In Your Love

In Your Love
datang untuk maaf



seusai memeriksakan Satria ke rumahsakit dan mengantar pulang ke apartemennya, Sean tetap keukeuh mengajak Kinara ke suatu tempat.


" denger ya Sean, aku mau ikut denganmu tapi tidak ke apartemen mu."


tolak Kinara dengan tegas saat Sean terus saja membujuknya saat masih dilobby apartemen Satria.


" oke. ternyata kau ini sulit sekali dirayu. aku akan jujur sesuatu padamu alasan kenapa aku mengajakmu."


ucap Sean menarik nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya kembali.


" ada yang ingin bertemu denganmu."


katanya lagi.


" siapa ? kenapa harus bertemu di apartemen ? dia bisa datang ke rumahku atau tempat kerja ku kan ?"


sahut kinara dengan nada malas.


" Aaron sudah kembali."


jawaban Sean sukses membuat kedua bola mata kinara membulat lebar.


" dia ingin bertemu denganmu. maka dari itu Aaron ingin aku membawamu ke apartemen miliknya. sekarang tidak lagi tinggal dirumah nenek Shofi."


ucap Sean berharap Kinara mengerti dan mau ikut bersamanya setelah mengetahui alasannya.


" aku tidak mau ! kalau dia sudah kembali dan ingin menemuiku, kenapa tidak langsung datang kerumah saja. apa dia takut dengan papa ku ? atau malu dengan mama ku ?"


ucap Kinara dengan lantang. dadanya terasa sesak karena emosi yang ditahannya ketika mendengar kembali tentang Aaron. Kinara bergegas pergi untuk mencari angkutan umum ditepi jalan.


" tapi Aaron kan masih suamimu. apa kau tidak merindukannya ?"


sesaat Kinara menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya kembali menghadap Sean yang mengikutinya dari belakang.


" rindu ? rasa sakit hatiku terlalu dalam mengalahkan rasa rinduku yang masih dangkal."


sangkal kinara, entah kenapa ia menjadi begitu acuh. raut wajah sendu yang biasanya melekat kini tidak ada lagi. wajahnya terlihat datar dan biasa saja.


" sori Sean, sepertinya aku harus pulang. tidak ada yang perlu dibicarakan lagi kan ?"


Kinara hendak pergi lagi namun seseorang menarik tangan Kinara hingga tubuh Kinara menyatu dalam rengkuhan dada lebarnya.


" I Miss you, Kinara."


Kinara terdiam sejenak dalam pelukannya. bau maskulin tubuhnya yang selama ini dirindukan kinara akhirnya bisa tercium kembali.


" kenapa dia disini ? apa selama ini dia mengikuti ku dengan Sean ?"


gumam kinara dalam hati.


" tolong lepaskan !"


pinta Kinara segera menyudahi dan melepaskan tangan Aaron yang melingkar dari tubuhnya. tatapannya begitu datar dan penuh tanya. Kinara membencinya, namun hati kecilnya tetap merindu.


" aku minta maaf, sayang. aku salah menilai mu. tolong jangan pergi."


ucap Aaron kembali meraih tangan wanita yang masih sah sebagai istrinya itu dan membuat kinara mendongak menatap wajah Aaron yang terlihat sangat menyesalinya.


" bukan kah kau sendiri yang menginginkan ku pergi ? kenapa sekarang melarang ku ?"


ucap Kinara seraya menatap tajam pada Aaron.


" Marshall sudah mendapatkan buktinya bahwa kamu tidak bersalah. ini semua gara-gara ibuku, dia penyebab semuanya."


________________


* flashback on


Marshall berusaha masuk ke rumah Aaron. Leon dan anak buahnya berusaha menghadangnya namun Marshall berhasil menembus masuk kedalam kamar Aaron.


" Aaron, aku punya buktinya kalau Kinara dan aku tidak memiliki hubungan apapun."


Aaron yang saat itu sedang tidur langsung terperanjat kaget dengan kedatangan Marshall yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.


" tidak sopan sekali masuk kemari tanpa permisi. apa sejak kecil kau tidak pernah diajari sopan santun hah ? keluar !!"


tegur Aaron geram.


" aku punya rekaman cctv dari hotel itu, Aaron. ternyata ini ulah mami. mami lah yang sudah melarutkan sex drops melalui minuman Kinara."


ucap Marshall seraya menunjukan flashdisk yang berisi rekaman cctv dari hotel tempat mereka mengadakan dinner waktu itu.


" hey, mami tidak mungkin melakukan itu Marshall. mami sudah berubah, ia telah bersikap baik pada Kinara."


sangkal Aaron yang masih yakin kalau Claire sudah berubah.


" dasar bodoh. kau terlalu naif untuk langsung mempercayai mami. apa kau lupa bahwa mami pernah melakukan hal lebih kejam dari ini sebelumnya pada wanitamu itu ?"


