
" selamat siang, pesan apa kak ?"
sapa Kinara pada pengunjung yang baru saja datang ke Cafe tempatnya ia bekerja.
" pesen kamu, boleh ?"
Kinara segera mendongak ke arah orang bertubuh tinggi yang tengah berdiri diantara meja kasir dihadapannya.
" Sean ?"
Kinara lalu menyunggingkan senyumnya yang ramah. ia tidak menyangka akan bertemu dengan Sean setelah beberapa Minggu ini tidak pernah bertemu lagi.
" apa kau kemari dengan Atreya ? kau tau dari mana aku bekerja disini ?"
tanya Kinara mengedarkan pandangannya berharap atreya ikut bersama dengan Sean.
" aku sendirian. dan aku tau kau kerja disini dari seseorang. seseorang yang selalu mengawasi mu."
tukas Sean terkekeh.
" siapa ? pasti om Rudi kan yang memberitahumu dikantor."
tebak Kinara. Sean hanya menggeleng, sudut bibirnya menyeringai membentuk senyuman jail dan misterius.
" lupakan ! Sekarang aku mau pesan macchiato sama pastry, nona kasir."
Sean mengalihkan pembicaraan. lalu sesaat Sean menelan salivanya karena tergiur saat lirikan matanya tertuju pada pelanggan lain yang tengah duduk menikmati menu sama dengan yang ia pesan.
" oke, pesananmu akan segera tiba."
Kinara langsung menjalankan proses order dan pembayarannya dengan Sean.
" kin, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. apa ada waktu ?"
tanya Sean kemudian.
" satu jam lagi aku ganti shift. itu pun kalau kamu mau menunggu."
sahut kinara.
" oke aku akan menunggumu disini."
Sean pun beranjak mencari tempat duduk kosong sambil menunggu pesanannya datang.
Kinara menatap Sean dari kejauhan. hatinya mulai tidak enak, ia merasa apa yang akan Sean bicarakan pasti ada hubungannya dengan Aaron atau Atreya.
" kin ?"
seseorang datang menepuk bahunya dan membuyarkan lamunan Kinara. ternyata seseorang itu adalah kasir lainnya yang akan gantian shift dengannya.
" Ajeng, kau ini mengagetkan saja."
tegur Kinara terperanjat kaget.
" ngelamun aja, kamu liatin siapa sih ?"
kedua mata Ajeng mengikuti arah pandangan Kinara. " oohh aku tau. kau naksir pria bule itu kan ? hayoo ngaku !!"
goda Ajeng seraya menyenggol bahu Kinara. selama ini tidak ada seorang karyawan disini yang tau kalau Kinara sudah menikah kecuali Rudi, yang punya cafe ini.
" hush, sembarangan !! dia itu temanku."
bantah Kinara melotot ke arah temannya itu.
" benarkah dia temanmu ? pria bule itu sepertinya dari kalangan atas, lihat saja penampilannya, dari baju hingga sepatu semuanya ori. kau memang kenal dimana dengannya ?"
kata-kata Ajeng barusan seolah-olah meremehkan kinara. namun Kinara tak mau ambil pusing ataupun tersinggung dengan ucapan kawannya itu.
" sudahlah itu tidak penting. ayo bantu aku berhitung !! hari ini jualan kita rame."
ucap Kinara mengalihkan pembicaraan lalu mulai membuat laporan pemasukan kasir shift pertama untuk diteruskan ke shift berikutnya.
***
" apa yang ingin kau bicarakan denganku, Sean ?"
Kinara menjatuhkan tubuhnya duduk dikursi kosong depan Sean.
" kau sudah free ?"
tanya Sean dan membuat Kinara menganggukkan kepalanya.
" aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
ucapnya Sean.
" kemana ?"
Kinara mengerutkan keningnya.
" ayolah ! kau nanti akan tau sendiri."
baru saja Kinara duduk, Sean beranjak dan menarik tangan Kinara menuntunnya keluar dari kafe itu.
" Ajeng, aku duluan ya !"
sapa Kinara saat Sean dan Kinara melewati meja kasir itu dengan tergesa-gesa karena mengikuti langkah cepat Sean yang menarik tangannya.
" oh, iya kin. ati-ati !"
balas Ajeng datar seraya pandangannya tak lepas pada pria bule yang tengah menggandeng tangan Kinara.
***
mobil Sean melaju dan membawa ke kinara menuju kesuatu tempat.
" kita akan kemana ?"
ucap Kinara untuk yang kedua kalinya bertanya pada Sean.
" tenanglah kin. aku tidak akan menculikmu, kita hanya akan ke apartemenku saja."
jawab Sean dan sukses membuat kedua mata Kinara melotot.
" kau mau apa Sean ?"
Kinara mulai cemas dengan dirinya sendiri. masih teringat dengan jelas kejadian terakhir bersama Marshall beberapa Minggu lalu.
" aku akan membuatmu bahagia."
sahut Sean terkekeh.
mendengar itu Kinara langsung berontak, ia meminta Sean menghentikan mobilnya namun Sean malah semakin mengeraskan tawanya.
" berhenti sekarang juga !!"
perintah Kinara seraya memukul-mukul lengan Sean yang masih asik memutar stir mobilnya.
