
setibanya di Dublin, Aaron dan Marshall langsung menemui Leon. karena sebelumnya saat Aaron masih menunggu dibandara LA, Leon menghubungi dan menceritakan kronologis penculikan Kinara.
" Leon, bagaimana dengan luka tembak dikakimu itu ?"
tanya Aaron saat melihat kaki Leon yang terpincang-pincang dengan perban yang melilit dibetisnya.
" tidak apa-apa tuan. ini hanya luka kecil. yang penting sekarang kita harus segera menyelamatkan nona Kinara. anak buahku sudah berhasil membuntutinya. informasi terakhir mereka ada disebuah gudang tua."
ucap Leon.
" ayo, Aaron. kita harus gerak cepat sebelum orang suruhan mami melenyapkan wanitamu."
sahut Marshall.
akhirnya mereka segera berangkat menuju lokasi yang sudah sempat di share oleh anak buah Leon.
***
" cepat buka ikatannya, Sam ! si bos ingin segera melenyapkan gadis ini karena anaknya sudah berhasil kabur dan menuju kemari."
mendengar ucapan pria itu, Kinara mendongak menatapnya seakan tidak percaya dengan barusan yang ia dengar. Kinara sangat berharap seseorang akan segera datang menolongnya, apalagi jika seseorang itu adalah Aaron.
" memangnya tidak bisa ditunda sejenak ? aku ingin bersenang-senang dulu dengannya."
ucap pria bertato itu melirik ke arah Kinara yang tengah ketakutan.
" kau serius, Sam ? apa yang membuatmu menginginkan wanita seperti ini ?"
ucap pria itu melirik Kinara dari ujung kaki hingga ujung rambut yang masih dalam keadaan terikat dikursi.
" entahlah. aku menyukainya saja."
sahut pria bertato itu.
kawannya itu malah menertawakannya. lalu beranjak akan keluar lagi.
" sudah tidak ada waktu, Sam. ayo cepatlah kau bawa gadis itu keluar ! Noah dan Timothy sudah siap dimobil."
ucapnya sembari pergi meninggalkan keduanya didalam gudang.
ikatan tali yang melilit tubuh Kinara pun dibuka. ia melenguh kesakitan saat tangannya ditarik dengan kasar oleh pria itu hingga posisinya sekarang saling berhadapan. pria itu lagi-lagi menyakitinya. dia mencium bibir Kinara secara paksa lalu melumatnya tanpa henti.
Kinara berfikir untuk melarikan diri. ia tidak ingin mati sia-sia ditangan para mafia itu. mungkin inilah saat yang tepat untuknya meloloskan diri walau tidak tau apa yang harus ia lakukan.
" aaww."
Kinara menggigit bibir pria itu sekuat tenaga hingga mengeluarkan darah dan akhirnya terpaksa menjauhkan bibirnya dari bibir Kinara.
saat itu lah Kinara berlari menuju jendela yang memang sudah terbuka sebagai ventilasi ruangan satu-satunya disana yang gelap dan lembab itu.
tangan Pria itu meraba bibirnya yang kesakitan. ia terkejut saat ditangannya penuh darah yang menempel dari luka dibibirnya.
" ***** !"
teriaknya melotot kearah Kinara lalu berusaha mengejarnya.
Kinara berusaha memanjat jendela yang tingginya hanya sepinggangnya. karena tubuh yang kecil dan ringan, akhirnya ia pun berhasil memanjatnya. namun saat akan meloncat, tiba-tiba pria itu berhasil menahannya dengan merangkul perut Kinara lalu menjatuhkannya kembali ke tempat semula.
" aww, sakiit."
Kinara meringis kesakitan saat tubuhnya dijatuhkan ke lantai. seketika ia memeluk perutnya yang tiba-tiba kram dan terasa panas.
pria itu berjongkok lalu menatap Kinara yang masih tersungkur dilantai seraya menahan rasa sakitnya.
' Plakk. Plakk'
dia menampar pipi Kinara dua kali dengan kerasnya. lalu mencengkramnya dengan kasar.
