In Your Love

In Your Love
ART baru



keesokan harinya Kinara pagi-pagi buta sudah datang dikediaman Shofi untuk memulai pekerjaan barunya menjadi ART, dengan syarat yang telah disepakati antara dirinya, Shofi dan Atreya.


Syarat pertama :


- tidak boleh putus kuliah


- jika ada jadwal kuliah, maka Kinara harus datang lebih pagi yakni jam lima subuh hingga satu jam sebelum jam kuliah dimulai.


- jika tidak ada jadwal kuliah, Kinara bisa datang agak siang, jam enam pagi hingga jam lima sore.


- hari Minggu libur.


kini pendidikan kuliah kinara mendekati semester akhir, jadi tidak banyak SKS yang ia ambil, karena dulu ia sudah mengambilnya disemester awal. dalam seminggu Kinara hanya ada jam kuliah tiga hari saja, itu pun tidak full. jadi sebetulnya waktunya banyak yang kosong dan terbuang.


untuk itu Kinara memohon-mohon pada Shofi agar dirinya bisa bekerja walau hanya menjadi ART dirumah ini. bagi Kinara yang penting pekerjaan itu halal dan tidak dicibir banyak orang seperti pekerjaannya yang terdahulu.


" sarapan lah dulu, Rea. tadi aku sudah membuatkan nasi goreng untuk mu dan Tante Shofi."


tegur Kinara saat melihat atreya keluar dari kamarnya sambil menggendong tas ransel dipundaknya.


" terimakasih, kin. tapi aku buru-buru nih. ada kuliah pagi. dan ada tugas yang belum sempat aku print semalam gara-gara printernya tiba-tiba rusak."


tutur atreya terlihat kesal dan cemberut.


" tapi kau harus tetap sarapan, Rea. tadi nenek Shofi berpesan sebelum ke pasar, kau harus sarapan dulu. dan minum susumu diatas meja !"


ujar Kinara seraya mengangkat jari telunjuknya kearah gelas berisi susu yang terpampang nyata diatas meja.


" baiklah akan ku minum susunya. tapi aku sedang tak ingin sarapan nasi goreng."


sahut atreya lalu tertatih-tatih melangkahkan kedua kakinya dengan bantuan tongkat kruk.


Kinara memperhatikan atreya yang masih nampak kesulitan berjalan itu meski dengan alat bantunya.


" kursi rodamu mana ? jangan bilang kau akan pergi ke kampus dengan kruk itu, Rea."


tanya Kinara setelah menyadari atreya keluar dari kamarnya, dan hendak berangkat ke kampus tanpa kursi rodanya.


" memangnya kenapa ?"


sahut Atreya setelah menyeruput habis susu dalam gelasnya.


" tidak apa-apa Rea. aku hanya--"


" tidak percaya dengan kemampuan berjalanku begitu maksudmu ?"


ujar atreya langsung memotong perkataan Kinara.


Kinara menggeleng-gelengkan kepalanya.


" bukan begitu maksud ku."


" sudahlah, kin. aku tau maksudmu. kau seperti kakakku yang selalu berpikiran pesimis. menganggap aku ini akan lumpuh seumur hidup. tapi tidak denganku. aku selalu optimis bahwasannya aku bisa berjalan normal suatu saat nanti."


nafas atreya memburu, lalu atreya menarik nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.


" terimakasih, kin. kau telah mengkhawatirkan ku. kalau begitu aku berangkat dulu ya. mang Maman sudah menunggu ku diluar."


tak lama kemudian atreya pun berlalu. Kinara mengantar atreya sampai ke depan pintu rumah. ia mengamati tubuh atreya dari belakang hingga masuk kedalam mobilnya dengan bantuan mang Maman.


didalam jok penumpang bagian belakang, nampak atreya menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangan pada Kinara. kinara pun membalas lambaian tangannya. lalu mobil yang disupiri mang Maman itu pun berlalu, membelah jalanan yang sudah ramai lancar itu.


Kinara kembali masuk kedalam untuk membereskan kamar atreya.


***


" jadi kau tinggal disini ?"


" iya ini rumah nenekku. masuklah !!"


Aaron mengajak mampir Sean kerumahnya sepulang dari Makassar.


Sean nampak terkesan dengan suasana rumah sahabatnya itu yang terlihat hangat dan berbaur dengan alam. meski berada dilingkungan real estate, namun terlihat sejuk dengan banyaknya tanaman hijau didepan, disamping dan dibelakang rumahnya.


dulu, Shofi memang membeli dua kavling sekaligus, namun satu kavling dia sulap menjadi taman dan kebun bunga pribadinya. karena Shofi memang menyukai aneka tanaman.


" kau mau minum apa ? biar aku buatkan."


tanya Aaron.


" kopi saja."


jawab Sean lalu menjatuhkan tubuhnya disofa ruang tengah yang terlihat nyaman itu. matanya berkeliaran memandangi beberapa bingkai foto yang terpajang didinding. salah satunya ada foto keluarga Aaron terdahulu sewaktu Aaron masih duduk di bangku SMA. dan itu merupakan foto keluarga terakhirnya.


" apa itu foto kedua orangtuamu ?"


