
Aaron nampak berkutat dengan pekerjaannya dikantor bersama Naomi dan Sean. kini Sean menjabat sebagai wakil pimpinan diperusahaan.
" Sean, besok kau dan Naomi saja yang menghadiri pertemuan itu. aku tidak bisa ikut hadir karena ada janji dengan pihak bank."
ucap Aaron.
" pihak bank yang mana pak ? saya rasa untuk jaminan semua proyek kita sudah beres."
Naomi menyauti seraya mengerutkan keningnya.
" ini bukan masalah perusahaan, tapi keluarga."
ujar Aaron ketus karena ia merasa sekertarisnya itu benar-benar sok tau dan selalu mau tau urusannya.
Naomi hanya mencibir, ia sudah mulai terbiasa dengan sikap dingin atasannya itu.
" oke, jam berapa acaranya ?"
tanya Sean melirik ke arah Naomi. Naomi pun langsung membuka agendanya dalam notepad.
" jam 10 dihotel Agatha, pak Sean."
sahut Naomi kemudian.
" kalau begitu kita bisa sekalian check-in sebentar dong. iya kan nona ?"
goda Sean seraya menyenggol bahu Naomi yang duduk bersebelahan dengannya.
Naomi hanya menelan salivanya dengan raut muka yang mendadak merah seperti kepiting rebus.
" Sean !! bisakah kau serius untuk urusan pekerjaan ?"
tegur Aaron menautkan alisnya menatap tajam pada Sean.
" sorry, bro."
Sean malah menyeringai seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
tiba-tiba ponsel Aaron berbunyi. Aaron segera meraih ponselnya diatas meja.
" iya nek ada apa ?"
sahut Aaron ketika tau bahwa yang menelponnya adalah Shofi.
" sekarang kamu jemput Kinara dirumahnya ! nenek dan Tante Laras kini sedang berada di bridal tailor. kalian harus fitting hari ini juga. supaya semuanya cepat selesai. nenek tunggu sekarang ya, nak. cepat !"
" tap--"
Tut...Tut...Tut...
belum sempat Aaron menyahutinya, disebrang sana Shofi sudah langsung menutup panggilan telponnya dengan Aaron.
lalu Aaron menatap sejenak layar ponselnya yang masih menyala. dengan wajah kesal dan langsung melempar ponselnya kembali keatas meja. Naomi dan Sean terkejut dibuatnya.
" hey, what's up !"
sahut Sean memperhatikan wajah Aaron yang terlihat langsung ditekuk itu.
Aaron menyandarkan punggung ke sadaran kursi singgasana nya. ia nampak begitu tertekan seraya memijat-mijat dahinya sendiri.
" apa ada masalah dengan pak Aaron ?"
tanya Naomi berusaha mencari simpati nya.
" tidak. aku hanya terlalu sibuk saja hingga tak sadar seminggu lagi acara pernikahanku akan digelar."
ucapan Aaron berhasil membuat Naomi terperanjat kaget.
" apa ? memangnya pak Aaron akan menikah ?"
tanya Naomi seraya membulatkan kedua matanya begitu sempurna. Naomi betul-betul tidak menyangka bahwa pria pujaan nya diam-diam justru akan menikah dengan wanita lain.
" wow. akhirnya jadi juga kau menikahinya."
ucap Sean tertawa. Sean sudah mengetahui kejadian itu saat Aaron datang ke apartemennya untuk menceritakan semua dan hampir menghajar dirinya waktu itu.
tapi Sean sangat mendukung keputusan Aaron yang gentleman. dan mungkin itu yang terbaik buat Aaron karena dengan begitu kawannya itu akan terlepas dari cinta terlarang yang selama ini membelenggunya.
" sialan. semua gara-gara kau, bodoh."
sahut Aaron bersungut jengkel.
Sean lagi-lagi tertawa puas. sementara Naomi terlihat sangat bingung. ia tidak paham dengan arah pembicaraan antara bos 1 dan bos 2 itu.
Aaron beranjak dari tempat duduknya, lalu meraih kembali ponsel diatas meja dan berjalan menuju keluar dari ruangannya itu.
" hey! kau mau kemana ?"
teriak Sean saat langkah Aaron sudah didepan pintu.
