In Your Love

In Your Love
ternyata



saat jam kuliah selesai, Atreya melihat Kinara tengah duduk termenung dikursi taman kampus.


" kin ?"


Atreya datang dan sedikit mengagetkannya. segera Kinara menghapus air mata yang telah membasahi kedua pipi dengan punggung tangannya.


" kau menangis ?"


tanya atreya menatap wajah Kinara yang tampak sembab.


" tidak kok."


jawab Kinara seraya membuang muka ke sembarang arah guna menyembunyikan wajah sendunya.


" kin, aku tau kamu sedang bersedih. kenapa harus menyembunyikannya dari ku ? aku kan sahabat mu."


ucap atreya memegang bahu Kinara. Kinara pun akhirnya luluh lalu beralih menatap dan mengelus-elus lengan kiri atreya.


" terimakasih, Rea. "


ucap Kinara tersenyum.


" kamu boleh cerita padaku, barangkali aku bisa membantu mu."


ucap Atreya.


Kinara hanya terdiam. pandangannya kembali menatap kosong ke arah sisi taman yang cukup teduh oleh pepohonan ya cukup rindang.


biasanya dipakai para mahasiswa sekedar duduk-duduk disitu untuk membaca, atau untuk berdiskusi.


Kinara merasa bingung karena ia merasa tidak enak bila harus menceritakan masalah ekonomi keluarga yang kini tengah membebani pikirannya kepada atreya. Kinara hanya tidak ingin ada orang yang beranggapan kalau dirinya hanya memanfaatkan atreya, karena ia tau betul siapa atreya. yakni gadis lumpuh yang dermawan.


" kin, kok malah diam ?"


sahut atreya lagi mengagetkan Kinara.


" eh, tidak apa-apa, Rea. kalau begitu aku pulang duluan ya. badanku rasanya tidak enak."


Kinara berpura-pura batuk dan memijat-mijat keningnya.


" kamu Sakit, kin ? ayo, biar aku antar pulang sekalian. itu mang Maman kebetulan sudah datang."


atreya menarik lengan Kinara agar beranjak berdiri dari posisi duduknya dikursi beton.


" tidak perlu, Rea. aku bisa pulang sendiri."


ucap Kinara berusaha melepaskan tangan atreya dari lengannya.


" ayolah, kin. kamu kan sedang tidak enak badan. aku tidak akan membiarkan sahabat ku pulang sendirian naik angkutan umum. bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu ?"


tutur atreya seraya mengapit kedua pipi Kinara dan memandangnya dengan tatapan cemas.


" tapi ak--"


" tidak perlu tapi-tapian lagi !! ayo aku antar kamu pulang."


potong atreya dengan nada memaksa.


" aku masih bisa pulang sendiri, Rea."


Kinara masih ngotot.


" dasar keras kepala. apa jangan-jangan kamu malu mengajak gadis lumpuh sepertiku berkunjung kerumah mu ?"


ucap Atreya terlihat kecewa, seraya melipat kedua tangan didadanya.


" hey, tidak begitu, Rea. aku sudah bilang bahwa aku tidak pernah membeda-bedakan seorang teman berdasarkan dari fisiknya."


tutur Kinara seraya menangkup kedua lengan atreya dipahanya.


" kalau begitu biarkan aku mengantar mu pulang."


lirih atreya.


Kinara menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya kasar.


" baiklah. kau boleh mengantarku."


ucap kinara pada akhirnya. atreya pun terlihat begitu senang. lalu Kinara beranjak dari duduknya dan mendorong kursi roda milik atreya ke arah mobil jemputannya yang memang sudah terlihat dari kejauhan.


" kenapa jadi begini ? padahal niatnya aku hanya ingin menghindar dengan pura-pura sakit saja. hufftt."


gumam Kinara dalam hati.


***


mobil sedan mewah milik atreya memasuki sebuah komplek perumahan rumah sederhana bersubsidi, dikawasan yang tidak begitu jauh dengan komplek perumahan real estate milik Shofi.


" kamu tinggal di komplek ini, kin ?"


tanya atreya seraya memperhatikan setiap jalan sempit yang dilaluinya menuju blok rumah Kinara.


" iya. kami sekeluarga mengontrak rumah di komplek ini."


jawab Kinara.


" kalau tau dari dulu rumahmu didaerah sini, kita bisa berangkat kuliah sama-sama."


ucap atreya.


Kinara hanya mengerutkan keningnya heran.


" rumahku disebelah komplek ini, kin. tadi sudah terlewati sebelum masuk."


" apa ? jadi kamu tinggal di perumahan the mansion itu ?"


tanya Kinara seraya membulatkan kedua matanya sempurna.


" iya."


" dari sini kemana, non ?"


tanya mang Maman disela-sela obrolan atreya dan Kinara.


