
sejak pertemuannya dengan Aaron lima hari yang lalu, Kinara tak pernah tau kabar suaminya itu lagi. awalnya ia mengira Aaron akan berani datang kerumah dan meminta ijin untuk menjemputnya sekaligus meminta maaf kepada kedua orangtua kinara.
namun sampai saat ini pun Aaron tidak melakukannya. dan Kinara pun sudah tidak pernah mengharapkannya lagi.
hari minggu ini, Kinara kebagian jatah libur ditempat kerjanya, ia jadi bisa membantu Laras yang setiap harinya selalu sibuk dengan pesanan katering dari luar.
Revan datang menghampiri saat Kinara dan Laras tengah berkutat didapur membuat makanan ringan pesanan tetangga untuk acara arisan.
" papa butuh sesuatu ?"
sapa Kinara saat melihat Revan mendekati keduanya.
" tidak. papa hanya bosan saja menonton tv sendirian sementara disini pada sibuk memasak."
ucapnya seraya menjatuhkan tubuhnya diatas kursi berbahan plastik yang biasa mereka pakai untuk makan bersama didapur.
" papa lebih baik istirahat saja dikamar. tadi obatnya sudah diminum kan ? "
kata Laras lalu mendekati Revan berniat mengantarnya kekamar.
" sudah. tapi ada yang ingin papa bicarakan dengan kalian. kemarilah nak !!"
kata Revan membuat Laras dan Kinara terkesiap. Laras pun akhirnya duduk disamping sang suami.
" ada apa pa ?"
Kinara pun segera mencuci tangannya yang lengket sisa adonan kue lapis yang sudah ia bikin. lalu setelah itu menghampiri Revan dengan duduk dikursi makan dihadapan ayahnya itu.
" apa yang ingin papa bicarakan ?"
tanya Kinara seraya meraih tissue diatas meja untuk mengeringkan kedua tangannya.
" nanti malam om Rudi dan keluarganya akan berkunjung kesini."
ucap Revan.
" ooh kirain ada apa, kita sudah biasa saling berkunjung dari dulu."
sahut Laras.
" tapi kedatangan kali ini mereka ingin menjodohkan putranya dengan anak kita."
pernyataan Revan sukses membuat Laras dan Kinara terkejut.
" papa ini bagaimana sih. Kanaya masih SMA, tidak mungkin dia menyetujui untuk menikah muda."
sanggah Laras langsung tidak menyetujuinya.
" bukan untuk Kanaya, ma. tapi untuk Kinara."
sahut Revan.
" Apa ?"
Kinara membelalakkan kedua matanya melotot tak percaya.
" apa papa sudah tidak waras mau menjodohkan Kinara dengan anak Rudi ? anak kita sudah menikah, statusnya masih istri orang, pa."
sergah Laras mengusap wajahnya kasar. ia masih tak habis pikir dengan keputusan Revan yang menyetujui perjodohan konyol itu.
" papa akan segera mengurus perceraian Kinara dengan pria itu. dari dulu papa dan Rudi sudah sepakat menjodohkan mereka sebelum laki-laki itu datang menghancurkan semuanya. seharusnya kita bersyukur, Rudi dan anaknya mau menerima keadaan kinar yang pernah menikah."
" tidak bisa begitu, pa. kau belum menanyakan langsung pada kinar apakah dia mau atau tidak bercerai dengan suaminya."
bantah Laras.
" untuk apalagi mempertahankannya ? dia belum tentu kembali kesini lagi. jangan terlalu banyak berharap, sayang.
lagipula papa dan Rudi hanya ingin kinar dan anaknya saling mengenal terlebih dulu. tidak akan buru-buru menikahkannya."
kata Revan seraya menatap Laras dan Kinara yang tertunduk itu secara bergantian. Revan belum tau kalau sebenarnya Aaron telah kembali ke sini. hanya saja Aaron belum memiliki keberanian untuk datang dan menjelaskan kesalah pahaman itu pada keluarga Kinara.
" aku ke kamar dulu ma, pa."
tiba-tiba Kinara beranjak dari duduknya dan bergegas menuju ke kamar.
didalam kamarnya, Kinara menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosong. hatinya seakan menjerit menahan rasa sakit. bahkan air matanya tak berhak untuk mengadu akan rasa sakit yang kini tengah ia rasakan.
