In Your Love

In Your Love
surprise untuknya



sudah dua hari ini Claire dan Sergio menginap dirumah yang Aaron tinggali. sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di hotel karena Sergio merasa tidak nyaman terlalu lama tinggal dirumah bekas mantan kekasih istrinya.


sebenarnya Claire tidak setuju, karena dirinya tidak akan leluasa melancarkan rencana terselubungnya itu. namun apa boleh buat, ia juga tidak berani membantah suaminya yang telah memberikan segala yang Claire idamkan selama ini. apa lagi kalau kehidupan yang mewah dan glamor serta harta yang melimpah.


" jadi mami dan papi sekarang akan tinggal hotel ?"


tanya Marshall saat melihat pelayan dirumah itu memasukan dua koper baju milik Claire dan Sergio ke dalam mobilnya.


" iya, Shall. papi tidak enak tinggal disini. mending kami menginap di hotel saja agar lebih leluasa. benar begitu kan, Claire ?"


jawab Sergio seraya melirik kearah Claire yang terlihat masih menekuk wajahnya karena kecewa dengan keputusan Sergio yang ingin segera pindah ke hotel.


" iya."


sahut Claire datar.


" ngomong-ngomong mami sama papi akan berapa lama lagi di Dublin ?"


tanya Aaron yang baru saja datang dari dalam rumahnya.


" Minggu depan kami akan kembali ke LA. papi tidak bisa berlama-lama meninggalkan kantor. kau sendiri bagaimana Marshall ? sepertinya kau betah sekali tinggal bersama kakakmu."


Sergio terkekeh ke arah Marshall.


" iya, Pi. aku merasa nyaman tinggal disini. rasanya malas kembali."


jawabnya seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" apa-apaan kau Marshall, bagaimana dengan kuliah dan hotel mu itu ?"


Claire memelototi Marshall geram.


" itu urusan mudah, mam. kuliahku tetap berjalan lancar kok. kalau masalah hotel tenang saja, disana banyak orang-orang kepercayaanku yang mengurusnya."


sahut Marshall enteng.


" oh, jadi kau juga akan perlahan-lahan meninggalkan mami seperti kakakmu ini ? menyebalkan sekali punya 2 putra malah menjauh semua."


Claire terlihat kesal dan mengumpat kedua anak lelakinya.


" sepertinya kita harus membuat satu anak perempuan lagi untuk menemani hari tua kita, Claire."


goda Sergio berbisik ke arah telinga Claire yang membuatnya jadi bergidik.


" what ? apa kau gila aku disuruh hamil lagi ?"


teriak Claire. membuat Aaron dan Marshall yang mendengarnya jadi tertawa.


" tak ada salahnya kan kalau kita mencobanya ?"


sahut Sergio terkekeh. Claire langsung mendelik lalu segera masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan Leon untuk mengantar mereka ke hotel.


" oke, papi sama mami pergi dulu ya. nanti malam jangan lupa kita akan makan malam bersama direstoran yang sudah papi pesan khusus. kalian dan kinara jangan sampai tidak datang, karena kita akan memulai menjadi keluarga yang utuh dan lebih baik lagi."


ucap Sergio seraya menepuk bahu Aaron dan Marshall secara bergantian.


" oke, kami akan datang."


sahut Aaron.


Sergio pun mengangguk lalu masuk kedalam mobil menyusul Claire yang sudah lebih dulu duduk manis dikursi penumpang belakang.


Sergio membuka kaca pintu mobil dan melambaikan tangan pada kedua putranya itu.


" Pi, jangan lupa bikin adik perempuan buat kami ya !!"


teriak Marshall terkekeh.


" hush !! kau ini masih bocah tau apa."


Aaron menyikut perut Marshall. Marshall mendengus mendengar ledekan kakaknya.


Sergio hanya tersenyum seraya mengacungkan ibu jari tangannya, lalu menutup kembali kaca pintunya rapat. dan Leon pun segera melajukan mobil hitam berjenis Bentley State Limousine meluncur membelah jalanan yang ramai lancar itu.


***


Aaron kembali ke kamarnya setelah Claire dan Sergio pergi. ia melihat Kinara yang sedang duduk menyisir rambutnya didepan meja rias. lalu mengambil ponselnya diatas nakas. sepertinya Aaron akan menghubungi seseorang.


" Sean !!"


ternyata Aaron menghubungi Sean. Kinara langsung menyimpan sisir rambutnya lalu berdiri mendekati Aaron, karena rasanya ia sudah rindu ingin pulang. Aaron pun akhirnya mengaktifkan icon loadspeaker agar Kinara juga bisa mendengarnya.


" hey, kemana saja bro ? kapan balik nih ? aku kerepotan mengurus proyek yang sedang berjalan, ditambah ada proyek baru yang kita menangkan ditender kemarin."


ceroscos Sean disebrang sana.


" memangnya ada kendala ?"


Aaron nampak mengerutkan keningnya.


" tidak ada. cepat balik Aaron !! kau ini sungguh merepotkanku saja. aku selalu sibuk sendiri setiap hari, sedangkan kau enak-enakan saja honeymoon disana. bukankah urusanmu sudah selesai kan ? kemarin atreya bercerita banyak tentangmu dan Kinara."


ucap Sean berbicara cepat seolah sedang lari marathon.


" sudah bicaramu, Sean ? akan ku tutup, nanti aku kabari ketika akan kembali kesana."


" hallo Aaron, hall--"


Tut


Aaron pun langsung menekan ikon merah diponselnya.


