In Your Love

In Your Love
melamar



***


Kinara dengan mudahnya bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada didalam selembar kertas ujian itu. ia memang pandai, tak heran Kinara mendapatkan beasiswa dikampus ini meski hanya setengahnya dari biaya per-semester. tapi setidaknya itu sangat membantu sekali melihat kondisinya sekarang.


" beress."


gumam Kinara seraya bergegas membereskan alat tulis kedalam tasnya, lalu beranjak dari kursi hendak menyerahkan lembar jawaban soal ujian pada dosen yang tengah duduk dimuka kelas.


" sudah beres, kin ?"


ucap sang dosen yang mengenali dan hafal namanya itu.


" iya, pak. permisi."


Jawab Kinara menyerahkan lembar jawabannya lalu bergegas keluar dari kelas.


tanpa pikir panjang ia buru-buru keluar dari area kampus hendak ke tempat laundry yang berada diujung jalan yang berjarak seratus meter tak jauh dari kampus ini. tadi pagi ketika ia turun dari angkot dipersimpangan, tak sengaja ia melihat selembar kertas yang ditempelkan dikaca jendelanya bertuliskan ' LOWONGAN KERJA'


" Kinara !!"


seseorang memanggilnya dari arah belakang, sontak Kinara menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya.


" eh, atreya. ada apa ?"


ternyata Atreya sedang menunggu jemputan mang Maman diparkiran depan.


" mau kemana, kok buru-buru begitu ?"


tanya atreya.


Kinara berjalan mendekati Atreya.


" maaf Atreya, aku buru-buru mau melamar kerja ditempat laundry diujung jalan sana."


ucap Kinara seraya menunjuk ke arah tempat laundry yang cukup terkenal itu. karena setau Kinara, banyak para mahasiswa yang tinggal di mess kampus ini menggunakan jasa laundry disana untuk menangani pakaian kotornya menjadi bersih, licin, dan harum.


" melamar ?"


Atreya mengerutkan dahinya bingung.


Kinara lalu duduk dikursi beton sebelah Atreya.


" aku sudah tidak bekerja dikantor kakakmu dan tempat karaoke itu lagi, Rea."


atreya sontak membelalakkan kedua matanya.


" apa ? kenapa, kin ? apa kakakku memecatmu ? bilang saja padaku."


tanya atreya terdengar emosi seraya melipatkan kedua lengan didadanya.


" tidak, Rea. kebetulan kontrak kerjaku telah habis secara bersamaan."


ucap Kinara terpaksa berbohong karena tidak ingin atreya terus mengintrogasinya.


" aku tidak percaya. pasti kakakku telah memecatmu."


sahut Atreya mencibir.


" iya kakakmu yang sombong itulah yang telah memecatku."


umpat Kinara dalam hati. namun ia tidak berani mengutarakannya pada atreya karena tidak ingin kakak beradik itu jadi bermasalah gara-gara dirinya.


" kok diam ? berarti benar kan dugaan ku ?"


ucap atreya menatap tajam pada Kinara.


" aku bilang tidak, Rea. sudahlah jangan dibahas lagi !! Oya bagaimana kesehatan kakakmu sekarang, apa sudah membaik ?"


Kinara mencoba mengalihkan pembicaraan, selain itu memang ia penasaran dengan keadaan Aaron saat ini


" kau tau kalau kakakku sakit ?"


atreya malah balik bertanya.


" jelas aku tau. semalam kami terjebak di lift. kakakmu sampai pingsan didalam karena badannya demam tinggi."


"oo ya ?"


atreya membelalakkan kedua matanya.


" ternyata kak Aaron berbohong. kenapa ia mengaku terjebak sendirian di lift ? apa ia menganggap Kinara itu mahluk tak kasat mata ? dasar !!"


umpat atreya dalam hati seraya mengepalkan lengannya merasa kesal dibohongi Aaron.


Kinara merogoh sesuatu dalam tasnya, lalu mengeluarkan ponsel milik Aaron yang ia bawa semalam.


" ini ponsel pak. Aaron. semalam terjatuh di lift saat ia jatuh pingsan. aku titipkan padamu ya !"


Kinara menyerahkan ponsel itu pada atreya. lalu ia beranjak dari tempat duduknya.


" kau tidak apa-apa bila ku tinggal, Rea ? aku harus buru-buru ketempat laundry itu."


ucap Kinara seraya merapihkan pakaian dan rambutnya yang sedikit berantakan.


" pergilah, aku tidak apa-apa kok. sopirku sebentar lagi juga datang."


sahut atreya.


akhirnya Kinara pun pergi meninggalkan atreya sendirian. ia berjalan menuju laundry dekat persimpangan jalan itu.


tak lama kemudian mang Maman datang menjemput atreya yang sudah hampir setengah jam menunggunya.


" kok lama, mang ?"


protes atreya sedikit cemberut.


