In Your Love

In Your Love
menolak



Shofi tampak sibuk memasak didapur ketika Atreya pulang dari kampus.


" tumben sudah sore begini masih sibuk masak, nek ?"


tanya Atreya seraya menyapu pandangannya melihat banyak masakan yang dibuat Shofi untuk menu makan malamnya nanti.


" iya, sayang. kita akan kedatangan tamu malam ini."


sahut Shofi tanpa menoleh ke arah atreya, karena fokus pada wajan penggorengannya yang berisi tumis kangkung udang.


" tamu siapa, nek ?"


atreya mengernyitkan dahinya.


" saudara sepupu nenek dan anaknya, yang tempo hari bertemu dipasar kaget itu."


sahut Shofi penuh semangat.


" oh, yang itu."


balasnya seraya mengangguk-angguk.


dari arah pintu samping yang menuju ke garasi, terlihat Aaron juga baru datang dengan menjinjing tas laptopnya.


" kakak baru pulang ? sini dulu deh, kak !"


atreya melambaikan tangannya pada Aaron.


wajah Aaron yang terlihat letih itu akhirnya datang menghampiri atreya dan Shofi.


" ada apa ?"


tanya Aaron seraya meletakkan tas laptopnya diatas kursi makan. setelah itu beranjak mengambil minuman didalam lemari es, lalu menjatuhkan dirinya dikursi meja makan dan langsung menenggak minuman dingin yang terasa menyegarkan ditenggorokannya itu.


" nanti malam ada tamu nenek yang akan datang kesini. jadi makan malam nanti bakalan rame, kak. tidak hanya kita bertiga saja."


ucap Atreya terlihat senang. ia memang selalu merindukan keadaan rumah yang ramai dan penuh kehangatan. jadi tidak heran kalau dirinya selalu antusias jika ada orang yang berkunjung kerumahnya.


" hanya itu ? kirain ada apa."


sahut Aaron kembali meneguk minuman kaleng nya.


Shofi datang menghampiri kedua cucunya itu seraya melepaskan apron yang sedari tadi melekat ditubuhnya.


" iya Aaron, mereka masih saudara jauh nenek. keadaan mereka sangat memprihatikan sekarang. kamu ingat nenek Lastri dan Tante Laras ? "


Aaron mengerutkan keningnya seraya mengingat-ingat sesuatu.


" oh, mereka yang pernah bertemu beberapa hari lalu itu kan ?"


tebak Aaron.


Shofi tersenyum lalu duduk disebelah Aaron.


" iya. nenek Lastri itu memiliki anak bernama Laras. dulu suaminya Laras itu seorang pengusaha cukup sukses dikota ini. namun entah mengapa kini usahanya bangkrut. semua kekayaannya disita oleh bank. bahkan kini mereka tidak memiliki rumah dan hidup pas-pasan."


Atreya membulat kan matanya.


" jadi mereka tinggal dimana ?"


tanyanya pada Shofi.


" mereka tinggal dirumah kontrakan. kemarin nenek sempat berkunjung kesana. tempat tinggalnya sungguh tidak layak huni."


" kasihan sekali mereka ya nek."


sahut atreya merasa iba.


" Aaron, maukah kau membantu mereka ?"


sahut Shofi seraya memegang tangan kanan Aaron diatas meja.


" membantu bagaimana, nek ?"


Aaron mengernyitkan dahinya.


" maukah kau menikah dengan salah satu putri dari Tante Laras ?"


pinta Shofi dengan nada ragu-ragu.


Aaron langsung tersedak oleh minumannya sendiri. 'uhuk. uhuk'


sementara Atreya juga terlihat kaget dengan permintaan Shofi barusan. namun ia memilih diam dan menyimak saja.


" menikah ?"


Aaron membelalakkan kedua matanya terkejut.


" iya, agar kita dapat membantu mereka, nak. nenek tidak tega melihat penderitaan mereka. apalagi saat ini suami dari Tante Laras sedang sakit dan harus segera dioperasi."


ucap Shofi menatap pada Aaron.


" berapa nominal yang mereka butuhkan ? aku bisa meminjamkan atau bahkan memberikan uang pada mereka, nek. tanpa harus menikahi salah satu anaknya."


tegas Aaron.


" nenek sudah mencoba menawarkan seperti itu, tapi mereka menolaknya dengan alasan tidak mau berhutang budi. untuk itu nenek berinisiatif sendiri bagaimana kalau kau menikahi putrinya. mungkin dengan cara itu mereka tidak akan menolak pemberian kita."


ujar Shofi.


Aaron menggeleng-gelengkan kepalanya.


" maaf, nek. kalau untuk menikahi anaknya aku tidak mau. apalagi menikah dengan gadis yang tidak aku kenal sebelumnya."


ucap Aaron memangkup kedua lengan Shofi diatas meja. berharap sang nenek bisa mengerti penolakan dari Aaron. sementara Shofi hanya menghela nafasnya dalam-dalam.


" mungkin kalau nanti kakak bertemu dengannya akan menyukainya. kenapa tidak coba bertemu dulu ?"


sahut atreya.


Aaron langsung melotot ke arah Atreya. melihat sorot mata tajam milik kakaknya, atreya jadi takut dan langsung menurunkan pandangannya.


" tidak apa-apa bila kamu menolaknya. nenek mengerti, nak. nenek hanya bingung saja bagaimana cara membantu mereka."


ucap Shofi dengan kedua kelopak mata keriputnya yang mulai basah. melihat itu Aaron jadi tidak tega.


" bagaimana kalau anaknya bekerja di kantorku saja, nek. jadi kita bisa membantu mereka dari situ. aku bisa menaikan gaji atau memberinya bonus lebih agar terkesan lebih natural."


jelas Aaron.


" tapi kak, tidak mungkin kan karyawan baru bisa langsung mendapat gaji besar."


sahut atreya.


Aaron terdiam, ia tampak memikirkan sesuatu namun pikiran saat itu sedang buntu.


" sudahlah tak perlu dibahas lagi. nanti kita akan pikirkan kembali. sekarang lebih baik kalian pergilah mandi, sebelum mereka datang."


ucap Shofi beranjak dari tempat duduknya kembali menuju kedapur.


Aaron pun ikut beranjak seraya menarik tas laptopnya yang tergeletak diatas kursi, disusul oleh Atreya berjalan menuju kamarnya masing-masing. mereka hendak membersihkan diri dikamar mandi yang berada didalam kamarnya sendiri.