In Your Love

In Your Love
dilunasi



Aaron dan Harris, mereka bertemu di salah satu bank swasta yang cukup ternama untuk melunasi seluruh tanggungan Revan yang belum terbayarkan. Harris adalah kuasa hukum Aaron yang mengurus segala keperluan keuangan Aaron.


setelah Aaron selesai melunasi utang-utang Revan dengan pihak bank, ia pun segera menyuruh Harris untuk memberikan bukti pelunasan dari bank kepada Revan.


" baik, pak Aaron. sekarang saya akan kerumah pak Revan untuk memberikan bukti pelunasannya."


" terima kasih, Harris. maaf saya menyuruh anda, karena saya sedang buru-buru ke kantor."


ucap Aaron seraya masuk ke dalam mobilnya.


" tidak apa-apa, pak Aaron."


sahut Harris tersenyum.


Aaron pun mulai menjalankan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan Harris yang masih berdiri ditepian jalan. setelah mobil Aaron berlalu, barulah Harris berjalan menuju mobilnya untuk pergi kerumah Revan.


***


dengan bantuan aplikasi waze akhirnya Harris bisa menemukan alamat rumah Revan. meski sebelumnya sempat frustasi karena kebingungan mencari alamat rumah ini.


" pak Revan ada, nona ?"


tanya Harris untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah alamat.


" ada. maaf ada kepentingan apa ya ?"


Kinara memperhatikan wajah asing Harris lalu menatapnya dari ujung rambut hingga ujung sepatu pantofel hitamnya.


" apa dia debt colector dari bank ?"


gumam Kinara dalam hatinya merasa was-was.


" bisa saya bertemu dengan pak. Revan ?"


ucap Harris lagi sukses membuyarkan kecurigaan Kinara.


" oh, papa sedang istirahat. memangnya ada keperluan apa anda mencari papa saya ?"


Kinara terpaksa berbohong, karena ia takut orang yang kini dihadapannya itu adalah suruhan dari bank untuk menagih tunggakan hutangnya. dan itu akan menambah beban pikiran ayahnya.


" siapa yang datang, kin ?"


tiba-tiba Revan keluar dari kamarnya. Kinara langsung menghampiri Revan.


" kenapa papa keluar ?"


bisik kinara.


Revan lalu menatap pada Harris dengan tatapan sangat asing, karena memang tidak pernah bertemu sebelumnya.


" anda dengan pak Revan Adiguna Putra ?"


" iya. maaf anda siapa ?"


Revan terlihat mengernyitkan dahinya bingung.


" saya Harris. kuasa hukum pak. Aaron."


jawab Harris seraya menjulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan Revan.


Kinara nampak terkejut. sementara Revan langsung menyambut uluran tangan Harris.


" oh, mari silahkan duduk !"


pinta Revan mempersilahkan tamunya untuk duduk.


Harris pun menjatuhkan tubuhnya dikursi kayu yang sudah nampak kusam itu.


" kin, ambilkan minum untuk pak. Harris !"


pinta Aaron.


Kinara pun langsung beranjak kedalam untuk membuatkan teh.


" ada yang bisa saya bantu, pak Harris ?"


tanya Revan memulai pembicaraan.


" tidak pak. saya kemari hanya ingin menyerahkan ini untuk anda."


Harris menyerahkan map berwarna biru kepada Revan. dan Revan pun langsung meraihnya dan membuka isi dari map itu.


bola mata Revan terbelalak saat melihat dan membaca isi dari kertas didalam map berwarna biru itu.


Kinara datang sambil membawa nampan berisi teh manis hangat untuk Harris.


" silahkan diminum pak !"


ucap Kinara.


sahut Harris langsung menyeruput teh hangat buatan Kinara. karena dari sejak mencari alamat rumah ini ia menahan tenggorokannya yang mulai kering.


Kinara lalu duduk disamping Revan yang masih memandangi isi map yang berada ditangannya.


" apa ini, Pah ?"


Kinara ikut membacanya dari samping.


" ini bukti pelunasan yang menyatakan papa telah melunasi utang papa pada bank ?"


Kinara terkejut seraya membulatkan kedua matanya.


" ini maksudnya apa, pak Harris ?"


Kinara kembali menatap pada Harris. berharap pria itu menjelaskan semuanya.


" jadi begini, tadi pagi saya dan pak Aaron telah melunasi semua urusan pak Revan dengan pihak bank. lalu setelah itu saya diminta kemari untuk menyerahkannya pada pak Revan, barangkali suatu saat anda membutuhkannya sebagai tanda bukti."


tutur Harris.


Revan dan Kinara hanya terdiam seraya beradu pandang.


" kenapa Aaron melunasi semua utang papa ?"


gumam Kinara dalam hati.


" jadi Aaron sudah melunasinya ?"


lirih Revan.


" betul sekali, pak Revan. kalau begitu saya permisi dulu, karena masih ada urusan lain."


Harris berpamitan hendak pergi.


" oh, iya pak. terimakasih."


jawab Kinara.


Kinara dan Revan mengantar Harris sampai kedepan pintu rumah. sampai akhirnya mobil Harris pun berlalu dari hadapannya.


Revan kembali ke kamarnya. ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. pikirannya terasa berat dan tubuhnya terasa lelah.


lalu Kinara datang dengan membawa map yang tadi tergeletak diatas meja ruang tamu itu masuk kedalam kamar Revan dan meletakkan dimeja samping tempat tidur.


" apa kau yang meminta Aaron untuk melunasinya ?"


tanya Revan.


" tidak pernah, pa. kin masih sanggup melunasi utang papa. saat ini kin memang belum mendapatkan pekerjaan lagi. tapi rencananya setelah menikah nanti, kin tetap akan mencari pekerjaan untuk melunasi utang papa itu."


jawab Kinara.


" sekarang utang papa di bank sudah dilunasi oleh Aaron. mungkin sebaiknya kau temui dia, kita harus berterima kasih padanya, kin."


ucap Revan semakin berat karena ia merasa tubuhnya sangat kelelahan dan lemas.


Kinara yang melihat perubahan ayahnya itu jadi merasa khawatir.


" sebaiknya papa banyak istirahat. jangan terlalu dipikirkan. Sekarang papa makan ya, kin akan ambilkan dulu dibelakang."


Kinara hendak beranjak ke dapur untuk mengambilkan makan tapi tiba-tiba Revan menarik tangan Kinara.


" sekarang kau temui Aaron dulu dikantornya. kita harus segera berterimakasih padanya. uang yang sudah dilunasi Aaron itu tidak sedikit. papa belum tenang bila belum berterima kasih dan minta penjelasan padanya."


pinta Revan.


" tapi papa belum makan. masa Kinara meninggalkan papa sendiri dirumah ? mama kan masih nanti sore selesai bekerja di catering."


ucap Kinara merasa berat meninggalkan ayahnya.


" sebentar lagi Kanaya pulang sekolah, dia yang akan mengurusi papa. nak."


" tapi Pa--"


" jangan membantah sudah pergilah, kin !! papa tidak apa-apa."


ucap Revan sedikit membentak.


akhirnya Kinara terpaksa mengiyakan permintaan Revan. ia pun bergegas berganti pakaian, lalu pergi untuk menemui Aaron dikantornya.


.


.


.