kemari ? kan bisa aku jemput."


kata Aaron.


" tidak apa-apa, nak. tadi nenek sama Rea naik taksi online."


sahut Shofi.


" Aaron, sini kamu !"


tiba-tiba Revan menegur Aaron dengan lantang. Aaron pun langsung menatap nya lalu menghampiri papa mertuanya seraya mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan.


" apa kabar, pa ?"


sapa Aaron.


Plakk'


Revan malah menampar pipi Aaron dengan kerasnya. hingga Aaron pun meringis kesakitan sambil mengelus pipi dengan tangannya.


" kalau bukan karena anakku masih mencintai mu, tak Sudi aku memaafkan ulahmu yang kekanak-kanakan itu."


ucap Revan terdengar geram.


Plakk'


Revan kembali menampar pipi Aaron yang satunya lagi.


" sekali lagi. jika kau sakiti Kinara kembali, jangan harap papa mertua mu ini akan membiarkan mu bersama anakku lagi."


ancam Revan tak main-main. Aaron hanya terdiam, ia masih menahan rasa panas dikedua pipinya akibat tamparan yang dilayangkan papa mertuanya itu.


" sudah, pa !! kasian Aaron."


Kinara mengelus pipi suaminya yang nampak kemerahan.


" jadi papa memaafkan Aaron ?"


tanya Kinara lalu menatap sang papa yang dari omongannya tadi mengisyaratkan telah memaafkan menantunya itu.


" jika memang itu bisa membuatmu bahagia, papa bisa apa."


jawab Revan yang langsung mendapatkan pelukan hangat dari Kinara.


" terimakasih, pa. kin benar-benar senang mendengarnya."


ucap kinara masih dalam rengkuhan sang papa yang sangat menyayanginya.


" thank you, pa. aku janji tidak akan menyakiti istriku lagi."


lirih Aaron menundukkan pandangannya dan mendapatkan tepukan dibahu oleh Revan setelah melepaskan rengkuhan putrinya itu.


" nenek Shofi telah menceritakan semuanya pada kami, Aaron."


kata Laras yang ikut bahagia akhirnya Revan mau menerima kembali Aaron, setelah mereka datang berkunjung ke kediaman Shofi kemarin siang. Shofi menceritakan kejadian yang sebenarnya sesuai yang pernah Aaron jelaskan pada Shofi dan Atreya, sesaat setelah kepulangan Aaron ke Indonesia Minggu lalu.


Aaron menatap hangat sang nenek lalu merengkuh tubuh rentanya itu dengan pelan.


" aku sayang nenek. kau nenek terbaik ku. terimakasih selalu menyayangi ku seperti cucu kandungmu sendiri."


lirih Aaron semakin mengeratkan pelukannya.


" sampai kapan pun kau tetap cucuku, Aaron. meski kita tidak ada hubungan darah, tapi dari kau kecil nenek sudah sangat menyayangimu, nak."


kata Shofi dan perlahan melepaskan rengkuhan cucunya.


Aaron memperhatikan wajah sang nenek, kedua matanya masih jelas menangkap air mata yang lolos dan jatuh secara bergantian diwajah neneknya. dengan cepat Aaron menyeka air mata itu dengan kedua ibu jarinya itu.


" kakak, apa disini tidak ada minuman atau Camilan ? dari tadi aku merasa kehausan dan kelaparan. miskin sekali."


celetuk Atreya dengan sengaja mencairkan suasana. dan membuat semua mata menoleh ke arahnya.


" maaf aku lupa. kau mau minum apa Rea ? aku akan membuatkan teh manis hangat untuk yang lainnya."


Kinara mulai bergegas menuju dapur untuk membuatkan minuman.


" oiya, dilemari es ada pisang nangka. sepertinya enak kalau kita goreng untuk camilan."


katanya lagi dengan semangat membuka kulkas lalu mengeluarkan satu sisir pisang untuk ia goreng.


" baiklah aku akan membantu mu kin."


atreya pun beranjak mengikuti Kinara. begitu juga dengan Shofi dan Laras yang penasaran ingin melihat-lihat seisi ruangan apartemen baru yang kini ditempati Aaron dan Kinara.