" kau ingin mati ditangan ku ? oke akan aku lakukan."
ucapnya lalu membuka sabuknya yang melingkar dicelana pria itu lalu menariknya keluar.
Kinara sangat ketakutan lalu berusaha menggeser tubuhnya mundur saat pria itu mendekatinya membawa sabuk kulit berwarna hitam ditangannya.
Kinara menggelengkan kepalanya.
" jangan, aku mohon jangan lakukan itu pada ku !"
cambukan pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima sukses membuat kinara menjerit kesakitan hingga meninggalkan luka ditubuhnya. ia berusaha melindungi perutnya dengan posisi meringkuk dilantai.
dalam hatinya Kinara hanya bisa berdoa semoga ada seseorang yang menolongnya dan membuat penderitaannya berakhir. kalaupun tidak ada, Kinara berharap tubuhnya akan mati rasa hingga dalam nafas terakhirnya ia tidak akan merasa kesakitan.
pria kejam itu kembali akan mencambuk Kinara. namun saat tangannya mengangkat tali sabuk itu, tiba-tiba pintu gudang terbuka dengan lebar.
beberapa orang anak buah Leon datang dengan menodongkan pistol.
" menyerahlah. karena hanya tinggal kau yang tersisa disini."
ucapnya mendekat. lalu tak lama kemudian Aaron datang menyusul masuk bersama Marshall.
" Aa... Aaron."
tangis Kinara pelan memanggil suaminya yang baru datang. namun Aaron merasa hatinya teriris-iris saat melihat kondisi Kinara. begitu sakit ketika melihat orang yang dicintainya terluka parah seperti itu.
emosi Aaron sudah benar-benar tak terkendali. dengan gelap mata, Aaron merebut pistol dari anak buah Leon.
" brengsek kau."
Aaron langsung menarik pelatuk pistol yang diarahkan ke kepala pria yang telah menyiksa istrinya itu. namun Marshall dengan cepat menarik tangan Aaron hingga peluru yang seharusnya menembak kepalanya justru beralih ke kaki pria jahat itu.
" jangan mengotori tanganmu sendiri, Aaron ! apa kau mau di penjara gara-gara semua ini ? dasar bodoh."
ucap Marshall melotot ke arah kakaknya itu.
pria itu meringis kesakitan, lalu anak buah Leon menggeretnya keluar untuk disatukan dengan komplotan lainnya yang sudah lebih dulu dilumpuhkan.
Aaron langsung merengkuh tubuh kinara yang mulai melemah. ia mengelus wajah pucat Kinara.
" kau sudah aman sekarang, sayang. aku bersamamu."
lirih Aaron memeluk erat tubuh istrinya.
" Aaron, akhirnya kau pu...pulang."
Kinara tersenyum seraya menahan sakit.
" apa yang telah pria itu lakukan pada mu ?"
tanya Aaron.
" dia menciumku, Aaron. aku tidak sudi bibirku disentuhnya."
lirih kinara dengan suaranya yang mulai melemah.
Aaron kembali emosi seraya mengepalkan kedua lengannya.
" brengsek."
gumamnya terlihat geram. lalu Aaron mencium bibir mungil Kinara yang terlihat luka itu dengan lembut.
" aku sudah menghapusnya. kau jangan bersedih lagi."
ucap Aaron terus menatap mata Kinara yang basah dan nampak menahan rasa sakit.
" pe... perut ku saa...kiiitt."
suara kinara kian melemah dan akhirnya ia tak sadarkan diri dipangkuan Aaron.
" kin, Kinara !"
Aaron mencoba menepuk-nepuk pipi kinara. ia semakin panik saat dipaha Kinara terdapat darah segar yang mengalir dari dalam mini dressnya.
" istrimu pendarahan. ia sedang hamil kan ? sebaiknya segera bawa ke rumah sakit !"
ucap Marshall yang saat itu juga melihatnya.
tanpa pikir panjang Aaron langsung merengkuh tubuh kinara dan membawanya pergi dari tempat itu menuju rumah sakit.
.
.
.