
Kinara turun dari angkot tepat didepan gedung kantor milik Aaron. langkahnya terasa berat untuk memasuki perkantoran itu. sudah tiga bulan lebih dirinya tak pernah datang ke kantor Aaron lagi. ya, tepatnya setelah ia dan Aaron terjebak didalam lift waktu itu.
" hey, kamu Kinara kan ? kemana saja tidak pernah keliatan ? biasanya setiap pagi kau selalu mengantar kan kopi ke mejaku."
sapa Anjas saat dirinya berpapasan dengan Kinara didepan lobby kantor.
" eh kak anjas. aku memang sudah tidak bekerja lagi disini."
balas Kinara menunduk pandangannya.
" lho kenapa ? apa kamu sudah mulai sibuk bikin skripsi ?"
tanya Anjas lagi penasaran. selama Kinara bekerja disini, hanya Anjas lah staff kantor yang dekat dengannya selain pak Rudi. sedangkan yang lainnya hanya memandang sebelah mata akan status pekerjaannya.
" iya, kak. aku mengundurkan diri saja supaya bisa lebih fokus mengerjakan skripsi."
jawab Kinara terpaksa berbohong agar pria itu tidak lagi banyak bertanya tentang dirinya.
" oh, selamat ya kin. semoga lancar sampai sidang nanti."
tutur Anjas seraya menepuk bahu Kinara. Kinara pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
" trus sekarang ada keperluan apa kamu kemari ?"
mendengar pertanyaan Anjas, Kinara jadi kebingungan sendiri untuk menjawabnya.
" emh... aku mau menemui pak Aaron. ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengannya. "
imbuh Kinara dengan percaya diri.
" hah, pak. Aaron ? gak salah ?"
Anjas membelalakkan matanya tidak percaya lalu terkekeh seolah menertawakannya.
" lho, memangnya kenapa ?"
tanya Kinara.
" kau sudah ada janji dengannya ?"
tanya Anjas menautkan kedua alisnya.
Kinara menggelengkan kepalanya.
" pak Aaron mana mau bertemu orang sembarangan bila sebelumnya tidak ada janji."
ucap Anjas tersenyum miring seraya melipat kedua tangan didadanya.
" orang sembarangan ? "
Kinara mengulang kata-kata Anjas seraya menelan salivanya dengan cepat.
" sepenting itukah calon suamiku ?"
gumamnya dalam hati.
" kalau kau butuh sesuatu, sebaiknya temui pak. Rudi. kau dekat dengannya bukan ? atau temui sekertarisnya dulu, biar nanti mereka yang menyampaikannya pada pak. Aaron."
saran Anjas.
" ooh."
Kinara membulatkan bibirnya dengan polos.
Anjas menyondongkan tubuhnya lebih dekat pada wajah Kinara.
" itupun kalau pak. Aaron mau menanggapi mu. ia kan seperti bongkahan es dari kutub utara. jadi hanya beruang kutub saja yang betah bersamanya."
bisik Anjas ke arah kuping kanan Kinara.
Kinara dan Anjas pun tertawa cekikikan. Kinara paham maksud omongan Anjas.
" lalu beruang kutubnya siapa ?"
tanya Kinara ditengah-tengah tawanya.
" ya calon istrinya itu. dia kan Minggu ini mau menikah."
sahut Anjas.
Kinara seketika menghentikan tawanya. wajahnya tiba-tiba memerah. namun Anjas tidak terlalu memperhatikan perubahan wajah Kinara.
" Anjas !! bukannya bekerja, malah bergosip. waktu istirahat sudah berakhir satu jam lalu bukan ?"
terdengar suara bariton milik Aaron menggema dari depan pintu lift. Aaron baru saja turun dari ruangannya untuk menemui Rudi, karena ada hal penting yang harus ia bicarakan langsung diruangannya yang berada dilantai dasar.
Anjas terperanjat kaget saat melihat sang pemilik suara itu. ia pun langsung menjauhkan tubuhnya dari Kinara, lalu memindahkan kedua lengannya kebelakang seperti posisi istirahat saat latihan baris berbaris.
" eh. pak Aaron."
sapa Anjas menjadi kaku dan terlihat tegang.