Aaron terdiam setelah mendengar perkataan adiknya barusan.


" sebaiknya kau buka dulu flashdisk ini. kau akan tau kebenarannya. mami telah menyuruh seseorang menuangkan sex drops itu dengan imbalan yang fantastis. tapi orang itu telah mengakuinya setelah aku dan papi mengiming-imingi imbalan yang jauh lebih besar."


ungkap Marshall seraya menyerahkan flashdisk pada Aaron. lalu segera dibuka file nya via laptop milik Marshall yang selalu dibawanya kemanapun.


Aaron mengeratkan rahangnya geram seraya mengepalkan kedua lengan saat menyaksikan rekaman cctv dihadapannya.


" mami !!"


getir Aaron tersulut emosi lalu menonjok kepalan tangannya ke tembok dinding.


ucap Marshall menepuk bahu Aaron guna memenangkannya. Aaron balas merengkuh tubuh adiknya sekilas, seraya menyatukan kepalan tangannya dengan kepalan tangan Marshall.


***


akhirnya Marshall pun mengantarkan Aaron ke airport. namun saat diperjalanan, Marshall sejenak menepikan mobilnya.


" mulutku rasanya tidak enak, aku akan membeli cigarettes dulu di minimarket seberang jalan itu."


ucap Marshall hendak keluar dari mobilnya.


" hey, sejak kapan kau merokok ?"


tanya Aaron. tapi Marshall tidak menjawabnya, ia hanya menyeringai sambil berlalu pergi menuju mini market.


saat Marshall hendak menyeberang tiba-tiba ada kendaraan lain yang melaju kencang. Marshall tidak menyadari akan hal itu.


'BRAKK'


" Marshall !!"


teriak Aaron yang melihatnya dari dalam mobil disebrang sana. ia pun bergegas keluar dan berlari mendekatinya.


Marshall tertabrak dan terpental beberapa meter hingga tubuhnya terluka sangat parah. kepalanya terbentur benda tumpul yang mengakibatkan cidera fatal.


" marshall..."


Aaron langsung merengkuh tubuh adiknya yang penuh dengan luka dan cucuran darah segar.


" Aa...rr..oon."


lirihnya.


" bertahanlah, shall. aku akan membawamu ke hospital."


ucap Aaron sangat panik.


Marshall menggenggam tangan Aaron sangat kuat.


" aa..ku menyukainya, ta...pi.. kin..ar itu milikmu. temui dia se..belum semuanya ter...lamm..batt."


" stop shall, jangan banyak bicara ! bertahanlah, please."


teriak Aaron terlihat panik dan cemas melihat kondisi adiknya yang terkapar.


tak lama kemudian ambulance pun datang dan segera membawanya ke rumahsakit.


***


Aaron nampak mondar-mandir didepan pintu ruang operasi. hatinya benar-benar hancur. ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan adiknya itu.


" Aaron, bagaimana keadaan Marshall ?"


tiba-tiba Sergio datang dan menepuk bahu Aaron hingga membuatnya sedikit terkejut. melihat Sergio, Aaron langsung merengkuh nya dan mengeluarkan air mata dibahu papi tirinya itu.


" tenanglah, Marshall pasti baik-baik saja. papi sudah melacak pelaku tabrak lari itu."


ucap Sergio mengelus punggung Aaron. mereka pun saling melepaskan tangannya saat dokter yang telah mengoperasi Marshall keluar.


" bagaimana anakku dok ?"


tanya Sergio tak sabar.


dokter itu melepas maskernya terlebih dulu agar lebih leluasa berbicara.


" kami mohon maaf. Kecelakaan yang anak anda alami mengakibatkan trauma otak dan menyebabkan pendarahan dan pembengkakan pada otaknya."


" jadi maksudnya apa dok ?"


bentak Aaron tak sabar.


" pasien mengalami koma."


jawab sang dokter pada akhirnya.


" apa ?"


Aaron merasa tak terima. ia mengacak-acak rambutnya frustasi.


* flashback end


__________________


" cukup Aaron !! itu artinya kamu percaya jika ada buktinya kan ? berarti kamu tidak pernah menghargai kejujuranku selama ini."


ucap Kinara.


" maafkan aku, kin. aku janji kali ini akan percaya sepenuhnya padamu."


Kinara tersenyum miring mendengarnya.


" jika kali ini aku yang berbohong, apa kamu akan tetap percaya ?"


pertanyaan Kinara kali ini sukses membuat Aaron terdiam.


" maaf. aku harus pulang."


Kinara pun langsung beranjak pergi tanpa mempedulikan Aaron yang tak bergeming dan Sean yang masih memperhatikannya dari kejauhan. Kinara pun memberhentikan angkot dengan jurusan yang searah dengan rumahnya.