In Your Love

In Your Love
malah melupakan



keesokan paginya, kinara terbangun lebih dulu daripada Aaron yang nampak masih tertidur pulas dibalik selimut tebalnya.


Kinara beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri ke kamar mandi. dan kini ia tidak lupa lagi membawa baju gantinya.


setelah selesai mandi Kinara bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan. disana sudah ada Shofi yang tengah menuangkan air panas kedalam gelas.


" kok sudah bangun, kin ? nenek baru saja akan membuatkan teh hangat untuk kalian."


sapa Shofi sambil tersenyum.


" jangan repot-repot, nek. aku bisa membuatnya sendiri kok. seharusnya aku yang membuatkan teh untuk nenek."


sahut Kinara.


" apa semalam Aaron memperlakukan mu dengan baik ?"


tanya Shofi melirik Kinara seraya tersenyum.


" maksud nenek ?"


Kinara mengernyitkan keningnya karena kurang paham dengan maksud Shofi.


" maksud nenek, apa Aaron mau berbagi ranjang dengan mu ? soalnya dia itu kan biasa tidur sendirian."


balas nenek tertawa sambil mengaduk teh dalam cangkir.


" ooh."


Kinara membulatkan bibirnya.


" lebih baik kamu antarkan teh ini untuk Aaron. setiap pagi ia selalu meminta teh manis pada nenek. dan sekarang tugas kamu yang mengantarkannya."


Shofi menyodorkan secangkir teh untuk Aaron. Kinara langsung meraih pegangan pada cangkir di salah satu sisi dengan ibu jari dan jari tangannya yang lain.


***


Aaron mengerjapkan kedua matanya karena silau, ketika sinar mentari menerobos masuk melalui jendela kamar yang tirainya sudah terbuka lebar oleh Kinara tadi pagi.


" ah, siapa yang membuka tirai sepagi ini. bikin silau saja."


Aaron menggerutu seraya mengucek-ngucek matanya.


tak lama kemudian Kinara datang dengan membawa secangkir teh manis hangat.


Aaron terperanjat dari posisi tidurnya saat melihat Kinara masuk begitu saja kedalam kamarnya.


" hey, siapa yang menyuruhmu masuk ke kamarku ? keluar !!"


bentak Aaron mengusir Kinara.


sontak Kinara kaget.


" Aaron, aku hanya ingin mengantar teh hangat untukmu."


sahut Kinara menjadi ketakutan. dengan ragu-ragu ia menyimpan cangkir teh itu diatas meja.


" biasanya nenek yang mengantarnya sendiri."


Aaron memicingkan sebelah alisnya dan beranjak berdiri dari tempat tidur.


" sekarang aku istrimu, berarti ini menjadi kewajiban ku melayani kebutuhanmu."


lirih Kinara seraya menurunkan pandangannya karena takut melihat tatapan Aaron yang tajam itu.


" astaga. aku lupa kalau sudah menikah dengan mu."


ucap Aaron dengan polosnya seraya menepuk jidatnya sendiri.


Kinara membulatkan matanya lalu mendengus kesal.


" pria aneh. bisa melupakan pernikahannya sendiri, padahal baru saja berlangsung kemarin."


Kinara jadi menggerutu dalam hati nya.


" kemarikan teh itu !! kalau sudah dingin aku tidak mau meminumnya."


Kinara pun langsung mengambil kembali cangkir teh diatas meja itu lalu memberikannya pada Aaron.


Aaron langsung menyeruput tehnya seraya duduk ditepian tempat tidur.


" apa hari ini kamu akan kekantor ?"


tanya Kinara menjatuhkan dirinya duduk disamping Aaron.


" memangnya kenapa ? aku mau ke kantor atau tidak itu kan bukan urusanmu."


sahut Aaron mendelik sebelum menyeruput kembali tehnya sampai habis.


" maksud ku kalau mau ke kantor, aku akan menyiapkan baju kerja mu sekarang."


kinara berusaha tetap sabar menghadapi suami yang dirasakannya sangat aneh itu.


" sebenarnya aku masih sangat lelah, tapi ada hal penting yang harus ku urus dikantor sebelum kita berangkat ke Dublin Minggu depan."


jawab Aaron mulai melunak.


" apa ? ke Dublin ?"


Kinara membelalakkan kedua matanya.


" iya. aku sudah berjanji pada atreya setelah kita menikah akan ke Dublin untuk beberapa waktu."


Kinara terdiam, pikirannya melanglang buana membayangkan sebuah negara asing yang belum pernah ia singgahi seumur hidupnya. bahkan bermimpi untuk terbang kesana pun tidak pernah hadir disetiap tidurnya.


" hey, kau memikirkan apa ? aku minta maaf karena telah membentakmu tadi."


tiba-tiba Aaron meraih tangan Kinara dan membuyarkan semua lamunannya.


