In Your Love

In Your Love
terlambat



" Naomi, nanti jam tiga saya ada perlu, jadi akan pulang lebih awal." ucap Aaron pada sekertaris nya itu saat ia datang untuk menyerahkan Beberapa laporan yang harus ditandatangani keruangan Aaron.


" lho, pak. bukannya kita akan mengadakan pertemuan dengan para investor jam tiga nanti dihotel kharisma ?", ucap Naomi mengingatkan.


Aaron menjatuhkan bolpoin dari tangannya lalu memegang kepalanya sendiri. "ya Tuhan, hampir saja aku lupa. apa tidak bisa diundur jamnya ?" tanya Aaron menatap serius pada Naomi.


" ehmm, sepertinya tidak bisa, pak. lagi pula tidak enak juga jika tiba-tiba mengubah jam pertemuan secara mendadak. mengingat kita juga kan perusahaan yang terbilang masih baru." jawab Naomi.


mendengar itu Aaron jadi berfikir, memang ada benarnya juga dengan apa barusan Naomi katakan. kita harus memberi kesan yang baik untuk para investor atau klien perusahaan yang baru kembali bangkit ini.


" baiklah. satu jam lagi kita berangkat. tolong kau siapkan segalanya dan juga beritahu pak Wisnu dan pak Doni untuk segera bersiap-siap." pinta Aaron.


" baik. kalau begitu saya permisi pak."


pamit Naomi untuk kembali keruangannya yang bersebelahan langsung dengan ruangan Aaron.


Aaron pun hanya mengangguk dan membiarkan sekretarisnya berlalu dari ruangannya.


Kini Aaron mulai kebingungan, saat ini pikirannya tertuju pada Atreya yang selesai kuliahnya jam setengah empat sore nanti. lalu ia mengambil benda pipih hitam yang tergeletak diatas meja kerjanya, hendak menghubungi nomor ponsel Atreya. tapi ternyata tidak aktif. berulang kali ia terus menghubungi Atreya namun masih tidak aktif hingga membuat nya kesal dan frustasi.


" kemana sih ? apa masih belajar dikelas dan ponsel nya sengaja dimatikan ? harusnya kan cukup disilent saja." ucap Aaron menggerutu sendiri.


*****


Usai jam kuliah, Atreya segera menuju ke tempat parkiran depan kampus. Dimana tadi dirinya dan Aaron janjian untuk saling menunggunya disitu.


satu jam berlalu namun Aaron tak kunjung datang. Atreya mulai bosan menunggu. ia mencoba menelpon Aaron namun tidak diangkatnya.


" kak Aaron kemana sih ?? jangan-jangan lupa untuk menjemputku. dasar pikun." umpat Atreya bicara sendiri.


" siapa yang pikun ?" tiba-tiba Kinara datang dari arah belakang. Atreya langsung mengenali suara tersebut.


" kinara?"


" kamu belum pulang ? apa menunggu jemputan ?" tanya Kinara mengedarkan pandangannya ke sekeliling parkiran.


" iya. tadi kakakku janji mau menjemput ku. tapi sudah satu jam lamanya aku menunggu, kakaku belum nongol juga. sungguh menyebalkan kan." keluh Atreya masih kesal.


Kinara hanya tersenyum menanggapinya. "jangan begitu, mungkin kakakmu masih ada keperluan lain, atau kejebak macet kan bisa jadi." ujar Kinara kemudian.


"iya sih, tapi kan bisa telpon." sahut Atreya. "Oya kamu mau pulang, kin ? pulanglah, nanti keburu sore." ucap Atreya saat memperhatikan Kinara yang sesekali melirik kearah jam tangan yang melilit di pergelangan tangan kanannya.


" tidak, Rea. aku akan menemanimu disini dulu sampai kakakmu datang." jawab Kinara seraya membungkukkan tubuhnya lalu memegang kedua bahu Atreya dari belakang.


" kau seperti kakakku saja memanggilku Rea. "


Atreya terkekeh.


" trus aku harus panggil nama kecilmu apa ? masa panggil 'at' ? terdengar aneh kan ?" jawab Kinara.


Mereka tertawa bersama. Sambil menunggu kedatangan sang kakak, mereka berbincang-bincang kesana kemari dengan diselingi tawa dan canda.


" ternyata begini rasanya punya kawan. sungguh menyenangkan." gumam Atreya dalam hati.


" apa kamu haus, Rea ? aku belikan dulu minuman ya. kau tunggulah disini." kinara pun beranjak berdiri karena tenggorokannya pun terasa kering.


Atreya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. lalu Kinara pun beranjak menuju minimarket disebrang jalan.


Tiba-tiba mobil Aaron datang tepat didepan Atreya tengah menunggunya. Aaron menurunkan kaca mobilnya. lalu ia turun menghampiri Atreya.


" ayo pulang !!" Ajak Aaron.


" kenapa kakak lama sekali ? apa lupa dengan janjinya ?" omel Atreya melotot kearah kakaknya itu.


" tadi ada pertemuan mendadak dengan klien. dan gak bisa ditunda apalagi dibatalkan." balas Aaron seraya memapah Atreya masuk kedalam mobilnya. setelah itu memasukan kursi rodanya kedalam bagasi.


" jangan pergi dulu kak. temanku sedang membeli minuman dimini market itu." ucap Atreya ketika Aaron hendak menjalankan mobilnya.


" ini sudah sore, Rea. kasian nenek menunggu. kita langsung pulang saja."


" kamu telpon saja temanmu itu. gampang kan."


ujar Aaron langsung melajukan mobilnya pergi.


" baiklah." Atreya terlihat kecewa.


terpaksa Atreya mengirimkan pesan pada Kinara.


Atreya :


Kin, maaf barusan aku pulang duluan. soalnya kakakku sudah menjemput.


(read)


Kinara :


oh, iya gpp. aku juga akan langsung pulang.


Atreya :


maaf ya, aku tidak sopan meninggalkan mu begitu saja.


(read)


Kinara :


santai saja kali, Rea. hehehe


sampai ketemu besok.


Atreya :


oke. see you kin 😁


( read)


Aaron memperhatikan Atreya dari balik kemudinya.


" kenapa tersenyum sendiri ?"


Atreya lalu melirik kakaknya itu.


" aku punya teman baru, namanya Kinara. dia baik sekali."


" jangan terlalu mudah percaya dulu dengan orang yang baru kita kenal." ucap Aaron tegas.


" tapi Kinara baik kok." tukas Atreya lagi.


" Atreya, aku tidak mau kesalahanku dulu terulang padamu." sanggah Aaron.


ini mengingatkan ia kembali pada Peter si pembunuh itu. Aaron terlalu percaya dengan kata-kata manisnya sehingga tidak tau bahwa kedekatan Aaron dengan seorang mafia itu malah jadi menjauhkan kedua orangtuanya untuk selamanya.


" baiklah. tapi aku akan membuktikan pada Kaka bahwa Kinara itu betul-betul teman yang baik. bukan bermuka Barbie berhati nenek sihir."


Aaron langsung mengernyitkan dahinya. lalu tertawa.


" baru tau ada pepatah seperti itu." ucapnya tetap fokus kedepan.


" itu perumpamaan, kak." sahut Atreya mendengus seraya melipat kedua tangan didadanya dengan raut muka ditekuk.


Aaron hanya melirik adiknya sekilas sambil menyunggingkan senyuman tipisnya. ia kembali menekan pijakan gasnya sedikit kencang karena jalanan terlihat kosong beberapa saat.


.


.


.