In Your Love

In Your Love
pesona atreya



seperti biasa kegiatan atreya masih seputaran kampus dan rumah. dengan segala keterbatasannya membuat ia hanya melakukan hal-hal yang simpel dan monoton.


kini hari-harinya nampak membosankan. sejak tidak ada Kinara dan Aaron dirumah, Atreya jadi malas pulang kalau sudah berada dikampus. ditambah Shofi selalu sibuk dengan usaha restoran barunya dan juga kegiatan sosial dikomplek perumahannya. Shofi memang selalu nampak segar dan bugar diusianya yang mulai senja, karena ia selalu menerapkan pola hidup sehat yang tak pernah dilanggarnya.


hari ini setelah jam kuliah usai, atreya hendak ketempat parkiran menunggu jemputan mang Maman seperti biasanya.


" non, saya disini !!"


teriak mang Maman melambai-lambaikan tangannya saat melihat Atreya celingak-celinguk dari kejauhan seperti mencari mobilnya diarea parkiran.


pandangan Atreya pun langsung menuju ke sumber suara tadi. ia segera menghampiri mang Maman diujung area parkir. namun nahas, ketika atreya hendak menyeberang, tiba-tiba ada motor melaju sangat kencang, padahal masih dalam lingkungan halaman kampus.


'Bruukk.'


Atreya terpental ke tepian jalan. kepalanya membentur pembatas parkiran. dan motor si penabrak pun ikut terjatuh karena berusaha menghindar namun gagal.


beberapa mahasiswa disekitar sana tampak berteriak histeris. begitu juga mang maman, ia langsung berlari menghampiri majikannya yang tersungkur sudah dalam keadaan tak sadarkan diri.


" ya Tuhan. Non ! non Atreya bangun !"


mang Maman sangat panik ketika melihat darah dan luka robek di pelipis kanan atreya.


" hey, sat ! kamu harus tanggung jawab. dasar tukang ngebut !"


teriak salah satu mahasiswa kepada si penabrak yang masih tak bergeming dan terlihat shok dengan posisi badannya yang masih terhimpit motor. lalu ia pun berusaha bangkit bersama motornya dengan meninggalkan beberapa luka lecet ditangan dan kakinya.


" iya tanggung jawab tuh, sat."


" kasian. dia gadis difabel anak psikologi itu kan ?"


" di area kampus masih berani kebut-kebutan segala."


ucap beberapa mahasiswa yang tengah berkerumun mengitari atreya.


" aku tidak sengaja menabraknya. gadis ini tiba-tiba melintas begitu saja. jadi tak sempat injak rem."


ucap si penabrak mendekati kerumunan itu. Dengan penuh keberanian ia masuk dalam kerumunan untuk melihat orang yang telah ditabraknya tadi.


" cukup !! tolong bantu angkat majikan saya ke mobil. saya harus segera membawanya kerumah sakit."


mang Maman membentak para mahasiswa yang tengah ribut menggunjingkan sesuatu yang tidak penting. bahkan mereka bukannya langsung menolong atreya malah sibuk menonton dan hanya menyalahkan si penabrak.


si penabrak itu langsung merengkuh tubuh atreya untuk segera membawanya keluar dari kerumunan itu.


" dimana mobilnya, pak ?"


" disana, ayo cepat !"


mang Maman lebih dulu berjalan dengan cepat ke arah mobilnya terparkir untuk membuka pintu. lalu Atreya dengan sangat hati-hati dibaringkan ke jok penumpang oleh si penabrak.


" aku ikut. aku yang bertanggung jawab disini."


ucap pemuda yang menabraknya.


mang Maman hanya mengangguk dan akhirnya melaju dengan kecepatan sedang menuju UGD rumah sakit terdekat.


***


Shofi terlihat sangat cemas saat mang Maman memberikan kabar tentang cucu nya yang tengah berada di rumahsakit karena tertabrak.


" bagaimana keadaan atreya ?"


tanya Shofi sesampainya dirumah sakit dan melihat mang Maman yang sedang mondar-mandir didepan pintu ugd.


" si non masih ditangani dokter didalam. terakhir dibawa kemari masih tak sadarkan diri."


jawab Mang Maman terlihat pucat saat Shofi sudah berada dihadapannya.


" kenapa cucu ku bisa tertabrak, Man. kamu kemana saja sih ?"


" maaf, Bu. ini memang salah saya. tadi parkir mobilnya terlalu jauh, jadi si non harus jalan dulu. ketika menyeberang tiba-tiba ada motor ngebut melintas, lalu terjadilah kecelakaan itu."


ucap mang Maman terbata-bata.


Shofi hanya terdiam, ia sangat bingung dan khawatir memikirkan cucunya yang berada didalam sana.


sementara si penabrak tengah berdiri didekat mang Maman. dia juga terlihat cemas dan khawatir.


" oh, gadis itu bernama Atreya."


gumam si penabrak saat mendengar nama atreya selalu disebut-sebut. lalu ia pun segera menghampiri Shofi.


" saya mohon maaf."


ucap si penabrak seraya menurunkan pandangannya.


Shofi memicingkan matanya menatap pemuda yang kini dihadapannya itu.


" kamu siapa ? teman atreya ?"


tanya Shofi.


" saya yang telah menabrak atreya, Nek."


jawabnya lantang.


