In Your Love

In Your Love
salah paham



Atreya telah menceritakan semuanya kepada Shofi tentang kejadian tadi pagi dirumah Kinara.


sungguh Shofi sangat syok mendengar cerita memalukan yang telah Aaron dan Kinara lakukan saat dirinya sedang tidak berada dirumah waktu itu.


" kenapa bisa mereka melakukannya dirumah ini ?"


Shofi bergumam sendiri. ia tidak menyangka karena selama ini Aaron dan Kinara tidak memiliki hubungan asmara. bahkan berteman baik pun, Shofi sangat menyangkalnya karena melihat Aaron yang selama ini selalu menunjukkan rasa ketidak sukaannya pada Kinara.


" ada yang ganjal disini."


Dengan rasa penasarannya Shofi akhirnya beranjak menemui Aaron dikamarnya.


***


" Aaron, boleh nenek bicara sebentar ?"


terlihat Aaron sedang duduk disofa kamar sambil memangku laptopnya.


" masuk saja, nek."


ucap Aaron.


lalu Shofi pun duduk disebelah Aaron. kedua matanya melirik ke arah layar laptop.


" apa kau sedang sibuk ?"


tanya Shofi.


mendengar itu Aaron langsung menutup laptopnya lalu menyimpannya diatas meja.


" tidak nek. ada apa ?"


Aaron menatap wajah neneknya itu.


" Aaron, apa kau dan Kinara itu memang menjalin hubungan ? kok selama ini nenek tidak menyadarinya ? karena yang nenek lihat, sikapmu begitu acuh selama ini dengannya."


ucap Shofi dengan nada bicara yang tenang dan sangat hati-hati. karena bila menanggapinya dengan emosi, maka tidak akan mendapatkan sebuah jawaban yang benar dan jujur.


Aaron mulai paham kemana arah pembicaraan neneknya itu. ia pun menarik nafasnya dengan berat sebelum menjawab pertanyaan dari Shofi.


" sebenarnya sudah lama aku menyukai Kinara. begitu juga sebaliknya. jadi kami mengalir begitu saja."


tutur Aaron melayangkan pandangannya kesegala arah menandakan bahwa dirinya sebenarnya mengingkari ucapannya itu.


" aaron, coba tatap mata nenek !! katakan sekali lagi bahwa kau betul-betul menyukai kinara."


Shofi mengapit kedua pipi Aaron dan menggiringnya untuk menatap dirinya.


sorot mata Aaron tidak bisa menyembunyikan kebenaran bila harus menatap langsung kedua mata Shofi.


Aaron menempelkan kedua telapak tangannya dipunggung tangan Shofi yang tengah menangkup pipinya itu seraya memejamkan matanya sejenak.


Aaron akan mengatakan yang sebenarnya pada Shofi, walau bagaimanapun dirinya bukan pria pengecut dengan nyali yang ciut. dan ia selalu ingat akan petuah sang daddy-nya dulu. 'Bahwa pria sejati lebih baik babak belur daripada harus melukai egonya sendiri.'


" berawal dari ajakan Sean ke klub malam itu. aku benar-benar mabuk dan diluar kesadaran."


lirih Aaron dengan nada berat.


" apa ? kau mabuk, nak ?"


Shofi membulatkan kedua matanya kaget.


" iya. aku yang salah disini. ketika pulang aku melihat Kinara yang sedang tertidur dikamar atreya sendirian dengan pintu terbuka. itulah kebenarannya, nek."


" jadi sebenarnya kau sendiri yang melakukan pelecehan terhadap gadis malang itu ?"


Shofi menatap tajam pada Aaron dengan tatapan penuh kekecewaan.


" aku minta maaf nek. itu diluar kesadaran dan kendali ku. aku benar-benar mabuk malam itu."


Aaron meraih kedua tangan Shofi lalu bersujud dipangkuannya. suaranya malah semakin berat karena menahan air mata dan rasa penyesalannya.


" aku minta maaf karena kebodohan ku sudah membuatmu malu, nek."


Shofi lalu mengelus rambut Aaron yang masih menunduk dipangkuannya. lalu mendorong pelan bahu Aaron agar kembali bangkit.


" sudah. bangunlah, aaron. ternyata nenek telah salah paham. awalnya nenek pikir kalian berdua yang sudah tidak waras. ternyata Kinara lah yang menjadi korban atas ketidak warasanmu itu."


Aaron kembali menegakkan tubuhnya dihadapan Shofi. matanya kini terlihat sembab.


" untuk itu aku merasa bersalah karena telah merampas kesuciannya, nek."


lirih Aaron.


" kenapa kau berasa bersalah ? apa karena Kinara masih perawan begitu ? atau takut Kinara hamil ? "


tiba-tiba Shofi memicingkan matanya dengan tatapan tajam.


" aku punya atreya, nek. aku takut kesalahan ku akan berimbas pada adik perempuan ku. aku tidak mau terjadi sesuatu dengannya."


ternyata Aaron masih percaya dengan hukum karma. ia percaya bahwa semua apa yang kita lakukan dan terima adalah konsekuensi logis dari perbuatan kita sendiri. dan konsekuensi itu bisa berimbas pada orang-orang yang kita sayangi.


Shofi menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Aaron, nenek tau kamu sangat menyayangi adikmu. tapi untuk masalah ini nenek mohon, kalau kau memang ingin bertanggung jawab dengan menikahi Kinara, berarti kau juga harus belajar untuk mencintainya. Kinara gadis yang baik kok, nak."


Aaron terdiam. ia tidak bisa mengatakan iya atau tidak. yang pasti Aaron hanya ingin dihatinya tidak ada perasaan bersalah atau apapun itu lagi.


kadang Aaron berpikir, mungkin lebih baik jika malam itu ia melakukannya dengan seorang wanita jalang saja. maka setelah itu dirinya tidak akan menjadi beban. tapi ini malah dengan Kinara.


Aaron yang awalnya mengira Kinara bukan gadis baik-baik dan mungkin telah terbiasa dengan sex bebas. namun saat ia mengetahui noda darah di sprei dan mengingat jeritan gadis itu menahan rasa sakit, maka sudah dipastikan bahwa dirinya adalah pria pertama yang menyentuh tubuh Kinara. dan hal itu yang membuat Aaron menjadi merasa sangat bersalah.


" nanti nenek akan bicarakan dengan keluarga Kinara. semoga niat baik kamu ini diterima dengan hangat dan lapang dada oleh Revan dan Laras. "


ucap Shofi lalu beranjak dari duduknya.


" tidurlah, nak. ini sudah malam. jangan dibiasakan tidur terlalu larut."


tutur Shofi seraya melangkahkan kakinya menuju keluar dari kamarnya Aaron.


Aaron pun hanya membalasnya dengan anggukan seraya menatap punggung sang nenek yang berjalan keluar hingga sosoknya tak terlihat lagi karena terhalang pintu yang telah tertutup kembali dari luar.


lalu Aaron menyandarkan punggungnya disofa seraya melipat kedua tangan diatas kepalanya seraya memejamkan matanya.


" apa mungkin ini saatnya aku melupakan perasaan cintaku yang berlebihan pada Rea, dengan belajar mencintai nya ?? aahh ! sungguh konyol."


batinnya bergumam sendiri.


.


.


.