In Your Love

In Your Love
seistimewa itu



lima hari pun berlalu. Aaron telah kembali ke kantornya setelah hampir seminggu tidak masuk kerja untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang sempat drop kemarin itu.


Aaron tengah mempelajari setumpuk berkas pengajuan tender yang telah dibuat oleh tim khusus dikantornya bersama Naomi dan Rio. Rio adalah salah satu tim khusus itu yang bertanggung jawab untuk urusan pemberkasan dan syarat tender.


" kapan pengumuman hasil tendernya ?"


tanya Aaron dengan tatapan masih fokus ke kertas-kertas dihadapannya.


" nanti sore jam empat, pak."


jawab Rio pasti.


" oke, semoga penawaran kita yang terbaik dan lolos."


tutur Aaron penuh harap.


" iya pak, saya optimis kita akan memenangkan tender ini. mengingat saingan kita yang lolos hanya tinggal tiga perusahaan saja, itupun penawaran mereka masih jauh diatas penawaran kita."


" Oya ? bagus kalo begitu."


Aaron membulatkan matanya lalu melirik kearah jam tangan rolex rantai yang melingkar ditangan kirinya.


" sudah jam dua belas, saatnya jam istirahat dan makan siang. kalian bisa pergi, terimakasih atas kerjasamanya."


ucap Aaron langsung menyunggingkan senyumannya seraya memandang ke arah Rio dan Naomi secara bergantian.


Rio pun lebih dulu beranjak pergi dari ruangan Aaron. dan kini hanya tinggal Aaron dan Naomi.


" apa kamu tidak makan siang, Naomi ?"


Aaron menatap sekilas melihat Naomi yang masih betah duduk dihadapannya. lalu kembali membereskan kertas-kertas yang berserakan diatas meja kerjanya.


" kan saya menunggu pak Aaron. bagaimana kalau kita makan siang bersama ? diujung jalan dekat kantor ini ada rumah makan Eropa yang baru buka. bapak pasti suka."


sahut Naomi genit dan penuh percaya diri.


Aaron menghentikan kegiatannya lalu menatapnya. Naomi terlihat salah tingkah melihat tatapan maut milik Aaron.


" tau dari mana kalau aku akan menyukainya ?"


tanya Aaron menaikkan alisnya sebelah pada gadis yang selalu berpenampilan seksi itu.


" pak Aaron kan dari Eropa."


sahut Naomi seraya mengibas-ibaskan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai seperti iklan shampo anti ketombe.


" makanan Eropa itu sungguh membosankan bagiku. sekarang aku lebih menyukai menu makanan yang ada dirumah makan Ampera disebrang kantor ini."


ucap Aaron santai.


Naomi terbelalak lalu menurunkan pandangannya. ia merasa kecewa atas penolakan Aaron sekaligus merasa malu dengan pernyataannya yang penuh percaya diri itu.


" kau selalu membuatku seperti ini, Aaron. hanya kau, pria bodoh yang selalu menolakku dan sayangnya aku menyukai mu."


gumam Naomi dalam hati seraya mengepalkan tangannya dibawah meja karena kesal terhadap perlakuan Aaron padanya yang selalu dingin.


' tok. tok. tok'


tiba-tiba pintu ruangan Aaron ada yang mengetuknya dari arah luar.


sontak Aaron dan Naomi kaget dan reflek melihat kearah pintu yang masih tertutup itu.


" masuk ! "


teriak Aaron mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam ruangan.


ternyata yang datang itu Rudi, manager HRD dikantor ini.


" pak Aaron maaf mengganggu sebentar. ada yang mau saya bicarakan dengan bapak."


ucapnya setelah Aaron mempersilakan Rudi masuk.


" pak Rudi tau kan ini jam istirahat ?"


seronoh Naomi melirikkan sudut matanya ke arah Rudi yang berdiri disampingnya.


" Naomi, bisa tolong keluar ! urusan kita sudah selesai. "


" tapi--"


" silahkan keluar !"


potong Aaron seraya menatap tajam pada Naomi.


akhirnya Naomi pun meng-iyakan nya dan beranjak keluar dari ruangan Aaron dengan hati penuh amarah dan wajah yang ditekuk.


" silahkan duduk, pak Rud !"


ucap Aaron mempersilahkan Rudi untuk duduk.


" ada apa ?"


" begini pak Aaron, saya mohon maaf sebelumnya karena telah lancang mempertanyakan perihal ini kepada bapak. saya dengar dari yang bersangkutan bahwa pak Aaron telah memberhentikan salah satu office girl yang bernama Kinara."


ucap Rudi.


" Kinara ?"


Aaron mengernyitkan dahinya.


" iya pak, dia salah satu office girl dikantor ini."


sahut Rudi.


