
* Malam harinya.
seusai dinner keluarga di restoran yang ada di hotel tempat Claire dan Sergio menginap, Kinara berpamitan pergi ke toilet sejenak karena sedari tadi ia merasa tidak nyaman dengan tali mengait pakaian dalamnya yang terlepas.
(kita sebagai wanita pasti pernah kan mengalami hal seperti itu dan membuat jadi salah tingkah dan tidak nyaman)
tapi saat hendak berdiri, tiba-tiba saja kepala Kinara terasa pusing lalu membuatnya ambruk dan merosot ke lantai.
" Kinara !"
Aaron dan Marshall sama-sama memanggil nama itu dengan panik. membuat Claire yang mendengarnya seketika melirik ke arah Marshall. Marshall hendak beranjak menolong kinara namun segera ia urungkan karena Aaron sudah lebih cepat menyangga tubuh istrinya itu.
" uughh. kepalaku sakit, aku tidak kuat berdiri."
keluh Kinara memegang kepalanya sendiri dan membuat Aaron langsung merengkuh tubuh kinara dalam gendongannya.
" aku akan membawanya pulang."
ucap Aaron begitu tergesa-gesa ingin keluar dari tempat itu.
" jangan Aaron ! kasihan kinara. sebaiknya kalian menginap saja malam ini. aku akan memesan dua kamar lagi untukmu dan Marshall."
sergah Claire peduli.
" aku saja yang melakukan reservasi, Mam."
Marshall berinisiatif dan bergegas menuju receptionist untuk melakukan reservasi kamar hotel yang diikuti oleh Aaron yang masih merengkuh tubuh istrinya.
" kenapa Marshall ikut-ikutan panik seperti itu ?"
gumam Claire masih dengan posisi duduknya seraya memicingkan matanya bingung memperhatikan tingkah aneh Marshall.
setelah mendapatkan keytag, Aaron segera membawa Kinara menuju kamar yang hendak mereka tempati. Marshall membantu Aaron membukakan pintu kamar hotel dengan menggunakan keytag yang diberikan pihak receptionist tadi. dan pada saat pintu terbuka, Aaron pun segera merebahkan tubuh Kinara diatas tempat tidur.
" aku akan mengambil obat Kinara dimobil. tadi dia belum sempat meminum obat dari rumahsakit sebelum kemari. tolong kau jaga dia, Shall."
ucap Aaron membuat Marshall menganggukan kepala tanda menyetujuinya. ia pun lalu beranjak keluar dari kamar hotel menuju basement tempat mobilnya tadi diparkir.
Aaron sengaja tidak menutup pintunya rapat-rapat. pintu itu dibiarkan terbuka sedikit karena didalam hanya ada istrinya dan Marshall.
kini dikamar itu tinggallah Marshall dan Kinara yang nampak tak berdaya berbaring diatas tempat tidur.
Kinara mengerjap mencari keberadaan suaminya. ia merasa ada yang ganjal, kepalanya terasa sakit disertai mata yang berkunang-kunang. tubuhnya terasa panas dan hawa aneh kini melingkupi badannya.
" oh, sial. apa aku salah makan ?"
umpat Kinara. ia merasa sangat pusing dan tubuhnya semakin panas.
" kau kenapa, kinar ?"
tanya Marshall mendekati Kinara.
Kinara menengok ke Marshall yang duduk ditepian tempat tidur. dan karena pengaruh obat Kinara mengira itu Aaron, suaminya.
" sayang, kepalaku sakit sekali."
adu Kinara terdengar mendayu seraya memegangi kepalanya.
" tunggulah, Aaron sedang membawakan obatmu dimobil."
sahut Marshall tanpa menaruh curiga apapun. padahal sudah jelas Kinara dalam pengaruh sex drops yang Claire masukan kedalam minuman yang dipesannya tadi.
" aku kegerahan, Aaron."
Kinara tanpa sungkan membuka kancing bajunya hingga dua gundukan sintalnya menyembul keluar.
Marshall membulatkan matanya. dengan susah payah dia menelan air liurnya saat melihat pemandangan itu.
belum sempat berfikir lebih lama, tiba-tiba tangan pemuda itu ditarik oleh Kinara hingga posisi tubuhnya menindihh tubuh Kinara.
Kinara mencium bibir Marshall. awalnya Marshall berusaha melepaskan diri, namun lama kelamaan ia pun mulai menikmatinya. walau bagaimanapun Marshall adalah lelaki dewasa yang tidak akan bisa tahan bila dalam situasi seperti ini. terlebih diam-diam Marshall juga telah jatuh hati pada Kinara.
