In Your Love

In Your Love
memaksa



sudah hampir seminggu Kinara dirawat dirumah sakit. dan hari ini dokter yang menanganinya memperbolehkan kinara pulang karena kondisinya sudah semakin membaik dan stabil. memar-memar disekujur tubuhnya pun mulai menghilang.


Kinara sudah bisa menerima kenyataan bahwa dirinya harus kehilangan calon bayinya karena faktor kecelakaan. ia tidak ingin menyalahkan siapa pun, anggap saja ini ujian dalam kehidupan rumahtangganya. semoga kedepan bisa lebih baik lagi dan Kinara bisa kembali hamil.


sebelum pulang, Aaron dan Kinara menemui Daniel diruangannya. mereka ingin berkonsultasi tentang kondisi rahim Kinara karena kadang masih terasa sakit.


" tak perlu ada yang dikhawatirkan, itu tidak apa-apa. hanya saja selama 6 bulan kedepan Kinara tidak boleh hamil dulu. dan sementara ini kalian jangan dulu berhubungan intim, Kinara masih tahap penyembuhan. bila dipaksakan dikhawatirkan akan timbul infeksi."


jelas Daniel panjang lebar membuat Aaron dan Kinara saling bertatapan.


" jadi maksudnya selama enam bulan aku tidak bisa menggaulinya, begitu ?"


Aaron kembali mengalihkan pandangannya pada Daniel dengan tatapan polos. reflek Kinara mencubit perut Aaron yang duduk disebelahnya seraya melotot.


" aaww. sakit, sayang."


keluh Aaron melirik istrinya itu.


" jangan terlalu polos begitu, Aaron !"


bisik Kinara mendelik ke arah Suaminya.


" polos bagaimana ? aku bukan seorang dokter, jadi wajarkan aku bertanya pada ahlinya daripada nanti terjadi apa-apa."


" tapi ya gak begitu juga nanyanya."


sahut Kinara sedikit kesal lalu membuang muka ke sembarang arah.


Daniel malah tertawa seraya menggeleng-gelangkan kepalanya. Daniel jadi mengingat kembali masa mudanya dulu saat awal-awal menikah dengan Raya, istrinya. karakter Raya hampir mirip dengan Kinara. lucu dan menggemaskan.


" bukan tidak boleh, Aaron. pokoknya demi kebaikan dan kesehatannya, Kinara tidak boleh hamil dulu. kalian bisa memakai alat kontrasepsi untuk sementara ini selama 6 bulan."


" oohh."


Aaron membulatkan bibirnya, lalu tersenyum sumringah. Kinara sudah bisa membaca pikiran Aaron saat ini.


" dasar mesum."


gumam Kinara. Namun ada kebahagiaan terpancar dalam benaknya saat ini. Aaron telah kembali, dan Kinara tak berhenti-hentinya bersyukur akan hal itu.


tak lama kemudian Aaron dan Kinara pun pamit pulang. Daniel mengantarnya sampai ke depan rumah sakit.


" Aaron, apa kau tidak ada keinginan untuk mengelola rumah sakit ini ? ini milikmu, sebaiknya kau yang mengelola sendiri. ku harap kau memikirkannya."


ucap Daniel seraya menepuk bahu Aaron saat Aaron akan masuk kedalam mobilnya. Kinara sudah lebih dulu duduk dikursi penumpang depan.


" aku belum mau memikirkannya. sebaiknya paman saja yang mengurus rumahsakit ini."


jawab Aaron. daniel pun hanya menggelengkan kepalanya. lalu Aaron pun segera menjalankan mobilnya untuk pulang bersama Kinara.


***


sesampainya dirumah, Kinara langsung menuju ke kamar untuk beristirahat. sementara Aaron menemui Marshall yang terlihat sedang menatap layar laptopnya dimeja ruang tengah.


" kau sedang apa ?"


Aaron menjatuhkan dirinya duduk disamping Marshall.


" mengejar kuliahku yang tertinggal beberapa hari kemarin."


jawabnya tanpa menoleh sedikitpun kearah Aaron. Marshall terlihat sangat serius dengan kuliah onlinenya itu.


" baiklah, aku akan kekamar dulu menemui Kinara."


Aaron merasa tidak enak karena telah mengganggu adiknya belajar. lalu ia pun beranjak berdiri dari tempat duduknya.


" kemarin Papi telpon. Besok papi dan mami akan kemari. kata papi, mami sudah sadar akan kesalahannya, jadi ia ingin menemuimu dan kinara untuk meminta maaf."


ucap Marshall mendongak menatap Aaron yang sudah berdiri hendak pergi.


" apa kau yakin mami sudah berubah ?"