" menjemput calon ratuku."
balas Aaron dengan nada masih kesal dan tanpa menoleh lagi kearah Sean ataupun Naomi.
Sean terkekeh geli.
" malu-malu kucing kau, Aaron. "
gumam Sean tersenyum miring.
" memang pak Aaron selama ini punya kekasih ya ?"
tanya Naomi dengan raut muka penasaran.
Sean menatap Naomi seraya menautkan kedua alisnya.
" tidak. kau kenapa Naomi, cemburu ?"
" bukan. bukan begitu pak. aku hanya bertanya saja."
Naomi terlihat gugup dan langsung menurunkan pandangannya.
" lupakan tentang dia. ayo, mending kita makan siang dulu !"
ajak Sean karena jam sudah menunjukkan waktu untuk istirahat dan makan siang. lalu ia pun beranjak keluar dari ruangan Aaron dengan diikuti oleh Naomi.
***
mobil milik Aaron berhenti tepat didepan rumah Kinara. didepan pintu rumahnya nampak Kinara sudah berdiri menunggu kedatangan Aaron, karena memang sebelumnya Laras telah menelponnya untuk segera bersiap-siap fitting baju bersama calon suaminya itu.
Aaron menurunkan kaca jendela mobil lalu membunyikan klaksonnya. melihat itu Kinara langsung menghampiri dan masuk kedalam mobil sport berwarna putih milik Aaron.
setelah pengakuan dirumah Kinara waktu itu, Aaron dan Kinara baru kali ini bertemu kembali. karena setelah kejadian itu Kinara tak pernah lagi datang kerumah Shofi. begitu juga sebaliknya, Aaron menyibukkan dirinya dengan bekerja dikantor. dan selama ini hanya Atreya lah yang sering berkunjung kerumah Kinara berkali-kali sepulang kuliah.
" bagaimana kabarmu ?"
sapa Aaron dibalik kemudinya.
" baik."
sahut kinara datar seraya melirik ke arah Aaron sekilas, lalu kembali membuang muka ke arah kaca jendela disampingnya.
keduanya pun kini saling diam. hanya suara musik menggema didalam mobil yang menemani mereka selama perjalanannya menuju tempat tujuan.
***
sampailah mereka didepan bangunan berkaca dengan banyak pajangan manekin berpakaian pengantin, berjejer rapi menyambut keduanya.
terlihat Shofi dan Laras tengah mengobrol dengan seseorang dilobby tempat wedding tailor itu.
Aaron dan Laras pun datang beriringan namun masih saling diam.
" kalian kok lama sekali sih, dari mana saja ?"
" calon pengantin ini kok serasi banget ya Oma. cantik dan ganteng lho."
sapa ramah seseorang bertubuh tambun dengan meteran baju yang tengah melingkar dilehernya. persis seperti designer terkenal yang sering nongol di TV itu.
" iya dong. ayo cepatlah bawa mereka masuk dan segera fitting yang benar karena acaranya tinggal seminggu lagi."
ucap Shofi kepada orang itu. lalu Aaron dan Kinara pun digiring masuk ke salah satu ruangan untuk melakukan fitting baju pengantin. Shofi dan Laras memutuskan untuk meneruskan belanja segala keperluan pernikahan ke mall yang berada tepat disebrang jalan.
***
" ribet amat. kenapa musti pake acara fitting-fitting segala."
Aaron bersungut dalam hati ketika disuruh mencoba setelan jas pengantin yang membuatnya gerah.
ia sangat malas melakukan fitting semacam ini. namun proses pengepasan perlu dilakukan. pasalnya, supaya pakaian pengantinnya sesuai dengan bentuk tubuh atau untuk mengetahui mana yang harus dikecilkan atau diperbesar.
sementara dikamar ganti lainnya, Kinara nampak mencoba gaun pengantinnya yang sungguh indah. Gaun berwarna putih dengan bahu terbuka atau biasa disebut model off-shoulder dan bawahan ruffles asimetris. membuat Kinara semakin cantik dengan tubuh mungilnya.
"apa ini tidak terlalu terbuka dan seksi ?"
Kinara menaikan gaun dibagian dadanya yang memang dirancang rendah agar terlihat belahan dada siempunya.