" kenapa ditutup ? Sean kan belum selesai berbicara ?"


tegur Kinara mengernyitkan dahinya. Aaron lalu menyimpan ponselnya kembali keatas nakas.


" dia terlalu banyak bicara."


" Aaron, kapan kita akan pulang ? aku rindu mama dan papaku. "


" kalau begitu telpon saja mereka."


sahut Aaron enteng.


" aku rindu ingin bertemu, bukan mendengar suaranya. kalau hanya mendengar suara mereka, kemarin aku sudah menghubungi atreya dan kami ngobrol panjang lebar. bahkan hampir setiap hari papa menelpon ku sewaktu kau masih di LA kemarin."


ucap Kinara kesal karena Aaron sedikit kurang respect dengan keinginannya.


" entahlah, kin. aku juga bingung."


jawab Aaron mengusap wajahnya kasar.


" bingung kenapa ?"


tanya Kinara menatap tajam pada Aaron.


" nenek Shofi itu kan bukan nenek ku yang sebenarnya. apa aku masih pantas pulang kesana lagi ? secara aku tidak punya ikatan darah dengannya."


" jangan seperti itu, Aaron ! nenek tidak pernah membeda-bedakan mu dengan Atreya. nenek sangat menyayangimu seperti cucu kandungnya sendiri."


ucap Kinara. Aaron hanya terdiam, lalu melipat kedua tangan diatas perutnya.


" jadi kapan kita akan pulang ?"


Kinara kembali merengek.


" taun depan."


jawab Aaron menarik salah satu sudut bibirnya keatas membentuk senyuman jail.


" apa ? aku tidak mau. kalau kau masih ingin tinggal disini silahkan saja. aku akan pulang sendiri."


Kinara merasa kesal dan hendak beranjak namun tangannya segera ditarik Aaron hingga tubuh Kinara jatuh ke atas tubuh suaminya itu.


" memangnya kau berani pulang sendiri ?"


goda Aaron mendekap tubuh Kinara.


" kalau terpaksa aku berani kok. apa susahnya tinggal pesen tiket lalu ke bandara."


sahut kinara seraya memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


" memangnya kau punya uang ? bagaimana kau bisa pulang kalau uang untuk membeli tiketnya saja tidak punya."


Aaron tersenyum miring seraya menaikkan sebelah alisnya menatap wajah istrinya itu dengan begitu dekat.


Kinara langsung menghentakkan tubuhnya bangun dan menjauh dari Aaron. entah kenapa kata-kata Aaron barusan sangat menyinggung perasaan Kinara. Aaron memang benar, karena selama ini Kinara hanya bergantung pada Aaron. tapi apa pantas Aaron berkata seperti itu ?


Kinara pun berjalan kearah jendela kamarnya, pandangannya menerawang jauh. seandainya jarak antara dua negara itu sedekat seperti di peta dunia, mungkin Kinara tak perlu waktu berjam-jam dan uang yang banyak untuk bisa kembali pulang.


dada Kinara begitu sesak dan kepalanya terasa penuh karena memikirkan ini semua. ia sangat merindukan rumahnya.


" Kinara, tadi aku hanya bercanda."


lirih Aaron yang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. suaranya terdengar begitu berat ditelinga Kinara.


" maafkan aku telah menyinggung hatimu."


ucap Aaron kembali seraya menekan wajahnya dan mencium kepala Kinara. sumpah demi apapun, ucapan Aaron begitu menyesakkan dada Kinara, hingga terlihat jelas buliran air mata membasahi wajah Kinara saat ini. ia pun mencoba memejamkan matanya tak menghiraukan ucapan Aaron.


Aaron perlahan memutar tubuh Kinara hingga menjadi saling berhadapan. Aaron mengambil sesuatu dibalik bajunya yang ia selipkan dicelananya.


" happy valentine day, istriku."


ucap Aaron menunjukan kotak panjang menyerupai kotak perhiasan berwarna hitam.


Kinara terkejut, bahkan ia lupa kalau hari ini 14 February. dan memang selama ini memang Kinara tidak pernah merayakan yang namanya hari kasih sayang. baginya setiap hari itu sama saja.


sedangkan Aaron berbeda, dari kecil setiap tahun selalu merayakan hari valentine bersama keluarga dan teman-temannya. dan itu wajar karena Aaron-Kinara memang berbeda ras dan budaya.


" apa ini ?"


Kinara menyipitkan kedua matanya memperhatikan kotak yang tengah dipegangi suaminya itu.


" ambilah ! ini untukmu."


perintah Aaron.


Kinara pun perlahan mengambil kotak hitam dari tangan Aaron lalu membukanya.


dan saat kotak itu terbuka, kedua bola mata kinara seketika berbinar dengan bibirnya sedikit terbuka. ternyata didalamnya terlihat satu set Kalung dan Cincin berlian yang sangat cantik.


" indah sekali. ini pasti sangat mahal kan, Aaron ?"


tanya kinara menatap lekat suaminya.


Aaron pun menggelengkan kepalanya. ia langsung mengambil cincin itu dan menyematkannya dijari manis tangan kiri Kinara. ukurannya sangat pas dengan jari kinara yang mungil. setelah itu Aaron kembali memakaikan kalung itu dileher jenjang Kinara dengan sangat hati-hati.


" terimakasih, Aaron. sebenarnya aku tidak butuh ini semua. aku hanya ingin pul--"


belum sempat Kinara melanjutkan kalimatnya, Aaron langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Kinara lalu menciumnya dengan lembut.


" kita akan pulang setelah mami dan papi kembali ke LA."


ucap Aaron disela-sela pagutannya. Kinara pun tersenyum begitu bahagia.


....


....


....