In Your Love

In Your Love
gara-gara minum



seminggu pun berlalu. Aaron sudah terbiasa dengan keberadaan Kinara setiap hari dirumahnya.


namun begitulah, Aaron lebih memilih diam dan tak pernah menyapa, menegur, ataupun meminta bantuan Kinara.


dan sejak hari itu pula Kinara tidak pernah berani masuk kembali ke kamar Aaron walau hanya untuk membersihkan atau merapihkan sprei kasurnya.


'drett...drett...drett'


tiba-tiba ponsel Aaron bergetar didalam saku celananya. ia pun segera merogohnya, dan ternyata Sean yang menelpon.


" hallo, Sean. ada apa malam-malam begini telpon ?"


" Aaron apa kau sudah pulang dari kantor ?"


ucap Sean terdengar panik disebrang sana.


" aku baru saja sampai rumah. ada apa ?"


sahut Aaron semakin menempelkan Ponsel pada telinganya karena terdengar sangat gaduh sekali disekitar sean.


" hallo, Sean !! suaramu tidak jelas. kau sedang dimana ini ?"


teriak Aaron.


" Aaron datanglah segera ke Rendezvous. aku butuh bantuanmu sekarang."


teriak Sean sayup-sayup dari sebrang sana.


" Rendezvous ? bukannya itu club malam ?"


gumam Aaron membulatkan kedua matanya.


" Aaron ! apa kau mendengar ku ? aku butuh bantuanmu."


" iya. iya Sean. aku akan kesana sekarang. kau ini menyusahkan saja."


balas Aaron kesal lalu menutup panggilan telponnya. Aaron padahal baru saja pulang dari pekerjaan lembur dikantornya. namun demi kawan, rasa lelah ia tepis begitu saja.


Aaron pun segera mengganti setelan jas kerjanya dengan t-shirt panjang berwarna abu dan celana blue jeans.


dengan terburu-buru ia keluar dari kamarnya hendak menyusul Sean ke klub malam itu.


saat diruangan tengah tiba-tiba Aaron berpapasan dengan Kinara. sepertinya Kinara datang dari arah dapur karena ditangannya tengah membawakan segelas air putih untuk Atreya.


" kau ? bukannya seharusnya tadi sore sudah pulang ?"


Aaron menatap tajam pada Kinara.


Kinara terlihat gugup saat sapaan entah teguran itu dari aaron.


" nenek Shofi tadi sore berangkat ke Jogja, pak. jadi beliau berpesan selama dua hari aku menginap disini untuk menemani atreya."


" oh. ya sudah."


sahut Aaron sikapnya terlihat acuh.


Aaron baru ingat bahwa kemarin Shofi mengatakan akan pergi ke Yogyakarta bersama ibu-ibu komplek. selain Arisan, piknik bersama menjadi agenda rutin dikomplek ini setiap awal tahun, tujuan utamanya sih guna mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan antar ibu-ibu sekomplek.


" pak Aaron mau kemana lagi ? bukannya baru saja datang ?"


tanya Kinara dengan ragu-ragu bertanya pada Aaron yang sudah terlihat makin tampan dengan gayanya yang casual, dan membuat Kinara pangling melihat pesona Aaron. karena baru kali ini Kinara melihat Aaron berpenampilan casual yang sesuai dengan usianya. biasanya Aaron terlihat lebih tua dengan setelan jas kantor yang selalu melekat ditubuh kekarnya itu.


" aku pergi kemana itu bukan urusanmu. pergi sana !!"


mendengar itu Kinara langsung bergegas pergi dari hadapan Aaron menuju kamar atreya. ia tidak mau mencari masalah baru dengan Aaron.


" sikapnya selalu saja begitu. kasar sekali bila dibelakang nenek Shofi dan atreya. kalau saja dia bukan tuan rumah disini mungkin sudah ku sumpal mulutnya dengan kain lap."


gerutu Kinara dalam hatinya merasa kesal.


namun dalam langkahnya menuju kamar atreya, ia kembali membalikkan tubuhnya untuk melihat Aaron, tapu ternyata sosok Aaron telah berlalu. Aaron sudah pergi bersama mobil sport putihnya untuk menemui Sean.


***


" Rea, ini minum mu. aku simpan disini ya."


Kinara menyimpan gelas berisi air putih itu diatas nakas samping tempat tidur atreya.


" terimakasih, kin."


atreya masih sibuk mengerjakan tugas kuliah didepan laptopnya diatas tempat tidur.


" oiya, apa kakakku sudah pulang ?"


tanya atreya dengan pandangan tetap fokus pada benda persegi tipis itu.


" sudah. tapi barusan dia pergi lagi keluar dengan mobilnya."


jawab Kinara lalu menjatuhkan badannya duduk disamping atreya.


" kemana lagi ? tumben kakak keluar rumah semalam ini."


