In Your Love

In Your Love
O'Neill Hospital



sore itu Aaron bergegas hendak menjemput Kinara dirumah mertuanya. namun saat akan beranjak keluar dari ruang kerjanya tiba-tiba suara ponselnya berbunyi dari dalam saku celananya.


ia pun segera merogoh dan langsung menyahutinya.


" hallo."


" dengan Aaron O'Neill ?"


" iya, siapa ya ?"


Aaron mengernyitkan dahinya mendengar logat bahasanya yang berbeda dari si penelepon.


" saya Nichole. anak dari dokter Daniel."


" dokter Daniel ? O'NEILL Hospital ?"


tebak Aaron ragu.


" iya. aku hanya ingin memberitahukan bahwa ayahku meninggal dunia satu Minggu yang lalu."


" apa ?"


Aaron benar-benar terkejut mendengarnya. ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


" jangan bercanda, Nick !"


" mana mungkin aku bercanda. aku berkata sebenarnya. ayahku meninggal karena kecelakaan lalu lintas bersama ibuku. untunglah ibuku baik-baik saja dan selamat."


Aaron terdiam. badannya tiba-tiba menjadi lemas tak bertenaga hingga ia harus berpegangan pada sisi meja. dirinya tidak menyangka akan mendapat berita duka tentang Daniel yang sudah ia anggap pamannya itu.


" Aaron, sekarang sudah tidak ada lagi yang menghandle O'Neill Hospital dan cabang yang lainnya. kau harus segara memikirkan itu. kami tidak bisa membantumu lagi. ayahku sudah tiada, lagipula kami punya perusahaan keluarga yang harus kami kelola sendiri."


tutur salah satu anak kembar dari Daniel dan Raya itu.


" oke, aku akan memikirkannya, Nick. kami disini ikut berbela sungkawa dan bersedih mendengar berita duka ini. tolong titip salam untuk bibi Raya, aku merindukan kalian semua."


ucap Aaron sebelum keduanya mengakhiri percakapan jarak jauhnya.


" ada apa ?"


tiba-tiba Sean datang dan mendapati sahabatnya itu tanpa ekspresi.


Aaron akhirnya menceritakan tentang kabar buruk yang barusan ia terima pada Sean.


" apa rencanamu sekarang ?"


tanya Sean kemudian.


" aku tidak tau, Sean. sebentar lagi Kinara melahirkan, dan dia juga pasti tidak akan mengijinkan ku ke Dublin."


ucap Aaron terlihat frustasi.


" lebih baik kau bicarakan ini dengan Atreya, mungkin dia punya solusi. anak itu kadang memiliki pemikiran melebihi kapasitas kita."


tutur Sean seraya menepuk bahu Aaron yang sedang kalut itu.


" ternyata kau tau banyak tentang dia ?"


Aaron melirik tajam pada Sean.


" adikmu itu memang menggemaskan."


balas Sean terkekeh, dan langsung mendapat tonjokan pelan didada dari kepalan tangan Aaron.


*****


Aaron dan Kinara baru saja tiba diapartemennya malam hari. tadi sepulang dari kantor, Aaron langsung menjemput istrinya dari rumah Laras dan membawanya pulang.


Aaron langsung memeluk Kinara dari belakang secara tiba-tiba.


" kangen."


bisiknya.


" baru beberapa jam gak ketemu saja udah kangen. gombal banget sih."


ledek Kinara seraya membalas pelukan itu sambil membisikkan sesuatu juga ke dekat kuping suaminya.


" mandi dulu, badanmu bau sekali."


Aaron langsung mengendus badannya sendiri. memastikan apakah badannya benar-benar bau seperti yang dikatakan istrinya.


" ya sudah, aku akan mandi. setelah itu jangan sampai kau menolakku lagi."


sambil menunggu Aaron yang tengah mandi, Kinara memutuskan untuk menonton televisi sambil merebahkan diri disofa. untungnya sebelum pulang tadi, mereka sudah makan malam terlebih dulu dirumah laras. jadi Kinara bisa bersantai tanpa harus menyiapkan makan malam untuk suaminya itu.


setengah jam kemudian Aaron selesai mandi dan sudah berganti pakaian. saat keluar dari kamar ia melihat istrinya itu sudah ketiduran disofa sambil memegang remote televisi ditangannya.