" tidak nona, ini sudah cocok. jangan dinaikkan lagi."
sergah wanita muda yang membantu Kinara memakaikan gaunnya.
" oh. ya sudah kalau begitu."
balas Kinara seraya mengerucutkan bibirnya.
" ayo nona kita keluar dulu. calon suami anda pasti ingin melihatnya."
wanita itu hendak menarik tangan Kinara keluar.
" tidak. aku tidak mau."
Kinara langsung menepis tangannya.
" lho kenapa nona ?"
" tidak apa-apa. aku hanya ingin membuat nya surprise saja diacara pernikahan nanti."
ucap Kinara terpaksa mengatakan itu agar wanita itu tidak banyak bertanya lagi.
" oh baiklah tidak apa-apa."
" bagaimana, sudah bereskan fittingnya ? ku rasa ini sudah pas dengan badanku. tidak kekecilan atau kebesaran."
ucap Kinara ingin segera membuka gaun yang membuatnya risih dan gerah itu.
akhirnya proses fitting pakaian pengantin pun selesai juga. Aaron dan Kinara keluar bersamaan dari ruangan itu.
" lho, nenek shofi dan mama mana ?"
Kinara mengedarkan pandangannya kesegala penjuru ruangan. begitu juga pandangan Aaron.
" Bu Shofi tadi sudah keluar, nona. sepertinya mereka masuk ke mall disebrang sana."
ucap salah satu receptionist yang memperhatikan gelagat keduanya.
" oh. begitu ya ? terimakasih informasinya."
balas Kinara seraya melepaskan senyumannya yang sedikit dipaksakan.
wanita receptionist itu pun kembali membalasnya dengan senyuman ramah seraya menganggukan kepalanya.
" apa kau mau menyusul mereka ?"
tanya Aaron menatap Kinara.
" tidak. aku mau pulang saja."
balas Kinara.
" ayo, akan ku antar kau pulang."
sahut Aaron lalu beranjak keluar dari bangunan itu menuju ke tempat mobilnya diparkir tadi, diikuti Kinara berjalan dibelakangnya.
selama diperjalanan Aaron dan Kinara masih saling diam. tidak ada yang berani memulai pembicaraan. sampai akhirnya Aaron mengeraskan suara musik diaudio mobilnya agar suasana disana tidak seperti dikuburan. Aaron nampak memanggut-manggutkan kepalanya mengikuti alunan musik seraya mengetuk-ngetukan jemarinya diatas stir kemudi.
Kinara sekilas melirik Aaron melihat kelakuannya yang aneh itu.
" dasar alay."
gumam Kinara.
" apa ?"
ternyata Aaron masih menangkap gumaman Kinara yang sangat pelan itu.
" tidak apa-apa."
Kinara langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
" kau pikir aku tuli ?"
Aaron langsung mematikan audio mobilnya. lalu beralih menatap pada gadis disebelahnya dan sukses membuat Kinara jadi ketakutan dan menyesali ucapannya barusan.
" jelas sekali tadi kau bilang aku alay. iya kan nyonya ?"
" kenapa kau panggil aku nyonya ? apa aku setua itu ?"
Kinara tiba-tiba berubah sewot.
" kau tidak sadar kalau Minggu depan kau akan jadi nyonya ? nyonya Aaron."
sahut Aaron menyeringai dengan tatapan meledek.
bola mata Kinara terbebelak saat tiba-tiba ada kendaraan didepannya mengerem mendadak.
" awass Aaron !!"
teriaknya.
Aaron reflek langsung mengerem mobilnya.
" lihat kedepan saja !! kau ini sedang menyetir."
tegur Kinara seraya ketakutan memandang terus ke arah depan menggantikan pandangan Aaron yang tengah menatap dirinya.
" apa kau takut ?"
Aaron malah memicingkan matanya seraya menyondongkan tubuhnya mendekat ke arah Kinara, karena terbersit jadi ingin menggoda gadis yang berada disebelahnya itu.
" jelas aku takut celaka, Aaron. ayo fokus kedepan !!"
reflek tangan Kinara mendorong rahang tegas milik Aaron agar pandangannya kembali fokus kedepan.
" gadis ini bodoh juga."
gumam Aaron dalam hati tersenyum miring. lalu ia kembali fokus dibalik kemudinya dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
.
.
.
.