In Your Love

In Your Love
perasaan bersalah



sinar mentari pagi masuk dari celah-celah jendela kamar yang masih tertutup oleh tirai tipis hingga hangat dan silaunya membuat mata Aaron mengerjap dan terbangun dari tidurnya.


' aaghh'


aaron memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit dan berat. rasanya seperti ditimpa batu yang sangat besar. lalu ia mencoba memijat-mijat keningnya seraya memejamkan matanya.


tiba-tiba suara dering ponsel berbunyi hingga membuat Aaron terperanjat kaget karena suaranya yang begitu nyaring dan dekat sekali dengan kupingnya.


" bunyi ponsel siapa itu ?"


Aaron langsung membuka matanya dan mencari asal sumber suara. dan didapati ponsel seseorang dibawah bantal yang tengah ia tiduri.


' Kanaya is calling'


Aaron langsung membelalakkan kedua matanya. dan reflek membuang ponsel itu keatas kasur hingga terpental jatuh kelantai dan membuat suara ringtonenya kini tak terdengar lagi.


aaron mulai menyadari bahwa dirinya tidak sedang berada didalam kamarnya. lalu ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan kamar.


" kenapa aku ada dikamar atreya ?"


gumamnya seraya mengingat-ingat sesuatu. ia terperanjat lebih kaget saat menyadari dirinya yang telanjang.


" apa yang terjadi semalam ?"


Aaron langsung meraih dan memakai semua pakaiannya yang tercecer dilantai.


" atreya ? apa aku telah melakukan kesalahan padanya ? tidak tidak."


Aaron langsung beranjak dari tempat tidurnya. lalu ia melihat bercak-bercak darah yang sudah mengering pada sprei kasur.


" tidak mungkin. aaarghh !!"


Aaron mengacak-acak rambutnya dengan sangat frustasi.


lalu Aaron memutuskan keluar dari kamar untuk mencari atreya.


" Atreya ! kau dimana ?"


teriak-teriak Aaron mencari kesetiap ruangan yang ada dirumah itu namun belum ada tanda-tanda keberadaan sosok adiknya itu.


" atreya !!"


teriaknya lagi terdengar putus asa.


" maafkan aku, Rea."


lirih Aaron sengaja menjatuhkan tubuhnya keatas sofa ruang tengah seraya menjambak-jambak rambutnya sendiri.


' CEKLEKK'


pintu kamar Shofi yang tepat didepan ruang tengah itu pun terbuka dari dalam.


" kakak, apa ada teriak-teriak memanggilku ? mengganggu tidurku saja."


tiba-tiba atreya keluar dari situ dengan rambut kusutnya karena baru bangun tidur.


Aaron langsung mengangkat wajahnya terkejut dan menghampiri atreya.


" apa kau tidak apa-apa ?"


Aaron menangkup pipi atreya seraya menatap mata biru adiknya itu dengan tatapan menyesal dan merasa bersalah.


atreya malah menjulurkan lidahnya dan membuat Aaron mengerjap lalu menurunkan tangannya.


" kau ini. aku sedang serius Rea."


ucap Aaron melotot.


" kakak itu kenapa sih ? benar-benar mengganggu tidurku saja."


atreya berdecak kesal.


" semalam kau tidur dikamar nenek ?"


tanya Aaron mengernyitkan dahinya.


" iya. memangnya kenapa ? aku sudah ijin kok."


sahut atreya.


" trus yang tidur dikamar mu--"


" Kinara. kakak tadi kekamar ku ya ?"


atreya nampak memicingkan matanya ke arah Aaron yang kini tengah membulatkan matanya seolah-olah bola matanya hendak keluar saja.


" tidak mungkin."


gumam Aaron.


" tidak mungkin apa ? jangan-jangan kakak memaki-maki Kinara lagi ?"


terka atreya melotot kearah Aaron lalu melangkahkan kakinya yang tertatih-tatih itu hendak menemui Kinara dikamarnya.


" jangan Rea !!"


sergah Aaron membuat atreya mengernyitkan keningnya kebingungan karena Aaron mencegahnya untuk menemui Kinara.


" kenapa ?"


tanya atreya.


" emmh. tadi kulihat temanmu itu masih tertidur pulas. kukira tadi itu kamu, ternyata kau malah tidur dikamar nenek."


ucap Aaron mencari-cari alasan saja.


" tumben jam segini Kinara masih tidur. apa ia kelelahan gara-gara kemarin sore membuat kue-kue itu ya ?"


gumam atreya menyangga dagunya dengan satu tangannya.


" mungkin."


balas Aaron dengan wajah tanpa dosa mengangkat bahunya.


" ya sudah aku akan mandi dikamar nenek saja. takutnya malah mengganggu Kinara tidur."


sahut atreya lalu membalikkan tubuhnya masuk ke dalam kamar Shofi hendak membersihkan diri.


***


Aaron kembali kekamar atreya, ia hanya ingin memastikan semuanya seraya mengingat-ingat kejadian semalam.


samar-samar ia mulai mengingat beberapa adegan semalam. dengan kasarnya Aaron menyakiti tubuh gadis itu. dan semua karena pengaruh dari minuman yang diberikan Sean semalam.


" brengsek kau Sean !!"


Aaron mengepalkan tangannya dengan geram.


tiba-tiba matanya tertuju pada pintu kamar mandi pribadi atreya yang tertutup rapat. Aaron langsung mendekati dan memutar knop pintunya.


" kok tidak bisa buka ? apa jangan-jangan--"


Aaron curiga, lalu kembali memutar-mutar knop pintu kamar mandi itu dengan paksa namun tetap tidak bisa terbuka.


dengan tidak sabar akhirnya Aaron mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaganya.


akhirnya pintunya rusak hingga terbuka dengan lebar.