" apa ? jadi kamu yang sudah membuat cucuku celaka ?"


Shofi langsung mendorong pemuda itu karena kesal.


tak lama kemudian dokter yang menangani atreya pun keluar. Shofi beranjak mendekati sang dokter.


" bagaimana keadaan cucuku, dok ?"


" syukurlah dia baik-baik saja. robekan dipelipisnya sudah kami jait. dan sekarang cucu anda sudah sadar. tapi sepertinya harus tetap di opname untuk satu hari ini agar kami bisa memeriksanya lebih lanjut, karena takutnya ada luka dalam."


ucap dokter yang menangani Atreya.


" tidak masalah. lakukan yang terbaik untuk cucu ku, dok."


jawab Shofi akhirnya bisa bernafas lega.


" baik Bu. Sekarang anda bisa menjenguknya didalam. saya permisi dulu."


ucap dokter itu lalu beranjak pergi.


***


kini Atreya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap vvip. Shofi sedang ke ruang admisi untuk membereskan segala administrasi rawat inap cucunya. sedangkan mang Maman sudah pulang dari sore tadi.


atreya tengah berbaring ditempat tidur dengan jarum infus yang tertancap dipergelangan tangan kiri dan perban dikepalanya.


seseorang langsung masuk ke dalam kamar inapnya tanpa permisi dulu, dan membuat atreya terkejut karena dikira perawat rumahsakit yang datang.


" hey, kau siapa ? sepertinya salah kamar."


tegur Atreya sedikit ketakutan karena diruangan itu tidak ada seorangpun yang menemaninya. ia langsung mengambil panic button diatas kepalanya untuk berjaga-jaga jika orang asing itu seorang penjahat yang akan menyakitinya.


pemuda itu malah terdiam seraya memandangi wajah atreya yang tengah terbaring. ia seakan terhipnotis dengan pesona Atreya walau dalam keadaan luka seperti itu.


" ah, kenapa aku tidak tau kalau dikampus ada gadis secantik ini ?"


gumamnya dalam hati.


" hello... apa anda salah kamar ?"


sahut atreya membuyarkan lamunannya.


" oh, ya. atreya, aku minta maaf."


ucap pemuda yang kini berdiri disamping pembaringan atreya.


" kau siapa ?"


atreya mengernyitkan dahinya bingung karena pemuda itu mengenal dirinya sementara atreya sama sekali tidak mengenalnya.


" namaku Satria. kita satu kampus, aku anak teknik informatika."


ucap pemuda yang bernama Satria itu.


" hubungannya denganku ?"


sahut Atreya mendelik sinis.


" aku tidak sengaja menabrakmu tadi didepan kampus."


" kau ?"


atreya membelalakkan kedua matanya. rasanya ia ingin sekali memukul pria dihadapannya itu, karena telah membuatnya terbaring dirumahsakit dengan luka jahitan dipelipisnya. belum lagi luka lecet dan sakit disekujur tubuhnya karena sempat terguling-guling diaspal jalan.


" tolong maafkan aku, atreya. sungguh saat itu aku sedang tidak konsen. makanya tidak melihatmu saat menyeberang jalan."


Tiba-tiba satria memohon seraya memegang tangan atreya. namun atreya langsung menepisnya.


" meskipun saat itu kau sedang tidak fokus, tapi jika kau mengendarai motor bisa lebih pelan dari yang tadi, mungkin akibatnya tidak akan sefatal ini. jadi intinya cara kau mengendarai motor itu terlalu ugal-ugalan. apalagi masih didalam lingkungan kampus."


tutur Atreya lalu memalingkan wajahnya dari pandangan Satria yang membuat wanita manapun akan terpesona dengan tatapan lembut itu. dan Satria sendiri tertegun mendengar ucapan Atreya barusan.


" kau lagi ? mau apa kemari ? keluar, jauhi Atreya !"


tiba-tiba Shofi datang begitu saja tanpa disadari oleh keduanya.


" saya hanya ingin meminta maaf pada atreya, nek.


saya tau salah, tapi tolong maafkan saya. dan tolong jangan laporkan ke polisi atau ke dekan kampus. nanti saya akan menanggung semua biaya perawatannya."


" jadi kau meminta maaf karena takut aku laporkan ke polisi dan dekan ?"


atreya menatap datar pada Satria.


" bukan begitu. aku betul-betul ingin meminta maaf padamu, Rea. tapi jika kamu berkenan tidak melaporkan ku ke polisi dan dekan, maka aku akan sangat sangat berterima kasih."


Atreya berfikir bahwa kecelakaan tadi memang tidak sepenuhnya salah Satria. ia juga mengakui salah karena terlalu tergesa-gesa menghampiri mang Maman tanpa melihat sekitarnya.


" baiklah. aku tidak akan melaporkan atau menuntutmu. disini aku juga memang salah karena menyeberang tanpa tengok kanan-kiri terlebih dulu."


tutur Atreya dengan bijaksana.


" terimakasih, Atreya."


sahut Satria menarik garis bibirnya ke atas hingga membentuk senyuman seraya menghela nafasnya lega.


Shofi hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


" anak muda jaman sekarang memang luar biasa."


gumamnya dalam hati merasa bangga dengan Atreya yang mau memaafkan, dan Satria yang berani mengakui kesalahan.


.


.


.