" ini pak, saya hanya menjelaskan pada Kinara yang ngotot ingin bertemu dengan bapak. padahal saya sudah bilang kalau pak Aaron tidak mungkin bertemu dengan orang sembarangan kalau tidak ada janji sebelumnya."
ucap Anjas mencari alibi. Kinara menjadi kesal dengan sikap Anjas yang seolah mengkambing hitamkan dirinya.
Kinara menggerutu dalam hati.
Aaron mendekati keduanya. lalu matanya menatap tajam pada Anjas.
" maksud mu apa bicara kalau Kinara orang sembarangan ? kau tau siapa dia ?"
ucap Aaron seraya melirik sekilas pada Kinara yang masih menundukan pandangannya.
Anjas tak bergeming. ia masih belum bisa mencerna maksud ucapan Aaron.
" hey, ada apa ini ?"
tiba-tiba Sean dan Naomi datang. mereka baru kembali dari pertemuan bersama beberapa client di Agatha hotel.
mata Naomi tertuju pada Kinara yang sedang berdiri disamping Anjas.
" kau office girl itu kan ? bukannya waktu itu sudah dipecat pak. Aaron ?"
ucapnya melirik tajam pada kinara.
Kinara hanya terdiam menunduk. situasi seperti inilah yang ia benci. saat seseorang memandang rendah dan mempermalukannya dihadapan umum.
Anjas mengangkat wajahnya menatap Naomi yang tinggi badannya diatas Anjas.
" jadi Kinara dipecat ?"
gumamnya lalu beralih memandang Kinara. Kinara sekilas membalas pandangan Anjas, lalu kembali menundukkan kepalanya karena malu akhirnya ketauan berbohong.
" anda bisa kembali bekerja, Anjas !!"
perintah aaron.
mendengar kalimat itu Anjas pun langsung berlalu menuju ruangannya dengan terburu-buru. pikirnya lebih baik cari aman saja daripada kena sp atau potong gaji.
" Sean, bisa tolong antar Kinara keruangan ku ? aku akan menemui pak. Rudi sebentar."
pinta Aaron kemudian.
" siyaap. ayo kin, kita akan bersenang-senang disana."
ucap Sean lalu menarik tangan Kinara.
" Sean !! bisa kau bisa sopan sedikit ? kau jangan macam-macam."
Aaron melotot dan langsung melepaskan tangan Sean yang sudah menggenggam tangan Kinara.
Naomi yang melihat sikap Aaron menjadi curiga.
" gadis itu siapa pak. Aaron sih ?"
hati Naomi bertanya-tanya seraya melirik Kinara dengan sinis.
" oups, sorry. ayo kin, ikuti aku !!"
sahut Sean. Kinara pun mengiyakan dan mengikuti Sean menuju lift ke lantai Empat.
setelah Sean dan Kinara masuk lift, pandangan Aaron kembali ke Naomi.
" Naomi kau bisa melanjutkan pekerjaan mu. aku akan menemui pak. Rudi."
kata Aaron hendak membalikkan tubuhnya.
" pak. Aaron !!"
" iya, apa lagi Naomi ?"
Aaron kembali menolehkan kepalanya.
" emh-- apa bapa sering membooking Kinara ?"
tanya Naomi sedikit ragu-ragu dan takut.
" apa maksudmu ?"
Aaron langsung menatap tajam pada Naomi.
" Kinara itu kan wanita gak bener. yang aku dengar dia itu dulu bekerja ditempat karaoke, pak. dan sering dibooking pria-pria hidung belang."
ucap Naomi berusaha menghasut Aaron. namun Aaron tidak terpengaruh. karena Aaron tau, bila Kinara wanita tidak baik mana mungkin dia masih perawan.
Aaron melotot kearah Naomi dengan sedikit emosi.
" kamu jangan asal bicara, Naomi. kamu bisa saya tuntut karena menjelek-jelekkan calon istri saya."
jawab Aaron dengan penuh penekanan. Bola mata Naomi seketika terbebelak lebar. ia benar-benar terkejut dengan pengakuan Aaron barusan.
" calon istrinya ? gadis cleaning servis itu akan menikah dengan Aaron ? tidak mungkin."
Naomi bergumam dalam hati dengan perasaan tak percaya.
Aaron hanya tersenyum miring, lalu meninggalkan sekertarisnya itu yang masih berdiri dengan perasaan kacau dan patah hati.