
20 menit kemudian setibanya dirumah sakit miliknya, Aaron langsung mengangkat tubuh Kinara kedalam sana. petugas rumahsakit segera menghampirinya dengan menggeret tempat pembaringan. Aaron langsung meletakkan tubuh Kinara diatas pembaringan, lalu petugas rumahsakit itu segera mendorongnya ke ruang IGD. dokter pun segera menangani Kinara lalu menyuruh Aaron dan Marshall untuk menunggunya diluar.
Aaron langsung merogoh ponsel disaku celananya dan menghubungi seseorang.
" paman, Kinara sekarang berada dirumah sakit. ia mengalami pendarahan hebat."
ucap Aaron panik. ternyata ia menghubungi Daniel.
" sebentar lagi aku tiba disana, Aaron. ini kebetulan sedang perjalanan menuju rumahsakit."
jawab Daniel.
Aaron pun merasa sedikit lega lalu menutup panggilan telepon nya.
sepuluh menit kemudian Daniel pun datang. ia langsung menghampiri Aaron yang masih terlihat mondar mandir didepan pintu ugd.
" Aaron, apa Kinara masih ditangani didalam ?"
tanya Daniel menepuk bahu Aaron dan membuat Aaron menghentikan kakinya. Aaron hanya mengangguk pelan dengan tatapan datar pada Daniel.
" oke, aku akan masuk. kau tenanglah dulu."
Daniel pun membuka pintu ugd itu dan masuk kedalam.
" aku akan ke kantin membeli minuman. kau mau ikut ?"
ajak Marshall beranjak dari duduknya.
Aaron langsung menatap ke arah Marshall.
" pergilah !! aku disini saja."
sahut Aaron sedikit kesal. bagaimana mungkin Aaron menerima ajakan adiknya itu ke kantin sementara ia tengah cemas mengkhawatirkan kinara.
"oke."
Marshall pun akhirnya memutar badannya berjalan menuju kantin rumahsakit.
tak lama kemudian, dokter Daniel keluar dari ruangan UGD. Aaron langsung menghampirinya.
" paman, bagaimana kondisi Kinara dan kandungannya ? baik-baik saja kan ?"
tanya Aaron cemas.
" maaf, kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada dirahim istrimu, Aaron. Kinara keguguran dan harus segera dikuretase."
Aaron begitu terkesiap mendengarnya. tubuhnya melemas seketika. ia merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Kinara.
" lalu bagaimana dengan kinara, paman ?"
tanya Aaron kemudian sangat khawatir.
" Kinara masih lemah. ia mengalami dehidrasi dan anemia. ditambah ada luka-luka memar diwajah dan tubuhnya. apa yang terjadi pada istrimu, Aaron ? kau tidak melakukan kdrt kan ?"
ungkap Daniel.
" ini semua perbuatan ibu kandungku, paman. ia menyuruh sekelompok orang untuk melenyapkan Kinara."
" apa ? jadi ini ulah Claire ?"
Daniel membelalakkan kedua matanya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
Aaron hanya mengangguk lemas.
***
setelah Kinara selesai dikuret, ia dipindahkan keruang rawat inap. sudah dua jam lamaya Kinara belum sadar karena pengaruh obat bius dan memang kondisinya yang masih sangat lemah.
Marshall tengah menunggu Kinara dengan duduk disofa penunggu pasien diruangan itu, karena Aaron masih menemui dokter Daniel diruangannya untuk membicarakan kondisi Kinara.
tiba-tiba Kinara mengerjap, mata sayunya itu membuka perlahan karena masih menyesuaikan dengan Cahaya lampu yang menyorotinya dari atas. ia melenguh kesakitan saat menggerakkan tubuhnya terutama dibagian punggung akibat beberapa cambukan yang dilakukan pria kejam itu.
Kinara mengedarkan pandangannya, lalu tertuju pada seseorang yang sedang duduk disofa tengah asik memainkan ponselnya.
suara lemah itu sukses membuat Marshall terperanjat dari tempat duduknya.
" kau sudah bangun ?"
Marshall lalu berjalan mendekati pembaringan Kinara.
