In Your Love

In Your Love
tinggal di apartemen



sudah hampir satu jam Aaron menunggu kedatangan Sean untuk menjemput. batinnya terus mengumpat karena kawannya itu tak kunjung datang. raut wajahnya terlihat sangat cape, bahkan Aaron terlihat lusuh dengan berjongkok disamping koper hitam miliknya seperti turis asing yang terlantar begitu saja karena kehabisan bekal.


tak lama kemudian Sean dan Atreya pun tiba dan segera menghampirinya. Sean menepuk bahu Aaron hingga membuat dirinya terperanjat karena kaget.


" ah sialan. "


umpat Aaron


" kau ini mengenaskan sekali, jauh dari kata seorang CEO O'Neill company."


ledek Sean dengan mengeraskan tawanya. Aaron semakin mendengus kesal mendengarnya.


" maaf kak, dipersimpangan lampu merah depan ada kendaraan yang mogok ditengah jalan, makanya timbul kemacetan panjang."


Atreya menimpalinya dan membuat Aaron percaya bila Atreya yang menjelaskan alasannya.


Aaron langsung merengkuh tubuh Atreya. atreya sempat terkejut dengan sikap kakaknya itu, mengingat terakhir bertemu hubungannya memang sedang kurang harmonis diantara kakak-beradik itu.


" Rea, maafkan sikapku yang terakhir padamu waktu itu ya. sungguh aku benar-benar rindu dengan mu."


ucapnya seraya mengecup kening Atreya dua kali lalu melepaskan pelukannya.


" iya kak tidak apa-apa. aku sudah melupakan semuanya. yang penting sekarang Kaka udah pulang."


sungguh atreya sangat bahagia sekali dengan kepulangan Aaron. ia tidak menyangka kakaknya itu akan kembali pulang mengingat kejadian terakhir kali yang pernah Kinara ceritakan padanya.


" ayo. sebaiknya kita pulang ke rumah nenek sekarang, Kak !! nenek pasti akan senang dengan kedatangan kakak."


ajak atreya. Sean pun turut membantu membawakan koper dan tas ransel milik Aaron.


" tidak Rea, aku akan pulang ke apartemen saja."


sahut Aaron, sukses membuat Atreya membelalakkan kedua matanya kaget. begitu juga dengan Sean.


" apartemen ?"


atreya mengulanginya bingung.


" iya, dulu aku membeli apartemen itu untuk Kinara sebagai hadiah pernikahan kami."


kenang Aaron.


sebelum menikah, Aaron diam-diam sudah membeli sebuah apartemen mewah. tadinya setelah menikah dengan Kinara, Aaron ingin hidup mandiri. namun nenek Shofi malah melarang Aaron untuk keluar dari rumahnya sampai akhirnya Aaron menunda rencananya itu sampai menunggu waktu yang tepat untuk membahasnya lagi.


akhirnya Aaron menyewa jasa pembersih untuk apartemennya agar tetap terjaga dan terawat hingga suatu hari nanti bisa ditempati.


" jadi Kaka tidak akan tinggal bersama denganku dan nenek lagi ?"


terlihat guratan kesedihan diwajah atreya. Aaron langsung mengusap puncak kepala Atreya dan mengecupnya.


" Kita akan selalu bertemu, Rea. aku akan sering berkunjung kerumah nenek, karena kalian tetap segalanya dalam hidupku."


ucapan Aaron membuat atreya merasa lega dan kembali memeluknya dengan menenggelamkan kepalanya di dada bidang Aaron.


" apa kalian akan menginap disini ? baiklah kalau gitu aku pulang duluan."


sahut Sean yang tiba-tiba saja pergi begitu saja meninggalkan Aaron dan Atreya seraya menggeret koper milik Aaron.


" hey, tunggu Sean !!"


teriak Aaron melepaskan sejenak rengkuhan atreya lalu menggandeng tangan adik perempuannya itu.


Sean mengantarkan Aaron ke apartemen barunya yang hanya berjarak dua kilometer dari kantornya. namun sebelum itu terlebih dahulu Sean mengantarkan Atreya ke kampus untuk mengejar jam kuliah ke duanya.


***


" Sean, bagaimana keadaan kantor. kau bisa menghandle semuanya kan ?"


tanya Aaron sesampainya di apartemen yang sekarang jadi tempat tinggalnya itu.


" sejauh ini lancar. kau tenang saja, bersama ku semua akan aman-aman saja. hanya--"


Sean tidak melanjutkan kalimatnya. ia malah menyandarkan punggungnya diatas sofa apartemen milik Aaron seraya menyalakan tombol remote televisi.


" hanya apa ? bicara yang benar, jangan setengah-setengah begitu. cepat katakan !"


teriak Aaron sambil melemparkan salah satu bantal sofa yang berwarna putih bersih itu tepat dimuka Sean.


" hanya aku yang butuh bantuanmu. sekarang atreya sedang dekat dengan seorang pria dikampusnya. mereka semakin akrab meski atreya sering mengatakan bahwa mereka hanya berteman saja. tapi aku tidak percaya dengan pertemanan murni antara pria dan wanita. itu omong kosong, men."


" lha, terus hubungan mu apa ? Rea itu sudah dewasa, aku percaya dia."


sahut Aaron tak terlalu memperdulikan omongan Sean. ia malah beranjak ke pantry hendak membuka kulkas mengambil minuman dingin.


" setidaknya bantu aku buat jadi adik iparmu."


teriak Sean yang berbalapan dengan volume tv yang berisik.


" apa ?"


Aaron berjalan kembali mendekati Sean seraya menenteng dua kaleng minuman dingin yang salah satunya telah ia buka untuk dirinya sendiri. lalu yang satunya lagi diberikan pada Sean.


" tidak apa-apa. lupakan saja !!"


balas Sean jadi malas untuk membahasnya. ia pun langsung membuka segel minuman kaleng aluminium yang diberikan Aaron tadi menggunakan jari telunjuknya.


" apa kau tidak menjemput Kinara ke rumahnya ?"


tanya Sean mengalihkan pembicaraan seraya menyeruput minumannya.


" entahlah. disini aku yang salah, tidak mempercayai ucapannya waktu itu."


Lirih Aaron seraya menurunkan pandangan. salah satu tangannya meremas kuat minuman kaleng aluminium yang baru di teguknya hingga cairan bersoda itu meluber keluar.


" memangnya apa yang terjadi sebenarnya ? sori, bukannya aku memihak kinara. tapi rasanya memang ada yang salah, dia tidak mungkin melakukan itu apalagi dengan adik iparnya sendiri."


ucap Sean.


Aaron hanya terdiam dan kembali meneguk sisa minumannya yang sudah banyak terbuang. ia kembali teringat dengan ucapan Marshall terakhir kalinya sebelum ia ditabrak seseorang hingga terluka parah dan mengalami koma saat ini.


" aku menyukainya, tapi ku tau kinar itu milikmu. temui dia sebelum semuanya terlambat."


.


.


.


.


maaf ya slow update. author masih dalam suasana berduka 😢 🙏