Kanaya sedari tadi memperhatikan kakaknya yang tiba-tiba masuk kedalam kamar saat ia sedang mengerjakan tugas sekolahnya dimeja belajar samping tempat tidur mereka berdua.
" kak kin, kau ini kenapa ?"
tanya Kanaya.
" aku baik-baik saja. lanjutkan saja belajar mu, sebentar lagi Ujian Nasional kan ?"
seulas senyuman mencoba mewakili rasa sedih dan kecewa yang Kinara alami.
Kinara menahan keras agar air matanya tidak jatuh , ia kembali mengalihkan tatapannya agar mengalihkan perhatian Kanaya, karena Kanaya masih memperhatikannya dengan tatapan heran.
Kinara meraih ponsel yang dibiarkannya tergeletak begitu saja diatas tempat tidur. ternyata ada beberapa notifikasi pesan masuk dua jam yang lalu. ia pun segera membukanya.
Ajeng :
kin, tadi ada seseorang yang datang ke cafe mencarimu.
Ajeng :
Ajeng :
pria bule, tapi bukan yang waktu itu
Ajeng :
PING
Ajeng :
PING
Ajeng :
kemana aja sih gak dibalas 😡
Kinara pun akhirnya membalas pesan-pesan dari Ajeng.
Kinara :
iya maaf tadi lagi sibuk didapur 🙏
Kinara :
sekarang orangnya masih ada gak ? abaikan saja, tidak penting.
dua menit kemudian, 'kling' suara pesan masuk dari ponselnya.
Ajeng :
udah balik dari tadi. katanya mau nyusul ke rumahmu saja.
Ajeng :
apa rahasia mu bisa didekati pria-pria keren seperti mereka ? apa kau punya pemikat sendiri y hehehe...
Kinara :
amit-amit. gak perlu dengan cara begituan kali, jeng.
Ajeng :
😝😂😂😂 oke besok kasih tau rahasianya y
Kinara pun tidak membalas pesan terakhirnya dari Ajeng. ia langsung teringat kata-kata Ajeng kalau dia akan menyusulnya kerumah.
Kinara yakin bahwa orang yang mencarinya ke cafe itu tak lain pastilah Aaron.
***
keluarga Rudi pun akhirnya datang juga, termasuk anak lelaki satu-satunya yang hendak dijodohkan dengan Kinara.
Revan meminta Kanaya untuk memanggilkan Kinara yang masih berada dikamarnya.
" kak kin, dipanggil papa tuh ! ada om Rudi, Tante Dewi sama anaknya datang. aku baru tau itu anaknya om Rudi, biasanya kan dia tidak pernah ikut kalau berkunjung kesini. apa jangan-jangan anaknya om Rudi sudah setuju ya dijodohkan dengan kaka ?"
sidik Kanaya memicingkan matanya penuh curiga.
" hush!! anak kecil tau apa. sana belajar lagi !! ini urusan orang dewasa."
tegur Kinara seraya mengusap wajah adiknya.
" Usiaku sudah hampir 18 tahun, kak. aku sudah tau tentang pahitnya kehidupan keluarga ini, termasuk peliknya kisah cinta kak Kinara dengan kak Aaron. jadi jangan pernah anggap aku anak kecil lagi. aku bahkan tau bagaimana perasaan kakak yang tidak bisa menolak kemauan papa sementara hati kakak masih terkunci oleh seseorang. ya, seseorang itu suami kakak sendiri."
tukas Kanaya meyakinkan kakaknya itu. namun Kinara hanya diam saja.
" kak kin..."
Kanaya mengeraskan suaranya.
" kamu memang benar, nay. aku tidak bisa berbuat apa-apa."
sahut Kinara mengakuinya. lalu ia beranjak dan berjalan mendahului Kanaya. demi Tuhan, rasa sakit ini semakin menjadi. tapi untuk apa lagi dia mengharapkannya lagi, bahkan sampai saat ini pun orang itu tidak pernah datang kemari secara baik-baik untuk menjemputnya.
" ya Tuhan, kenapa kehidupan rumah tanggaku seperti ini ?"
Kinara berjalan dan sejenak memejamkan kedua matanya. buliran air ikut mengaliri sudut matanya. Kinara segera menghapus air matanya saat menyadari Kanaya sudah berada disampingnya menemani langkahnya menemui tamu yang sudah menunggunya didepan.
.
.
.
.
.
.
semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan dijauhkan dari segala penyakit ataupun virus covid-19.
aamiin yra 🤲🏻