Aaron menaikkan sebelah alisnya ragu. Aaron masih kecewa dengan sikap Claire yang menurutnya keterlaluan dan cukup sadis itu. bahkan ia nyaris kehilangan Kinara, dan membuat kehilangan calon bayinya.


" aku tidak tau. aku memang kecewa dengan sikap mami terhadapmu. tapi walau bagaimanapun mami tetap ibu kandung kita. jadi sudah semestinya kita tetap menghormati dan menyayanginya."


ujar Marshall seraya menutup layar laptopnya lalu berdiri dan kini berhadapan dengan Aaron. Marshall memang terlihat lebih dewasa dari usianya. ia tak banyak bicara, namun sekali bicara terkadang bisa membuat seseorang menjadi lebih tenang dan berfikiran waras.


" apa salahnya kau mencoba memaafkan dan memberikan mami kesempatan untuk berubah."


ucap Marshall lagi menepuk bahu Aaron, lalu berlalu pergi menuju kekamarnya dan meninggalkan Aaron yang nampak tak bergeming. entah mengapa Aaron masih sangat takut bila maminya itu akan kembali menyakiti Kinara dan membuatnya jauh dengan istrinya itu. sejujurnya Aaron masih belum siap bertemu lagi dengan Claire.


***


Kinara baru saja selesai membersihkan diri. ia keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai bathrobe dan rambut basah yang tergerai panjang.


ia melihat Aaron yang sudah bertelanjang dada seperti biasanya tengah berbaring diatas tempat tidur dengan melipat kedua tangan sebagai bantalan kepalanya. tatapannya menerawang keatas langit-langit kamar yang kosong. Aaron sepertinya sedang memikirkan sesuatu hingga tak sadar jika kinara menghampirinya.


" Hey, kenapa melamun ?"


" aku kangen kamu, kinar."


Aaron menatap wajah Kinara dari bawah. Kinara pun tersenyum menunduk memandangi wajah Aaron.


" sama."


jawab Kinara.


" sama apanya ?"


Aaron mengerutkan keningnya.


" kangen."


" kangen siapa ?"


" kamu lah. masa kangen ibu mu."


sahut Kinara cemberut.


Aaron jadi teringat kembali rencana kedatangan Claire dan Sergio besok. Aaron beranjak bangun dari posisi tidurannya lalu duduk berhadapan dengan Kinara diatas tempat tidur.


" besok mami Claire dan papi Sergio akan datang kemari."


ucap Aaron.


" apa ?"


Kinara membulatkan kedua matanya.


" katanya mami menyesal telah melakukan itu padamu, dan dia mau meminta maaf."


ucap Aaron.


Kinara terdiam. dia tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat apa yang akan terjadi hari esok. Kinara hanya berharap ibu mertuanya itu sungguh-sungguh telah berubah menjadi lebih baik dan tidak akan pernah lagi memisahkannya dengan Aaron.


" kamu jangan takut, aku akan selalu bersamamu."


Aaron tiba-tiba menangkup kedua pipi Kinara lalu menyatukan bibirnya dengan bibir merah muda milik istrinya itu.


tangan Aaron dengan lincah sudah menyelusup masuk kedalam Bathrobe dan bermain-main disana dua gundukan milik kinara.


" tidak sekarang, Aaron."


Kinara melepaskan pagutan bibir Aaron.


" kenapa ? aku menginginkannya, sayang."


sahut Aaron dengan wajah memelas.


" kau amnesia ya ? dokter Daniel tadi bilang jangan dulu. tunggu aku pulih dan kita harus memakai alat kontrasepsi terlebih dulu."


tutur Kinara berharap Aaron mau mengerti.


" memangnya masih terasa sakit ya ?"


tanya Aaron Polos.


" tidak."


sahut kinara.


" lantas apa lagi ? berarti tandanya kamu sudah pulih."


tandas Aaron. ia langsung menarik tubuh Kinara hingga posisinya kini berbaring diatas kasur. Aaron menindihh tubuh Kinara, dan sesaat mereka beradu pandang.


" jadi apa gunanya tadi bertanya sama dokter Daniel kalau akhirnya kamu sendiri melanggarnya ?"


tanya Kinara.


" habisnya kamu menggemaskan. boleh ya, kin ? please..."


Kinara jadi tidak tega melihat tatapan Aaron yang terlihat seperti anak kecil yang merengek meminta mainan pada ibunya.


akhirnya kinara pun mengiyakan. karena sesungguhnya ia juga menginginkan meski masih bisa bertahan demi kesehatannya. namun tidak dengan Aaron yang selalu memaksa dalam urusan seperti ini.


" pelan-pelan saja, Aaron."


" iya aku akan pelan-pelan dan tidak akan membuat mu kesakitan."


desih Aaron mulai melumat bibir istrinya dengan lembut.


.


.


.