In Your Love

In Your Love
mulai dari awal lagi



keesokan harinya Kinara terlebih dulu membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah sebelum ia berangkat bekerja. dengan cekatan Kinara mencuci piring dan gelas yang berserakan di wastafel cuci piring.


" kin, bagaimana pendapat mu tentang anaknya Rudi semalam ?"


tanya Laras seraya mengaduk penggorengan nya dengan spatula.


Kinara sekilas melirik kearah sang mama.


" maksud mama Satria ?"


" iya, siapa lagi."


sahut Laras.


" kami hanya berteman, ma. itu saja."


jawab Kinara santuy.


" tapi papamu kan berniat menjodohkan mu dengan Satria."


kata Laras, lalu segera mematikan knop kompor dan mengangkat tempe goreng yang sudah matang dengan spatulanya untuk dipindahkan ke atas piring yang sudah disiapkannya.


" tidak akan terjadi, ma. aku sama Satria sudah sepakat untuk menolak perjodohan ini."


" benarkah itu kin ?"


Laras terlihat lega mendengar pengakuan Kinara barusan. Kinara pun hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman.


" nanti siang mama akan ke rumah nenek Shofi. barangkali ada kabar tentang Aaron."


ucap sang mama dan membuat Kinara langsung menghentikan aktivitas mencuci piringnya.


" untuk apa menanyakan Aaron, ma ? dia sudah tidak tinggal disana lagi."


Kinara menoleh sesaat lalu kembali melanjutkan mencuci panci yang licin dan berminyak sisa santan dari masakan opor kemarin.


" lho kenapa memangnya ? barangkali Aaron sudah kembali kan. hubungan kalian itu harus segera diperbaiki, kin. dan ikatan pernikahan itu bukan untuk main-main."


ucap Laras mengingatkan.


" iya kin tau, ma. sebenarnya Aaron memang sudah kembali. ia sudah ada disini dari seminggu yang lalu."


" apa ?"


Laras terkejut, tangannya menjatuhkan spatula yang tengah dipegangi seraya membelalakkan kedua matanya.


Kinara pun membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan sang mama yang terlihat shok itu. ia lalu memungut spatula itu dari lantai dan menyimpannya dimeja dapur.


Kinara segera menyelesaikan pekerjaan mencuci peralatan dapur, lalu mengajak Laras untuk duduk dikursi makan sebelum ia menceritakan pada mamanya itu tentang pertemuannya dengan Aaron Minggu lalu didepan apartemen Satria.


raut wajah Laras terlihat sedih dan kecewa setelah Kinara menceritakan semuanya. Laras sangat berharap hubungan Kinara dan Aaron kembali hangat. ia tidak ingin rumahtangga anaknya yang baru seumur jagung itu hancur berantakan. maka dari itu, Laras memutuskan untuk mengunjungi Shofi siang nanti.


***


seturunnya dari angkutan umum dipersimpangan jalan, langkah Kinara begitu tergesa-gesa menuju kafe tempatnya bekerja. Memang jarak dari rumahnya sampai ke kafe diharuskan naik 2x angkutan umum dengan jurusan berbeda. namun agar lebih irit, Kinara hanya naik angkutan 1x sampai ke persimpangan. dari sana ia berjalan kira-kira 500 meter untuk sampai ke kafenya. lumayan jauh bila harus berjalan kaki, tapi tidak untuk kinara. ia bisa berhemat lima ribu rupiah per hari untuk keperluan yang lain.


" Kinara, tunggu !!"


seseorang menarik tangannya dengan cepat membuat Kinara hampir kehilangan keseimbangan.


" ada apa lagi ? "


Kinara langsung mengenali suaranya dari awal. ia langsung mendongak menatap suaminya itu tanpa merasa kaget. karena ia sudah bisa menerka kejadian seperti ini akan terjadi seperti Minggu lalu. Aaron yang tiba-tiba datang begitu saja.