" entahlah."


sahut Kinara mengangkat bahunya.


" apa kak Sean yang mengajaknya ?"


tanya atreya menduga-duga.


" aku tidak tau, Rea. tadinya aku mau menanyakannya, tapi tidak berani. tau sendiri kakakmu itu seperti apa."


ucap Kinara kembali kesal bila mengingat sikap terakhir Aaron tadi.


" memangnya tadi kakak ngapain kamu, kin ? apa dia menyakitimu lagi dengan kata-kata kasarnya ?"


tanya Atreya menatap Kinara seraya menaikkan alisnya sebelah penuh curiga.


" tidak Rea. dia tidak mengatakan apa-apa kok."


" lebih baik kita tidur. ini sudah malam, Rea. cepat tutup laptopmu itu !"


pinta Kinara.


" baiklah. aku juga sudah mengantuk."


jawab atreya lalu segera mematikan laptopnya dan menyimpannya diatas nakas.


sehabis itu Atreya meraih tongkat kruknya hendak beranjak turun dari tempat tidur.


" kau mau kemana ?"


tanya kinara.


" aku akan tidur dikamar nenek. kau tidurlah disini."


jawab atreya.


" kenapa kita tidak tidur berdua saja disini ? bahkan kasurmu ini masih cukup untuk tiga orang, Rea."


ucap kinara seraya mengedarkan pandangannya ke atas tempat tidur yang kini tengah didudukinya itu.


" aku tidak terbiasa tidur berdua, kin."


sahut atreya.


" ayolah Rea, bahkan sekarang aku yang tidak terbiasa tidur sendiri."


balas Kinara.


" kalau begitu kau harus cepat menikah. supaya setiap tidur selalu ada yang menemanimu."


ucap Atreya terkekeh.


Kinara mendengus. mendengar kata menikah dari mulut atreya malah membuat Kinara bergidik geli.


" sudahlah. aku akan ke kamar nenek. kau tidurlah yang nyenyak dikamarku ini ya."


atreya pun akhirnya beranjak keluar kamarnya menuju kamar Shofi yang berada dikamar utama berdekatan dengan ruang tamu.


***


sesampainya di klub malam, Aaron terlihat mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan yang penuh dengan orang-orang dengan urusan dan kesenangannya masing-masing.


" Aaron !!"


teriakan itu membuat Aaron reflek membalikkan tubuhnya menuju sumber suara.


" Sean. ada apa ?"


Aaron langsung menatap Sean dari ujung rambut hingga ujung sepatu ketsnya. namun Sean terlihat baik-baik saja.


" tidak apa-apa. ayo, aku traktir kau minum malam ini."


sahut Sean terkekeh seraya menarik tangan Aaron untuk duduk di mejanya.


" kau mengerjai ku ? brengsek kau, Sean."


ucap Aaron menepis tangan Sean dari lengannya.


" ayolah, Aaron. ini weekend. waktunya kita senang-senang bro. jangan lembur terus dikantor."


sahut Sean menyeringai.


Aaron mendengus. ia baru sadar bahwa Sean telah berhasil mengelabui dirinya.


" kau mau minum apa ? anggur ? vodka ?"


" terserah kau saja."


akhirnya lama kelamaan Aaron mulai menikmati suasana disana. dan dengan sekali tegukan saja Aaron terlihat beberapa kali meminta minuman dalam gelas slokinya untuk diisi kembali oleh bartender.


" sudah cukup Sean. aku mau pulang."


ucap Aaron berusaha beranjak dari tempat duduknya.


kedua mata Aaron sudah terlihat memerah, dan berjalannya sempoyongan dengan bertumpu tangan pada dinding untuk berpegangan.


" kau terlalu banyak minum Aaron. ayo aku akan mengantarmu pulang."


ucap Sean yang masih terlihat waras itu langsung membopong Aaron keluar dari tempat itu.


" hey, kau sendiri yang menggiringku kesini. menjadikan aku sepertimu yang senang minum dan dan bermain gila dengan wanita-wanita jalang. benarkan begitu Sean ?"


Aaron terkekeh dan tidak sadar dengan ucapannya itu.


" ayo masuk ke mobil !!"


Sean mendengus lalu mendorong tubuh Aaron untuk masuk ke dalam mobilnya.


" kau tau Sean ? aku memang dari dulu suka minum, tapi kalau untuk bermain dengan jalang, aku tidak mau. aku memilih setia untuk atreya."


Sean hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. ia sudah paham betul bagaimana menghadapi orang yang sedang teler seperti Aaron saat ini.


" dasar tidak waras. tadinya hanya untuk mengajakmu bersenang-senang. tapi ini malah menyusahkan ku saja. sialan !!"


umpat Sean dalam hati menggerutu dibalik kemudinya.


.


.


.


.