" oh, didepan belok kanan, mang. nanti berhenti dirumah paling ujung."


ucap Kinara kini fokus memandu jalan.


akhirnya mobil silver metalik itu berhenti disebuah rumah sederhana tipe 36 yang tampak masih bawaan aslinya dari pihak developer. padahal bila dilihat dari fisiknya, keadaan rumah kontrakan itu sudah memprihatinkan dan butuh segera direnovasi.


Kinara dan Atreya sudah turun dari mobilnya. sementara mang Maman kembali menunggu didalam mobil setelah membantu atreya turun.


" ini rumahmu, kin ?"


tanya atreya memastikan seraya menyapu pandangan ke arah rumah dihadapannya.


" iya, ini rumah kontrakan keluargaku. apa kau mau masuk dengan keadaan rumah seperti ini ?"


mendengar itu atreya langsung melotot ke arah Kinara.


" apa maksudmu ? jelas dengan senang hati aku akan masuk ke rumahmu."


" baiklah. selamat datang dirumahku, Rea."


Kinara mendorong pelan kursi roda atreya ke teras rumahnya. lalu membuka pintu rumah dan kembali membawa atreya masuk kedalam rumah.


" kamu tunggu disini ya. aku akan mengambilkan mu minum."


ucap Kinara hendak beranjak.


" tidak perlu repot-repot, kin. aku belum haus."


sergah atreya.


" aku tidak repot kok. justru tidak sopan jika ada tamu tidak diberikan minum."


sahut Kinara lalu beranjak pergi ke dapur hendak membawakan minuman untuk atreya.


Atreya kembali menyapu pandangannya keseluruh ruangan yang bisa dijangkau oleh kedua matanya. lalu menatap langit-langit plafon yang sudah bolong-bolong entah karena kejatuhan kucing atau tikus yang bermain-main diatasnya. juga terlihat tembok dinding yang sedikit lembab dan catnya yang sudah terkelupas.


" apa Kinara nyaman tinggal dirumah seperti ini ? sungguh memprihatinkan."


gumam atreya dalam hati tampak sedih melihat keadaan tempat tinggal sahabatnya itu.


tiba-tiba pintu kamar depan yang berhadapan langsung dengan ruang tamu itu tampak terbuka lebar karena seseorang telah membukanya dari arah dalam.


" kin ! apa kamu sudah pulang, nak ?"


teriak Revan berjalan perlahan keluar dari kamar itu.


alangkah terkejutnya Revan dan Atreya saat keduanya bertemu dan saling berhadapan.


" om ini ?"


atreya reflek menaikkan jari telunjuknya seraya mengingat-ingat seseorang.


" Atreya anaknya Freya kan ?"


ternyata Revan masih mengingatnya dengan jelas. lalu mendekati atreya.


" kamu kemari dengan siapa, nak ?"


tanya Revan menatap hangat atreya seraya membungkukkan badannya agar sejajar dengan kursi roda Atreya.


" hhmm, aku--"


" papa ! kenapa papa keluar kamar sih ? nanti kalau jatuh lagi gimana ?"


tiba-tiba Kinara datang, ia langsung menaruh gelas berisi air putihnya diatas meja lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Revan dan memapah papa kesayangannya itu untuk duduk dikursi.


" papa ? jadi om ini papanya Kinara ?"


gumam atreya dalam hati terkejut.


" jangan berlebihan begitu. papa sudah merasa baikan, kin."


ucap Revan mengelus bahu Kinara.


" tetap saja papa harus banyak istirahat dikamar."


sahut Kinara khawatir.


" ini-- om Revan yang waktu itu datang kerumah kan ?"


tanya atreya mulai mengingatnya.


mendengar itu Kinara langsung menatap atreya.


" kamu mengenal papa ku ?"


tanya Kinara penasaran lalu menatap atreya dan Revan secara bergantian.


" iya sayang. kau ingat waktu itu saat nenek Lastri mengajak kita berkunjung kerumah nenek Shofi, namun tiba-tiba kamu batal ikut karena bos mu tidak memperbolehkan kamu bolos bekerja ?"


Kinara berusaha mengingat-ingat. lalu mengangguk setelah kembali mengingatnya.


" nenek Shofi itu ya neneknya atreya. jadi malam itu kami berkunjung dan malam malam bersama dirumah mereka."


" apa ?"


Kinara membelalakkan matanya dengan sempurna.


disisi lain atreya juga tak kalah terkejutnya dengan Kinara. ia masih tak percaya jika Kinara adalah salah satu anak dari Revan.


" berarti maksud nenek, salah satu anaknya om Revan dan Tante Laras yang hendak dijodohkan dengan kakak itu ternyata Kinara ? tidak mungkin Kanaya, dia kan masih SMA."


gumam atreya dalam hati, lalu menyunggingkan senyuman jailnya. 😏