" i-- iya tidak apa-apa."


jawab Kinara jadi gugup seraya menurunkan pandangannya.


ia mendekati wajah imut Kinara dan berharap dirinya akan terhipnotis oleh kecantikan istrinya yang kini ada dihadapannya itu.


sementara jantung Kinara tiba-tiba langsung berdetak tak beraturan. dadanya terasa panas saat Aaron menyentuh wajahnya. hasratnya diuji saat tangan Aaron mengusap-usap pipi Kinara yang mulai merona. Kinara memejamkan kedua matanya, berharap Aaron akan mencium bibirnya atau bahkan lebih dari itu. Kinara memang sudah menantikannya sejak malam pertama kemarin.


Aaron hendak menyatukan bibirnya dengan bibir ranum Kinara.


" ah, aku tidak bisa."


tiba-tiba Aaron menepis tangannya sendiri dan langsung menjauhkan tubuhnya dari Kinara.


Kinara membuka matanya, ia sedikit terkejut dan kecewa dengan kata-kata Aaron barusan.


Aaron terlihat mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. ia sudah berusaha menerima Kinara menjadi istrinya, namun tetap saja hatinya belum bisa sepenuhnya mencintai gadis itu.


" tidak apa-apa. mungkin ini terlalu pagi untuk kita melakukannya. aku akan menyiapkan pakaian kerjamu lalu membantu nenek didapur."


ucap Kinara berusaha menyembunyikan rasa kecewa sekaligus malu karena telah berharap Aaron akan mencumbunya.


" memalukan sekali. kenapa aku seperti wanita yang haus belaian begini. haish ! menjijikan."


gumam Kinara berdecih dalam hati.


Kinara pun bergegas melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian untuk memilihkan setelan jas yang biasa Aaron pakai untuk kekantor.


" baiklah, aku akan mandi dulu."


Aaron pun beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


dimeja makan ada Atreya yang sudah siap-siap pergi ke kampus.


" ayo habiskan sarapanmu !"


" aku sudah kenyang, nek."


sahut atreya.


" kalau begitu habiskan jus nya. jangan disia-siakan seperti itu!! kasian Kinara sudah susah payah membuatkan sarapan."


" iya."


sahut atreya terdengar terpaksa.


" kin, mana Aaron ? apa dia tidak pergi ke kantor hari ini ?"


tanya Shofi saat menyadari Aaron belum keluar kamar juga.


belum sempat Kinara menjawab pertanyaan Shofi, Aaron sudah nampak di depan meja makan, ia terlihat sudah rapi dengan setelan jas kerja pilihan Kinara tadi.


" pagi kak."


sapa atreya cengengesan.


" pagi Rea."


Aaron mendaratkan kecupan hangat dipuncak kepala adiknya itu.


melihat Aaron mengecup kepala atreya membuat Kinara jadi berkecil hati. dadanya terasa sesak karena ada rasa cemburu yang bersarang dihatinya. terlebih Kinara tau bahwa Aaron diam-diam memang menyimpan perasaan lebih terhadap adiknya itu.


" kin, kamu tunggu dirumah ya, nenek akan ke pasar. sekalian ikut atreya karena searah dengan kampusnya."


ucap Shofi membuyarkan rasa kecewa Kinara.


" oh, iya nek."


sahut kinara.


" bye, kin. aku ke kampus dulu ya."


pamit atreya. Kinara pun mengangguk tanda mengiyakan.


Atreya dan Shofi pun berlalu dengan diantar oleh mang Maman seperti biasanya.


kini hanya ada Aaron dan Kinara dimeja makan. Kinara langsung menuangkan nasi serta lauk pauk nya dipiring untuk Aaron.


" kamu tidak sarapan ?"


tanya Aaron saat menyadari hanya dirinya yang makan, sementara Kinara hanya duduk terpaku memandanginya.


" nanti saja. aku tidak terbiasa makan sepagi ini."


sahut Kinara.


" mulai sekarang kau harus terbiasa sarapan pagi bersamaku, ayo makan !"


" tidak mau. ku bilang nanti saja Aaron."


" terserahlah. tapi lain kali kau tidak boleh menunda-nunda sarapan lagi."


sahut Aaron seraya kembali memasukkan sendok berisi nasi kedalam mulutnya.


Kinara pun mengangguk. lalu ia menuangkan segelas air putih dan diletakkannya didepan Aaron.


" aku bawakan kau bekal untuk makan siang sekalian ya."


ucap Kinara beranjak dari duduknya lalu menuju dapur untuk membawa kotak makanan yang telah ia siapkan tadi.


" mungkin nanti aku akan pulang malam. karena rencananya aku dan Sean siang ini akan meninjau proyek dilapangan."


ucap Aaron setelah selesai mengunyah sisa makanan terakhir dimulutnya.


Kinara hanya mengangguk. rasanya ia ingin protes, tapi walau bagaimanapun ia harus mengerti posisi Aaron yang selalu sibuk dengan segala urusan kantornya.


.


.


.