" hey kin, tenanglah !! kita bisa celaka jika kau tidak bisa tenang seperti ini."
" kalau begitu menepilah Sean ! ayo menepi !"
teriak Kinara seraya membelokan stir ke arah kiri secara paksa dan tiba-tiba.
BRUKK
ternyata mobil Sean menyenggol motor yang berada disebelah kiri mobilnya melaju pada waktu itu.
Sean terkejut dan langsung menginjak rem.
" kita menyenggol motor, Sean. dia terjatuh."
ucap Kinara seraya melihat spion kirinya dengan perasaan mulai panik.
" salah sendiri motor disebelah kiri."
gumam Sean.
" ayo kita liat keluar, Sean ! semoga dia baik-baik saja."
Sean dan Kinara pun segera keluar dari mobilnya untuk melihat kondisi korban yang telah disenggolnya itu.
" maaf. anda baik-baik saja ?"
Sean membantu mengangkat motor yang telah menindih pria dibawahnya. pria itu meringis kesakitan seraya memegangi lututnya.
Kinara membantu pria itu duduk disisi trotoar. beberapa warga sudah berkumpul mengelilinginya.
" beri dia minum kak !"
seorang pelajar berseragam putih abu memberikan sebotol air mineral pada Kinara. Kinara mengangguk dan langsung meraihnya.
Sean ikut berjongkok dihadapan pria yang tengah meringis itu. helm full face nya tetap melekat dikepala si korban. jadi sepertinya tidak ada cidera parah dibagian kepala, hanya lututnya yang terlihat kesakitan karena tertindih motornya sendiri.
" minumlah dulu !"
Kinara menyodorkan botol air mineral yang sudah ia buka segelnya terlebih dulu.
" terima kasih, kinar."
ucap pria itu seraya membuka helm full face nya.
Kinara terkejut saat orang itu menyebut namanya, begitu juga dengan Sean yang ikut mendengarnya.
" kau ?"
" Satria ?"
Sean dan Kinara bersamaan menyebut pria yang baru saja membuka helmetnya itu.
" kalau tau itu kau sudah ku Pepet saja motormu sampai ringsek."
ucap Sean menonjok pelan bahu Satria dan membuatnya semakin meringis kesakitan.
" apa-apaan kamu ini, Sean ?"
bentak Kinara kesal melihat tingkah Sean.
" iya kak, bukannya ditolong juga."
sahut anak pelajar yang masih memperhatikan nya.
" hhuuu..."
sebagian warga meledeknya.
" sudah ya tolong bubar ! dia tidak apa-apa. lagian dia ini temanku. jadi semua baik-baik saja."
Sean akhirnya bisa membubarkan warga yang membuatnya semakin terpojok.
" sat, sebaiknya kamu ke rumah sakit ya."
ajak Kinara khawatir takutnya ada luka ditubuh Satria.
" aku baik-baik saja. tapi sepertinya kakiku terkilir nih."
sahut Satria meringis seraya mengelus-elus kaki kirinya.
" kin, kau kenal dari mana si kampret ini ?"
Sean melirik tajam pada Satria.
" bule sialan."
umpat Satria.
" bukan si kampret, dia Satria temanku. kau sendiri kok bisa kenal Satria dimana ?"
tanya Kinara.
" dia ini yang menabrak atreya dikampus waktu itu. hah tau rasa kan rasanya ditabrak."
kata Sean meledek.
" apa ?"
Kinara membelalakkan kedua matanya. lalu menatap tajam pada Satria.
" kamu ini emang tidak pernah berubah ya, Sat. selalu saja kebut-kebutan. itu yang tidak aku sukai dari dulu."
ungkap Kinara jengah.
" oh, jadi karena itu dulu kamu putusin aku begitu ?"
pernyataan Satria sukses membuat Sean terperanjat kaget.
" jadi kalian-- "
Sean menggeleng-gelengkan kepala dan tidak melanjutkan kalimatnya. ia sudah bisa menebaknya sendiri.
" kin, jadi sekarang kau pacaran sama dia ?"
tuduh Satria seraya menunjuk ke arah muka Sean.
" heh jangan sembarangan bicara ! ku hajar kau kampret."
tukas Sean menarik jaket yang dikenakan Satria.
" Sean ! apa-apaan sih ? ayo sebaiknya bawa Satria ke rumahsakit sekarang."
bentak Kinara jengah.
" ih, gak bisa kin. kita sudah gak ada waktu lagi."
" Sean ! kau mau dituduh orang-orang disini sebagai pelaku tabrak lari ?"
Kinara melotot ke arah Sean. membuat Sean jadi tak bergeming dengan ucapan Kinara barusan.
" bener tuh. Lo mau gue teriakin masa supaya Lo digebukin karena gak tanggung jawab ?"
ancam Satria dengan nada meledek seraya menyeringai puas.
" oke-oke Lo menang kali ini. biar orang kantor yang bawa motor Lo ke bengkel."
akhirnya Sean dan Kinara membopong Satria ke dalam mobil dan membawanya ke rumahsakit terdekat untuk mengecek luka dibagian kakinya.
.
.
.
.