" oo ya, aku lupa memberitahukan mu untuk memberikan pesangon karena aku telah memecat dia sebelum habis kontrak masa kerjanya."


ucap Aaron enteng.


" tapi kenapa bapak memecatnya ? yang aku tau Kinara gadis yang rajin dan bertanggung jawab. dia tidak pernah melakukan kesalahan dalam pekerjaannya."


ungkap Rudi membela Kinara.


" dia telah melakukan kesalahan, pak Rudi. bahkan telah melanggar peraturan pegawai dikantor ini."


" melanggar ?"


Rudi tampak mengerutkan dahinya seolah tak percaya.


" iya pak Rud. selain sudah terikat kontrak untuk bekerja dengan kita, dia juga bekerja ditempat lain. ya-- meski jam kerjanya memang tidak menggangu jam kerja disini, tapi saya tidak suka dan tidak terima. bagaimana imej kantor ini bila ada salah satu pekerja nya yang ternyata dimalam hari ia berprofesi sebagai lady escort ditempat karaoke. dan saya tidak mengada-ada. saya melihatnya sendiri disana."


tutur Aaron, sukses membuat Rudi membelalakkan kedua matanya seolah tak percaya.


" lady escort ? bukannya Kinara bilang menjadi waiters di kafe ? pak Aaron tidak mungkin berbohong. apa Kinara berbohong ?"


gumam Rudi dalam hati bertanya-tanya.


Rudi memang selama ini mengetahui kalau Kinara selain bekerja dikantor Aaron, ia juga bekerja ditempat lain pada malam harinya. namun yang ia tau, Kinara bekerja disebuah kafe dan bukan tempat karaoke.


semalam Rudi berkunjung kerumahnya karena beberapa terakhir ini Rudi tidak pernah melihat Kinara lagi dikantor dan sekalian menjenguk Revan.


akhirnya Kinara menceritakan semuanya bahwa ia telah dipecat oleh Aaron dan bersamaan dengan itu, dirinya dipecat pula dicafe tempat ia berkerja pada malam harinya. menurut pengakuannya.


" bagaimana pak Rudi ?"


tanya Aaron membuyarkan lamunannya.


" pak Aaron, saya minta tolong. Kinara adalah anak dari sahabat saya. ia sangat membutuhkan pekerjaan untuk membantu biaya pengobatan dan operasi ayahnya. kini ia menganggur, karena pada hari sama ia juga dipecat dari pekerjaannya ditempat karaoke itu."


ungkap Rudi.


" jadi pak Rudi tau kalau dia--"


" saya mohon maaf pak. Aaron. saya hanya ingin membantu anak dari sahabat saya. kini Kinara menjadi tulang punggung dalam keluarga nya. setelah ayahnya jatuh sakit, ia harus menggantikan posisinya untuk membiayai kuliahnya dan sekolah adiknya. belum biaya untuk kehidupannya sehari-hari. dan--"


"cukup !"


potong Aaron tiba-tiba.


" apa istimewanya seorang Kinara hingga membuat Atreya dan pak Rudi begitu membelanya. ciihh... Dimata ku dia hanya mencari simpati saja. dasar jalang."


umpat Aaron dalam hati kesal.


" aku tidak mau membahasnya lagi. kita bukan panti sosial, pak Rudi. Setiap manusia itu pasti punya masalah, dan itu tergantung dari manusia itu sendiri bagaimana caranya untuk bisa bertahan hidup dan menyelesaikan masalahnya. dan maaf, keputusanku tetap sama. aku tidak bisa mempekerjakan dia dikantor ini lagi."


ucap Aaron seraya beranjak dari tempat duduknya. lalu berjalan mendekati Rudi yang duduk tak bergeming.


" apa pak Rudi belum makan siang ?"


Aaron menepuk bahu Rudi. Rudi sontak terkejut dan langsung ikut berdiri. kini Rudi hanya pasrah dengan keputusan Aaron tentang Kinara. yang terpenting dirinya telah berusaha untuk membantu Kinara agar bisa kembali bekerja disini, namun keputusan tetap berada ditangan Aaron.


" oh, saya membawa bekal dari rumah, pak. setiap hari istri saya selalu membawakan bekal makan siang."


sahut Rudi.


" baik sekali istri anda, pak Rud."


" iya, ia istriku yang paling sempurna. segera lah menikah pak. pasti istri anda juga akan membawakan makan siang untuk pak. Aaron."


ucap Rudi menggoda Aaron, dan Aaron hanya menanggapinya dengan senyuman miring.


akhirnya Aaron dan Rudi keluar bersama-sama dari ruangan itu hendak makan siang.


.


.


.


.


jangan lupa like, komen, dan vote nya !! 🤗