" kamu siapa ? dimana Aaron ? apa kau bagian dari para penjahat itu ?"
mimik wajah Kinara berubah menjadi ketakutan. ia hendak beranjak menjauhkan tubuhnya. Kinara masih takut bila ada pria asing yang mendekati dirinya.
" tenanglah, aku bukan orang jahat. namaku Marshall. sebentar lagi Aaron akan kesini, dia sedang menemui dokter Daniel diruangannya."
ucap Marshall memegang tangan kinara, maksud hati ingin menenangkan namun kinara langsung menepisnya.
" kau teman Aaron ?"
Kinara melirik wajah Marshall yang berdiri disamping pembaringan.
" bukan."
jawab Marshall.
Kinara mengerutkan keningnya bingung.
" Marshall adikku, kin."
sahut Aaron yang entah sejak kapan sudah berada diruangan itu. ia mendekat lalu mengelus puncak kepala Kinara.
" oh."
Kinara membulatkan bibirnya. lalu meraba perutnya yang sudah tampak rata. ia merasa ada yang berbeda, kemarin perutnya agak buncit dan keras. tapi ini ?
" aku sangat lelah. aku akan mencari hotel terdekat dari sini. tubuh ini terasa lengket, rasanya ingin segera mandi."
ucapan Marshall membuyarkan praduga Kinara.
" tak perlu cari hotel segala. pulanglah ke rumahku, biar anak buah Leon yang akan mengantarmu. mereka masih menunggu dimobil. pergilah !!"
ujar Aaron.
akhirnya Marshall pun mengikuti saran dari Aaron. ia berpamitan terlebih dulu pada Kinara. dan Kinara hanya membalasnya dengan anggukan saja.
setelah Marshall sudah tak terlihat lagi diruangan itu, Aaron kembali memperhatikan Kinara yang masih terlihat pucat.
" Aaron, apa bayiku baik-baik saja ?"
Kinara menatap Aaron seraya memegang perut ratanya.
Aaron terdiam, bola matanya terlihat berputar. ia masih bingung bagaimana mengatakannya pada kinara. Aaron merasa, satu-satunya orang yang patut disalahkan disini adalah dirinya. dirinya yang tak becus memperhatikan kondisi kinara yang tengah hamil muda. seharusnya ia menunda dulu pencarian serta pertemuan dengan ibu kandungnya itu, dan lebih memprioritaskan Kinara. tapi semua kini sudah terlambat.
" apa ada masalah ?"
tanya Kinara semakin curiga melihat sikap Aaron yang diam membisu.
Aaron menghela nafasnya dalam-dalam sebelum menjelaskan semuanya. rasanya ini sulit, tapi Kinara harus tau dan menerima kenyataan yang ada.
" anak kita tidak bisa diselamatkan, sayang. dia tidak kuat dan masih terlalu kecil. maafkan aku."
lirih Aaron membuat kedua mata dan bibir Kinara tak bergeming. tubuhnya terhenyak tak berdaya. Kinara mengelus-elus perutnya. kedua mata kinara sejenak terpejam, bahkan tak sedikit air mata yang ikut tersapu basah disana.
meski usia kandungan masih terbilang masih muda, namun Kinara benar-benar bersedih dan terluka. ia masih mengingat bagaimana dirinya merasakan kebahagiaan tiada tara saat mendengar detak jantung janinnya dengan alat fetal Doppler dan melihat tumbuh kembang janin dilayar monitor saat di USG oleh dokter Daniel Minggu yang lalu.
" Kinara..."
suara Aaron membuat Kinara kembali membuka matanya. air matanya mengalir deras membasahi kedua sudut matanya.
" mungkin ini yang terbaik, Tuhan belum mempercayakannya pada kita. maaf kan aku, kin. aku tidak bisa menjaga mu dan bayi kita. "
lirih Aaron mengecup punggung tangan Kinara. bahkan kedua mata dan hidung Aaron sudah memerah karena menahan rasa sedih dan kecewanya.
kinara hanya terdiam. ia sedang berusaha berdamai dengan keadaan. keadaan yang mengharuskan dirinya kehilangan calon bayinya.