" bagaimana dengan kesehatan papa ? apa papa masih sering kontrol ke hospital ?"


tanya Aaron.


" iya, tentu saja."


jawab Revan datar.


mereka kembali saling diam beberapa menit.


" Aaron, kalau saja bukan karena putri kesayangan ku, aku tidak mungkin memaafkan mu. jangan sia-siakan Kinara lagi, kau akan menyesal jika dia sudah jadi milik orang lain."


ucap Revan mengancam. ia teringat akan masa lalu. karena kebodohannya, ia tidak bisa memiliki kekasih hatinya kembali. hingga kekasihnya itu pergi lalu menikah dengan orang lain.


" iya pa, aku janji tidak akan menyia-nyiakan Kinara. aku sangat mencintainya."


jawab Aaron yang mendapat rengkuhan tangan Revan dibahunya.


" baiklah. papa berikan kamu satu kesempatan lagi."


balas Revan tersenyum. dan Aaron pun merasa lega mendengarnya.


" minuman dataaang..."


kinara muncul dengan membawa nampan berisi beberapa gelas teh hangat diatasnya. lalu diletakkannya gelas-gelas itu keatas meja. atreya pun bergantian membawakan sepiring Camilan pisang goreng yang baru saja diangkat dari penggorengan oleh Laras.


mereka akhirnya berkumpul, bersenda gurau bersama sambil menikmati teh manis hangat, pisang goreng buatan Laras dan beberapa cemilan lainnya yang dihidangkan diatas meja.


tak terasa hari sudah siang. seluruh keluarga pun berpamitan pulang. ditambah sebentar lagi Kinara sudah harus bersiap-siap berangkat bekerja ke kafe hingga malam.


***


" apa kau yakin akan bekerja hari ini ? apa tidak bisa ijin sehari ini saja ?"


tanya Aaron menatap istri cantiknya yang sudah berpakaian rapi dengan kemeja putih polos dan rok span berwarna hitam selutut.


" tidak bisa, suamiku. aku harus bekerja."


Kinara tau, ia harus membujuk suaminya itu yang dari kemarin selalu ingin bersamanya. lalu ia mendekat dan memeluk tubuh Aaron sesaat.


Aaron mengangkat kedua pipi Kinara. lalu memberikan tatapan kecewa pada wanita yang kini dihadapannya.


" ini hari special kita lho. aku ingin bersama seharian ini."


rengeknya seraya mengusap lembut kedua pipi kinara.


" nanti malam kita kan masih bisa."


tutur Kinara tersenyum.


" yaa... masih beberapa jam lagi."


sahut Aaron cemberut.


" memangnya kamu tidak kekantor ?"


" tidak. aku hanya ingin bersama mu. kalau begitu aku akan menunggu mu di kafe sampai kafe itu tutup."


ucap Aaron seraya melingkarkan tangannya dipinggang istrinya dan mendorongnya agar lebih dekat dengan tubuhnya.


" kemarin kamu melakukan hal yang sama. apa tidak bosan ? itu sama saja membuang-buang waktu. lebih baik kamu kekantor dan bekerja. nanti malam barulah menjemputku."


tutur Kinara.


" aku tidak bosan asal terus bisa melihat mu."


sahut Aaron.


" gombal receh !"


umpat Kinara.


" apa kamu bilang ? gombal receh ? "


Aaron melotot. lalu melancarkan aksinya untuk menciumi ceruk leher istrinya yang menjadi incarannya dari tadi hingga meninggalkan tanda kissmark.


" hentikan Aaron. jangan buat aku terlihat berantakan begini !"


teriak Kinara seraya menggeliat geli lalu sedikit mendorong tubuh Aaron agar menjauh.


" oke, baiklah. kali ini kau lolos. tapi nanti malam jangan harap kau bisa menghentikan ku seperti ini."


ucap Aaron tersenyum miring seraya mengacak-acak rambut Kinara yang sudah rapi.


" terserah kau saja."


sahut Kinara kembali merapihkan rambut panjangnya dengan jari-jari tangannya.


Aaron pun membalasnya dengan senyuman miring. otaknya mulai terkontaminasi dengan pikiran-pikiran kotor yang membuat dadanya semakin panas dan memburu.


.


.


.


.