In Your Love

In Your Love
kembali lagi



Keesokan paginya pukul 8 lewat 20 menit, Sean sudah datang ke rumah Shofi untuk mengantar Atreya ke kampus. kebetulan hari ini atreya ada jam kuliah pukul 9.30, jadi Shofi sengaja meminta tolong pada Sean untuk mengantarnya. kebetulan arah ke kantor dan ke kampus atreya searah dari apartemennya Sean.


" maaf ya nak Sean, nenek jadi ngerepotin lagi nih minta antarkan Atreya dulu ke kampus."


ucap Shofi merasa tidak enak karena sudah merepotkan Sean terus menerus.


" tidak apa-apa nek, tenang aja. sebelum dapat sopir baru, aku siap jadi sopir sementara buat Rea."


sahut Sean terkekeh. dan Shofi hanya tersenyum. hatinya merasa lega, karena sejak ia kehilangan cucu satunya lagi yang tak kunjung pulang, masih ada Sean yang bisa Shofi andalkan jika ada sesuatu yang mendesak.


"tapi ikhlas gak nih ?"


tiba-tiba Atreya menyaut dari dalam rumah dan sudah siap dengan perlengkapan kuliahnya.


Sean dan Shofi pun beranjak berdiri dari kursi santai yang mereka duduki di teras rumah.


" ikhlas dong. bahkan gratis ini mah."


Balas Sean tertawa.


" terimakasih ya, nak Sean."


ucap Shofi seraya menepuk bahu Sean yang membuat tawa Sean auto berhenti.


" iya, Nek. aku akan selalu menjaga Atreya sampai kapanpun."


ucapan Sean sukses membuat pipi atreya jadi merah merona. Shofi memperhatikan perubahan wajah atreya yang sumringah. ia pun tersenyum seraya menggeleng kan kepalanya.


tak lama kemudian akhirnya mereka pun pamit pergi meninggalkan Shofi yang masih mengamati keduanya, mobil yang dikendarai oleh Sean pun berlalu dan meluncur membelah jalan hingga tak terlihat lagi dari pandangan Shofi.


***


" nanti selesai kuliah jam berapa ? agar menjemputnya tidak telat lagi seperti kemarin."


tanya Sean disela-sela fokus mengendarai mobilnya.


" hari ini hanya ada dua mata kuliah, jam nya pun tidak terlalu jauh. kak Sean tidak perlu menjemput, aku bisa naik taksi online kok."


" lho gak apa-apa Rea. nanti ku jemput ya."


" tidak kak, nanti malah mengganggu kerjaan kak Sean dikantor. kan masih siang, nanti bisa dipecat lho sering keluar di jam kantor terus."


Sean malah tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Atreya.


" hahaha... kamu ini lucu banget sih. bosnya aja kabur gitu gak balik-balik. kakaknya siapa tuh kelakuannya kaya begitu ?"


balas Sean tersenyum miring seraya melirik gadis disebelahnya.


" o iya ya."


atreya menepuk jidatnya sendiri sebelum melanjutkan kalimatnya.


" entahlah. sejak kak Aaron tau siapa ibu kandungnya, sikapnya berubah sekali. sepertinya Kaka sudah tidak menganggap ku adiknya lagi, padahal kita pernah tumbuh bersama dari kecil."


bola mata Atreya mendadak berkaca-kaca bila mengingat kembali tentang kebersamaan dengan Aaron dulu. jika dibilang sakit, ya jelas sekali hati Atreya sungguh sakit dan kecewa dengan perubahan sikap kakaknya itu terhadapnya. Namun Atreya tetap berusaha berpikir positif. mungkin tidak mudah bagi Aaron untuk menerima kenyataan, dan butuh waktu baginya untuk beradaptasi dan berdamai dengan apa yang sedang dialaminya saat ini.


" apa kau tidak apa-apa ? maaf kalau sudah membuat mu bersedih."


tangan Sean tiba-tiba mendarat dipipi atreya, mengusap air yang lolos begitu saja dari mata birunya.


Atreya pun terkejut, lalu reflek menepis tangan Sean dari pipinya. tangan Sean pun langsung meraih tissue yang bertengger diatas dashboard mobil dan memberikannya pada atreya.


" nanti cantiknya ilang lho."


celoteh nya langsung membuat Atreya tersipu malu dan meraih selembar tissue dari tangan Sean untuk mengusap pipinya yang basah.


bunyi ponsel milik Sean tiba-tiba berbunyi dengan nyaring dan memecah suasana. Sean pun langsung menyambungkan pada bluetooth dimobilnya.


" hallo."


sapa Sean tanpa melihat terlebih dulu siapa yang tengah menghubunginya.


" Sean, cepat kemari !!"


" siapa nih ? main suruh-suruh seenaknya."


Sean mengerutkan keningnya. atreya yang duduk disebelahnya pun ikut mengalihkan pandangannya menatap Sean karena penasaran siapa yang sedang menghubunginya. terlebih atreya merasa kenal dengan suara yang barusan ia dengar melalui loadspeaker yang terhubung dimobil Sean.


" kau lupa dengan suaraku ? dasar bodoh !!"


umpat orang itu.


" Aaron ?"


tebak Sean membulatkan matanya sempurna.


" iya. cepat jemput ke airport sekarang !!"


atreya dan Sean terkejut lalu saling beradu pandang seakan tidak percaya.


" bandara mana nih ? Dublin ?"


sahut Sean.


" Bandara Antartika !! ya Husein lah. ini baru landing dari Jakarta. cepat kemari, Sean !"


tukas Aaron disana yang terdengar sangat kesal dan tidak sabar.


" duuhh repot amat bos. hari gini ada ojol kali gak usah ribet, taksi juga ada tuh nongkrong disitu."


balas Sean terkekeh.


" sialan !! aku tidak punya IDR."


" oke-oke. siap meluncur bos Aaron. tunggu 20 menit lagi kita sampai disitu."


Sean pun memutuskan panggilan telponnya dan langsung menancap gas mobilnya lebih cepat. kebetulan jalanan terlihat lengang karena anak sekolah dan jam masuk kantor sudah lewat.


" Rea, kita langsung ke bandara atau kampus nih?"


tanya Sean tanpa menoleh ke atreya karena masih fokus menyetir.


" bandara dong kak. kasihan kak Aaron menunggu."


" terus kamu terlambat dong ?"


" tidak apa-apa kak Sean, sekali-kali membolos sah-sah aja kan. lagian aku sudah tidak sabar bertemu kak Aaron."


sahut Atreya terlihat sumringah karena Aaron sudah kembali. ia sudah sangat merindukan kakaknya itu.


" emmhh. sudah mulai nakal ya kamu belajar membolos begitu. pasti gara-gara bergaul sama anak kampret itu kan ?"


" anak kampret siapa ?"


tanya atreya mengernyitkan dahinya menatap Sean yang masih konsentrasi dibalik kemudinya.


" siapa lagi kalau bukan si Satria itu."


sahut Sean mendengus.


" oh, Satria."


balas Atreya datar.


lalu kedua saling diam. Sean tetap fokus pada jalanan yang menuju ke bandara. sedangkan Atreya nampak sudah tidak sabar ingin segera sampai bandara dan bertemu dengan Aaron.


.


.


.


.