" iya, non. macetnya panjang."


sahut mang Maman seraya memapah Atreya masuk kedalam mobilnya.


***


Aaron terbangun dari tidurnya setelah tadi pagi dokter Doni memeriksanya serta memberi Aaron obat dan vitamin.


ia mencari ponselnya kemana-mana setelah menyadari benda terpenting bagi dirinya itu hilang.


ia beranjak hendak keluar dari kamarnya menuju parkiran mobil, namun tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lebar oleh seseorang yang membukanya dari arah luar. Aaron pun menghentikan langkahnya saat tau Atreya datang.


" kakak mau kemana ? bukannya dokter Doni bilang kakak harus banyak istirahat ?"


ucap atreya memicingkan matanya.


" banyak istirahat tidak harus tiduran di kasur kan."


balas Aaron seraya mengacak-acak rambut atreya sekilas, lalu beranjak berjalan keluar kamar.


" hey, kakak mau kemana ?"


teriak atreya.


" ambil ponsel dimobil."


sahut Aaron terus berlalu tanpa menghiraukan adiknya.


" apa ponsel ini yang kakak cari ?"


atreya segera menunjukan ponsel yang diberikan Kinara tadi.


sontak membuat Aaron langsung memutar badannya kebelakang, lalu kembali menghampiri atreya dan hendak meraihnya namun dengan cekatan atreya kembali menyembunyikan dibalik punggungnya.


" sini !"


perintah Aaron seraya mengangkat telapak tangannya.


" no."


balas atreya menggeleng kan kepalanya.


" Rea, kembalikan !! "


Aaron melotot ke arah adiknya.


" tidak. sebelum kakak jujur padaku dengan siapa semalam kakak terjebak didalam lift itu. kakak tidak sendirian kan ?"


ucap atreya menggoda Aaron seraya tersenyum miring .


Aaron menaikkan sebelah alisnya, ia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan atreya.


" sepertinya gadis liar itu sudah menceritakan semuanya pada atreya. dasar mulut ember."


umpat Aaron dalam hati terlihat kesal.


" ponsel ini aku dapatkan dari seorang gadis yang bersama kakak didalam lift semalam."


ujar atreya mendongak menatap wajah kakaknya dengan serius.


Aaron membuang nafasnya kasar.


" oke, aku memang terjebak dilift bersama temanmu itu semalam. puas ? sekarang kemarikan ponsel ku !!"


pinta Aaron menatap tajam dan akhirnya atreya pun mengembalikan ponsel itu dari balik punggungnya.


setelah mendapatkan ponselnya kembali, Aaron menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur karena tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit lagi seperti ditimpa batu besar. ia mencoba memejamkan matanya.


" kak."


atreya mendekati Aaron disamping tempat tidur.


" emmhh."


balas Aaron tanpa membuka matanya.


" tadi Kinara mencoba melamar pekerjaan di laundry dekat kampus. apa kakak tidak kasihan dengan Kinara ?"


lirih atreya berharap Aaron merasa iba. tapi yang ada bukannya iba, Aaron malah jengah mendengar nama itu terus disebut.


" trus, hubungannya denganku apa ?"


Aaron membuka matanya sejenak melirik atreya dengan sudut matanya.


" semua kan gara-gara kakak yang memecat Kinara, hingga ia harus kesana kemari mencari pekerjaan lagi."


bentak Atreya seraya berkacak pinggang kearah kakaknya itu.


mendengar itu Aaron langsung terbangun dari posisi rebahannya dan melotot ke arah atreya.


" turunkan tanganmu !! sejak kapan kau berani membentak-bentak kepada orang yang lebih tua dari mu ? aku kakakmu, Rea. dan aku tidak suka ada yang membentakku seperti itu."


sontak atreya langsung menundukan pandangannya. ia sangat takut bila Aaron sudah marah seperti itu. terlihat dari guratan wajah Aaron yang menyiratkan kekesalan dan amarahnya.


" maaf kak, aku tidak bermaksud membentakmu. aku hanya iba dengan Kinara. kini ia menganggur, padahal butuh biaya untuk kuliah dan sekolah adiknya."


ucap atreya menangis.


" hah, nganggur ? pintar sekali gadis liar itu bersilat lidah, dan memanfaatkan adikku."


gumam Aaron dalam hati merasa jengah, seraya mengepalkan lengannya emosi.


" sudahlah. sebaiknya kau keluar dari kamarku. kepalaku rasanya mau pecah mendengar nama dia."


" kakak ?"


atreya menggigit bibir bawahnya.


" keluarlah, Rea. nanti kita bicarakan lagi. aku mau istirahat dulu."


pinta Aaron seraya mengusap pipi atreya yang basah lalu mengecup kening adiknya itu dengan lembut.


" baiklah, kak."


lirih atreya tersenyum. lalu ia pun berlalu, keluar dari kamar kakaknya.


.


.


.