Marshall pun terbawa hawa nafsunya. ia ******* bibir Kinara dalam-dalam. tangan Marshall menopang tubuhnya agar Kinara tidak terbebani, sementara tangan satunya merayap dan meremaas payu**** Kinara. mereka hanyut dalam ciuman panasnya.
" Marshall !!"
tiba-tiba suara dari arah pintu kamar terdengar menggelegar. membuat kedua insan itu menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah sumber suara.
Kinara menatap Aaron begitu kaget. lalu pandangannya berpindah pada sosok tubuh yang menempel dengan dirinya.
" kau ?"
masih dalam setengah sadar Kinara mendorong tubuh Marshall agar menjauh. Marshall pun reflek menjauhkan tubuhnya dari Kinara.
" brengsek !"
tiba-tiba Aaron mendekati Marshall. mendorongnya hingga tersungkur dilantai, lalu memukuli wajahnya berkali-kali hingga babak belur. tapi Marshall tidak berusaha melawannya. ia hanya terdiam.
setelah itu Aaron mendekati Kinara, ia meremass tangan Kinara dengan kasar. seraya tangan satunya dikepalkan seperti akan menonjok wajah yang kini dihadapannya itu, tapi Aaron tidak bisa melakukan itu pada wanita yang sangat dicintainya.
" dasar ****** !!"
umpat Aaron pada Kinara lalu menarik selimut yang masih terlipat rapi diatas kasur untuk menutup bagian tubuh Kinara yang terbuka dengan kasarnya.
" aaarghh !!"
teriak Aaron seraya mengacak-acak rambutnya frustasi, Aaron lalu menonjokkan tangannya pada tembok dinding berkali-kali hingga tulang-tulang jarinya remuk dan terluka.
Kinara nampak seperti kebingungan, kepalanya terus berputar-putar dan terasa pusing. ia hanya bisa menangis saat mendengar Aaron menyebut dirinya ****** dan melihat sikap Aaron yang seperti orang tidak waras itu.
" hey, ada apa ini ?"
Sergio yang baru saja masuk bersama Claire terkejut melihat Marshall yang terlihat memar disudut bibir dan rahangnya.
lalu melihat Aaron yang terlihat sangat emosi tengah menatap tajam pada Kinara dengan penuh luka tangan kanannya.
Claire langsung mendekati Marshall lalu membantunya untuk berdiri.
" ada apa Marshall ?"
tanya Claire.
Marshall hanya terdiam. ia tiba-tiba saja beranjak pergi ke keluar dari ruangan itu dengan amarah dan rasa bersalahnya.
" maafkan mami, shall. tadinya bukan itu tujuan mami."
lirih Claire memandangi punggung Marshall yang berlari menjauh hingga sosoknya tak lagi terlihat.
pandangan Claire kini beralih ke Aaron yang nampak sedang frustasi.
" ada apa ini, Aaron ?"
tanya Claire berpura-pura tidak tau apa-apa padahal ini bagian dari rencananya.
" kenapa kau memukuli Marshall seperti itu ? ada masalah apa sih ?"
Sergio menatap bingung pada Aaron dan Kinara.
" tolong mami dan papi pergilah ! tinggalkan kami berdua."
pinta Aaron pada kedua orangtuanya.
" baiklah kami akan pergi. tapi kau harus ingat Aaron, jangan bermain tangan pada istrimu."
tegas Sergio sebelum akhirnya ia dan Claire pun beranjak pergi meninggalkan Aaron dan Kinara.
kini kamar hotelnya telah tertutup rapat. tidak ada orang lain lagi selain sepasang suami istri itu.
Aaron kembali mendekati Kinara yang masih linglung ditempat tidurnya.
" apa kau menyukai Marshall ?"
tanya Aaron seraya mengeratkan rahangnya kesal dan emosi.
" apa maksudmu ? Marshall itu adikmu, mana mungkin aku menyukainya."
balas Kinara nyolot dan membuat Aaron semakin geram. Aaron lalu mencengkram pipi kinara karena emosinya yang sudah naik ke ubun-ubun.
" kalian berciumann dengan posisi seperti itu didepan mataku, maksudnya apa ? jawab !!"
Aaron menghempas pipi Kinara oleh tangannya. kedua mata Aaron sudah memerah menahan sesuatu agar tidak bergulir begitu saja. antara marah, kecewa, dan sakit hati kini menyelimuti hatinya yang begitu menyesakkan dada.
Kinara terdiam. ia berusaha mengingat kejadian beberapa menit kebelakang. pengaruh obat itu sangat kuat hingga dapat berhalusinasi dan menganggap orang lain yang dihadapannya adalah Aaron.