" ayo, ikut denganku !"


" tidak, aku mau bekerja !!"


dengan cepat Kinara menepis tangannya dari genggaman pria itu. namun Aaron kembali meraih tangan Kinara dan mengajaknya pergi menuju mobilnya yang sudah terparkir diujung jalan agak jauh dari tempat kafe.


" hey, kau mau bawa temanku kemana ?!"


teriak salah satu pegawai yang melihat Kinara saat ia baru keluar dari kafe. dan membuat keduanya menoleh ke arah sumber teriakan itu.


orang itu berlari kecil menghampiri Kinara yang tengah ditarik tangannya oleh seseorang yang tak lain suaminya itu.


" Meta..."


ucap kinara. Meta adalah salah satu waiters dikafe itu.


" kamu sudah terlambat, kin. didalam sudah banyak pengunjung. Ayo !!"


Meta menarik tangan Kinara yang satunya lagi.


" maaf nona, Kinara harus ikut bersamaku. ada hal penting yang harus kami selesaikan."


Tegur Aaron seraya menatap tajam pada wanita berambut ikal yang diikat seperti ekor kuda itu.


" Aaron, tolong lepaskan !! aku mau bekerja."


lirih Kinara.


" tidak, aku harus bicara denganmu sekarang."


tangan Aaron malah semakin erat mencengkramnya.


" pergilah ku mohon. biarkan aku bekerja dulu."


ucap Kinara melemah, berharap Aaron mengerti dan segera pergi. namun bukan Aaron namanya yang tidak mau diperintah meski dengan cara memohon.


" apa pendengaran mu kurang berfungsi, tuan. tadi temanku bilang, pergi ya pergi. lagipula siapa dirimu berani mengatur-atur temanku seperti itu ?"


ujar Meta seraya berkacak pinggang seolah menantang.


Aaron jengah dan melotot pada Meta. tatapannya sangat tajam seolah ingin mencakarnya saja.


" Aaron !!"


tegur kinara. Aaron pun menoleh kearah istrinya itu.


Kinara menatap nya lalu menggeleng-gelengkan kepala tanda memberi isyarat untuk tidak mengatakan apa-apa lagi. dan Aaron pun mengerti.


" tolong jangan menghalangi !! ini urusan kami."


tegur Aaron berusaha untuk tidak terpancing emosi.


" tapi temanku ini sudah harus bekerja."


sahut Meta.


ucap Kinara dengan nada seperti memelas.


Aaron mendengus,


" baiklah. aku akan menunggumu disini. "


balasnya seolah terpaksa.


" terserah."


sahut Kinara.


" kalau kau mau bisa tunggu didalam saja. kami punya banyak menu makanan dan minuman yang sangat enak."


ucap Meta, jiwa sales-nya mulai keluar. namun entah mengapa Aaron menolaknya.


" pacarmu itu aneh sekali, kin. angkuh sekali yang beraninya memaksamu seperti itu."


Meta menggerutu kesal seraya menarik tangan Kinara untuk segera masuk kedalam kafe. Kinara hanya diam tak menanggapi, ia hanya mengikuti langkah Meta didepannya.


***


Kinara tidak lupa dengan janjinya. ia pun langsung menghampiri mobil Aaron yang kini sudah terparkir didepan kafe. ia tau bahwa suaminya itu tengah menunggunya didalam mobil.


benar saja, Aaron langsung menampakkan wajahnya dengan menurunkan kaca pintu mobil yang gelap dan tak terlihat dari luar itu.


" masuk !!"


perintahnya.


Kinara terpaksa mengiyakan. ia duduk di jok depan samping Aaron.


" mau kemana ?"


tanya kinara saat hendak menarik safety belt disamping bahunya. namun Aaron tidak menjawabnya, ia hanya membantu memakaikan sabuk pengaman ditubuh Kinara.


tak lama kemudian mobil Aaron pun melaju membelah jalanan disore hari dengan kecepatan sedang.