Aaron terkejut, ia mendapati sesosok tubuh mungil tengah meringkuk didalam bathtub dengan pakaian dasternya yang basah kuyup. begitu juga dengan rambut panjangnya yang basah terurai hingga menutupi wajah Kinara.


Aaron menyibak rambut Kinara yang menutupi wajahnya. Kinara tampak sangat pucat dengan bibir yang kebiruan. kinara membuka matanya dan langsung menatap sinis ke arah aaron. ia tampak menggigil kedinginan. dan badannya yang lemah membuat ia tak sanggup untuk menepis tangan Aaron yang kembali menyentuh wajahnya.


" tolong jangan menyakiti aku lagi."


lirih Kinara pelan dan nyaris tak terdengar. namun Aaron sangat jelas mendengarnya.


" aku tidak akan menyakitimu."


ucap Aaron merengkuh tubuh kinara. lalu membaringkannya ke atas tempat tidur atreya.


" pakaian mu basah. sebaiknya diganti dulu."


" tidak. tidak. jangan menyentuh ku lagi !!"


Kinara langsung menarik selimut lalu menutupi tubuhnya dengan mimik wajah yang sangat ketakutan.


" apa yang aku lakukan padamu semalam ?"


tanya Aaron duduk ditepian tempat tidur seraya menatap Kinara yang masih terlihat syok itu.


Kinara terdiam, sudut matanya kembali mengeluarkan butiran cairan bening.


" apa aku menodai mu ?"


Aaron menyondongkan tubuhnya mendekat ke arah Kinara untuk menghapus air mata yang mulai membasahi wajah Kinara.


namun dengan sekuat tenaga Kinara dengan kasar menepis tangan Aaron yang hampir mendarat dipipinya itu.


" ku bilang jangan menyentuhku lagi !! aku sangat membencimu, Aaron. kamu telah merenggut kesucianku dengan paksa."


ucap kinara penuh kebencian.


Aaron merasa begitu menyesal dan terpukul saat Kinara mengatakan hal yang begitu menjijikan itu.


" maaf. ini semua salahku."


ucap Aaron getir.


" pergilah !! aku tidak ingin melihat mu lagi."


balas Kinara lalu membuang mukanya ke sembarang arah.


Aaron pun dengan langkah gontai memutuskan keluar dari kamar atreya menuju ke kamarnya untuk meluapkan segala emosi dan penyesalannya.


***


Kinara berusaha bangkit dari tempat tidur, lalu meraih tasnya yang ia simpan disamping lemari pakaian atreya. ia pun segera mengganti pakaian basahnya dengan pakaian yang ada didalam tas baju miliknya.


lalu ia memungut ponselnya yang telah rusak dari lantai akibat dilempar aaron tadi itu.


" kenapa ponselku bisa terjatuh ?"


gumamnya.


selang beberapa waktu kemudian atreya pun datang.


" kau sudah bangun kin ?"


sapa atreya.


Kinara pun hanya tersenyum membalasnya.


lalu mata atreya tertuju pada noda di sprei kasur miliknya.


" kamu sedang datang bulan ? kok bisa tembus begitu ?"


ucap atreya.


mendengar itu Kinara langsung menarik sudut matanya melirik ke arah noda darah yang menempel di sprei.


" itu pasti darah akibat selaput daraku robek."


gumam Kinara dalam hatinya sedih.


" hhmm-- iya Rea. maaf telah mengotori sprei tempat tidurmu. nanti akan langsung aku bersihkan."


Kinara beranjak dan langsung menarik sprei itu untuk dicucinya.


" tidak apa-apa, kin. santai saja, aku juga sering tembus seperti itu."


sahut Atreya.


atreya kembali memperhatikan wajah Kinara yang sedikit berbeda.


" apa kau sakit ? kenapa wajahmu tampak pucat begitu, kin ?"


tanya atreya seraya memegangi pipi Kinara.


" aku tidak apa-apa. mungkin pengaruh dari datang bulan saja."


jawab Kinara asal.


" oh, kalau begitu ayo kita sarapan ! barusan aku habis membuat roti panggang untuk kamu dan kak aaron."


mendengar nama Aaron malah membuat Kinara kembali mengingat itu lagi.


" seharusnya aku yang membuatkan mu sarapan, Rea. itu kan kewajiban ku disini."


Kinara jadi merasa tidak enak karena terlambat membuatkan sarapan untuk atreya.


" tidak apa-apa, kin. aku senang kok melakukannya. lagian hanya membuat roti panggang, itu mah gampang. kecuali memasak yang lainnya, baru aku tidak bisa."


tutur Atreya terkekeh.


***


Aaron menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur. kedua matanya menatap langit-langit kosong kamarnya, seraya melipat kedua tangan dibawah kepalanya.


" haruskah aku menikahi gadis itu ? tidak. aku tidak mencintainya sama sekali. lagipula itu diluar kesadaran."


gumam Aaron berperang dalam hatinya.


👼 : " hey, Aaron. seharusnya kau berterimakasih pada Kinara. seandainya malam itu betul-betul atreya yang tidur disana apa yang akan terjadi ? begitu bejatnya kau sebagai seorang kakak yang tega menggauli adiknya sendiri. untuk itu kau harus bertanggung jawab. nikahi Kinara !"


😈 : " kau tenang saja Aaron, Kinara tidak akan berani menuntutmu untuk minta pertanggungjawaban. karena dia akan merasa tidak enak dengan atreya dan Shofi yang telah banyak membantu keluarganya."


" aaarrgghh!!"


teriak Aaron membuyarkan sisi baik dan sisi buruk yang ada didalam batinnya. ia benar bingung dan frustasi.


.


.


.


.