Aaron hendak berjalan kedapur namun kembali melirik ke arah sumber suara. lalu pandangannya beralih ke salah satu foto berukuran 30R yang menempel didinding.


" iya. itu mom and dad. dan yang disampingnya, atreya."


" adikmu memang cantik dan sangat menggemaskan."


" jangan macam-macam Sean !!"


ancam Aaron.


Sean malah tertawa terkekeh mendengar ancaman Aaron. dan Aaron mendengus kesal lalu segera beranjak menuju kedapur untuk membuatkan kopi.


" rumahmu sepi sekali. apa tidak ada penghuni disini ?"


tanya sean kemudian.


balas Aaron dari arah Dapur seraya mendidihkan setengah air kedalam panci untuk membuat kopi.


" apa kau tidak ingin mengenalkan adikmu itu, hah ?"


Goda Sean beranjak lalu menyusul Aaron ke arah dapur yang bersebelahan dengan ruang tengah tanpa sekat.


" jangan mulai, atau ku hajar kau !"


hardik Aaron seraya mendelik.


" ayolah, aku hanya ingin berkenalan saja. "


rajuk Sean.


Aaron tidak menggubris nya, ia menuangkan air yang sudah mendidih itu ke dalam dua gelas yang sudah ditaburkan kopi hitam dengan sedikit gula.


" ambil sendiri kopi mu ! lalu duduklah dengan manis disofa. aku akan ke kamar dulu sebentar."


Aaron lalu berlalu menuju kamarnya. sementara Sean mendengus seraya mengaitkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke pegangan cangkir kopi panas, lalu berjalan menuju teras rumah untuk menikmati pemandangan sekitar komplek.


***


alangkah terkejutnya saat Aaron masuk kedalam kamarnya sendiri. ia melihat Kinara sedang sibuk merapikan sprei tempat tidurnya yang sedikit berantakan karena terakhir kali Aaron meninggalkan kamar itu, ia tak sempat membereskan nya karena terburu-buru.


" hey, siapa kau beraninya masuk ke kamar ku ?"


teriak Aaron seraya berkacak pinggang.


sontak Kinara kaget dan membalikkan tubuhnya kearah sumber suara.


" kau ?"


Aaron semakin terkejut saat tau bahwa seseorang itu adalah Kinara.


" maaf. saya hanya membereskan kamar pak Aaron saja."


ucap Kinara ketakutan dan menurunkan pandangannya.


" apa maksudmu membereskan kamar segala ? mana atreya ?"


tanya Aaron menatap tajam pada Kinara.


" emh. emh. aku... aku sekarang jadi ART dirumah ini. dan Rea sudah berangkat ke kampus."


Kinara sangat ketakutan sampai-sampai ia gugup untuk berkata.


Aaron membelalakkan kedua matanya geram, ia langsung menarik tangan Kinara dengan kasar dan membawanya keluar dari kamarnya.


" keluar !! dan jangan coba-coba masuk ke kamar ini lagi."


bentak Aaron seraya mengacungkan jari telunjuknya kearah wajah Kinara.


" Aaron !! kenapa kau kasar sekali sama perempuan ?"


tiba-tiba Shofi datang dan diikuti oleh Sean dibelakangnya.


" apa maksud nenek mempekerjakan dia dirumah kita ? dia itu tak lebih dari seorang jal--"


Aaron tidak berani melanjutkan kalimatnya karena ia sadar itu kata kasar dan tidak pantas disebut didepan neneknya.


" seorang apa, Aaron ?"


sahut Shofi menyempitkan kedua matanya curiga.


" tidak. bukan apa-apa."


jawab Aaron ketus. ia jadi serba salah dan terlihat frustasi.


" Aaron, kemarin kamu yang minta supaya dirumah ini ada seseorang yang membantu nenek. sekarang setelah ada Kinara yang bekerja disini, kau malah membentak-bentaknya seperti itu."


" maksudku kenapa harus dia ? kita kan bisa mencarinya lewat jasa penyalur yang lebih berpengalaman, nek."


Shofi melotot ke arah Aaron mengisyaratkan sesuatu. lalu beralih memandangi Kinara yang sedari tadi menunduk dan terlihat masih syok.


" sudahlah. ayo Kinara, bantu nenek didapur. kita akan memasak soto hari ini."


Shofi merangkul Kinara lalu mengajaknya pergi, dan meninggalkan Aaron yang masih diselimuti tanda tanya.


" ayolah, bro. masalah pembantu saja kau harus seperti ini. siapa sih dia, cuma pembantu kan ?"


Sean menepuk bahu Aaron.


" yup. she is just a housemaid. "


sahut Aaron seraya mengangkat bahunya.


akhirnya Aaron dan Sean berjalan menuju teras rumah untuk melanjutkan minum kopi. Aaron tidak jadi membersihkan diri dikamarnya.


mereka duduk-duduk santai dikursi teras. dan tak lama kemudian Shofi datang sambil membawakan kopi milik Aaron yang masih tertinggal tadi didapur. Shofi tampak berbincang sebentar dengan Aaron dan Sean. sampai akhirnya ia harus kembali kedapur untuk memasak bersama Kinara.


.


.


.


.