" kita mau kemana ?"


tanya kinara lagi.


" pulang ke apartemen."


jawab Aaron tanpa menoleh. tatapannya masih fokus kedepan dibalik kemudi.


Kinara pun memilih diam, ia teringat perkataan Sean waktu itu yang mengatakan bahwa Aaron kini tinggal di apartemen sendirian.


hingga akhirnya tibalah di tempat yang kini ditinggali Aaron.


" masuklah !"


Aaron mempersilahkan Kinara masuk saat dirinya sudah membuka kode pin pintu apartemennya. Kinara masuk dan langsung duduk di sofa berwarna putih seraya mengedarkan seluruh pandangannya kesetiap penjuru ruangan.


" aku haus. kau mau minum apa ?"


tanya Aaron lalu menyeret langkah kakinya menuju pantry untuk mengambil minuman dingin didalam kulkas.


" biar aku yang mengambilnya !"


Kinara segera bergegas menyusul Aaron ke pantry. ia merasa tidak enak dengan Aaron. walau bagaimanapun ia masih istrinya, sudah kewajibannya melayani suami. Kinara lebih dulu membuka kulkas untuk mengambil satu botol air mineral didalamnya.


" aku mau minuman bersoda."


protes Aaron saat Kinara menyodorkan botol mineral padanya.


" jangan terlalu banyak mengkonsumsi minuman bersoda. air mineral jauh lebih segar dan menyehatkan."


tegur Kinara pada Aaron yang memang menyukai minuman bersoda. dulu Kinara sering melihat penampakan berbagai minuman kaleng berjejer didalam kulkas saat Kinara masih bekerja dirumah shofi. dan saat dirinya bertanya, ternyata atreya mengatakan kalau minuman itu milik Aaron yang sengaja men-stoknya didalam lemari es.


" tidak mau."


sahut Aaron.


" kalau begitu ambil sendiri saja."


balas kinara lalu menyimpan botol mineral itu keatas meja didekatnya. ia kembali beranjak dan menjatuhkan tubuhnya kembali keatas sofa seraya memencet salah satu tombol remote didekatnya, lalu melipat kedua tangan diatas perutnya.


tak lama kemudian Aaron duduk disamping Kinara sambil menenteng minuman kaleng yang telah dibuka segel penutupnya.


" apa yang akan kamu bicarakan sampai rela menungguku selesai bekerja ?"


tanya Kinara dengan mata masih menatap layar televisi yang tadi ia nyalakan sendiri.


" aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita. aku mau kita mengulang dari awal lagi."


Aaron meneguk minuman kaleng itu lalu meletakkannya keatas meja. ia memegang pundak Kinara dan menggeser posisi Kinara menjadi berhadapan dengannya. memaksa mengalihkan pandangan Kinara menjadi menatap dirinya.


" kau mau kan ?"


pertanyaan Aaron mengejutkan Kinara. dengan susah payah Kinara menelan salivanya saat mata hazel Aaron menatap dirinya.


" aku---"


tiba-tiba dering suara ponsel kinara mengganggu suasana.


Kinara segera merogoh sumber bunyi dari dalam tasnya. ternyata Revan mencemaskan anak perempuannya yang tak kunjung pulang dari bekerjanya.


" aku harus pulang sekarang."


ucap Kinara seusai menutup panggilan teleponnya dengan sang papa.


" tidak. rumahmu disini, bersama ku."


" tapi aar---"


belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, Aaron sudah langsung merengkuh tubuh kinara. mendekap tubuh mungilnya dengan sangat erat, masuk kedalam dada lebar suaminya hingga aroma khas tubuh Aaron tercium sangat pekat dihidung kinara. pelukan hangat yang sangat ia rindukan. kedua lengan Kinara pun ikut melingkar ditubuh kekar milik suaminya.


.


.


.


.