" apa yang dia lakukan dirumah orangtuanya sampai terlihat kelelahan seperti ini ?"


gumam Aaron. lalu memindahkan remote dari genggaman tangan Kinara ke atas meja.


" love you so much."


lirihnya seraya mengecup kening, lalu mengusap perut istrinya yang sudah membuncit dan tinggal menunggu beberapa hari lagi untuk melahirkan itu.


Aaron segera merengkuh tubuh Kinara dan membawanya kedalam kamar. memindahkan tubuhnya yang semakin berat ke atas tempat tidur tanpa membuat istrinya itu terbangun.


ia pun ikut merebahkan tubuhnya yang lelah disamping Kinara. berharap kedua matanya akan cepat tertidur namun masih tetap terjaga. Aaron membolak-balik kan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. namun entah kenapa tak menemukan posisi tidur yang nyaman. pikirannya masih kacau dengan masalah barunya itu.


Aaron kembali baranjak, lalu mengambil ponselnya diatas nakas untuk menelpon seseorang.


" hallo, gak salah kau meneleponku malam-malam begini ? ini waktunya orang tidur."


tegur seseorang disebrang sana.


" aku tidak bisa tidur, shall. bisakah kau membantuku ?"


" bantu apa ? menyanyikan mu lagu twinkle twinkle little star ?"


sahut Marshall terkekeh.


" yang benar saja, itu kan lagu bocah. aku hanya minta pendapat mu karena ada sedikit masalah yang membuatku gak bisa tidur."


balas Aaron.


" masalah apa ?"


tanya Marshall, dan Aaron pun mulai menceritakan tentang nasib rumah sakit peninggalan Daddy nya itu sepeninggal Daniel yang selama ini menghandle segalanya.


" kenapa kau tidak bicarakan dengan Atreya ? bukan kah rumah sakit itu juga miliknya ?"


" Rea masih kuliah, shall. takutnya malah mengganggu konsentrasinya nanti. hanya kau yang bisa membantu. ku harap kau mau menerima tawaran ku sementara ini untuk menggantikan posisi paman Daniel sebelumnya ?"


" aku ? tidak mau. aku belum pernah terjun di dunia rumah sakit seperti itu. bagaimana kalau mami saja ?"


tutur Marshall.


" Mami ?"


" iya mami. dia sudah sangat berpengalaman sekali dalam soal ini. dia juga pernah memiliki rumah sakit pemberian papi sebelum mami mengembalikan semuanya karena pengkhianatan papi."


Aaron terdiam. ia sedang berfikir dan mencerna semua kata-kata Marshall. memang dalam masalah ini, yang diperlukan adalah seseorang yang sudah berpengalaman seperti Daniel. kini Daniel sudah tiada, dan Claire lah satu-satunya orang berpengalaman dan terdekat saat ini. terlebih lagi sedikitnya Claire sudah paham dan tau tentang seluk beluk beberapa rumahsakit peninggalan Kevan, mantan kekasihnya dulu.


" apa dia bisa dipercaya ?"


tanya Aaron ragu.


" hey, kau masih meragukan mami ? tadi siang mami mengunjungi kedua orangtuanya Kinara untuk memulai niat yang baik. kami mengobrol banyak sampai mereka menjamu kami makan siang bersama."


" kau dan mami ke rumah mama Laras ?"


Aaron membelalakkan matanya sempurna. pantes saja kinara terlihat kelelahan seperti itu. ia pasti sibuk memasak untuk menjamu ibu mertua dan adik iparnya.


" ya, dan mami sangat menyukai masakan kinar. "


" oke, besok aku akan coba menemui mami. dan kau jangan berkata apa-apa dulu soal ini padanya !"


ucap Aaron.


" oke."


Aaron mengakhiri obrolan dengan Marshall. lalu menaruh kembali ponsel diatas nakas samping tempat tidur. ia pun kembali membaringkan tubuh lelahnya, dengan posisi menyamping menatap wajah Kinara yang sudah terlelap dalam mimpi indahnya.


.


.


.


.


.